Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA

Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA
episode 25


__ADS_3

 


ENTAH perasaan apa yang membuatku bisa datang bersamaan tiba di rumah Nay dengan Dika, aku masih menatap kaku ke arah Dika yang datang dengan membawa seikat bunga mawar di tanganya.


 Dika tersenyum walau terlihat di paksakan, aku berharap Dika bisa perlahan lahan melupakan perasaanya terhadapku, meskipun butuh waktu untuk melakukannya.


Aku mencoba untuk bersikap sewajarnya meski memang Tatapan Dika sedikit menggetarkan perasaan ini kembali, rasanya susah jika harus menghapus rasa ini begitu saja, aku sadar semua ini bukanlah atas kemauanku, namun takdir berkata lain.


" Haii An.." ucap Dika sembari turun dari motornya dan menghampiriku yang lebih duluan tiba di depan pelataran rumah Nay.


" Hai,, kamu baru tiba ?" tanyaku dengan sedikit cuek


" yahh,, kamu sendirian ke sini ?" tanya Dika sembari clinguka mencari sesuatu


" yaa " jawabku singkat, Dika mulai mengodaku dengan tatapan sindiran.


" Panji gak anterin kamu.." celotebnya sembari memainkan kunci motornya.


" kenapa see harus nanyain dia." tanyaku dengan nada kesal


" sekarang kamu lebih suka di antar Panjikan ?" ucapnya lagi dengan sikapnya yang mulai membuatku keki.


" sejak kapan see kamu bisa nyebelin ?"


" semenjak kamu buat aku kecewa.." balasnya sembari melangkah mendahului


" Dika,, aku sama Panji tidak ada hubungan apa apa." ucapku sembari cembetut.


" yakin...?" tanya Dika dengan sedikit menggodaku


" Dika..." selaku dengan mendelik, Dika hanya terlihat cengengesan tanpa memperdulikan perasaanku.


" ehh Dika, Anna.. kalian ko bisa datang bersamaan...?" sapa Nyai menyembul dari arah gerbang


" iya Nyai,, kebetulan.. kita sehati.. he..he.." sela Dika dengan sedikit terkekeh dan melirik genit ke arahku. aku tidak berbicara hanya tersenyum malu malu.


" Nay Da Nyai ?" tanyaku cepat


" baru dia sampe habis kemo lagi,, tu masih sama mamah papahnya.." ucap Nyai sembari mempersilahkan aku dan Dika masuk.


" ayoo masuk,, !" ajak Nyai dengan ramah.

__ADS_1


Aku dan Dika langsung di antar ke ruangan kamar Nay, aku dan Dika saling membisu tidak saling bercanda entah kenapa seperti ada jarak yang mulai membatasi rasa ini, ada rasa canggung yang menyergapku tiba tiba.


Nay terlihat memakai sebuah syal di lehernya dan sebuah sebo berwarna pich menutupi sebagian rambutnya yang mulai terlihat tipis, wajahnya kini terlihat begitu sembab, mungkin itu efek dari kemonya sendiri, hatiku menjerit tatkala melihat keadaan Nay yang semakin hari perlahan lahan menurun.


Aku berharap Dika bisa mengatakan persaannya hari ini, semoga saja bunga itu untuk hadiah istimewa untuk Nay, siapa tau itu menjadi penyemangat untuk Nay.


" Nay...!" panggilku sembari menghampirinya cepat.


" Anna..." balas Nay sembari tersenyum pasi ke arahku


" kamu cantik pake snebo ini.."


" jangan meledekku.."


" aku memujimu bukan meledekmu." selaku dengan tersenyum manis ke arah Nay yang terlihat lesu sekali.


" gimana keadaanmu hari ini ?"


" seperti ini saja.." sela Nay sembari menoleh Dika yan berdiri dihadapan Nay.


" kalian ko tumben datang barengan see?"


" tau ni Anna,, padahal kita gak janjian yah An.." ucap Dika sembari menoleh aku yang terdiam.


" oh..." ucap Dika mengantung dia melirik ke arahku dengan tatapan yang sedikit kaku.


" ehemmm.." ucapku mendehem dan sedikit genit ke arah Dika.


" ciee.. Ada yang degdegan ni sepertinya.." godaku sembari berdiri di belakang Nay, dengan cepat aku memberikan Kode ke arah Dika yang masih terlihat linglung.


" Nay,, ada yang mau menyatakan perasaannya nee.." ucapku sembari memberi isyarat ke arah Dika dengan memohon untuk menyatakan cinta kepada Nay, Nay terlihat salah tingakah di buatnya, bebrapa kali dia membenarkan syal dan snebonya.


" An.." pekik Dika menatapku penuh tanya. aku memberi isyarat kembali dengan menutup kedua telapak tanganku di dada mencoba memohon lagi dengan raut wajah yang memelas, Dika terlihat menarik napas dan raut wajahnya terlihat pasrah.


" Nay..." ucap Dika sembari berdeku di hadapan kursi rodanya Nay, Nay terlihat salah tingakah dan raut wajahnya terlihat tegang.


" Apaan see ini ?" tanya Nay sembari menengadah menatapku.


" Nay... aku ingin kamu tau sesuatu dariku.." ucap Dika dengan suara yang lembut


"aku sayang kamu.." ucap Dika sembari memberikan seikat bunga mawar merah kehadapan Nay.

__ADS_1


" waw... so sweet banget,, sepertinya to the poin banget deh.." selaku dengan sedikit berpura pura bahagia, aku berharap Dika tidak terpaksa melakukannya, Dika bisa mencintai Nay dengan setulus hati tanpa harus bersandiwara ataupun terpaksa.


" An..." pekik Nay menggengam tanganku yang berada di pundaknya.


" aku ga bisa berkata kata puitis untukmu, aku hanya mampu mengatakan semua ini lewat seikat bunga ini Nay,, "


" Yaa Allah An.. aku terharu,," ucap Nay sembari menyeka air matanya yang perlahan lahan mengalir di sudut matanya, aku terharu melihatnya walau sebagian hati kecilku sedikit tergores.


" kalian serasi..." pekiku pelan, Dika menatapku dengan rasa yang tak menentu, aku mencoba membalas dengan senyuman yang tulus, sorot mataku seolah olah aku tidak keberatan sedikit dengan apa yang telah Dika lakukan.


" kamu yakin dengan perasaan kamu itu Dik ?" tanya Dika menatap nanar ke arah Dika, Dia terdiam menatap haru ke arah Nay.


" aku tidak ingin kamu mencintaiku karena kasihan Dik " ucap Nay dengan tatapannya yang mulai basah


Dika membagi pandangannya ke arahku dia seperti merasa bersalah telah menyatakan perasaanya terhadap Nay.


" tidak Nay,, aku mencintaimu apa adanya,,aku mencintaimu tulus,,"


" yakin ??" tanya Nay sembari menatap dalam Dika


" yakin banget.." ucap Dika sembari meraih tangan Nay dan di genggamnya dengan erat, aku hanya bisa pasrah dalam bahagia bisa melihat Nay ceria kembali.


" An... jangan sampe bubar ia persahabatan kita,, walau aku sama Dika saling mencintai.." ucap Nay dengan suara parau


" tidak Nay,, Dika mencintaimu haknya dia,, dan kalaupun kalian saling mencinta aku tidak ada hak untuk melarang,, aku bahagia bisa melihat kalian bersama." jelasku dengan ikut menangis, walaupun tangisan ini bukanlah tangisan bahagia, melainkan tangisan kehancuran yang teramat dalam kurasakan


biarlah Nay bisa bahagia di akhir hayatnya bersama Dika, karna ku yakin hatiku bisa kembali pulih walau harus tanpa cinta seorang Dika.


Nay menarik tanganku dan menumpukannya di atas tangan Dika, aku terunduk tatkala Dika menatapku masih dengan sorot mata penuh rasa cinta.


" aku berharap kita terus bersama,, walau esok atau nanti aku telah tiada." ucap Nay dengan lirih


ohh Nay.. aku harus berapa banyak lagi menangis untuk keadaanmu, rasanya batin ini benar benar menjerit setiap kali mendengar kata kata yang di ucapkan oleh mu.


AKU takut akan kehilangan orang yang selalu ada untukku, orang yang selalu ada dikala aku duka,orang yang selalu berada di depanku ketika sebagian orang menghina dan menghujatku, sejadi jadi aku memeluknya erat tanpa menghiraukan lagi Keadaanya.


" ohh TUHAN ku sayang dia,, berikanlah dia hidup agar aku bisa lebih lama bersamanya, aku ingin seperti dulu ketika kami kecil tak ada duka, yang ada hanya canda tawa yang selalu mewarnai hari hari bersamanya."


jeritku dalam batin sejadi jadi.


meraung tanpa henti, aku sadar waktu tak bisa untuk di ulang semua tinggal kenangan, kini hanya ada separuh sisa sisa dan detik detik yang sangat menegangkan serta menakutkan bagiku.

__ADS_1


aku belom siap rasanya jika harus kehilangan Nay dengan secepat ini, air mata ini sangat sulit kubendung semua mengalir tanpa henti.


# bersambung #


__ADS_2