Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA

Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA
TSBUN-Episode 22


__ADS_3

 


ENTAH perasaan apa yang membuatku bisa datang bersamaan dengan Dika ke rumahnya Naysa, aku masih menatap kaku ke arah Dika yang datang dengan membawa seikat bunga mawar di tanganya.


 Dika tersenyum walau terlihat di paksakan dan aku berharap Dika sudah bisa melupakan perasaanya terhadapku, meskipun aku butuh waktu untuk melakukannya.


Aku mencoba untuk bersikap sewajarnya meski memang tatapan Dika sedikit menggetarkan perasaan ku kembali, rasanya sulit sekali jika aku harus menghapus begitu saja jejak perasaan ini, aku sadar semua ini bukanlah atas kemauanku,ini adalah takdir yang berkata lain untukku.


" Haii An.." Sapa Dika seraya turun dari motornya,lalu tak lama ia menghampiriku yang lebih dulu tiba di depan pelataran rumah Naysa.


" Hai Dik,kamu baru tiba ?" Tanyaku sedikit acuh.


" Ya !! kamu sendirian ke sini ?" Tanya Dika sembari clingukan seolah-olah sedang mencari sesuatu.


" Ya,aku datang sendiri." Jawabku singkat, Dika tersenyum lucu,dan mulailah dia mengodaku dengan tatapan penuh cemooh seolah-olah dia tak mempercayai akan ucapanku.


Aku menatap kesal ke arah sikap Dika.


" Panji gak anterin kamu ?? " Celotebnya sembari memainkan kunci motornya.


Sudah kuduga,jika dia akan mempertanyakan hal itu.


" Pyuhhh !! kenapa sih harus nanyain dia ?" Tanyaku dengan nada kesal.


" Ya secara kan sekarang kamu lebih suka di antar dia kan ?" Ucapnya lagi dengan sikapnya yang mulai membuatku semakin keki.


" Sejak kapan sih kamu bisa nyebelin kaya gini ?" Tanyaku dengan menatap geram.


" Semenjak kamu buat aku kecewa." Balasnya seraya melangkah meninggalkan aku.


Aku tertegun mendengar jawabannya Dika.Aku mengejarnya dengan perasaan jengkel.


" Dika !! aku sama Panji tidak ada hubungan apa apa." Ucapku merengut.


" Yakin...?" Tanya Dika menolehku dengan sedikit menggodaku.


" Dika...," Selaku dengan mendelik, tapi Dika hanya terlihat cengengesan tanpa memperdulikan perasaanku.


Sesampainya di depan gerbang aku tak sengaja bersenggolan dengan Dika yang ikut masuk bersamaan.


" Ehh Dika, Anna !! kalian kok bisa datang bersamaan.?" Sapa Nyai menyembul dari arah pintu.


" Iya Nyai,kebetulan kita sehati.. he..he.." Sela Dika dengan terkekeh dan melirik genit ke arahku.


Aku tidak berbicara hanya tersenyum kaku.


" Naysa nya ada Nyai ?" Tanyaku cepat dan segera mengalihkan pembicaraan.


" Baru saja dia sampe rumah, habis kemo lagi.Tuh lagi sama Ambu dan Ayahnya." Balas Nyai sembari mempersilahkan aku dan Dika untuk segera masuk.


" Ayoo masuk saja!" Ajak Nyai dengan ramah.


Aku dan Dika pun langsung di antar ke dalam rumahnya Naysa, aku dan Dika saling membisu tidak saling berbicara ataupun bercanda, entah kenapa seperti ada jarak yang mulai membatasi sikap ini.


Ada rasa canggung yang menyergapku secara tiba-tiba.


Naysa terlihat begitu sendu,dengan mengenakan syal di lehernya dia terlihat begitu anggu.


Ada penampakan yang tak biasa yang di kenakan di kepalanya,sebuah sebo berwarna pich menutupi sebagian rambutnya yang mulai terlihat tipis, wajahnya kini terlihat begitu sembab, mungkin itu efek dari kemonya sendiri.


Sontak itu membuat hatiku kian menjerit tatkala melihat keadaan Naysa yang saat ini,perlahan penyakit itu mengambil sebagian besar aura kehidupannya.


Aku berharap Dika bisa mengatakan persaannya di hari ini juga, dan semoga saja bunga itu adalah hal istimewa yang akan di berikannya untuk Naysa, siapa tau itu akan menjadi penyemangat untuk Naysa.Pikirku membatin.

__ADS_1


" Nay!" Panggilku sembari menghampirinya.


" Anna." Balas Naysa tersenyum pasi ke arahku


" Kamu cantik pake snebo ini.." Pujiku dengan semeringah.


" Jangan meledekku.." Balas Naysa merengut.


" Aku ini memujimu bukan meledekmu." Selaku dengan tersenyum manis ke arah Naysa yang terlihat lelah sekali.


" Gimana keadaanmu hari ini ?" Tanyaku seraya berjongkok di samping kursi rodanya.


" Seperti ini saja.Belum ada ke ajaiban" Imbuh Naysa sembari menoleh Dika yan berdiri dibelakangku.


" Nay !" Panggil Dika tersenyum.


Naysa tersenyum semeringah melihat kedatangan Dika yang bersaamaan denganku.


" Kalian kok tumben datang barengan ?" Tanyanya dengan tersenyum lembut.


" Tau ni Anna ! Padahal kita gak janjian loh Nay." Ucap Dika sembari menoleh aku yang terdiam.


Naysa tersenyum ringan.


" Sepertinya aku punya pirasat lain deh,jika hari ini ada yang begitu special,sampe bawa bunga segala." Ucapku sembari melirik ke arah bunga yang di bawa oleh Dika, Naysa pun mengalihkan tatapannya ke arah Bunga yang di bawa oleh Dika,dan aku melihat ada sedikit senyuman manis yang mulai merekah dari bibir pucatnya Naysa.


" Oh !! " Ucap Dika tak lantas, dia melirik ke arahku dengan tatapan yang begitu kaku.


" Ehemmm." Aku mendehem dan tersenyum genit ke arah Dika.


" Ciee,sepertinya ada yang degdegan nih." Godaku lagi sembari berdiri dan merubah posisiku menjadi berdiri di belakang Naysa.


Dengan cepat aku memberikan satu isyarat ke pada Dika yang masih terlihat linglung.


Aku sendiri tidak tau tujuan Dika membawa bunga itu untuk apa,namun aku hanya berusaha untuk membujuj Dika mengungkapkan isi hatinya sekarang juga.


" Nay,sepertinya ada yang mau menyatakan perasaannya nih." Ujarku sembari kembali memberi isyarat ke arah Dika untuk menyatakan perasaanya,dan aku sangat memohon untuk hal itu.


Naysa berhasil salah tingakah di buatnya, beberapa kali dia membenarkan syal dan snebonya.


" An.." Pekik Dika menatapku penuh berbagai perasaan.Aku mengangguk pasti dengan memberikan isyarat kedua kalinya dengan cara menutup kedua telapak tanganku yang disimpan di dadaku untuk memohon.


Dika menatapku kian gamang setelah melihat raut wajahku yang memelas,ia kembali menarik napas dengan raut wajahnya terlihat pasrah.


" Nay..." Ucap Dika sembari berdeku di hadapan kursi rodanya Naysa.


Aku mengalihkan pandangan ke arah yang lain.Naysa terlihat salah tingkah dengan raut wajahnya menegang.


" Ada apa ini ?" Tanya Naysa sembari menengadah lalu menatap ke arahku.


" Naysa,aku ingin kamu tau sesuatu dariku." Ucap Dika dengan suara yang lembut.


Dika yang akan bicara,aku yang sesak.


Sejenak Dika menatap dalam wajah sahabatku itu dengan tatapan yang tak biasa,dan itu membuatku sedikit terluka.


" Nay..,hmmm !aku sayang kamu." Ucap Dika sembari memberikan seikat bunga mawar merah kehadapan Naysa.


Di ujung sudut mataku tergurat rasa kecewa yang dalam,namun itu harus aku sembunyikan dan ku simpan dalam-dalam rasa patah hati ini.


" Wow !!so sweet banget Dika, sepertinya to the poin banget kamu ini." Seruku dengan berpura-pura bahagia, aku berharap Dika tidak merasa terpaksa melakukan semua ini,dan Dika bisa mencintai Naysa dengan setulus hati tanpa harus bersandiwara demi aku.


Naysa tampak terkejut melihat aksinya Dika yang menyatakan isi hatinya kepada dirinya.

__ADS_1


" An !! " Pekik Naysa seraya meraih tanganku serta menggengam.


" Ini bukan sebuah lelucon ?" Tanya Naysa seraya menolehku dengan tatapan tak percaya,aku menggeleng berusaha meyakinkannya.


" Nay,aku ga bisa berkata-kata puitis untukmu, aku hanya mampu mengatakan apa yang aku rasakan atas semua ini hanya lewat seikat bunga ini." Ungkap Dika dengan sorot mata yang tak biasa.


" Yaa Allah An !! aku terharu." Desis Naysa sembari menyeka air matanya yang perlahan-lahan mengalir di sudut matanya, aku terharu melihatnya walau sebagian hati kecilku sedikit tergores.


" Anna !!" Panggil Dika mengejutkanku.


Aku menatap Dika dengan seksama.


" Kamu adalah saksi dari apa yang aku rasakan terhadap Nay." Ucapnya dengan sorot mata yang berhasil menggetarkan seluruh perasaan ku.


Entahlah,setiap ucapan yang keluar dari mulutnya seprti ujung tombak yang menancap kuat di ulu hatiku.


Aku mengagguk dengan tersenyum getir.


" Kalian pasangan serasi !!" Pekiku pelan, Dika menatapku semakin tak menentu,dan aku pun hanya membalas dengan seulas senyuman,sorot mataku seolah-olah memberi isyarat jika aku tidak akan keberatan sedikit dengan apa yang telah Dika lakukan terhadap Naysa.


" Kamu yakin dengan perasaan kamu itu Dik ?" Tanya Naysa menatap nanar ke arah Dika.


Dika terdiam menatap bimbang ke arah Naysa.


Aku yang menyaksikan ikut tegang akan pertanyaan yang di lontarkan Naysa.


" Aku tidak ingin kamu mencintaiku hanya karena kasihan Dik." Imbug Naysa dengan tatapan yang semakin basah.


Dika membagi pandangannya ke arahku dan dia seperti merasa bersalah telah menyatakan perasaanya terhadap Naysa.


Aku berusaha untuk menguatkan perasaan Dika supaya tidak berubah pikiran.


" Tidak Nay !! aku mencintaimu apa adanya dan aku mencintaimu dengan setulus hatiku." Ungkapnya dengan meraih tangan Naysa.


" Yakin ??" Tanya Naysa sembari menatap dalam Dika.


" Yakin banget !! " Ucap Dika menggenggam erat tangan Naysa.Aku hanya bisa pasrah dalam kebahagiaan yang Dika berikan untuk Naysa.Dan aku sangat bersyukur bisa melihat Naysa ceria kembali.


" An !! jangan sampe bubar ya persahabatan kita, walau aku sama Dika saling mencintai." Ungkap Naysa dengan suara parau.


Aku menggeleng dengan tersenyum lembut.


" Tidak Nay.Dika berhak mencintaimu dan kalaupun kalian saling mencinta aku tidak ada hak untuk melarangnya justru aku bahagia bisa melihat kalian bersama." Jelasku dengan ikut menangis. walaupun tangisan ini bukanlah tangisan bahagia, melainkan tangisan kehancuran yang teramat dalam yang kurasakan.


Biarlah Naysa bisa bahagia di akhir hayatnya bersama Dika, karna ku yakin hatiku bisa kembali pulih walau harus tanpa cinta seorang Dika.


Naysa menarik tanganku dan menumpukannya di atas tangan Dika, aku terunduk tatkala Dika menatapku masih dengan sorot mata penuh rasa cinta.


" Aku berharap kita terus bersama walau esok atau nanti aku telah tiada." Ucap Naysa lirih.


Aku tertegun.


*O*hh Nay.. aku harus berapa banyak lagi menangis untuk keadaanmu, rasanya batin ini benar-benar menjerit setiap kali mendengar kata -kata yang di ucapkan oleh mu.


AKU takut akan kehilangan orang yang selalu ada untukku, orang yang selalu ada dikala aku merasakan duka,orang yang selalu berada di depanku ketika sebagian orang menghina dan menghujatku.


Sejadi - jadi aku memeluknya dengan erat tanpa menghiraukan lagi Keadaanya.


*O*hh TUHAN ku sayang dia !! berikanlah dia hidup agar aku bisa lebih lama bersamanya, aku ingin seperti dulu ketika kami kecil tak ada duka, yang ada hanya canda tawa yang selalu mewarnai hari hari bersama.


Jeritku membatin.


meraung tanpa henti, aku sadar waktu tak akan pernah bisa untuk di ulang semua akan meninggalkan sebuah kenangan, dan kini hanya ada separuh sisa-sisa perjuangan di detik-detik yang sangat menakutkan bagiku.

__ADS_1


Aku sadar karena aku belum siap rasanya jika harus kehilangan Naysa secepat ini, air mata ini sangat sulit kubendung semua mengalir tanpa henti.


# bersambung #


__ADS_2