
AKU berdiri tidak jauh dari Panji yang sedang asyik menatap takjub kearah kebun mawar merah, dia terlihat tersenyum seorang diri seraya sesekali menoleh ke arahku, aku hanya terdiam dengan berbagai macam pikiran yang berkecambuk dibenakku.
" Na kok kamu diam saja ?" Tanyanya menatapku.
" Terus aku harus kaya gimana ?" Tanyaku dengan polos.
" Cerita lah tentang hubungan kalian .?" Tanya Panji tersenyum penuh ironi.
" Kalian ??" Tanyaku heran.
" Yaa ! Kalian, kamu sama Dika." Ucap Panji dengan raut wajah tak biasa.
" Jadi kamu mengajak aku kesini hanya untuk membahas itu ?" Tanyaku mulai kesal.
" Tidak seperti itu juga,hanya saja dari tadi kamu diam terus." Balas Panji tersenyum tak nyaman setelah melihat raut wajahku berubah.
" Aah sudahlah jangan membahas masalah itu." Ucapku merengut, Panji menolehku, sekilas dia menangkap raut wajahku kesalku.
" Sorry !! kamu rupanya tidak suka jika aku mebahas masalah Dika ?" Imbuhnya dengan tersenyum lembut.
" Aku sama Dika sudah tidak ada hubungan apa- apa lagi dan kita cuman sahabatan saja, gak lebih!" Tegasku mantap.
" Tapi aku tidak yakin ?" Balas Panji menatapku tak percaya.
Aku menghela lalu menatap tajam ke arah Panji.
" Nji ! kalau kamu ajak aku kesini cuma mau bahas Dika,mending aku pulang saja." Ucapku melengos.
" Ok ! ok aku minta maaf." Ujar Panji mendekatiku dan menatapku dengan rasa bersalah.
" Na !!" Panggilnya pelan.
Aku terdiam tidak langsung menyahut panggilannya,kurasa aku masih kesal atas sikapnya tersebut.
" Na,aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Ucap Panji dengan nada suara penuh penekanan.
Perlahan aku menolehnya lalu menatap ragu ke dalam wajahnya.
Ekspresi wajahnya terlihat berubah serius, dan sejadi-jadi perasaan ku berubah tak karuan.Entahlah suhu badanku tiba-tiba berubah panas dingin,dan perasaan grogi menyergapku.
Perasaan aneh tiba-tiba hadir dan muncul ke permukaan hatiku, perasaan yang telah lama kurasakan saat jatuh cinta terhadap Dika, kini tiba-tiba hadir dalam perasaan ini,rasa yang tak pernah ku duga sebelumya akan menimpaku kembali.
Aku terdiam mencoba merasakan perasaan yang sedang berkecambuk dalam hatiku.
firasaku terus menerka- menerka akan alur cerita ini.
Dan pikirannku terus berkeliaran mencoba menebak arah kemana tujuan dari pembicaraannya Panji. Ada rasa was-was yang begitu membuncah dalam hati ini, ketakutan akan jatuh cinta lagi mendominasi di pemikiran ini.
Y**aaa aku tidak bisa menebak begitu saja akan persaan ini akan berubah arah jika ada kesempatan untuk kembali jatuh cinta.
__ADS_1
" Na !! kamu baik-baik saja.?" Panji mengejutkan lamunanku, sontak aku terlihat begitu kaget di hadapan Panji.
" Kok kamu malah tegang gitu sih ?." Lagi-lagi Panji terlihat menggodaku, dan aku pun seperti orang linglung serta salah tingah di buatnya.Panji berhasil membuatku geer,geramku membatin.
" Aku pulang saja !! " Ucapku sembari berdiri dan hendak melangkah, dengan cepat Panji menyambar pergelangan tanganku,hingga aku tersentak.
" Kamu ngambekan ya Na." Selanya dengan terus tersenyum menatapku.
" ......"
Aku terdiam seraya menahan rasa yang mulai tak biasa.
" Na,ini adalah kesempatan aku untuk mengatakan apa yang kurasakan selama ini terhadap kamu Na.." Ujar Panji sembari melepaskan cekalannya dan berdiri tepat di hadapanku, dengan sekuat tenaga aku mencoba menatap wajah Panji yang begitu bersih,kedua rahangnya terlihat begitu tegas dengan tumbuhi jambang tipis yang halus,sorot matanya yang teduh menatapku begitu dalam.
*Y*aa TUHAN kenapa ketampanannya melebihi Dika, sorot matanya telah menghanyutkan perasaanku.Dan entah kenapa hati ini menjadi tak karuan di buatnya. Wajah yang dahulu sangat jutek itu kini begitu hangat menatapku dan ini rasanya sulit ku artikan.
Lagi-lagi aku sibuk dengan suara hatiku, ketololan apa yang telah aku rasakan saat ini, aku baru menyadarinya jika ada yang istimewa dalam diri seorang Panji.
Yaa tidak menutup kemungkinan jika hati mulai ada rasa yang tak biasa untuknya.
" Aku sayang kamu Na.Apakah kamu mau jadi pacarku ?" Tanya Panji lirih, suaranya langsung menyelinap dalam pendengaranku ini, nyaris tak terdengar jelas namun mampu membuatku melayang tinggi.
Berdesir rasanya darah ini seakan-akan melaju cepat di aliran nadiku ini.
Aku terdiam tak bergeming,berusaha meyakinkan kenyataan ini, aku tidak mudah untuk mempercayainya,karena patah hati bukan lah hal yang mudah untuk di sembuhkan.
" Kenapa kamu tidak menjawab ?" Tanya Panji menuntut sebuah jawaban.
Aku semakin bingung untuk menjawabnya.
Ku hela lalu ku arahkan pandangan ini menatap lurus ke wajah pria yang ada di hadapanku,pria yang dulu menjadi sosok misterius bagiku.
" Maaf Panji, aku tidak semudah itu menjawab akan pernyataanmu." Ucapku seraya membalikan badanku dan merubah arah posisiku.
" kenapa ?" Tanyanya dengan ragu.
" Sepertinya aku belum bisa...," Ucapku menggantung,tiba-tiba saja lidahku terasa kelu, tak sanggup untuk berkata lagi.
" Apakah kamu masih mencitai Dika?" Tanya Panji melangkah dan menghadap ke arahku lagi.
" Sudahlah Panji,aku belum siap untuk jatuh cinta lagi." Jawabku dengan suara bergetar.
" Kenapa ?? apa karena aku tak sebaik Dika , atau karena kamu belum bisa melupakan Dika ?" Tanya lagi Panji dengan penuh rasa penasaran.
Aku membuang muka,berusaha menghindar dari tatapan tajamnya Panji.
" Kamu tidak perlu memandingan kamu dengan siapapun termasuk Dika, aku tau kamu adalah laki-laki baik, tapi maaf kan aku Panji, aku belum bisa menyakinkan persaanku ini." Jelasku dengan perasaan yang begitu berat.
" Jadi kamu butuh waktu untuk meyakinkan perasaan kamu itu ?berapa lama kamu akan menyakinkan persaan kamu itu ? aku akan menunggu." Balas Panji tandas.
__ADS_1
Aku tercekat lalu menatap semakin intens ke arah wajahnya.
" Panji ini bukan masalah waktu,aku tidak bisa menentukan perasaan ini dalam hitungan waktu.Ini masalah persaan Nji."Jelasku dengan penuh penekanan.
" Bukankah kamu butuh waktu buat menyakinkan persaan kamu itu kan,dan itu artinya waktu yang akan merubah perlahan persaanmu kamu terhadap seseorang ?" Ucap lagi Panji dengan menatapku tajam.
Aku terdiam melipat dalam bibirku.Entah apa lagi yang harus aku jelaskan kepada Panji jika saat ini aku belum siap untuk kembali jatuh cinta.
" Jika kamu memang sudah tidak ada apa-apa lagi dengan Dika,itu artinya kamu berhak untuk membuka hati kamu untuk yang lain,termasuk aku Na." Ujar Panji menatap penuh harapan kepadaku.
Aku semakin terdiam mencoba mencerna ucapannya Panji.Dia benar,aku berhak untuk bahagia walau tidak dengan Dika.
Aku menarik napas panjang,sesaat ku memejamkan matakku dengan berbagai keputusan.
" Baiklah !! berikan aku waktu untuk menyakinkan persaanku ini.." Putusku dengan perasaan berat.
" Berapa lama ?" Tanya Panji menanti jawaban.
" Panji,ini masalah persaan,dan itu bukan hal yang mudah aku lakukan,aku tidak bisa menjajikan apapun untuk mu jadi slsebaiknya kamu tidak usah menungguku,biarkan semua ini mengalir begitu saja." Jelasku dengan berbagai perasaan yang campur aduk.
Panji menggeleng.
" Lalu,kamu tidak memberi kepastian untukku ?" Tanya Panji menatap nanar ke arahku.
" Sebaiknya kamu jangan terlalu banyak berharap kepadaku,karna,karna aku tidak bisa memberimu sebuah kepastian.Merubah sebuah perasaan itu lebih sulit dari pada membendamnya." Jelasku.
" Yaa,aku tau itu,dan apa yang aku rasakan saat ini seperti itu,sulit rasanya aku mengubah persaan ini terhadap seseorang,tapi aku mampu memendamnya hingga bertahun-tahun lamanya." Ujar Panji mendalam.
Aku terenyuh dengan kata -kata yang di ucapkannya, Aku mencoba menatapnya dari ujung mata ini, terlihat Panji mencoba menahan rasa kecewanya yang teramat dalam setelah mendengar apa yang telah aku katakan kepadanya.
Aku tidak mungkin mengabaikan perasaan yang selama ini terabaikan olehku,namun aku harus memulai darimana,sementara perasaan ini masih terpaut erat di hati seorang Dika.
Lagi-lagi aku menghela napas panjang,mencoba menetralkan semua perasaan yang takaruan.
" Sepertinya aku perlu waktu untuk mempertimbangkan semua jawaban ini." Sambungku pelan,
Perlahan aku mulai berjalan meninggalkan Panji yang masih larut dalam kekecewaanya, entahlah aku tidak bisa berbuat banyak,atas perasaan ku ini.Aku masih mengakui jikalau memang persaan ini benar adanya masih ada untuk seorang Dika dan aku hanya bisa membenam.
Aku hanya ingin membatasi perasaan ini,untuk menghindari diri dari sebuah kekecewaan yang dalam. Sosok Dika adalah sosok citra cinta pertamaku yang membuatku sulit untuk bisa melepaskan begitu saja hingga sulit menerima kenyataan.
Meksi aku saat ini sedang berusaha dan berjuang untuk melepaskannya dan berpaling darinya, tapi hati kecil tetap belum mampu menghianati perasaanku yang sesungguhnya. Dan aku masih tetap mencintainya.
Rasa ini tumbuh kuat dalam hati ini atas nama Dika, yaa cintanya lah yang mengikat erat hatiku ini, walau ada keinginan untuk mencoba berpaling dan menerima niat baik Panji, namun entah kenapa rasa itu seolah- olah memenjarakan perasaan yang tersesat antara ketulusan dan pelarian.
Tak terasa air mata ini mengalir menganak sungai di mataku dan perlahan meniti satu persatu.
Seharusnya aku tak lagi menangis karena cinta dan seharusnya aku tersenyum bahagia walau tanpa cinta.
# bersambung #
__ADS_1