
TERLALU mendramatisir keadaan rasanya, aku berharap aku bisa lepas dari perasaan ini tanpa harus menderita, dan aku pun berharap aku bisa melepasnya dengan ikhlas.
Yaa mungkin suatu saat nanti aku akan bisa menemukan cinta selain dari seorang Dika.
Sebelum perasaaan ini semakin lebih jauh lagi,aky harus secepatnya di akhiri.
Aku tersentak ketika Nenek sudah berada di kamarku aku masih asyik menatap langit nan jauh di sana.Dari ambang jendela kamar kayuku yang telah lapuk,aku segera menyeka air mata ini yang masih terasa masih basah di pipiku, Nenek sempat menatapku panjang mengamatiku setiap pergerakanku.
" Nenek...," Ucapku tersenyum pasi, aku memang terkejut atas kehadiran Nenek yang secara tiba- tiba, di kamarku.Aku mengalihkan pandanganku lalu menarik daun jendela tersebut dan perlahan ku menutupnya dengan rapat.
" Ada neng Nay di bawah." Ujar Nenek dengan masih menatapku dengan berbagai perasaan,ku tau nenek sedang menyelidiki ke adaanku.
Aku mengernyit lalu menatap nenek dengan heran.
Ada apa Naysa malam-malam datang kesini ?
Tanyaku membatin.
" Nay... ?? ini udah malam Nek." Tanyaku terheran- heran atas kehadiran Naysa.
" Gak boleh yaa aku ke rumahmu ?" Sela Naysa menyembul di balik Nenekku.
" Nay ini udah malam !di luar dingin tau, tar kamu masuk angin , kamu....." Ucapanku mengantung.
" Nanti kamu sakit ? nanti kamu kenapa napa ! gitu.Ikhh kamu mah kaya Nyai aja lama-lama bawel.." Potong Naysa dengan merengut.
" Ya gak gitu juga Nay." Selaku pelan.
" Emak , lama-lama cucu Emak ini kaya dokter ya ! melarang aku untuk kemana-mana.Gak boleh inilah gak boleh itulah." Ucap Naysa semakin menekuk wajahnya.
" Mungkin Anna khawatir sekali akan ke adaan kamu , Neng Naysa." Jawab nenek sembari masih menatapku lembut.
" Tuhh,Emak aja tau." Selaku membenarkan ucapan Nenek.
" Iya iya.Aku tau itu.Tapi bolehkan jika aku nginep lagi di rumah kamu ?." Pinta Naysa sambil tersenyum manja.
Alisku terangkat tinggi lalu menatap heran ke arah Naysa.
" Emak,boleh yaa Nay nginep lagi disini !" Pintanya seraya merengek memohon sama nenekku untuk membiarkannya menginap kembali di rumahku.
" Plisss !!" Pinta lagi Naysa memohon.
Nenek hanya tersenyum lembut menatap Naysa, lalu Nenek pun menggangguk kecil menyetujui atas permohonan sahabatku tersebut.
" Makasih yaa Emak. !" Sorak Naysa bahagia.
Tak lama kemudian Nenekpun diam-diam keluar dari kamarku,sementara Naysa duduk di tepi tempat tidurku.
" Kenapa tidak besok malam saja sih Nay ?" Ucapku dengan nada khawatir.
" Siapa yang anterin kamu kesini ?" Tanya tak sabar.
" Kang Umar." Jawab Naysa sambil mendekatiku.
" Tadi sore aku udah kesini tapi kamu belum balik dari bukit. Tumben sekali kamu pulangnya sore banget." Ujar Naysa menggeledot di tubuhku.
Aku tersentak mendengar Naysa ada datang menekuiku.
" Massa sih?? Jadi kamu tadi sore kesini ?" Tanyaku kaget.
" Iyaa,dan tadi juga aku gak sengaja ketemu Dika sama papahnya kesini,tapi dia cuman sebentar saja,katanya dia mau anter papahnya pulang." Jelas Naysa datar.
" Kamu lama ketemu Dika ?"
" Enggak !! cuman ngobrol sebentar lalu dia pulang lagi, tadinya aku maunya nungguin kamu tapi kamu malah lama pulangnya, ya udah jadi aku pulang dulu dah." Jelas Naysa dengan wajah terlihat cape.
" Besok kan kamu bisa kesini lagi,gak harus malam-malam gini Nay." Ucapku pelan.
" Gak mau !! aku maunya malam ini karena aku mau cerita sama kamu." Ucapnya sambil terlihat manja.
Aku terdiam sambil membulatkan bibirku membentuk sebuah hurup bulat.
" An !! " Panggilnya pelan, dan seperti biasa dia kembali mendekati daun jendela dan membuka daun jendela tersebut,padahal baru saja ku tutup, dia melakukan apa yang ku lakukan menatap langit penuh seksama.
__ADS_1
" Huuuhh..." Desahnya dengan penuh rasa sesak,lalu ia menatap begitu haru ke atas langit sana.
" An,kok tumben gak ada bintang satu pun." Tanya Naysa dengan setengah berbisik.
" Sepertinya cuaca agak mendung Nay." Jawabku sambil ikut memandang kembali langit yang beberapa saat yang lalu ku pandangi.
" An..." Panggil lagi Nay dengan terlihat sedikit gundah akan perasaanya.
" Ada apa Nay ? sepertinya kamu gelisah banget ?" Tanyaku dengan harap-harap cemas.Dan perasaanku menangkap gelagat yang tidak menyenangkan dari gerak-geriknya Naysa.
Sejenak Naysa terdiam lalu ia pun tertunduk dengan memansang raut wajah yang berat.Aku menatap semakin tak karuan.
" Ada apa ??" Tanya ku pelan.
" An,maaf kan aku,aku benar-benar telah jatuh cinta sama Dika." Ungkapnya singkat namun mampu meleburkan semua isi perasaanku.
Kejujuran itu memang menyakitkan perasaanku.
" Kamu benar-benar mencintai Dika ??" Tanyaku dengan suara nyaris tak terdengar.
Naysa mengangguk.
" Iya An !" Balasnya singkat sejurus kemudian dia terlihat tersipu malu.
Aku melihat raut wajah Naysa yang benar-benar merasakan kebahagiaan yang begitu dalam.
" Salah gak sih jika aku tiba-tiba mencintainya An?" Tanya dengan raut wajah gusar.
" Itu hak kamu Nay,tak ada yang melarang untuk jatuh cinta kepada siapapun." Jawabku dengan perasaan kelu.
" Dan kamu tidak merasa keberatan An ?" Tanya Naysa dengan menatapku dalam.Aku tersenyum hambar.
" Aku sama Dika kan hanya bersahabat, kalau kamu jatuh cinta sama dia yaa itu hak kamu Nay.." Ucapku dengan suara yang sedikit bergetar aku berusaha untuk tidak terjebak dalam pertanyaanya Naysa,dan aku berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan Naysa.
" Tapi,ngomong-ngomong Dika ngerasa gak ya ketika aku bilang harapan dan perasaanku itu,itu kan aku tunjukan buat dia An." Ucapnya menatapku cemerlang.
" Hmmm siapa tau dia ngerasaain apa yang kamu rasain Nay,cuman dia bingung harus memulai dari mana." Ujarku berusaha menyakinkan perasaan Naysa.
Bersandiwara itu memang membutuhkan skil.
" Padahal aku sama dia sudah jelas hanya bersahabat saja, tapi aku takut kalau dia tidak mencintaiku sama sekali An dan aku merasa tidak yakin jika dia ada perasaan terhadapku,karena persahabatan ini." Jelas Naysa memasang wajah sedih.
" Yaa siapa tau Dika ternyata diam-diam Naksir kamu Nay." Selaku antusias.
" An,kamu pernah gak sih ngerasain perasaan seperti ini ?" Tanya Naysa yang berhasil membuatku tersentak.Aku mengernyit dan memasang ekspresi wajah bodoh.
" Mmm.....dulu sih." Celotehku polos.
" Serius An ??" Seru Naysa dengan terlihat terkejut lali ia menghampiriku dengan cepat.
Aku batu tersadar dengan ucapan polosku barusan dan itu bisa membuat Naysa menjadi penasaran.
" Ama siapa ? ko kamu gak ngomong-ngomong ke aku jika kamu pernah naksir seseorang." Ujar Naysa membrondongku.
" Tapi itu kan dulu Nay,sudahlah lupakan !" Ucapku menyesali celotehanku, aku yakin urusan ini akan menjadi panjang.
" Anna jahat !! kamu menyembunyikan sesuatu ya dariku ?" Ujar Naysa dengan menatapku serius.
I**yakan !! semua urusan jadi panjang, aku menyesal berkata jujur kali ini, Naysa adalah sosok perempuan yang tak mau di bohongin.
" Nay,itukan dulu..." Sergahku lagi dengan wajah tak kalah serius.
" Cieee....,Ama Dika ya ??" Celoteh Naysa menggodaku.
Aku tersentak lalu menoleh Naysa dengan cepat.
" Nay !! mana berani aku naksir dia.Kamu ngaco." sergahku galak,namun entah kenapa aku merasa wajah ini memerah tatkala Naysa menggodaku.
" Haa haa haa !! " Naysa terlihat tertawa renyah melihat reaksiku.
Aku menatap Naysa dengan perasaan keki.
" Iya juga gak apa-apa kali An,sepanik itu deh kamu." Selanya dengan masih tertawa melihat sikapku yang tiba-tiba terlihat kikuk.
" Gak lucu ah ! " Gumanku terasa jengkel sendiri.
__ADS_1
" Yaahh kamu ngambek.Lalu kamu dulu naksir siapa,kalau bukan Dika ?" Tanyanya dengan masih penasaran.
Aku terdiam mencoba mengingat-ngingat siapa pria yang pas aku jadikan korban sandiwaraku.
Tiba-tiba muncul sebuah nama di ingatanku.
" Panji..." Cetusku jutek.
" Apa ???? panji !! si cowok misterius itu ?" Seru Naysa terlihat tak percaya dengan apa yang kukatakan.
Aku mengangguk tak pasti.
" Aahh kamu An penuh tangtangan jika kamu benar- benar naksir sama tuh cowok." Ujarnya dengan menggeleng-geleng.
" Tapi itu kan dulu Nay." Selaku berusaha tetap bersandiwara hanya untuk menyakinkan perasaannya Naysa.
" Tapi panji gateng juga kok,hanya saja dia suka so misterius gitu dan dia itu cowok yang paling susah kalau di godain,jutek lagi.Tapi ngomong-ngomong dia sekarang dimana ya ?" Tanya Naysa dengan penasaran.
" Kamu kangen dia ??" Godaku tersenyum.
" Ha ha,kamu yang naksir kok aku yang kangen sih, anehh !! " Guman Naya sambil melipat dua tangannya di dada.
" Sudah malam Nay." Ucapku sambil menatap lagi keluar jendela.
" Ahh !! kok asyik banget yaaa kalau sedang jatuh cinta itu." Guman Naysa sambil tersenyum-senyum penuh arti.
" Jatuh cinta memang asyik,tapi jatuh beneran sakit.hati-hati." Selaku sambil merebahkan badanku di atas kasur usangku.
" Hii hii hii,jatuh beneran bisa bangkit An, tapi kalau jatuh cinta belum tentu bisa bangkit lagi.Apa lagi jika cintanya tak terbalaskan,sakit An." Ucap Naysa sambil duduk di sampingku.
" Jendelanya tutup lagi." Titahku melirik ke arah jendela.
" Biarkan saja, biar aku bisa melihat bintangku nanti malam." Selorohnya seraya berbaring di sampingku.
" Dingin Nay." Sergahku cepat.
" Kan ada selimut, atau aku peluk kamu." Ujarnya dengan penuh candaan.
" Dasar aneh." Selaku sambil membelakanginya.
" An !! jika TUHAN memberi aku kesempatan,aku berharap aku bisa mendapatkan cintanya Dika dan pasti ini adalah anugrah yang terindah yang aku miliki." Ucap Naysa sambil menempelkan punggungnya di punggungku.
Aku terdiam dengan perasaan yang semakin teriris.
" Terus ?." Tanyaku singkat.
" Terus jika TUHAN tidak memperkenankan aku bersama Dika, aku akan merasa hidupku selama ini hanya sia-sia saja An." Ujarnya lagi dengan intonasi yang tak biasa.
Aku semakin tertekan dengan apa yang telah Naysa katakan.
Aku membalikan badanku lalu menghadap ke punggungnya Nasya.
" Tidak lah Nay ! Apa yang kamu harapakan yakin TUHAN akan memberikan apa yang kamu inginkan,kamu berdoa saja." Ucapku dengan perasaan yang tak menentu.
" Sepertinya waktuku terasa tak panjang lagi An." Ucapnya dengan enteng.
Ada yang berdesir hebat di peredaran darahku dan seketika perasaanku terasa lulu lantah di buatnya.
" Jangan membuatku takut." Segahku cepat.
" Aku merasakan sesuatu hal yang tak biasa di dalam diriku ini An." Jawab Naysa pelan.
" Naysa,kita berdoa saja,agar kamu baik-baik saja." selaku lagi dengan suara yang semakin berat.
" Semoga." Jawabnya dengan suara pelan.
Sejenak hening hanya terdengar beberapa rintihan hewan-hewan malam yang menghiasi suasana malam dingin ini,perasaanku terbang bersama lamunanku begitupun Naysa,pikirannya terbang bersama lamunanya.
Aku pasrah dengan keadaan ini,aku sadar Naysa lebih membutuhkan Dika untuk saat ini.Semangat hidupnya yang begitu berarti untuknya.
Aku tidak bisa membalas kebaikan Naysa selama ini selain ku pertaruhkan semampu mungkin perasaan ini untuk Naysa.
Dalam batinku terselip sebuah janji untuk membuat Naysa bahagia dengan caraku sendiri,walau pun perasaanku yang harus menjadi taruhannya.
ku pejamkan mata ini, ada yang jatuh dari sudut mataku ini, buliran bening menitik dari mataku, sejenak membasahi kain bantalku,dan aku pun terlelap dalam peraduan yang sunyi serta harapan yang terbawa angin malam.
__ADS_1
# bersambung #