
NAIYSA terlihat tengah mengatur laju napasnya, perlahan ia mulai terlihat ngos-ngosan namun entah kenapa ia tetap semangat mendaki bersamaku dan nenekku.
Medan yang di lalui berliku serta naik turun tak begitu ia hiraukan,raut wajahnya terlihat nampak begitu bahagia.Namun tetap saja cemasku tidak bisa hilang setelah melihat raut wajah Naiysa mulai terlihat memucat.
" Huuuuh !! Akhirnya aku sampai juga di atas." Seloroh Nay seraya langsung terduduk di saung.
" Nay!" Panggilku dengan pelan.
" Aduhh baru kali ini aku bisa jalan-jalan kaya gini lagi An." Ucapnya seraya mengipas-ngipaskan topinya ke tubuhnya.
" Tapi aku cemas." Selaku dengan gusar.
" Ngapain juga kamu tuh cemasin aku An,kan aku mah baik-baik saja." Sela Nay dengan enteng namun aku mampu melihat rasa letih dari sorot matanya.
" Aku setelah lulus sekolah saja sudah tidak pernah kesini lagi kan An,dulu kita selalu balapan sama kamu dan Dika." Ucap Naiysa sambil kembali larut dalam kenangannya.
" Dan kamu selalu menjadi yang pertama sampai di atas puncak ini,jalannya seperti kancil yang suka lompat sana lompat sini." Selaku dengan tersenyum tipis.
" Aku kangen Dika Nay,kira-kira ia masih ingat kita gak yahh ?" Tanya Nay dengan cemas.
Aku terdiam lalu menatap dalam ke wajah Nay yang tengah melamun panjang.
" Pasti lah Nay,dia tidak mungkin melupakan kita begitu saja." Selaku dengan sok pasti.
" Waaawww !!" Teriak Naysa sambil berdiri dan membentangkan kedua tangannya dengan lurus,seakan- akan ia menikmati angin segar yang begitu bersemilir meniup perlahan rambutnya hinga terurai panjang.
" Ternyata pemandangan di atas bukit ini lebih menyenangkan ya An " Seru Naiysa menolehku.
" ...............!!"
Aku tidak menjawab hanya merasakan kecemasanku yang semakin mengikatku kuat.
" An !"
Panggil kembali Naysa sambil menarik napas panjang lalu ia terpenjam sejenak untuk menikmati suasana di atas bukit teh yang sejuk dan segar akan udaranya itu.
" Neng Nay mau minum ?" Tanya nenekku menyela dari belakangku.
" Makasih mak." Ucap Naiysa sambil membalikan badannya dan menerima segelas minuman yang nenekku sodorkan.
" Mantap mak." Sela Nay tersenyum lembut ke arahku.
" Nay kamu di sini saja yahh ! Aku sama emak mau metik." Ucapku sambil mengendong keranjang tehku kembali.
" Aku ikut saja ya!sekalian bantuin kamu." Pinta Naysa merengek kembali.
Sontak itu membuat ku terkejut.
" Janganlah Nay.Kamu disini saja." Cegahku sambil bergegas menuju ke tengah-tengah perkebunan.
Sedangkan nenek sudah sedari tadi berada di tengah-tengah perkebunan untuk memulai pekerjaannya.
Baru saja aku memulai pekerjaanku,aku merasa ada sesuatu yang bergerak-gerak di belangku,aku pun menoleh dan memastikan ke adaan di belakangku.
" Nay !!!"
Sontak aku terkejut tatkala melihat Nay sudah berada di belakangku dengan tersenyum menggodaku.
" Aduhhh bikin aku tidak konsen saja nih anak." Gumanku pelan.
" Tenang saja,aku baik-baik saja An." Balas Nay seraya ikut sibuk membatu memetik pucuk teh tersebut.
" Tangan kamu nanti kotor Nay." Cegahku lirih.
" Ikh kamu tuh bawel banget sii An." Ucap Naysa mendelik ke arahku.
Ahh rasanya aku ingin berkata keras kepadanya agar dia tidak ikut serta dalam pekerjaanku ini,namun apalah daya ia terlalu lembut untuk ku ajak berbicara keras dan aku pun hanya bisa berdo'a dalam hati ini semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan sabahat terbaiku ini,jerit dalam batinku.
Hari semakin sore Naiysa masih terlihat asyik menemaniku memetik teh dengan penuh semangat dia ikut menuangkan teh-teh yang sudah ku kumpulkan di keranjang lalu di pindahkannya ke karung yang besar.
" Kamu tidak pernah bosan An bekerja seperti ini terus ?" Tanya Nay menolehku.
" Tetap di syukuri saja Nay ini adalah jalan hidupku." Balasku pelan.
" Aku do'akan kamu kelak menjadi orang besar An." Ucap Naiysa terkekeh.
__ADS_1
" Makasih atas do'anya Nay." Balasku tersenyum lembut.
" Tapi kalau lihat emak sepertinya beliau tidak pernah lelah ya An ?" Tanya Nay menatapku lekat.
" Nenek adalah Super women Nay.hee.. hee." Selaku melirik Naiysa yang masih tersenyum menatapku.
" Nenekku adalah pahlawan hidupku." Ucapku lagi dengan haru.Naiysa mengangguk ngangguk membenarkan ucapanku.
" Aku banyak belajar tentang kehidupan ini dari nenekku Nay, dia adalah perempuan terkuat dan tersabar yang pernah aku temuin." ucapku lirih.
" Semoga kalian senantiasa sehat terus ya An ." Sela Naiysa terseyum simpul ke arahku.
" Aamiin.." jawabku pelan
" Udah mau sore Nay, bentar lagi waktunya pulang." Ajakku seraya merapihkan pakaianku.
" Gimana banyak An hari ini petikan teh mu ?" Tanya Naiysa melongo ke karung yang berisi teh.
" Habisnya ada bala bantuan sih,jadi cukup lumayan banyak hee hee.., " Selaku seraya tersenyum bercanda.
" Sudah jam berapa ini ?" Tanya Naiysa terlihat menyapu pandangannya kesekelilingnya.
" Mana ada aku bawa jam Nay." Selaku lagi.
" Teruss ? kamu gak tau dong waktu pulang sama istirahat ?"
" Tenang,nenekku itu hapal betul waktu-waktu tertentu, tadi saja kita sholat nenek yang ngasih tau kan?paling sekarang sudah mau jam empatan Nay." Jelasku dengan sedikit bangga akan insting nenekku.
" Hebat dong yaa nenek kamu,bisa hapal waktu." Ucap Naysa tersenyum enteng.
" Nenek sudah bertahun -tahun kerja seperti ini,pastinya sudah hapal akan setiap waktu-waktunya." Jelasku sambil kembali membereskan daun-daun teh yang tercecer di tanah.
Naiysa sejenak terdiam lalu memejamkan kedua matanya seraya meringis kecil.
" Nay,kamu baik-baik saja ?" Tanya ku dengan cemas sesaat aksinya terlihat olehku.
" Aku baik-baik saja An." Jawab Naiysa menarik napas panjang.
" Yakin.??" Tanyaku memastikan.
" Beneran An,cuman agak pusing sedikit saja kepala ku ini." Jelasnya sambil memijat pelan kepalanya.
" Sudah kamu duduk saja Nay, tunggu aku disini saja ya." Ucapku menatatap cemas Naiysa.
" Ok." Jawab Naysa mengangguk kali ini dia mendengarkan perintahku.
Dengan berbagai persaan aku tinggalkan Naiysa di saung tempat beristirahat,cemas dan gelisah ini tiba-tiba semakin menguat dalam batinku dan rasanya tidak tenang sehingga aku tidak fokus di buatnya.
" An ! ko yang tua-tua yang kamu petik." Tiba-tiba nenek mengejutkan lamunanku.
" Waduh !! " Seruku kaget
" Gimana atuh ini teh,kamu malah salah petik begini." Ucap nenekku seraya mengeluarkan daun-daun teh yang sudah terlanjur aku petik.
" Maaf nek ! Ana teh tidak fokus, jadi salah petik begini." Selaku dengan nada penuh sesal.
" Kenapa atuh kamu jadi tidak fokus begitu ? kamu teh sakit ?" Tanya nenek menatapku dalam.
" Tidak nek,Ana mah baik-baik saja." Jawabku dengan mengalihkan pandanganku ke teh-teh yang lainnya.
" Kalau kaya begini nanti kamu bisa kerja dua kali,mensortir teh teh yang tua.Kerja itu harus fokus." Nenek menasehatiku.
" Iya nek, iya maafin Ana atuh." Selaku seraya memetik pucuk teh yang masih muda kembali.
" Neng Nay mana ?" Tanya nenek heran.
" Di saung nek."
" Tidak apa-apa dia di tinggal di sana.?"
" Tidak apa apa nek,dia lagi istirahat."
Nenek menatapku dengan berbagai perasaan.
" Nenek mah khawatir saja An." Ujar nenek sambil segera menukar keranjang yang sudah penuh dengan yang keranjang yang masih kosong, aku tidak menjawab hanya terdiam mencoba menepis segala kegelisahanku yang sedang kurasakan saat ini.
Beberapa menit kemudian pekerjaanku dan nenek ku selesai, di lihatnya hasil dari petikan kami hari ini lumayan memuaskan,meskipun perasaanku di landa kekacauan karna gelisah memikirkan keadaan sahabatku Nay.
__ADS_1
" Sudah beres ya Mak ?" tanya Nay menatap nenekku yang datang bersamaanku kesaung.
" Sudah Neng, bentar lagi di angkut semuanya empat karung neng dan dua keranjang emak yang bawa sama Anna pulang nanti." jelas nenek sambil menoleh aku yang masih khawatir melihat keadaan Naiysa.
" Yuk kita pulang !! kita istirahat." Ajakku seraya menatatap ke arah Nay.
" Okee." Jawab Naiysa sambil berdiri si sampingku.
" Sudah rapih semuanya An ? tak ada yang tertinggal ?" tanya nenek menolehku.
" Aku sudah beresin semuanya Mak." sela Naiysa tiba tiba memotong pembicaraan kami.
" Makasih banyak yaa Nay." Ucapku pelan, Naiysa hanya menggangguk dan mulai berjalan mendahului ku.
" Hati hati neng, jalanan nya licin." Ucap nenekku sambil meraih rantang makanan kami.
Naiysa hanya tersenyum,kami pun berjalan menyusuri jalan setapak.
" Neng ikut mobil bak mang Sarif saja ya, tuh di bawah sudah nungguin !" Ucap nenek sambil menunjuk mobil bak mikiknya Mang Sarif terparkir di bawah tebing.
" Gak mak,aku mau nemenin kalian pulang saja,biar lebih asyik jalan kaki mak." Ucapnya ceria. Aku menggeleng dengan sedikit memesem, karna aku tau kondisi Naiysa sangat berbeda dengan Naiysa yang dulu.
" Itu siapa yang angkat ke bawahnya mak ?" Tanya Nay menoleh kebarah bawah tebing sana.
" Itu ada teman teman mang sarif ambil ke atas neng." Jawan nenek ku pelan.
" Yaa gak mungkin nenekku yang bawa kesana Nay,emang nenek ku itu tukang kuli panggul." Selaku denga nada bercanda. Naiysa dan nenek tertawa lebar saat mendengar ucapaanku tersebut.
" Kamu mah An,aya aya wae." Sela nenek terkekek kekeh.
Naiysa tiba tiba terhenti dari langkahnya,sejenak ia terlihat memegangi bagian dadanya ,aku yang melihat langsung terkejut tatkala melihat raut wajah Naiysa kini berubah pucat pasi.
" Nay !!"
Pekiku sambil segera menghampirinya.
" Kamu kenapa ?" Tanyaku benar-benar cemas.
" Dadaku tiba-tiba saja sesak An.." Lirihnya pelan.
Aku melihat begitu jelas napas Naiysa mulai tersendat sendat,keringat dingin bercucuran deras di wajahnya.
Panik lah aku di buatnya,raut wajahku berubah hitam seketika.
" Nay !aku gendong ya !" Pintaku di tengah- tengah kepanikan ku.
Naiysa menggeleng.
" Aku masih bisa berjalan." Desahnya dengan terlihat mengatur napasnya.
" Tidak,tidak,kamu aku gendong saja, tanganmu dingin sekali." Sergahku setengah ku banting keranjang teh yang sedang aku gendong.
" Hah,heeep." Naiysa berusaha mengatur laju napasnya.
" An !panggil mang sarif An.Masih ada kan mereka di tempat yang tadi." Seru nenekku ikut cemas.
" Baik Nek." selaku sambil bergegas berlari kecil kembali lagi ketempat yang tadi dimana aku melihat mobil mang sarif terpakir.
pikiranku tak jelas arahnya kemana,yang jelas saat ini aku merasa ketakutan yang teramat sangat membuncah di benak ku.
Terlebih lebih akan keadaan nya Naiysa.
Tak lama aku bergegas berlari dengan di ikuti oleh mang Sarif di belakangku.
Namun sesampainya di tempat tadi aku berhenti,Naiysa sudah terlihat pingsan,di pangkuan nenekku,aku panik tidak tau gimana ceritanya Naiysa sudah berada di pelukannya nenek ku dalam keadaan tak sadarkan diri.lemas sudah kedua lututku ini serasa tak bertenaga setelah melihat ke adaan Naiysa.
" Nek.. Nay.." Tanyaku di tengah-tengah ke panikanku.
" Neng Nay pingsan An." Seru nenek tak kalah paniknya dariku, dari raut wajahnya terlihat ada ketakutan yang tak kalah besar dariku.
" Aduh !!neng Nay kenapa ini teh ?" Tanya mang sarif dengab segera berlutut di samping nenekku.
" Mang ayo atuh bawa Nay nya kemobil ! kasian dia, kita harus cepat-cepat dia bawa pulang." Seruku dengan tetap masih panik bercampur takut.
__ADS_1
" Iya iya.. " Jawab Mang Sarif dengan segera mengangkat tubuh mungilnya Naiysa yang masih tak sadarkan diri.
*BERSAMBUNG*