Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA

Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA
TSBUN- Wpisode 17


__ADS_3

 


DIKA masih terlihat enggan untuk menuruti ajakannya Naysa,dan sepertinya dia masih terlihat penasaran dengan apa yang telah Naysa katakan tentang seorang Panji.


" Ayolah Dik !!." Ajak Naysa sambil terus menguncang-guncangkan tangannya Dika.


" Kamu ikut juga ya An !" Pinta Dika sambil berdiri.


" Sepertinya aku mau pulang saja Dik,gak enak sama Nenek,soalnya tadi aku pamitan cuman mau ambil strowbery saja pasti nenekku sudah menungguku." Ujarku seraya meraih keranjang yang berisi penuh buah strowbery.


" Ikutlah An !! masalah Emak biar nanti aku yang belain kamu,itu pun jika Emak marahin kamu,tapi Emak gak akan marah kok,Emak baik." Ucap Naysa terlihat


memohon.


" Tapi...," Selaku tak lantas.


" Pokonya kamu ikut !! suruh siapaa nunjukin tempat itu." Desak Naysa.


Aku masih terlihat ragu.


" Ayolah !! sebentar saja !" Ucap Dika sambil dengan cepat ia meraih tanganku lalu memaksaku untuk berjalan mengikutinya.


" Ok ! ok aku ikut,tapi lepasin dulu tanganku." Sergahku dengan sedikit menepis tangan Dika yang mencekalku kuat.


Lalu Dika pun segera melepaskan cekalannya dan dia berjalan melangkah mendahuluiku,sementara aku masih meringis kecil,merasakan sakit pergelangan tanganku bekas cekalan Dika yang cukup kuat.


Naysa berlari kecil mengejar Dika yang berjalan cepat, perlahan aku mengikutinya dari belakang tanpa berbicara sedikitpun.


" Waaawww.." Seru Naysa begitu kencang dia menatap takjub ke arah perkebunan bunga mawar yang terhampar luas, warna-warni bunga tersebut begitu memukai di matanya.Lalu Nay pun berlari kecil menuju ke tengah-tengah perkebunan bunga mawar tersebut tanpa memperdulikan aku dan Dika.


" Seharusnya kita kesini hanya berdua saja An." Guman Dika sambil menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arahku.


Aku terdiam tanpa merespon ucapannya Dika,aiu hanya tersenyum dan mencoba untuk mengusir rasa bersalahku.


" Aku berharap keputusannmu atas hubungan ini hanya sebuah prank belaka." Ucap Dika setengah berbisik ke arah telingaku.


" Itu adalah keputusan terakhirku.." Balasku seraya menghela napas berat.


" Apa semua ini ada hubugannya dengan seorang Panji ?" Tanya Dika menatapku dengan sedikit sinis, aku melirik tanpa ekspresi tidak berminat untuk mersepon ucapannya.


" Dik... sini..! " Naysa berseru memanggil Dika lalu ia terlihat melambaikan tangannya.


" Nay memanggilmu." Ucapku mengalihkan pembicaraanya.


" Aku masih berharap kamu bisa mengubah keputusanmu itu." Ucap lagi Dika sebelum ia melangkah menghampiri Naysa.


Aku menarik napas panjang merasakan perasaan yang semakin kacau di hatiku.


Ada yang sakit di dalam sanubariku ini jika aku harus menangis maka aku ingin hari ini juga TUHAN turunkan hujan yang lebat,agar aku bisa menangis di tengah-tengah derasnya hujan yang turun dan semua orang tidak ada yang tau jika aku sedang menangis karna patah hati.


Aku menatap gamang ke aray Naysa dan Dika,tanpa sengaja aku melihat aksi Dika yang menyelipkan sekuntung bunga mawar di telinganya Naysa,dan Naysa pun terlihat tersipu malu,dan ia pun tertawa ceria bersama Dika.


Ingatanku kembali ke beberapa tahun yang lalu dimana posisi itu pernah aku mengalaminya, dan perasaan bahagia itu tak akan pernah aku temui kembali, meski dulu Dika tak seromantis sekarang tapi setidaknya Dika mampu membuatku mabuk kepayang dengan segala bentuk sikap dan perhatianya terhadapku.


Yaaa aku merasakan apa yang Naysa rasakan saat ini dimana rasa itu begitu Dasyatnya,hingga perasaaku di buatnya melayang tinggi.Karena ketika seseorang yang kita sayangi memasangkan sekuntung bunga di selipan telinga kita itu adalah hal yang sangat romantis.


yaa aku pun tidak bisa mengungkapkan bahagianya pada saat itu.


Tak terasa ada buliran bening yang meleleh ke pipiku, buliran itu semakin meleleh yang di sertai dengan senyuman pahit.


T**ernyata sakit karena patah hati lebih sakit dari kerasnya hidup, terlebih -lebih kita harus melepaskan orang yang kita sayangi untuk orang lain, dan itu demi kebahagiaan orang lain.


Aku menghela mencoba mendamaikan kembali perasaanku ini,aku tidak ingin larut dalam kegalauan perasaan ini, Dika selintas menolehku di sela-sela kegembiraanya bersama Naysa.


Naysa terlihat begitu bahagia, lebih dari apapun. Aku yakin Dika bisa mencintai Naysa secara perlahan, dan aku akan memberikan cinta terbaikku untuk Naysa,aku akan membawa pulang bintang itu untuk di kehidupannya.


LANGIT begitu membiru tanpa ada awan putih mengirinya dan mentari bersinar terang,hari ini entah kenapa cuaca begitu cerah dan aku pun bersemangat memetik satu persatu pucuk-pucuk teh yang segar. Dan entah kenapa hari ini aku merasa lebih baik dan lebih tenang saja, ada sebuah beban yang hilang di dalam hati ini , dan aku merasakan sesuatu yang ku pendam perlahan-lahan menghilang entah kemana. Mungkin aku telah mengiklaskan sesuatu hal yang selama ini menahanku.


Yahh perlahan tapi pasti aku akan melepaskannya tanpa harus kecewa, namun tidak menutup kemungkinan juga jika rasa sakit itu pasti akan ada secara tiba-tiba tatkala aku harus menyaksikan kehangatan mereka berdua.But!!! tak apa aku akan mencoba mengabaikannya.


" Anna,sepertinya hari ini Nenek kurang enak badan,rasanya pengen istirahat." Ucap Nenekku berdiri tak jauh dariku menatapku dengan tidak berselera.


" Loh Nenek kenapa ?" Tanyaku cemas.


" Nenek tidak kenapa-napa.Mungkin hanya kecapean saja An." Jawabnha terdengar sayup-sayup suaranya.


" Nenek mau pulang ?" Tanyaku sembari menghampirinya.

__ADS_1


" Sepertinya di istirahatkan sebentar akan lebih baik." Sambung Nenek sambil terduduk lemas.


" Anna antarkan Nenek pulang ya ! " Selaku.


" Tidak perlu !Nenek pulang sendiri saja." Sergah Nenekku pelan.


" Tapi Nenek lagi kurang enak badan,nanti kenapa-napa di jalan." Selaku cemas.


" Tenang.Nenek masih bisa pulang sendiri kok." selanya sembari mengambil keranjang kosong.


" Kamu selesaikan saja pekerjaanmu biar nenek pulang sendiri saja ya." Ucap Nenek sambil tersenyum lembut ke arahku.


Aku tidak bisa menolak ke inginan nenekku,membiarkannya pulang dalam keadaan yang kurang meyakinkan bagiku.


Tapi aku yakin jika Nenekku orang yang paling kuat dan paling tabah di dunia ini, aku hanya bisa berdo'a yang terbaik untuknya meski perasaaku tak tenang di buatnya.


Setelah beberapa jam berlalu aku bergegas menuju pulang, beberapa keranjang teh telah ku kumpulkan, untuk hari ini aku merasa puas dengan pekerjaanku meski pikiranku sedang tak menentu, memikirkan kondisi Nenekku.


setelah teh-teh di angkut oleh mobil bak mang sarif aku pun segera melangkah menuju pulang, sekeranjang teh ku bawa pulang untuk ku setorkan ke rumah Nyai.


jalanku gontai menikmati lelahnya pekerjaan hari ini, kini tinggallah separuh tenagaku yang masih tersisa untuk menuju pulang.


" Anna...!"


Panggil seseorang tiba-tiba memanggilku dengan cukup lantang.


Aku menoleh ke arah pemilik suara langang tersebut, seorang pria bertubuh tegap tersenyum lebar ke arahku, sejenak aku mencoba untuk menyimaknya, namun tetap aku tidak mengenalinya.


" Assalamualikum Anna !" Sapanya ramah. Sementara aku masih terasa linglung,mencoba mengingat-ngingat wajah pria yang terlihat kalem itu.


" Walaikumsalam." Balasku pelan.


" Apa kabar Anna ?? kok kamu malah bengong,kamu lupa lagi ya ?" Tanyanya dengan menatapku hangat.


Aku mengernyitkan kedua alisku lalu kulit dahiku terlihat mengkerut membentuk seperti undak perkebunan teh.


" Maaf aku benar-benar lupa lagi.." Balasku dengan tersenyum pasi setelah aku mencoba mengingat kembali rupa wajah pria di hadapan ku ini.


" Masyaallah Na,aku Panji Na." Ucapnya terlihat begitu kalem.


Aku pun baru tersadar, hanya panji yang memanggil namaku dengan panggil hurup ujungnya saja.


" Soalnya aku pangling melihatmu Nji." Selaku seraya tersenyum-senyum melihat penampilan Panji yang sudah berubah 100%.


" Apa kabar Na ??" Tanya Panji sambil mengajakku bersalaman.


" Maaf, tanganku kotor Nji.." Balasku dengan sopan.


" Gak apa-apa lah Na." Sela Panji tersenyum sedangkan tangannya masih mengantung di udara,menunggu balasan dariku,dengan ragu perlahan aku pun membalas jabata tangan Panji.


" Aku baik-baik saja." Jawabku datar.


" Kamu dari mana ?" Tanya Panji menatapku dari ujung kaki hingga kepala.


" Biaslah Nji,aku wanita kurir.Aku abis metik teh." Balasku dengan sedikit bercanda.


" Wanita kurir mandiri dong,tapi kamu sendiri ?" Tanya terlihat resah.


" Iya " Jawabku mengangguk pelan.


" Ngomong-ngomong aku kok baru liat kamu lagi,kemana saja ?" Tanyaku penasaran walau kaku aku maksain bertanya.


" Aku kuliah di jakrta Na,dan alhamdulillah bulan ini aku lagi nunggu kelulusanku." Jelas Panji dengan sesekali mencuri pandangan ke arahku, kali ini aku merasakan ada yang berbeda dengan sosok Panji, dulu dia begitu jutek dan misterius, terlebih dia orang kaya, memilih sekali jika berteman termasuk urusan perempuan.Tapi kali ini dia benar-benar berbeda,ia begitu ramah kepadaku,tidak biasanya dia menyapa duluan, dia telah berubah 180 derajat, yahh Panji semakin terlihat ramah.


" Do'ain saja aku bisa lulus tahun ini." Ucapnya lagi tersenyum hangat, aku tidak menjawab hanya menggangguk pelan.


" Oya...,Dika dan Naiysa apa kabarnya ? mereka di mana sekarang ?" Tanya Panji mengalihkan pembicaraan.


" Mereka Alhamdulillah baik-baik saja, kalau Dika baru beberapa minggu ini ia juga baru kembali dari Jakarta,dan dia lagi libur kuliahnya dan bulan besok dia baru akan nyusun skripsi." Jelasku.


" Oh,lalu Naiysa gimana ?"


" Dia juga baik baik saja, dia ada disini juga lagi libur kuliahnya,, cuman aku doank yang gak kuliah." Ucapku sembari tertunduk pilu,rasanya merasa minder sendiri.


" Haa haa.... tidak apa-apalah Na,meskipun tak kuliah kamu tidak akan kehilangan orang-orang yang menyayangimu." Jelas Panji dengan bijak.


Dia benar-benar telah berubah, dulu ketika masih sekolah dia benar-benar susah untuk di ajak ngobrol sekedar menyapa saja pun dia jarang menjawab sapaanku,hanya ada tatapan kaku yang menciutkan hatiku,pastinya dia benar-benar jutek dan so misterius gitu, tapi kali ini dia begitu hangat.

__ADS_1


" Randi ??" Sela Panji menolehku.


"......" Aku terdiam mendengar nama Randi di pertanyakan oelnha.


Randi adalah teman yang paling jahil dan paling tega kepadaku, dia sering mengejekku bahkan dia selalu membuat aku menangis akan sikapnya.


Aku berharap aku tidak bertemu lagi dengan sosok Randi dan aku selalu memanjatkan Do'a disetiap kali aku mau pergi sekolah,agar aku tidak bertemu denganya.


Dan pada saat itulah Dika selalu membelaku hingga pada akhirnya aku benar-benar jatuh cinta di buatnya akan segala sikap dan perlakuan Dika terhadapku.Yaah itu adalah cinta monyet yang selalu membekas di dalam ingatanku.


" Kok kamu malah bengong sih Na.." Sela Panji mengejutkanku.


" Oh !! aku lupa lagi dengan orang yang bernama Randi." Balasku dengan tersenyum ringan.


" Loh kenapa ? pasti ada kisah yang menyakitkan ya antara kamu dengannya ?" Ujar panji menggodaku.


" Ha.. haa.. sepertinya begitu, anak laki-laki yang paling ku bencii Nji.." Jelasku sembari berjalan kembali.


" kok bisa sih ??" Tanya Panji terlihat penasaran.


" Pokoknya ceritanya panjang Nji dan itu cuman bikin aku makin sebel aja sama dia,padahal udah belasan tahun gak ketemu tapi kalau dengar namanya suka giman gitu." Balasnya dengan tertawa.


" Sedalam itu kah sakit hatimu Na ?? ha.. haa.. waktu sekolah ada aja yaa kisahnya."Sambungnya dengan ikut tertawa.


" Yaa benar sekali,dan kamu dulu juga jutek banget, aku pikir kamu gak akan mau kenal aku lagi." Selorohku dengan menoleh ke arah Panji yang berjalan menemaniku pulang.


Panji menolehku dan kami saling memandang satu sama lain.Lalu Panji tersenyum kaku.


" Itu kan dulu Na." Balas panji sambil tersipu malu.


" Lucu yaa." Aelaku sembari tertawa kecil, Langkahku terhenti tatkala Dika dan Naysa tak sengaja berpapasan denganku.


Sontak saja Dika menatap penuh arti ke arah Panji dan aku melihat Dika menatatap Panji dengan sorot mata tidak suka.


Aku tidak menyangka jika aku akan bertemu dengan Dika dalam kondisi seperti ini, aku pun benar-benar terkejut di buatnya, raut wajah Dika berubah drastis menatapku.


" Hei panjii !!.Seru Naysa kaget setelah melihat keberadaan Panji di sampingku,dan ia langsung dapat mengenali Panji.


" Haii Nay !" Balas Panji tersenyum ramah.


" Yaa Ampyun !! kalian berdua dari mana nih ?? " Tanya Naysa semeringah dia langsung menghampiriku dengan tatapan penuh menggoda.


Aku menghela,sudah di pastikan ini akan menjadi hal bulan-bulan Nasya terhadapku.


" Apa kabar Panji ?" Tanya Naysa sambil menyikut kecil perutkku,aku mendelik dengan kesal.


" Alhamdulillah aku baik-baik saja Nay." Balas Panji sambil mengajak Nay bersalaman.


Dika terlihat masih enggan menghampiri kami.


" Yaa Ampun baru kemarin loh kita ngobrolin kamu, iya gak An.." Celoteh Naysa genit.


Lagi- lagi dia menggodaku, aku tidak membalas hanya tersenyum hambar sambil sedikit memberi isyarat kepada Naysa untuk tidak membahas masalah itu lagi, Sayang Naysa hanya cekikikan tidak karuan dia tidak sedikitpun merespon akan isyaratku malah semakin menjadi-jadi.


Menyebalkan !!! rutukku membatin.


Dika menatapku dengan terlihat jengah ke arah Panji.


" Masa sih,kalian ngomongin apa nih ? jadi geer nih aku." Ujar Panji terlihat mulai salah tingkah.


" Enggak ada nji,Nay memang pandai ngarang." Selaku cepat.


Aku segera menarik tangan Naysa untuk tidak banyak bicara lagi.


Naysa terlihat grasak-grusuk di sampingku.


" Hai Dik,, Apa kabar ?" Tanya Panji menoleh Dika yang masih terdiam di ujung jalan sana,perlahan Dika mendekat lalu Panjipun mengajak Dika untuk bersalaman.


Awlanya Dika tak langsung membalas jabatan Panji, dia masih menatap kaku ke arah Panji.


Tapi tak lama ia pun terpaksa membalas uluran tangan Panji setelah Naysa menyikutnya.


" Dik,Panji baru tiba juga loh dari jakarta." Selaku mencoba untuk mencairkan suasana yang membuatku terasa Beku.


" Oya ?? kabar ku baik.." Jawab Dika singkat, aku benar-benar merasa tidak nyaman atas sikap Dika yang berubah dingin terhadap Panji.Terlebih dia melihatku bersama dengan Panji.


Aku melihat tatapan Dika penuh curiga, bahkan ada sorot mata yang terlihat cemburu, entah kenapa permasalahan ini pun kian bermunculan.

__ADS_1


#bersambung#


__ADS_2