Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA

Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA
TSBUN Episode 20


__ADS_3

 


AKU pamit pulang kepada Naysa, setelah kedua orang tua Naysa datang untuk membesuk. Begitupun Dika melakukan hal yang sama,setelah berpamitan kepada orang tua Nasya dia segera menyusulku.


Aku berjalan dengan cepat menuju luar parkiran rumah sakit,aku berharap,aku tidak pulang bersama dengan Dika, akan tetapi Dika sudah berada di belakangku dengan berlari kecil mengejarku.


Aku berdo'a Dika tidak mengajakku untuk pulang bersama.


" Anna tunggu..!!" Seru Dika menyusul cepat langkahku.


" Aku antar kamu pulang ya! ." Serunya lagi sedikit keras suaranya.


Aku menoleh lalu melambatkan langkahku.


" Sepertinya aku pulang sendiri saja Dik." Selaku dengan terus berjalan.


" An,kenapa kamu menolakku untuk mengantarkan kamu pulang ?" Tanya Dika yang mencoba mensejajarkan langkahnya.


" Aku hanya ingin pulang sendiri saja Dik.." Ucapku dengan setengah melepar senyuman kaku.


" Oh,jadi kamu sekarang lebih suka Panji yang antar ya?" Tanya Dika dengan menatapku penuh selidik.


Aku terkesiap mendengar tuduhannya Dika,lalu aku pun menghentikan langkahku dan menoleh ke arah Dika yang berjalan di sampingku.


" Dika,tidak seperti itu." Jawabku dengan menatap canngung ke arah Dika.


" Tentu saja begitu,buktinya tadi kamu di antar Panji kesini,jadi sekarang Panji lebih baik dari aku ??" Ujarnya dengan menatap berbagai perasaan ke arahku.


Aku terdiam mencoba untuk tidak membalas apa yang di ucapankan Dika,dan aku melihat jika Dika sudah terpancing oleh rasa cemburunya.


" Jadi sekarang kamu tidak mau lagi aku antar pulang ?" Tanya lagi Dika dengan suara mulai melembut, aku menatap dalam ke arah matanya, Dika menatapku penuh cinta.Dia selalu melunak jika aku sedang merajuk atau susah hati dan ini benar-benar tidak bisa aku tolak,hati ini selalu luluh.


Kelembutan hati sosok Dika selalu mengalahkan perasaan egoku, aku jujur aku belum bisa melepas rasa ini begitu saja terhadap Dika.


Y**aa TUHAN cinta ini telah memperdayaiku, aku sungguh tak sanggup menolak rasa ini.


" Ayolah !!." Ajak Dika sembari meraih tanganku, aku terdiam pasrah, tatkala Dika berjalan dengan menarik tanganku menuju pelataran parkiran rumah sakit,tanpa berbicara lagi aku mengikutinya dengan pasrah.


 


AKU masih terdiam di belakang Dika yang asik memboncengku, angin semilir menerpa rambutku, Dika dengan sengaja tidak mempercepat laju motornya dia malah sengaja memperlambatnya.


selama di perjalanan aku dan Dika saling terdiam dalam keheningan, sibuk dengan pikiran masing masing, aku yang sibuk dengan perasaanku mencoba untuk melawan rasa ini yang terus-menerus menerorku.


Aku masih mempertimbangkannya,dan aku masih bergelut dalan sebuah ketakutan yang begitu beralaskan.

__ADS_1


Aku takut dengan keadaan ini yang perlahan-lahan tapi pasti akan memisahkan aku dengan sahabat baikku.


Aku tersadar dari lamunanku setelah Dika menghentikan laju motornya dan berhenti di petigaan jalan antara arah pulang kerumahku dan ke kebun bunga tempatku dulu selalu bertemu dengannya.


" Kok berhenti disini Dik ?" Tanyaku sedikit heran setelah sadar motor Dika berhenti bukan di depan rumahku.


" Aku ingin bicara sesuatu dulu kepadamu." Ucapnya seraya menolehku.


Aku pun dengan cepat segera turun dari motornya dan berdiri sedikit mejuh.


" Kalau begitu aku pulang sendiri saja." Ucapku datar,tiba-tiba saja perasaanku merasa jengkel melihat sikap Dika.


" Anna tunggu An !! sebentar ini saja..." Sergah Dika sembari berlari kecil mengejarku.


Langkahku terhenti sesaat Dika menghadangku.


" Anna salah aku apa sih ? kamu kok menghindariku terus ?" Tanya menatapku serius.


" Kamu tidak ada salah apa-apa Dik, aku yang salah." Jawabku sembari terus melangkah.


" Kamu yang salah ??? maksud kamu apa sih?" Tanya lagi Dika semakin penasaran.


Sejenak aku berhenti lalu menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan tenaga untuk bisa berbicara tegas tanpa harus mengeluarkan air mata di hadapan Dika.


" Karena aku memiliki perasaan terhadapmu, dan aku baru menyadari kalau kita selama ini sudah menghianati Nay." Jelasku membalikan badan dan menatap lurus Dika.


" Ya Dika,kita telah menghianati Nya.Apakah kamu sadar kita telah menghianati Nay dan persahabatan kita selama ini ?." Ucapku dengan intonasi penuh penekanan di setiap kalimatnya.


" Tapi....!!" Dika membatah dengan cepat.


" Mau sampai kapan kita ini akan seperti ini, saling mencintai di belakang Nay, dan sekarang Nay mulai menyukaimu Dik.." Jelasku dengan mulai menahan rasa yang tak biasa di dadaku.


Dika terhenyak menatap tak percaya ke arahku.


" Apa ???" Pekik Dika nampak dari ekspresi wajahnya menyiratkan keterkejutan yang sangat dalam atas pernyataanku tersebut.


" Nay sekarang mencintaimu Dik.." Ungkapku dengan suara bergetar.


" Tapi An,aku ada sama sekali perasaan terhadapnya dari dulu hingga sekarang, dia adalah sahabatku." Balas Dika mencoba menjelaskan akan perasannya terhadap Naysa.


" Tidak Dik,saat ini Naysa sangat mengharapkanmu jadi aku mohon kamu bisa mencintai dia." Ucapku memelas.


" Tidak bisa begitu An, aku mencintaimu dari dulu, dan aku tak ada perasaan yang bisa ku beri selain rasa sahabat terhadap Nay." Jelasnya Dika mempertahankan perasaanya.


Aku menatap lelah ke arah Dika yang sama sekali tidak bisa memahami perasaanku.

__ADS_1


" Dik,aku mohon, !! Naysa tidak tahu sampai kapan lagi bersama kita.." Ucapku sembari menahan isakanku yang mulai perlahan muncul ke permukaan.


" Maksud kamu ??" Dika mengernyitkan kedua alisnya dan menatapku penuh tanya.


Aku menghela napas panjang merasakan ke gamangan untuk menyatakan yang sebenarnya atas apa yang sedang terjadi kepada Naysa.


" Nay sakit Leukimia Dik, stadium akhir, harapan sembuh tipis,jadi aku mohon sama kamu untuk bisa mencintai dia dan kamu harus melupakan aku, anggap saja aku hanyalah sabahabatmu." Jelasku semakin tak tertahan lagi menahan gemuruh di dada ini.


" Apa...?? " Dika memekik raut wajahnya terlihat tak percaya dengan apa yang telah ku katakan padanya, Dika benar-benar terlihat sangat shok setelah tahu apa yang sedang terjadi dengan Nay.


" Jadi Nay...!!" Gumannya menggantung, raut wajahnya terlihat sedih.


" Itulah alasan kenapa aku memutuskanmu Dik, tak ada waktu buatku untuk membahagiakan Nay selain kesempatan saat ini untuk menyerahkan perasaanku untuk dia Dik.." Tambahku dengan kian tak karuan.


Dika tertegun menatapku dengan perasaan tak menentu.


" Kumohon Dika." Pintaku memelas.


" Tapi bagaimana caranya aku bisa mencintainya sementara hati ini hanya tertuju padamu Anna." Ucapnya Dika dengan suara sedikit bergetar, aku terenyuh mendengarnya, membuat sedikit perasaan ini semakin meleleh.


" Lupakanlah aku.." Ucapku seraya membalikan kembali badanku, aku sedang mencoba menahan air mata ini yang semakin jatuh tanpa kendali.


" Bagaimana caranya...??" Tanya Dika dengan sedikit terdengar sedih, aku hanya menahan getir di dada ini tanpa ingin melihat raut wajah Dika yang benar-benar terlihat hancur.


" Perlahan aku akan melupakan semua tentangmu Dik." Ucapku enteng,aku berharap Dika bisa menjauh dariku.


" Aku tidak semudah itu bisa mencintai seseorang di waktu yang singkat." Balas Dika dengan suara Datar.


Aku memejamkan mata,ucapanya terasa menyayat hatiku.


" Cobalah aku yakin kamu bisa,ini demi Nay." Ucapku dengan tanpa panjang pikir lagi aku segera bergegas meninggalkan Dika yang masih berdiri mematung menatap langkah kakiku yang pergi dengan sejuta kesedihan di hatinya.


Aku berlari dengan isakan tangis yang tak bisa aku hentikan lagi, apa yang kupendam selama ini akhirnya terlepas sudah, walau akhirnya aku harus terluka.


Aku berlari kecil membawa pulang bongkahan air matanya yang telah mengkristal di pelupuk mataku ini, menggenggam erat hati yang telah hancur, aku berlari meninggalkan Dika yang masih mematung menatapku tak bergeming.


Aku yang berlari pergi dengan air mata yang semakin berlinang,walau pun sudah berusaha kuat dan merelakan rasa ini terlepas tetapi di hati yang paling dalam perasaan itu akan tetap membekas.


Di ujung rasa ini tidak akan pernah hilang walau sekuat apapun aku melupakannya karena Dika adalah sosok lelaki pertamaku yang mengenalkan cinta kepadaku.


Dia adalah laki-laki yang telah memberiku perlindungan serta arti sebuah kenyaman,


walau hancur rasa ini atas nama persahabatan tapi setidaknya aku telah berkorban demi sahabat kecilku.


Naysa.

__ADS_1


#bersambung#


__ADS_2