Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA

Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA
TSBUN Episode 12


__ADS_3

NAYSA terlihat asyik bercanda dengan Dika,dari ujung sana aku terus memperhatikan mereka berdua, tidak ada yang berubah dari sosok Dika tetap perhatian dan sangat care kepada kami berdua,Naysa terlihat bahagia melepas rasa rindu yang sudah lama mereka pendam termasuk rinduku ini.


Rona bahagia pun kian terpancar kuat dari wajah jelita Naysa, yaa kebagian yang sangat besar di rasakan oleh Naysa,dan aku pun baru kali ini melihat keceriaan yang begitu sangat bermakna dari raut wajahnya selama ini.


Naysa bahagia berada bersama Dika.


Aku menghela panjang,entah kenapa aku merasa terkutuk jika aku harus jujur mengatakan yang sesungguhnya kepada Naysa tentang perasaan ini terhadap Dika.


Dan betapa bodohnya juga jika aku harus bersaing dengan sahabatku yang telah ku anggap seperti saudara sendiri,yaa aku tidak bisa membayangkan jika penghianatan ini Naysa mengetahuinya.


Rasa sesal terus menyelinap dalam batinku perlahan- lahan mulai mengubur dalam dalam rasa ini, entahlah aku menjadi serbasalah.


Jujur aku sangat mencintai Dika, dia adalah cinta pertamaku yang telah berhasil membuat jantungku bergetar setiap kali berada di sampingnya, Dika membuatku nyaman dan pememberi semangatku untuk tetap berjuang dalam keterpurukannku,dia lah yang selalu melindungiku dari jahatnya mulut-mulut manusia yang selalu membedakan keadaan sosialku.


" An sini....!" Tiba tiba Naysa membuyarkan lamunanku, dia berseru memanggilku seraya melambaikan tangannya,Dika tak ayal menatap ke arahku juga.


" Yaa..." Jawabku pelan,dengan perasaan enggan aku menghampiri Nay yang masih duduk di tangga rangkeng.


" Kamu mah malah menyendiri mulu ikhh." Ucap Naysa sambil mencolek pinggangku, aku tersenyum dan duduk di samping Naysa.


" Aku lagi mengamati tempat ini dan ternyata tidak ada yang berubah,sama seperti dulu." Ucapku sembari mengamati rangkeng tempat dulu ku bermain bersama Naysa dan Dika.


" Yaa tidak ada yang berubah.Sama sekali." Sahut Dika sambil melirikku dengan penuh arti.Aku tertunduk saat bola mata Dika serasa menatapku lain.


" Aku harap sampai kapapun kita jangan pernah berubah persahabatan kita tetap seperti ini." Tambah Naysa sambil menepuk-pundak Dika.


" Aku sih gak akan pernah berubah, kalian lagi yang jangan-jangan sudah berubah." Ledek Dika menatap kami berdua.


" Ahh kita mah di desa mana bisa berubah,akan seperti ini saja." Selaku dengan tertunduk.


" Anna tetap sahabat plus sodaraku yang paling baik." Ucap Naysa sambil merangkulku erat.


" Aku yakin." Tambah Dika dengan tersenyum penuh arti, itulah senyumannya yang selalu membuat aku merasa rindu akan hadirnya, senyuman itulah yang telah mampu membuatku tega menghianati Naysa, tak sanggup rasanya aku terus menatapnya kembali dan melihat senyumannya itu.


" Yang penting jangan ada dusta di antara kita." Celetuk Naysa berhasil mengejutkan perasaan ini. Dengan bersamaan aku dan Dika saling bertatapan mencoba untuk mengendalikan perasaan ini agar terlihat baik-baik saja.


" Eh By the way gimana kuliahmu Dik ?" Naysa mengalihkan pembicaraan dan menatap ke arah Dika dengan lembut.


" Alhamdulillah baik-baik saja Nay,bulan depan aku udah mau buat skrip mudah-mudahan lancar,doain saja yah." Jelas Dika dengan penuh ekspresi.


" Aamiin !! aku doain dehh semoga kamu dapet nilai yang bagus." Sela Naysa terlihat menatap manja.


" Makasih ya Nay." Balas Dika tersenyum lembut


" Kuliah Kamu Nay ?" Tanya balik Dika.


" Aku sudah sebulan ini lagi libur kuliah kuliah dulu Dik." Ucap Naysab pelan.


" Libur...??" Tanya Dika mengeryitkan kedua alisnya.


" Aku sedang meliburkan diri Dik." Jawab Naysa tersenyum datar.


" Loh kenapa ?? " Tanya Dika penasaran.


" Hmmm....," Ucapanua tak lantas Naysa tampak melirik ke arahku dengan ekpspresi ragu.


" Nay lagi butuh refresing !!" Selaku dengan cepat.

__ADS_1


" Aku sakit Dik." Potong lagi Naysa dengan cepat.


Aku terdiam atas sikap Naysa yang berkata jujur kepada Dika.


" Kamu sakit ???,sakit apa ??" Tanya Dika dengan raut wajah cemas.


" Kamu sih gak ngasih kabar jadi aku sakit." Ucap Naysa tiba-tiba berseloroh mencandain Dika.


Aku menghela dengan berbagaiperasaan lelucon yang penuh arti.


Dika tersenyum pasi menanggapi selorohannya Naysa.


" Ah kamu bisa saja bikin gombalan gak jelas." Ucap Dika lagi dengan mengalihkan senyumannya.


" Tapi emang aku lagi sakit Dik." Ucapnya lagi Naysa mempertegas dan itu membuat Dika menatap serius kembali kearah Naysa.


" Kamu sakit apa ?" Tanya Dika terlihat khawatir.


" Hmm,aku juga sih belum tau sakitku ini apa ? tapi dalam sebulan ini aku udah masuk ruma sakit 2x loh Dik. " Ucap Naysa dengan raut wajahnya yang berubah sendu.


" Memang Dokter tidak memberi tau kamu?" Tanya lagi Dika dengan ekspresi aneh.


" Ada ngasih tau juga, tapi kata dokter aku cuman kecapean doang." Jawab Naysa dengan pelan.


" Makanya kamu jangan cape-cape Nay." Balas Dika memberi saran.


" Gimana ga cape,aku mikirin kamu terus Dik he he he.." Celoteh Naysa semakin menggoda Dika.


Raut wajah Dika memerah ketika Naysa menggombalin dirinya kembali,aku pun hanya bisa cengar-cengir tanpa arti.


" Ah kamu Nay,sudah pandai pula kau menggombalin aku." Ucap Dika sambil tersenyum tanpa pasti.Rona wajahnya memerah namum sekilas ia terlihat menjaga perasaannya atas diriku.


" Tapi,jika suatu saat terjadi sesuatu dengan aku, aku sangat berharap kalian tidak pernah melupakan aku." Ungkap Naysa secara tiba-tiba berbicara seperti itu,dan dengan mata yang mulai berkaca-kaca, sontak hal itu membuat perasaanku semakin tak menentu.


" Nay !! jangan berbicara seperti itu." Ucapku menggubrisnya dengan nada kesal.


Lalu ku peluk tubuh munggilnya dan mencoba membri keyakinan bahwa aku tidak akan sejahat itu kepadanya.


Dika menatap dalam ke arah Naysa dengan terdiam tanpa reaksi apapun.


" Soalnya aku merasa seperti ada sesuatu yang aneh dalam diri ini An,kadang daya tubuh ini selalu lemah secara tiba-tiba,semacam tak ada tenaga sama sekali." Ucapnya dengan sorot mata yang mulai terlihat sedih.


" Aku dan Dika tidak akan meninggalkanmu Nay." Selaku kembali.


" Yaa,kita sahabat Nay." Sambung Dika dengan segera merangkul pundak Naysa ikut menyakinkannha.


Wajah Dika mengahadap lurus ke arahku, aku memeluk erat Naysa sementara Dika merangkul pundak kami berdua.


Salah satu tangan Dika tiba-tiba melingkar di pinggangku, aku menadah mencoba menatap wajahnya,dan dia pun menatap dalam ke arah wajahku.


Dika sepertinya belum tau apa yang telah terjadi kepada Nay yang sesungguhnya,Dika tetap berkeyakinan jika aku masih mencintainya.


Dika tersenyum lembut ke arahku, jarak wajahnya hampir dekat sekali dengan wajahku, dadaku seketika menjadi tak karuan di buatnya, tapi dengan cepat ku lepaskan pelukanku dan ku buang jauh akan pandanganku ini.


" Aku bahagia bisa bareng kalian lagi !" Ucap Naysa sambil melirik Dika yang masih terlihat menatapku.


" Kalau ada waktu pasti akan aku luangkan untuk bertemu kalian.." Sela Dika lembut.

__ADS_1


Aku hanya terdiam mencoba terus mendamaikan perasaan ini pasca tatapan lembutnya Dikab yang menyapu wajahku.


Rasa ini semakin membuncah tidak karuan walaupun aku mencoba untuk menghapusnya, semakin dalam aku mencoba menguburnya semakin kuat rasa itu hadir di dalam hati ini.


" An kamu bengong mulu." Naysa kembali mencolek pingganggku setelah melihat aku termenung.


Akku terhenyak lalu tersenyum kaku dan tidak mampu membalas ucapannya Naysa.Aku sendiri bingung harus betkata apa.


" Atau jangan-jangan kamu diam-diam naksir juga lagi sama Dika,secara Dika ganteng banget sekarang ini hahaa..." Celoteh lagi Naysa sambil tertawa renyah. Nyaris saja aku terbatuk-batuk mendengar celotehan Naysa tersehut.


Aku mendelik membulatkan bola mataku dan melipat bibirku dalam dalam dengan perasaan serbasalah.


" Nay,Nay.Kamu yaa suka banget ceplas ceplos." Ucap Dika sambil menepuk kulit dahinya Naysa.Dan Naysa pun hanyamembalas pukulan kecil ke arah tangan Dika dengan begitu manja.


" Kamu ya Nay tak pernah berubahh !mulutmu itu ceplas-ceplos." Cetusku gusar.


" Haa... haaa,ya kali saja ,soalnya dari tadi aku perhatiin kamu,kamu diam saja, kaya lagi mendem kangen gituu." Kembali Naysa mengajakku bercanda.


" Haa haa bisa jadi Nay.Anna kangen aku juga tapi tengsin untuk ngungkapinya." Sela lagi Dika mulai berani menggodaku.


Sontak pernyataan Dika membuatku semakin memerah pipi ini,antara takut campur bahagia.Dan aku pun tak mampu berbicara hanya tersenyum pasi entah harus berkata apa membalas candaan mereka ini.


" Tukan An !! " Ujar Naysa sambil menggelitikku aku pun mau tak mau ikut tertawa sesaat aku merasa geli dengan gelitikannha Naysa.


" Nay kamu iseng yaa. " Seruku sambil membalas gelitikannya,Naysa beranjak berusaha menghindari balasanku dan dia pun berlari menjauh dariku.


Naysa belari ke hamparan rumput yang hijau, dia terlihat begitu bahagia sekali untuk hari ini,dan aku membiarkan Naysa lebih banyak waktunya bercandanya dengan Dika, aku tidak pernah menemukan senyumnya yang seceria ini pada hari-hari sebelumnya,dan hari ini baginya hari yang sangat berarti baginya.


Nasya berhenti dari larinya dia menatapi padang rumput yang hijau membentang luas hingga membelah cakrawala.


" Sembilan tahun yang lalu,tempat ini adalah tempat kita tiduran bertiga dan menyampaikan perasaan dan harapan, bagaimana kalau sekarang kita coba lagi yukkk !! " Ajak Naysa menatapku, aku masih tersenggal-senggal mencoba menahan laju napasku usai mengejar Nasya yang begitu lincah.


Tak lama punDika ikut menghampiri kami berdua.


Naysa segera berbaring di hamparan rumput tersebut dan tak lama Dika menyusulnya.


" Ayo An !." Ajak Naysa dengan tersenyum renyah. Perlahan aku pun ikut tertidur di samping Nay kepala kami bertiga beradu membentuk sebuah lingakaran.


" Kamu masih ingat Dik ?" Tanya Naysa menoleh Dika.


" Yap." Jawab Dika singkat.


" Ayo siapa yang mau duluan ungkapin perasaan dan harapannya." Ucap Nay sambil perlahan-lahan dia memejamkan kedua matanya.


" Kamu An!." Selanya lagi menyuruhku untuk memulai.


" Engga ah ! Dika aja.." Tolakku gak mau.


" Kamu saja Nay." Sela lagi Dika.


Tidak ada yang berubah selalu seperti ini, kita selalu melempar-lempar giliran kalau ada sesuatu hal yang akan di ungkapkan.


" Oklah !! " Balas Nay terdengar riang.


" Perasaaa dulu ya,nanti harapannya." Ungkapnya pelan.


Aku dan Dika mencoba menyimaknya dengan begitu seksama.

__ADS_1


#bersambung#


__ADS_2