Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA

Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA
TSBUN ~episode 29


__ADS_3

AKU menatap penuh sesal ke arah Dika yang tak bergeming,dia hanya mampu terdiam dan mematung tanpa ada reaksi apapun.


Aku hanya bisa melihat wajahnya yang sangat terpukul atas kejadian yang telah terjadi.Ada rasa sesal di dalam hatiku dan itu kian mendalam, seperti ada sebuah benda keras yang menimpaku sangat kuat,dan itu menjadi beban terberatku


Sesaat aku pun hanya mampu larut dalam ketakutan yang semakin mencekam hatiku, perlahan aku berjalan meninggalkan Dika yang masih tetap terdiam tak bergeming sedikitpun,entahlah aku tak tau apa yang ada di benak laki-laki tersebut.


Yaa...


Sungguh aku sangat takut dengan atas apa yang telah menimpa Naysa saat ini,dan jika terjadi sesuatu hal yang buruk menimpanya jelas saja aku tidak bisa memafkan diri ini.Ada yang sakit di ujung hati ini dan perasaan sakit itu kian tak terkendalikan.


Seketika kedua kaki ini terasa lemah seperti tak ada tenaga,aku tersungkur dalam sebuah penyesalan yang teramat dalam,rasanya aku percuma menyesalinya,semua terjadi tanpa terkendali.


Ingin rasanya aku berteriak memecahkan kesunyian yang berbalutkan kecemasan yang begitu kuat menderaku.Diri ini tidak bisa memafkan kesalahan yang telah ku perbuat terhadap Naysa sahabat kecilku.


Derai air mataku semakin mengalir deras membasahi ke dua pipiku, aku bingun, bahkan aku merasa cemas sekaligus Panik berbaur menjadi satu rasa di dalam hatiku ini,atas apa yang telah menimpa Naysa.


Kejadian ini memang begitu cepat,sandainya saja aku tadi langsung pulang mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya.


Tanpa berpikir panjang lagi aku pun segera bergegas, berniat pergi untuk menemui Naysa, aku ingin memastikan akan keadaannya Naysa,apakah dia baik-baik saja,ataukah ??


Aku menggeleng,rasanya tak mampu aku membayangkan hal buruk menimpanya.


Aku berharap Naysa tidak salah paham dengan apa yang telah terjadi di antara aku dan Dika.


Sesampainya aku di pelataran halaman rumah Naysa yang megah entah kenapa hatiku menjadi gamang menatap ragu ke arah gerbang rumah Naysa yang tertutup rapat.


Ada perasaan yang hilang dalam kendaliku,dan entah kenapa tiba-tiba saja tempat ini terasa canggung bagiku.Sejadi jadi aku tak yakin jika Naysa akan sudi menemuiku atau sebaliknya.


Aku terdiam,membayangkan ekspresi wajah Naysa ketika aku datang menekuinya,bayangan itu telah aku duga sekian rupanya.


Aku yakin jika Naysa akan murka kepadaku bahkan dia tak lagi mau bersahabat denganku.Entahlah !!


Pikiranku sangat kacau,lebih kacau dari segalanya dan aku pun sendiri tak tau harus apa yang kulakukan saat ini.


" Neng Ana !"


Sapa mang Sarif mengejutkan aku ditengah lamunan panjangku.


Aku menoleh ke arah sosok pria tua itu dengan menatap ragu,Mang Sarif menatapku seraya menurunkan sebuah karung dari pundaknya.


" Neng Ana balik lagi ?" Tanya mang Sarif dengan heran.


" Iya mang,saya ada perlu sama Naysa,kira-kira Nay nya ada mang ?" Aku langsung bertanya tanpa menunggu lama.


" Mamang teh kurang tau,soalnya Mamang kan dari perkebunan.." Ucapnya seraya menghampiriku.


" Ada perlu apa neng Anna sama neng Nay ?" Tanya mang sarif penasaran.


" Tidak ada apa-apa mang.Cuman saya ingin bertemu Nay saja...?" Jawabku terbata.


__ADS_1


" kalau begitu sebentar atuh neng, mamang panggilkan neng Nay nya ya !" Ucap mang Sarif sambil membuka pintu gerbang tersebut.


Aku hanya mengangguk tanda setuju.


Perasaanku masih belum bisa tenang jika aku tidak bisa bertemu Naysa.


" Acep ! sini atuh,tolong kamu pindahin karung teh ini ya !" Seru mang Sarif meminta tolong kepada anak laki-lakinya tersebut.


" Iya pak." Sahut Acep segera menghampiri sang Ayah.



" Simpan saja dulu di gudang ya,tapi jangan lupa di timbang dulu ! Soalnya ini belum di timbang berapa beratnya.." Ucap mang Sarif sambil membuka lebar gerbang pintu pagar tersebut,lalu ia pun menyuruhku untuk masuk.



" Ayo atuh Neng Anna masuk dulu !!" Ucap mang Sarif ramah.


" Iya mang,makasih mang." Jawabku terbata.


" Tunggu sebentar mamang liat dulu kedalam ya neng!" Ucap kembali mang Sarif dengan penuh hormat kepadaku,padahal kita sama-sama anak buah dari Nyai neneknya Naysa,namun mang Sarif orangnya penuh sopan santun.


" Iya mang,haturnuhun ya mang..." Ucapku dengan nada bicara semakin merendah.


Aku berdiri di luar teras rumah Naysa menunggu kabar dari mang Sarif.


Beberapa menit kemudian mang Sarif keluar dengan wajah datar.


" Ada neng!tapi katanya neng Naynya teh lagi tidak ingin di ganggu.Dia bilang ingin istirahat ." Jelas Mang Sarif dengan polos.


Aku menarik napas panjang mendegar penuturan mang Sarif tersebut.


Sudah ku duga Naysa tidak ingin menemuiku,dan apa yang kutakutkan selama ini terjadi, Naysa tidak mau bertemu lagi denganku.


" Terus Nay lagi ngapain Mang ?" tanyaku masih penasaran.


" Kurang Tau atuh Neng.Barusan juga yang nyampein Nyai." Ucap mang Sarif terlihat bingung.


Dekkkk.....


" Nyai ???" Pekikku semakin kacau, aku tidak tau harus berbuat apa lagi, kalau Nyai sampe tau kejadian ini,aku benar-benar tidak bisa memafkan diri ini.


Aku benci kamu Dika !!! Serapahku membatin.


" Neng ! kok malah bengong ?" Tanya mang Sarif mengejutkanku.


" Oh tidak apa-apa Mang.Ya sudah mang,kalau begitu saya pamit pulang aja mang,biarkan Nay beistirahat.." Ucapku seraya tersenyum kaku.


" Iya Neng,apa ada pesan buat Neng Nay ?" Tanya mang Sarif dengan semeringah.


" Mmm sepertinya tidak ada mang.Punten ya mang sudah menganggu." Ucapku dengan menatap tak enak.

__ADS_1


" Oh tidak apa-apa atuh Neng." Balas Mang Sarif tersenyum ramah.


Tak lama kemudian akupun segera berpamitan dan berjalan keluar gerbang.Menjauh dari kediaman nya Naysa.


Ingin rasanya aku berlari memeluk Neneku dan menumpahkan segala kesedihan ini, sepanjang jalan air mata ini sulit aku bendung,tangisanku seperti mau pecah.aku mencoba untuk berlari dengan sesak yang penuh di hati,aku tak tau harus di bawa kemana rasa sesal ini.


-------------'


Aku ambruk di ranjang usangku, menangis sejadi jadi, kenapa harus seperti ini akhir dari sebuah sandiwara cinta ini.Aku hanya ingin Naysa bahagia tapi tidak dengan seperti ini,aku tidak bisa membayangkan jika kesehatan Naysa semakin memburuk hanya gegara keteledoranku.Aku hanya bisa menangis hingga membuat kain bantalku terasa basah atas tangisanku ini.


Aku benar-benar terisak dalam ketakutan yang semakin mencekam jiwaku.


" Anna !"


Panggil suara lembut yang begitu khas di telingaku.


Aku segera menyeka air mataku dan berusaha untuk tenang.


" Anna,kamu kenapa ?" Nenek muncul dari balik tirai kamarku menghampiri dengan raut wajah cemas.


Rasanya aku tak bisa lagi menahan tangisannku efek dari pertanyaan nenekku.


Dengan cepat aku menghambur kepelukan Nenekku dan akupun terisak tanpa henti, menumpahkan tangis yang tak bisa terbendung lagi.


Sontak saja itu membuat nenekku terlihat shok di buatnya.


" Ada apa atuh An ??" Tanya Nenek kembali dengan mengguncangkan tubuhku secara perlahan.


Aku belum bisa menjawab,terlalu sulit isakan tangisku ini menyesakan rongga dadaku.


" Coba tenangin dulu atuh An,jangan seperti ini,Nenek teh jadi takut..." Ujar Nenek semakin cemas menatapku dan suaranya terdengar bergetar.


" Apa yang Anna takutkan telah terjadi Nek.." ucapku lirih di sela isakannku.


Nenek terlihat bingung menatapku.


" Ada apa ini sebenarnya ? jangan membuat Nenek takut,ayo jelasin atuh aya naon ini teh ?" lagi-lagi Nenek terlihat begitu cemas menatapku,dan matanya mulai berkaca-kaca.


Sungguh aku tak tega melihat Nenek yang merasa cemas dengan keadaanku yang tak henti-hetinya terisak.


Perlahan aku mencoba menenangkan diri ini ,agar aku bisa becerita dengan tenang tanpa terburu-buru,dan itu bisa dipahami oleh nenekku.


Tanpa menunggu lama akupun segera menceritakan apa yang telah terjadi terhadapku,aku ceritakan waktu aku habis menghantarkan pesanan Nyai, tak ada yang kulewatkan sebait katapun,bagiku Nenek adalah orang yang sangat mengerti akan keadaan dan perasaanku, aku masih terisak pelan sembari sesekali menyeka air mataku yang meleleh di pipi.


" Astagfirullah,, Nenek jadi ikut cemas An,, Nenek juga ikut bingung atuh kalo kaya gini kejadiannya." ucap Nenek dengan menatapku iba, aku semakin sedih melihat Nenek ikut sedih dengan keadaanku, aku menyesal dengan apa yang telah ku lakukan, niat ingin memberi yang terbaik malah melukainya.


" berdoa saja,, neng Nay baik baik saja An,, Allah akan mendengarkan doa doa hambanya yang punya hati tulus,, apa lagi kamu mempunyai niat baik." ucap Nenek menenangkan perasaanku seraya membelai rambutku aku masih terisak didekapannya, tak ada tempat yang senyaman pelukan sang Nenek dia benar benar wanita terhebatku.


" jangan terlalu dpikirkan ia,, nanti malah kamu yang sakit." sela lagi Nenek dengan nada lirih.


aku tak menjawab hanya menggangguk seraya menghela napas panjang. ada kehangatan yang nyaman dari pelukan sang Nenek, dia teramat menyayangiku peduli akan segala keluh kesahku, aku tak terbanyangkan jika TUHAN mengambil saat ini orang satu satunya yang sangat berharga dalam hidupku, aku pun takut akan membayangkannya. kurangkul kembali tubuh yang renta itu sembari mengucap doa untuknya, agar senatiasa Nenekku selalu sehat serta panjang umur.

__ADS_1


" bersambung #


__ADS_2