Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA

Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA
TSBUN Episode 25


__ADS_3

 


AKU duduk tak jauh dari Naysa yang masih terlelap dalam ketidaksadarkan dirinya,tak henti-hentinya aku memanjatkan do'a supaya Naysa segera sadarkan diri.


Aku memandang lekat ke arah wajah Naysa yang masih terpejam, lagi-lagi alat bantu pernapasan terhubung ke dalam hidungnya.


Sesaat kemudian tak lama perlahan Naysa membuka kedua matanya lalu menatap lurus ka arah langit ruangan,dan tak lama ia pun menggeserkan bola matanya menatap ke arahku, aku tersentak bercampur bahagia menatapnya.


" Nay...!!" Panggilku sembari duduk mendekat.


Naysa terlihat meringis.


" Aduh kepalaku sakit banget !! " Rintihnya seraya tangannya memegang bagian belakang kepalanya.


" Nay istirahat saja ya ! " Ucapku sembari membenarkan selimutnya Naysa.


" Aku dirumah sakit lagi An ? ada apa denganku An..." Tanyanya dengan sikap tubuhnya hendak bangun.


" Sudah kamu tiduran saja!! " Sergahku dengan cepat menahan badan Naysa untuk tetap tidur.


" Aduh An !! sampe kapan aku begini terus ?" Tanya Naysa menatap jauh langit-langit ruangan kamar.


" Kamu jangan banyak pikiran,kamu pasti akan sembuh Nay." Imbuhku pelan.


" An...!" Panggil Naysa meraih tanganku.


" Apa Nay...??" tanyaku dengan nada khawatir.


" Aku sudah cape di kemo terus,memangnya gak ada cara lain selain di kemo ??" Tanyanya dengan suara lirih.


" Nay, itu buat kesembuhanmu." Balasku singkat.


" Tapi itu tidak membuatku nyaman,rambutku semakin abis,kulitku gelap dan tubuhku makin susut." Ujarnya dengan perasaan pilu.


" Nay,jika kamu sembuh nanti kamu akan kembali lagi kaya dulu kok,, lagian kamu mah masih cantik aja." Ucapku berusaha untuk membesarkan hati Naysa.


" Sudah ya kamu istirahat saja dulu." Selaku dengan mengelus kepala Naysa.Nasya mengangguk pelan.


Aku menatap sedih ke arah bagian kepalanya Naysa yang kini rambutnya perlahan semakin menipis, wajahnya terlihat sembab dan mulai membengkak di bagian pelupuk mata serta kedua pipinya.


Aku hanya bisa menangis dalam batinku tanpa bisa mengeluarkan air mata setetespun di hadapan Naysa aku hanya ingin menunjukan jika aku baik-aik saja.


" Dika sudah tau kondisiku sekarang ?" Tanya Naysa melirik ke arakku.


Aku menggeleng.


" Aku belum ada kasih tau dia Nay."


" Jangan An,biarkan saja." Sergah Naysa dengan raut wajah terlihat memendam kesedihan.


" Gak papa aku kasih tau dia,biar dia bisa nemenin kamu di sini.." Jawabku tersenyum.


" Jangan An ! gak usah." Tolak lagi Naysa sambil menahan tanganku.


" Tapi...," Ucapku menggantung, Naysa terlihat menggelengkan kepalanya sembari tersenyum pasi ke arahku.Dia memberi isyarat untuk tidak memberi tau Dika.


Aku pun kembali duduk di sampingnya,Nasya hanya menarik napas begitu beratnya seraya terus menatap dalam langit ruangan tersebut.


" Nay sayang....!" Tiba-tiba Ibu Naysa menerobos pintu ruangan dengan wajah terlihat cemas.


" Ambuu !!" Pekik Naysa terbata.


" Ambukan sudah bilang, kamu jangan pergi pergian dulu." Ujar Ibunya sembari mengecup kening Naysa dengan penuh kasih sayang.


" Nay capek di rumah terus mbu." Sela Naysa menatap manja sang Ibu.


" Untung saja kamu mainya ke rumah Anna,, kalau ke tempat lain kamu tidak ada yang menaui jika kamu pingsan." Ucap Ibu Naysa terlihat sedikit kesal bercampur sedih.


" Teman Nay kan cuman Anna saja ambu." Balas Naysa tersenyum ringan.


" Makasih banyak ya Anna udah nganterin Nay ke rumah sakit." Ucap Ibu Naysa dengan hangat.


" Sama-sama ceu,Anna akan melakukan apapun demi Nay." Jawabku dengan pelan.


" So sweet deh kamu An. " Celoteh Naysa mendelik ke araku.Aku hanya tersenyum simpul.


" Ambu mohon sama kamu,mulai hari ini kamu jangan kemana- mana lagi ya,kalau kamu ingin ngobrol sama Anna biar mang sarif jemput Anna kerumah,Ambu gak mau kamu kenapa-napa lagi." Jelas Ibu Naysa sedikit memberi ancaman.


" Iya Ambu,Nay janji." Jawab Naysa lembut.


" An,makasih ya udah mau nemenin Nay.!!" Ucap lagi Ibu Naysa berterimakasih lagi kepadaku.


Aku hanya mengangguk seraya tersenyum.


" ### Oya,kamu sudah makan An ?" Tanya Ibu Naysa menolehku.


" Tadi saya sudah makan.?" Jawabku pelan.


" Kamu mau pulang? biar mang sarif antar kamu pulang ya! lagian ini sudah malam juga,mungkin kamu mau istirahat." Ucap Ibu Naysa sembari melihat jam di tanganya.


" Iya ceu,Nay aku pulang dulu ya." Pamitku sembari tersenyum.


" Makasih ia An.Hati-hati di jalan." Jawab Naysa membalas senyumku.


Beberapa menit kemudian mang sarif menungguku di depan mobil baknya.


BARA api perlahan mulai menghangatkan sebagian tubuhku,sesekali aku di sibukkan dengan persiapan bekalku,Bara api itu terasa begitu hangat dan setidaknya bisa mengusir rasa dingin yang begitu menusuk ke seluruh tubuh,seperti inilah pagiku di dusun puncak yang selalu di liputi hawa dingin.


" Gimana Neng Nay ?" Tanya Nenek di tengah-tengah aktivitas pagiku.

__ADS_1


" Alhamdulillah Nek,Nay semalam sudah siuman." Balasku seraya menoleh Nenek yang berdiri tak jauh di belakangku.


" Nenek mah cemas lihat keadaannya An,entahlah rasanya takut ." Sela Nenekku terlihat polos.


" Nek,setahu Anna penyakit yang di dera Nay itu cukup berbaya, apa lagi Nay sudah stadium 4." Ucapku lirih.


" Stadium teh apa An ?" Tanya polos nenekku menatap penuh tanya.


" Tingkatan penyakitnya Nek dan penyakitnya Nay sudah tingakatan terakhir." Jelasku dengan iba.


" Terus kalau sudah terakhir gimana ?" Tanya Nenek dengan wajah terlihat panik.


" Yaa bisa jadi meninggal Nek,tapi aku berharap Nay di kasih ke ajaiban atas kesembuhannya nek." Ucapku dengan suara kian bergetar.


Nenek terenyuh,dia terlihat menarik napas panjang setelah mendengar penuturanku.


" Masyallah,Anna Nenek benar-benar cemas mendengarnya." Ujar Nenek sambil menoleh ke arahku.


Aku tidak menjawab hanya melipatkan bibirku dalam-dalam.


" Oya An,kamu hari ini ikut metik ?" Tanya nenek dengan ekspresi wajah tak menentu.


" Iya Nek." Jawabku singkat.


" Tapi jika nanti Neng Nay nyariin kamu gimana ?" Tanya nenek ragu.


" Gak mungkin,Nay masih di rumah sakit,lagian aku sudah bilang sama dia agar dia harus banyak istirahat dulu Nek, lagi pula Anna juga gak mau ganggu dia,jadi hari ini Anna ikut metik sama nenek." Ucapku seraya bergegas memasukan semua bekalku ke tas rangsel kecilku.


" Baiklah kalau begitu,mudah-mudahan saja Neng Nay cepet pulih kembali." Balas Nenek sembari menghampiri dan mengelus pundakku.


" Aamiin Nek.." Jawabku pelan seraya tersenyum.


-------------- 


SANG MENTARI perlahan keluar dari peraduaanya, dan sinarnya mulai menghangatkan seluruh tubuhku, aku berjalan menelusuri jalan setapak menatap penuh seksama ke arah rumput ilalang yang sebagian kecil menghalangi pandanganku.


Udara yang segar menerobos di celah dedaunan,angin pagi yang berembun berhembus basah menerpa wajahku, burung berkicau riang bersahutan menyambut cerahnya pagi ini.


 


Setibanya di bukit aku tidak menunda waktu lagi, langung masuk kebarisan-barisan teh yang memagar hijau membentang, embun pagi berjatuhan di sela-sela ujung daun yang bergoyang tatkala tersenggol orang yang berlalu, menitik lurus hingga ke tanah dengan kilauan yang mensejukan.


Perlahan aku pun mulai memilih pucuk teh yang tumbuh dengan begitu segarnya.


Matahari mulai meninggi dengan sinarnya yang terasa tajam menusuk di permukaan kulit, rasa lelah mulai menggelayutiku, dan tak terasa rasa pegal yang menyelinap dalam sendi-sendi mulai menjalar di kakiku, seusai perpijak di beberapa jam yang lalu. Dengan beban yang cukup lumayan berat di pundakku dan aku pun berjalan gontai menuju pematangan bukit teh, mencoba untuk melepas rasa lelahku.


Sekeranjang teh sudah penuh teronggok disampingku, sedikit untuk mengundang angin datang ku kipas-kipas topi yang sedang kupakai, kemungkinan akan ada angin kecil meniup perlahan badanku yang sudah berpeluh,ya setidaknya bisa menyegerkan badanku ini.


Tiba-tiba ada angin segar menerpaku, anginya cukup kencang yang kurasakan, aku tersadar dari rasa angin yang segar kurasakan dan mencoba untuk mengecek arah datangnya angin segar itu, aku menoleh, dan Panji tersenyum ke arahku dengan membawa sebuah kipas angin kecil yang lucu di tangannya.


" Panji !! " Pekiku tersenyum kaku.


" Kamu kegerahan ya ??? " Tanyanya dengan masih mengarahkan kipasnya ke arahku.


" Ambilah !! Agar lebih enakan." Ucapnya sembari menyodorkan kipas kecil itu kepadaku.


" Lucu banget kipasnya, otomatis ya ?" Tanyaku sembari mengamati benda lucu tersebut.


" Yaa itu kipas angin yang pake chasan Na." Jelas Panji seraya duduk di sampingku.



" Ngomong-ngomong kamu ngapain disini ?" Tanyaku sedikit penasaran atas kehadiran Panji di kebun teh ini.


" Cari kamu ! " Jawabnya seraya menolehku.


Aku menyeringah heran.


" Cari aku ??" Jawabku terkejut sekaligus merasa geer.


" Iyaa !!" Balas Panji tersenyum simpul.


" Ada apa ?" Tanyaku melengos,dan aku pun membuang wajahku untuk menyembunyikan rona grogiku.


" Kangen saja." Celoteh Panji dengan enteng.


Aku terhenyak,seketika bola mataku membulat lalu menoleh ke arah Panji yang ternyata sedang menatapku.


Tap......


Pandanganku berradu dengan tatapannya,dan aksi ini berhasil membuat sekujur tubuhku bergetar tak karuan.


Dengan cepat aku segera mengalihkan pandanganku ke arah lain,guna menghindari hal yang tak aku inginkan.


Ahh,, Dika sama Panji tidak jauh berbeda mereka laki laki yang penuh kejutan dan selalu bersikap lembut, meski pun aku baru bisa sedekat ini dengannya, namun toh aku tidak bisa mengelak jika ada kesamaan yang aku lihat dari diri Panji dan Dika,mereka sama-sama romantis, walau Panji agak terlihat lebih cuek tapi dia mampu membuatku geer.


" Kok kamu malah bengong sih Na ?" Tiba-tiba suara Panji membuyarkan lamunanku, aku tersentak dan sedikit malu untuk menatap kembali wajahnya Panji.


Seketika rona wajahku memerah.


" Gak papa ! " Jawabku gerogi


" Boleh dong aku kangen kamu." Ucapnya lagi mempertegas ucapannya.


" Ah kamu terlalu lebay." Balasku agak tersipu malu,jujur saja ada rasa ge-er perlahan menyelinap dalam hatiku.


" Kenapa ?? kok lebay ?" Tanya Panji cengengesan menatapku.


" Pake bilang kangen segala,emangnya kamu siapa aku?" Tanyaku menunduk.

__ADS_1


" Kalau aku benar-benar kangen kamu gimana,meski kamu bukan siapa-siapa kamu,tapi bukan berarti aku gak boleh kangen kamu dong." Goda lagi Panji seraya tetap memasang senyuman manisnya.


" Yaa tapi ga selebay itu juga." Ucapku pelan.


" Kamu orangnya emang ngangenin kok ! Balas lahi Panji terus membuat aku semakin tak karuan.


" Ah sudahlah Nji !! kamu jangan makin gak jelas deh." Tepisku seraya kembali menghadangkan kipas angin tersebut ke wajahku.


" Anna,anna.Kamu masih gak mudeng saja sih."Guman Panji sembari tersenyum geli ke arahku.


" Dua hari lagi aku akan balik jakarta Na." Ucap Panji menatap lurus ke perkebunan teh sana.


" Lalu ??" Tanyaku ragu untuk menoleh ke arah Panji.



" Lalu....,aku ingin ngajak kamu ke perkebunan mawar." Ucapnya menolehku.


" Buat apa ?" Tanyaku akhirnya menoleh Panji juga.


" Yaa buat ngajak kamu main saja !kenapa kamu nggak mau ya ?" Tanya Panji menatapku lembut.


Aku menghela lalu mengalihkan pandanganku kembali.


" Sepertinya aku ga bisa Nji,aku kerja." Jawabku singkat.


" Libur sehari bisa dong."Sela Panji cepat.


" Tapi aku kasian Nenek harus metik sendirian." Jawabku pelan.


" Hmmm,, Bagaimana jika nanti Nenek kamu aku kasih uang,yaa itung-itung buat ganti rugi penghasilan harian kamu sama nenek kamu." Usul Panji menawarkan kebaikannya kepadaku.


Aku menoleh lagi.


"Nji !! " Pekikiku dengan membulatkan kedua bola mataku dan menatap tajam Panji.


" Maaf aku gak bisa seperti itu." Tolakku pelan.


" Aku ingin main sama kamu,sekali ini saja Na." Ucap Panji menatapku serius.


" Kamu tidak suka ya jika aku ngajak kamu main ?" lagi-lagi Panji bertanya dengan tatapan serius ke arahku.


" Bukan begitu,tapi aku,..." Selaku mengantung, tiba-tiba saja Nenek sudah berada di belakang Panji dan ia pun muncul tanpa sepengetahuanku.


" Rupanya kamu sudah istirahat duluan saja An, Nenek teh dari tadi nyariin kamu,kirain masih metik." Ujar Nenekku dengan menurunkan keranjang teh dari gendongannya.


" Maaf Nek,tadi Anna merasa pegel banget kakinya jadi mau gak mau harus minggir dulu saja dan istrihat sejenak Nek." Jawabku tersenyum datar,perasaan ku tak enak di lihat nenek ketika berada bersama Panji.


Nenekku menatap panjang ke arah Panji.


" Ini siapa ?" Tanya Nenek sembari mencoba memperhatikan Panji dengan seksama.


" Ini Panji Nek,dia masih ada sodara dengan Juragan Kos nek." Jelasku terbata.


" Sodaranya juragan Kos ??" Tanya nenek mengkerut.


" Saya anak pak Burhan kakak dari juragan Kos." Sahut Panji ikut menjelaskan.


" Ohh yaa, Nenek tahu.Berarti sepupuan ya sama Den Dika ?." Tanya Nenek dengan begitu polosnya.


" Betul nek, saya sepupunya Dika." Jelas Panji.


" Oh yaa,pantesan masih ada mirip-mirip Den Dikanya." Jawab Nenek menganguk-angguk.


Aku dan Panji hanya saling beratatapan satu sama lain.


" Lalu Den Panji kesini ada apa ?? apa den Panji di suruh Juragan Kos kesini?" Tanya Nenek penasaran.


" Tidak Nek !! saya lagi kebetulan saja main ke arah sini,sekalian lihat perkebunan Ayah saya yang mau di jual,dan tak sengaja lihat Anna lagi ngadem jadinya saya mampir." Jelas Panji dengan sesekali menoleh ke arahku dengan tersenyum-senyum penuh arti.


" Ohh kirain teh ada pesan dari juragan Kos buat Nenek." Balas Nenek semeringah.


" Ohh gak ada kok Nek,hanya kebetulan lewat saja." Ucap Panji sambil menolehku dengan penuh isyarat. aku hanya bisa tersenyum tanpa ekspresi.


" Istirahat dulu Nek ! biar capenya berkurang." Ujar Panji berbasa basi.


" Iyaa,kalau sudah jam segini badan minta istirahat." Sela Nenek dengan tersenyum datar ke arah Panji.



" Oya Nji kalau begitu aku lanjut metik teh lagi ya. Lahian sudah lumayan nih capenya berkurang." Pintaku kaku,entah kenapa tiba-tiba aku merasa salah tingkah dengan adanya Nenekku di dekatku.


" Aku temenin yaa ! " Ucap Panji dengan lepas begitu saja.


Raut wajahnya terlihat semeringah, aku dan Nenek saling bertatapan menatap penuh kaku sekaligus heran akan sikap Panji.


" Gak usah Den Panji,, Anna gak usah di temenin cuaca lagi panas." Sela Nenek dengan tersenyum penuh arti menggoda ke arahku.


Ahh Nek senyumannya memaksaku untuk cerita tentang Panji jika nanti sudah nyampe rumah, meski Nenek tak bertanya langsung tapi aku melihat begitu banyak isyarat yang terlihat dari wajahnya dan itu melukiskan sebuah pertanyaan yang cukup mentut banyak kejujuranku.


" Tidak apa-apa Nek,sekalian aku mau tahu cara memetik teh yang baik kaya gimana Nek." Sela Paji terlihat mulai memaksa.


" Oo." Ucap Nenek menggantung, dia terlihat mengangguk-anggukan kepalanya seraya tersenyum penuh arti ke arahku.


*Yaa TUHAN !!


Benar -benar salah tingakahkan di buatnya, Nenekku tidak melarang sama sekali Panji untuk tidak ikut denganku.Ahh ini sama saja nenek memberi kesempatan untuk Panji untuk lebih dekat denganku. gumanku dalam hati sembari tersenyum senyum seorang diri.


Entah lahh !! kenapa perasaan itu tiba-tiba mengalir begitu saja, tak ada rasa was-was yang terpancar dari raut wajah Nenekku, seolah-olah ada harapan baru yang telah terbuka untukku*.

__ADS_1


# bersambung#


 


__ADS_2