Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA

Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA
TSB ~ Episode 05


__ADS_3

SENJA berembun menampakan keadaan yang sesungguhnya betapa begitu dinginnya DUSUN PUNCAK saat ini,gerimis hujan turun menambah semarak hati yang sedang dilanda ke khawatiran, di sepanjang jalan pulang ingatanku masih terus menerus terpaut erat akan keadaan sabahatku.


Nenek yang sedari tadi berjalan di sampingku tidak bicara sedikitpun, seolah-olah ia sedang mengusir rasa kekhawatirnya yang berlebihan akan perasaanku yang masih terus memikirkan ke adaannya Naysa.


Aku tau nenek adalah seorang perempuan yang pintar bersandiwara untuk menyembunyikan perasaanya tersebut,dan dia adalah perempuan yang begitu apik menyembunyikan segala rasa kekhawatirannya termasuk perasaannya terhadap cucu sang Majikannya tersebut.


Kebaikan Nyai teramat begitu besar yang di rasakan oleh aku beserta nenekku, rumah yang kutempati sekarang ini adalah lahan kosong yang di kasihkan begitu saja untuk kami tempati.


Yaaa begitu banyak kebaikan-kebaikan yang telah di berikan Nyai dalam di kehidupan Kami ini.


Dan sekarang kami tidak bisa berbuat banyak untuk bisa menyelamatkan Naysa sang cucu Nyai dari ganasnya penyakit yang di deranya hingga berujung di kematiaan.


Aku hanya bisa menjamaahnya lewat do'a di setiap sujud-sujud malamku,aku hanya bisa menjerit dalam ke khusyuan lantunan do'a-do'a ku.


OH TUHAN..., aku menyayanginya.Berilah dia hidup agar senantiasa kami bisa bersama dalam berbagi suka dan duka.


Tiba-tiba air mata ini mengalir deras menurunin tebing bibir mataku, pandanganku sekita ngeblur terlahang oleh derasnya air mataku yang memaksa keluar.


Nenek menolehku dan hanya mengelus punggungku dia sepertinya mencoba menguatkan aku,meski dia tidak berbicara namun sentuhannya mengatakan sesuatu hal kepadaku agar aku tetap kuat.


Aku menyeka air mataku begitu sesampenya di pelataran rumah Nyai dan keranjang yang berisi penuh teh aku turunkan untuk aku serahkan.


" Emak War berapa karung hari ini ?" Tanya Ceu Dedeh kaki tangan Nyai bertanya pada nenek setibanya kami di hadapannya.


" Hari ini teh hanya dapet sedikit Ceu, saya kecapean cuman dua karung saja dan sama yang ini dua keranjang saja." Ucap Nenek sambil menggeloyor ke tanah menahan lelah.


" Iya tidak apa-apa atuh mak,kalau capek mah gak bisa di paksain." Ucap ceu Dedeh sambil mencatat sesuatu di bukunya tersebut,sementara aku masih menatap ke arah pintu rumah Nyai yang tertutup rapat mencoba ingin tahu akan kabar Naysa hari ini.



" Nyai mana Ceu ?" Tanya nenek sambil clingukan pandangannya searah denganku.


" lagi ke JAKARTA Mak." Sahutnya singkat.


" JAKARTA ?"


Tanya ku dan nenek serempak.


" Iyaa mak, tadi subuh beliau sekeluarga berangkat ke JAKARTA." Jelas lagi ceu Dedeh memperjelas.


" Ada apa ya Ceu ?" Tanyaku tak sabar rasanya aku menjadi harap-harap cemas atas kabar ini.


" Katanya teh mau ngobatin Neng Naysa." Jelas ceu Dedeh santai.


Tiba-tiba batinku terasa tersiksa mendengar Naysa berobat ke JAKARTA, separah itu kah dia saat ini sehingga harus di bawa Ke JAKARTA ??


Berbagai pertanyaan berkecambuk di benaku.


" Memangnya Nay parah sakitnya ya Ceu ?" Tanyaku kembali semakin penasaran, Ceu Dedeh terlihat mengingat sesuatu.


" Kurang tau atuh ceuceu mah An,tadi ceuceu lihat neng Nay nya udah pulih kok, malahan mah dia teh sudah bisa jalan sendiri ke mobil." Jelas Ceu Dedeh mengingat-ngingat ke adaan Naysa dengan sikap polosnya.


Huuuh....,sedikit lega ketika aku mendengar penjelasan dari Ceu Dedeh,itu artinya Naysa baik-baik saja pikirku sambil menatap dalam pintu rumah megahnya Naysa.


" Kasian ya Neng Nay itu, sekarang dia sering sakit sakitan mulu." Ucap Ceu Dedeh sambil mengeluarkan beberapa lembar uang 50ribuan lalu menyodorkanya ke hadapan Nenekku.


Aku tersenyum hambar.


" Iya,semoga Neng Nay cepet sembuh." Ucap nenek ku menimpali dengan lirih bahasa tubuhnya mengisyaratkan kesedihan yang begitu dalam.


" Oya mak,Emak War teh tahu jika neng Naysa itu sakit apa ?" Tanya kembali Ceu Dedeh menatap berbagai pertanyaan kepada nenekku.


Sejenak aku dan nenekku hanya saling bertatapan satu sama lain,mencoba untuk menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya dan kami pun tidak akan menceritakan apa yang di amanahkan oleh Nyai terhadapku beserta nenekku.


" Atuh Emak mah kurang tau Ceu." Sela nenek sambil segera bergegas merapihkan kain gendongannya tersebut.


" kasian Nyai,sepertinya beliau sangat khawatir akan cucunya sakit." Ucap ceu Dedeh dengan wajah begitu sedih.


" Pasti lah Ceu,cucu satu-satunya." Sela Nenek tersenyum pahit.


Aku masih terdiam dengan terus berdo'a yang terbaik untuk kesembuhan Naysa.


" Emak ini uang tehnya nanti kalau masih ada kurangnya sama Nyai aja yah,yang penting saya mah sudah ngasih yang dua karung ini dulu yah." Ucap ceu Dedeh ramah.

__ADS_1


" Iyah Ceu." Jawab nenekku dengan singkat.


" Ayo Ann !kita pulang." Ajak nenekku sambil beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi,aku hanya mengangguk dan mengikuti langkah nenekku dari belakang.


--------------


SATU minggu sudah berlalu aku masih cemas menanti kabar dari Naysa, setiap kali aku menyetorkan teh ke rumah Nyai aku selalu berharap Naysa sudah pulang dan membawa kabar ke ajaiban tentang kesembuhannya itu.Namun harapan itu selalu pupus tatkala pagar rumah Naysa selalu tertutup.


Bayangan paras wajah cantik Naysa tiba-tiba muncul dalam benaku.


Dari usia kecil hingga tumbuh dewasa tidak ada yang berubah dari dalam dirinya seorang Naysa, dia tetap cantik dan mempesona, betapa sempurnya TUHAN menciptakan dirinya, wajah yang cantik serta hidup yang begitu bergelimpang harta serta dengan keutuhan kasih sayang yang melimpah dari keluarga besarnya sering membuat aku merasa cemburu dalam diam-diamku.


Tapi aku tidak memungkiri, rasa syukur ini tetap aku panjatkan,walaupun aku hidup dengan serba pa- pasan seperti ini namun aku selalu merasa itu sangat bahagia, karena hidup sudahlah ada bagiannya masing-masing, Naiysa memang sosok sahabat yang paling penyayang apa yang dia miliki selalu berbagi denganku.


Sejak kecil hingga dia dewasa kini dia tidak pernah membuat aku sedih, dia selalu membuatku tenang di kala aku cerita tentang kepedihan hidupku, dia selalu memberi semangat agar aku tetap kuat dan bangkit dari keterpurukannku.


Oh Nay... jika aku boleh meminta kepada TUHAN,aku ingin bertukar tempat denganmu agar engkau tetap ada untuk keluargamu dan aku rasa aku merasa egois dengan keadaanku sekarang ini.


" Anna..!"


Panggil seseorang mengejutkanku dari belakang.


Suara itu aku sangat mengenalinya,yaa suara lembut namun cmpreng memanggilku dengan kuat.


" Nay.."


pikirku.


Dengan rasa tak sabar aku cepat menoleh dan aku melihatnya.


Naiysa tersenyum ke arahku dengan semeringah.


" Nay !!! Nay Kamu sudah pulang ?" Seruku histeris.


Menatap tak percaya.


Naysa mengangguk dengan tersenyum kecil.


Dengan tak sabar aku menghambur menghampiri Naysa,begitu sangat bahagia ketika melihat senyumnya kembali merekah.


Aku pandang lekat ke wajah Naysa yang terlihat masih pucat dan sedikit mata masih sembab,pipinya terlihat sedikit tirusan.


" Kamu ya,, aku itu hawatir akan ke adaan kamu ,kamu kok malah balik tanya." Ucapku sedikit geram melihat sikap lelucon Naysa yang menyebalkan.


" Hihi....hihii.. " Nasya terlihat cekikikan melihat reaksi sikapku.


" Ana.Kemaren itu aku hanya kecapean saja makanua sampe pingsan." Sela Naysa sambil menggandeng erat tanganku.


" Iya aku tau itu,tapi aku cemas dan panik melihat kamu tidak sadarkan diri." Ucapku dengan perasaan kesal.


" Hihi.... ,,,saking senengnya aku ikut ke bukit ampe lupa akan stamina ku." Sela Naysa dengan tetap tersenyum menatapku.


" Besok-besok aku gak mau ajak kamu lagi." Ucapku merajuk.


" Loh kenapa ??? aku kan cuman kecapean doang An dan sekarang baik-baik saja kok." Ucapnya sambil memperlihatkan kesehatan dirinya.


Aahh Nay seandainya engkau tau betapa aku ketakutan melihat kamu terbaring tak sadarkan diri dan itu membuatku sulit untuk bernapas.


" Hey !! kok bengong sih An ?" Tiba-tiba Naysa mencolek pinggangku hingga aku terkejut dan tersadar dari lamunanku.


" Aduhh kaget aku !!." Seruku cukup keras.


" Hayoo ngelamunin siapa tuh ?" Godanya menatapku genit.


Aku menggeleng dengan tersenyum kecut.


" Aku itu sedang cemas sama kamu Nay,pas aku denger kamu di bawa ke JAKARTA, aku pikir kamu sakit parah." Ucapku pelan.


" Aku ke JAKARTA,ak chek kondisiku,dan itu baik-baik saja." Ucapnya dengan penuh manja.


" Tapi kok aneh ya An ? Ambu sama Ayah tidak memberi tahu aku soal penyakitku itu apa, mereka selalu bilang jika aku hanya kecapean saja,padahal dulu kita bolak balik ke bukit teh, aku selalu baik-baik saja. Masa sekarang gak bisa capek ? apa karena aku sudah tua kali ya ?" Jelas Naysa malah terus nyerocos.


Aku terdiam dan hanya menyimak obrolanya Naysa yang panjang lebar,padahal batinku mengigil sakit menahan haru yang begitu dalam.

__ADS_1


" Tapi mudah mudah-mudahan aku terapi aku bisa sembuh." Ucap Naysa pelan,dia kelihatan masih lesu.


Aku hanya mengAamiinin tanpa berkomentar apapun.


" Eh Emak mana ?" Tanya semeringah.


" Emak lagi gak enak badan,jadi aku yang metik teh hari ini."Ucapku pelan.


" Jadi kamu sendirian ?" Tanya Naysa terheran- heran.Aku mengangguk sembari tersenyum.


" Kamu emang wanita hebat." Ucap Naysa sambil mengacungkan dua jempolnya ke arahku.


Aku tetdiam menatap dalam wajah sahabatku itu.


Kamulah wanita yang paling hebat, dalam sakitmu kamu masih tetap tenang dan ceria Nay,ucapku membatin.


" Nay, aku berdo'a semoga kamu sehat-sehat terus ya." Do'aku dengan menatap sayang sahabatku.


" Amiin !! makasih do'anya ya An." Balas Naysa sambil tersenyum simpul ke arahku.


" Gak usah melo gitu dehh, mana pake mandangin akunya dalem banget lagi,kaya aku mau pergi kemana aja." Celoteh Naysa seenaknya dia ngecandain aku.


Aku menyeringai sebal akan ke lucuan sahabatku ini yang selalu ceplas ceplosnya.


Andai saja kau tau Nay, apa yang kurasakan sekarang ini, mungkin aku sudah tak sanggup lagi menahan tangis ini,berpura-pura baik-baik saja di tengah-tengah rasa sakitmu, yang sewaktu-waktu bisa saja rasa sakitmu mengambilmu dari kehidupanku.Dan itu hal yang sangat menyakitkan bagiku.


Batinku berkecambuk.


" Aku tuh tau,kamu itu seperti apa ?kamu tuh orangnya rapuhan,kalau kamu sedih dikit aja pasti kamu bisanya mewek, jadi jangan so so tegar gitu deh." Seloroh Nasya dengan cekikikan.


Entah kenapa tiba-tiba Naysa berkata dengan a apa yang sbenarnya kurasakan saat ini.


" Emang kamu tau apa dengan apa yang kurasakan saat ini ?" Tanyaku dengan tersenyum hambar.


" Mmmm,,,tau lah ! takutkan akan kehilangan aku..?" Celotehnya tanpa beban dan dengan di iringi tertawa kecil.


Aku terkejut dan aku bena- benar di buatnya terkaget- kaget dengan candaan Naiysa yang begitu jujur dan polos.Aku hanya menelan air liurku dengan sekuat tenagaku dan hanya bisa menganga tanpa berkata-kata lagi.


" Iyakan ??? buktinya aku ke JAKARTA bentar aja kamu langsung galau." Ujar Naysa sambil tertawa lebar.


Aku hanya bisa ikut tertawa getir antara bahagia dan sedih berbaur menjadi satu hingga sulit untuk membedakannya.Bibirku rasanya kaku untuk ku gerakan.


" Anna !! Emak gak ikut metik teh hari ini ?" Suara Nyai tiba-tiba muncul dari arah gerbang gudang.


Aku menoleh lalu membalikan badan menghadap ke arahnya.


" Tidak Nyai,Emak kebetulan hari ini lagi kurang enak badan." Jawabku penuh hormat.


" Kasian Emak,dia kecapean sepertinya." Ujar Nyai menatapku lembut.


" Bilang sama Emak jangan terlalu cape-cape, tar kaya aku pingsan loh." Celoteh lagi Naysa sambil tersenyum geli,dan itu membuatku kembali kesal.


Aku dan Nyai saling berpandangan namun dengan cepat kami pun ikut tertawa kecil.


" Kamu mah Nay aya aya wae." Sambungku sedikit kesal.


" Nay sudah minum obat ?" Tanya Nyai menatap ke arah Naysa.


" Sudah Oma.Oya Ambu sama Ayah belum pulang Oma ?" Tanya Nasya mendekat ke arah Nyai.


" Tadi mereka ada nelpon Oma,mereka bilang ada acara di kantor desa jadi agak telat pulangnya." Jelas Nyai tersenyum lembut.


" Hmmm,kalau gitu An temenin aku malam ini ya." Ucap Naysa memintaku untuk kembali menginap di rumahnya.


" Tapi Nay,Emak lagi kurang enak badan dan aku kasian ninggalin dia sendirian." Ucapku terbata.


Wajah cantik Naysa merengut atas penolakanku yang secara tidak langsung itu.


" Hmmm,,kalau enggak aku ikut kerumahmu ya An." Pintanya menatapku penuh iba.


Aku terkejut lalu menoleh ke arah Nyai yang ikut menyeringai kaget atas permintaan cucunya tersebut.


" Nay kamu masih sakit sayang, nanti-nati saja kamu bermalam di rumah Anna." Sela Nyai segera mewakiliku untuk melarangnya, aku setuju atas ucapannya Nyai.

__ADS_1


Naysa meliriku dengan kesal dan aku hanya mengangguk dan tersenyum lembut ke arah Naysa yang nampak mengerucutkan bibir mungilnya tersebut.


*Bersambung*


__ADS_2