
SUARA deru mesin mobil cukup keras di pelataran rumahku, aku yang tengah asik menjemur teh mendongkakan kepala menatap ke sebuah mobil yang berhenti tak jauh dari posisiku.
Pintu mobil terbuka Juragan Kos keluar dengan mengenakan swiiter coklat lalu tak lama di susul oleh Dika yang mengenakan jaket jeans belel biru. Perasaanku tiba-tiba terusik dengan kedatangan Dika beserta Juragan Kos.Aku pun berdiri menghentikan kegiatanku membolak-balikan jemuran teh tersebut.
" Assalmualaikum !" Sapa juragan menghampiriku.
" Walaikumsalam pak juragan." Balasku penuh hormat.
" Anna katanya kemaren emak sakit ya ?" Tanya juragan Kos menatapku hangat.
" Iya pak jurangan,mungkin Nenek hanya mengalami kecapean saja.Dan sekarang nenek lagi istirahat,bapak mau bertemu nenek ? silahkan masuk !" Ucapku penuh hormat.
Juragan Kos pun m tanpa berbicara lagi ia memasuki rumahku yang sederhana itu.
sementara Dika masih berdiri menatapku dengan sorot mata yang seperti kemaren, kaku dan sedikit tajam.
" Kamu mau masuk juga ??" Tanyaku basa basi.
" Tidak perlu." Jawabnya simple.
" Kalau begitu aku bawakan minum untuk mu ya." Ucapku seraya hendak melangkah.
" Gak usah An !! " Sergah Dika menolak mentah tawaranku.
Tak lama ia berjalan mendekatiku,aku sedikit degdegan setelah melihat Dika mendekatiku.
" Anna !! " Panggil Dika menatapku tajam, sejadi- jadi perasaanku menjadi tidak karuan,gelisah dan waswas campur aduk.Seketika dag dig dug jantung ini.Tatapannya berbeda dari biasanya.
" Jadi apa yang dikatakan Nay itu benar ?" Tanyanya dengan intonasi penuh penekanan.
" Maksudnya apa Dik ? " Tanyaku gugup.
" Bahwa kamu ada hubungan dengan Panji.?" Tanya Dika dengan penuh selidik, aku menghela dan mencoba untuk tenang dalam menjelaskannya.
" Katakan yang sejujurnya An ? apa semua ini ada hubungannya dengan keputusanmu itu ?" Tanya Dika tak sabar.
" Dika ! tolong dengarkan semua penjelasanku, aku tidak mau kamu salah paham terhadap Panji." Ucapku lembut,sejenak Dika terdiam.
" Aku kemarin memang kebetulan tak sengaja bertemu dengan Panji, dan aku juga baru bertemu dengan dia setelah sekian lama, kamu tau sendiri kan jika Panji dari dulu cuek kepadaku, dan dia gak terlalu akrab juga dengan aku,jadi di antara kita memang tidak ada apa-apa Dik." Jelasku pelan.
" Oya ?" Balas Dika menatapku tak percaya.
" Naysa tidak mungkin berbicara seperti itu jika memang di antara kalian tidak ada apa-apa." Ucap Dika masih tetap tak percaya.
" Dika,aku hanya lelucon saja dengan Nay." Balasku mencoba meyakinkan tuduhanya Dika.
" Jika Panji cuek sama kamu dulu,kenapa kalian bisa se akrab itu kemarin ?" Tanya lagi Dika belum tuntas rasa penasarannya.
Aku terdiam,rupanya Dika masih membutuhkan jawaban yang pasti akan sosok Panji.
" Entah kenapa sekarang ini Panji berubah dia lebih ramah Dik.." Jawabku pelan.
" Dan kamu senang ??" Sela Dika cepat.
" Yaa aku jujur aja senang,karena yang biasanya dia cuek terus jutek sekarang dia ramah, jadi aku pikir itu perubahan yang bagus." Balasku dengan penuh arti.
" Dan kamu mulai suka dia ?" Tanya Dika dengan datar.
Aku tercekat lalu menatapnya dengan serius.
__ADS_1
" Dika." Pekiku pelan.
" Katakan saja An." Ucap Dika sambil terlihat menahan sesak di dadanya.
" Kamu cemburu ya ?" Ucapku menggodanya.
" Yaa jelas lah An,kamu tau gak ? ketika kamu bilang aku gak perlu mengharapkan kamu lagi perasaanku hancur, kamu mudah sekali mengatakan hal itu.Sementara aku belum bisa menerima apa yang menjadi keputusannmu." Ungkap Dika menatapku dengan berbagai perasaan.
" Dan aku semakin yakin jika keputusan kamu itu ada hubungannya dengan Panji,buktinya kamu kemaren pulang bersama panji." Ujar Dika membenarkan apa yang menjadi prasangkanya.
" Tapi aku bertemu Panji hanya kebetulan saja Dik." Sergahku sedikit meninggi akan suaraku, dan pernyataan Dika berhasil memancing amarahku.
" Jadi itu alasanya,hanya kebetulan saja.?" Tanya Dika menatapku dalam, membuat perasaanku kembali dilema ketika dia benar-benar menatapku penuh rasa curiga, aku melihat sorot matanya Dika memang cemburu.
Aku terdiam,enggan untuk menjawab pertanyaa Dika.
Tidak berapa lama sebuah mobil bak berhenti di samping mobil juragan Kos, hampir bersamaan aku dan Dika menoleh ke arah mobil Bak tersebut.
" Mang sarif !" Pekikku lirih, aku merasa heran dengan kedatangan mang Sarif yang secara tiba-tiba.
" Ada apa Mang ?" Tanyaku tak sabar begitu mang Sarif keluar dari mobil dengan wajah cemas.
" Neng Anna punten,mang Sarif mau ngasih tau,kalau neng Nay teh masuk rumah sakit." Jawabnya dengan terlihat panik.
Aku terkejut bukan main.
" Apa Nay masuk rumah sakit..? kapan mang ?" Tanyaku cemas sekaligus khawatir.
" Tadi pagi ! neng Nay pingsan lagi, dan sampe sekarang pun belum siuman, makanya neng Nay teh di bawa ke rumah sakit sama Nyai, mamang di suruh Nyai ngasih tau Neng Anna." Jelas mang Sarif dengan tak tenang.
b" Yaa Allah !! " Pekiku pelan,nyaris sekujur tubuhku dibuatnya tegang.
" Nay kambuh ? " Jawabku lepas.Aku tak tau dalam kondisi seperti ini otak dan perasaanku bisa sejalan.
" Apa kambuh? memangnya sakit apa dia An ?" Tanya lagi Dika semakin penasran.
" Nanti aku ceritain Dik, sekarang aku ikut mang sarif kerumah sakit, aku cemas akan kondisinya Nay." Jelasku dengan perasaan tak menentu.
" Mang tunggu aku sebentar,aku kan ganti baju dulu ya !" Ucapku setengah berseru, dan bejalan cepat menghambur kedalam.Mang sarif hanya menggannguk sementara Dika masih terlihat linglung melihat sikapku yang terlihat panik.
AKU duduk tak jauh dari tempat Naysa berbaring, selang infus sudah tertancap di pergelangan Naysa dan alat bantu pernapasan pun sudah tepasang di kedua lubang hidungnya, wajah pucat pasit terlihat jelas di rona kulit putihnha Naysa, aku tak berhenti terus berdo'a dalam batin ini semoga Naysa akan baik- baik saja.
" Anna." Suara lembut memanggilku, ku toleh Nyai menyembul dari balik pintu ruangan.
" Nyai " Balasku pelan.
" Gimana Nay,sudah terlihat tanda-tanda dia siuman ?" Tanya Nyai dengan suara yang mulai terdengar serak.
Aku menggeleng dengan perasaan sedih.
" belom Nyai.." Jawabku pelan.
Nyai terisak pelan seraya menatap cemas ke arah Naysa sang cucu semata wayangnya yang begitu sangat ia sayangi.
" Yang sabar Nyai." Ucapku setengah berbisik merangkul tubuh besarnya Nyai.
" Nay akan baik-baik saja.." Ucapku lagi dengan lirih.
Nyai terlihat mengangguk mengamiinin perkataanku.
__ADS_1
" Anna.Sebelom dia pingsan Nay ada cerita tentang seorang laki-laki kepada Nyai." Ucap Nyai mengalihkan pandangannya ke arahku.
" Nay cerita apa Nyai...?" Tanyaku penasaran.
" Nay bilang sama Nyai,jika dia jatuh cinta kepada laki-laki itu, tapi dia bingung harus bagaimana mengatakannya." Jelas Nyai dalam isakannya.
Aku tercenung,dapat di pastikan jika laki-laki yang di maksud Naysa ada Dika.
" Apa kah Nay pernah cerita tentang semua itu kepadamu An ?" Tanya Nyai menatapku berat.
Aku pasrah dan hanya bisa mengangguk pelan.
" Ann, kamu tau laki-laki itu siapa ?" Tanya Nyai antusias.
" Dia Dika Nyai,teman kita semasa kecil dulu yang anaknya Juragan Kos." tegasku dengan jelas.
" Yaa Allah,ternyata Dika.Nay nampak bahagia sekali menceritakannya An,tapi Nay berubah sedih ketika dia mengatakan kalau Dika takut tidak menyukainya." Jelas Nyai terbata.
Aku terdiam Naysa telah jatuh cinta kepada Dika,dan Ia benar-benar telah mencintai Dika,itu artinya tak ada lagi alasan untuk merubah keputusanku untuk melepaskan Dika dari kehidupanku.
Dan saat ini lah waktunya aku untuk membahagia kan Naysa dengan cintaku.
" Nyai jangan khawatir,Anna yakin jika Dika pasti menyukai Nay juga." Ungkapku berusaha membuat Nyai tenang.
Nyai menatapku dengan seksama.
" Nyai minta tolong boleh An ?" Tanya pelan.
" Tentu boleh Nyai,, " Jawabku hangat.
" Persatukan Nay dengan Dika agar Nay bisa bahagia di......,hikss..." Ucap Nyai tak lantas ia semakin terisak kencang air matanya benar-benar turun membasahi pipinya yang mulai keriput termakan usia.
Entah kenapa kalimat terakhir yang tak lantas Nyai ucpkan membuatku semakin merinding,ada perasaan yang tak bisa aku tahan hingga sesak menghimpit rongga dadaku.
" Mama!! keadaan Nay gimana ?" Tiba-tiba Ibunya Naysa menerobos pintu ruangan kamar tempat Naysa di rawat,Ayah Naysa terlihat mengikutinya dari belakang dengan raut wajah tak kalah cemasnya.
Nyai merangkul erat Ibunya Naysa sembari masih terisak.
Perlahan aku mundur lalu memilih untuk keluar ruangan tempat Naysa di rawat, aku membiarkan kedua orang tua Naysa berada di samping Naysa yang detik ini pun dia belum sadarkan diri, terbaring lemah tak berdaya.
Aku menatapnya dari balik kaca, menyimak kesedihan kedua orang tua Naysa serta Neneknya yang masih menangis melihat ke adaan Naysa.
Aku tidak bisa memafkan diri ini jika Naysa sampai tau antara aku dan Dika,dan itu benar-benar akan membuatnya kecewa atas segala penghianatanku.
Aku menghela napas panjang,sesak ini tak kunjung hilang.
Diam-diam aku pun berjanji untuk membawa Dika dalam kehidupannya Naysa,apapun itua caranya.
Dan aku pun bersumpah akan membuat Dika benar- benar jatuh cinta kepada Naysa apapun itu resikonya.
Perlahan genangan air mata ini mengalir deras menuruni lembah pipiku, sejadi -jadi sesak ini memenuhi ruang dadaku.
Setelah beberapa menit kemudian aku berpamitan untuk pulang, aku berdo'a Naysa akan segera sadarkan diri.
Aku pamit pulang dan aku berjanji besok hari akan menemaninya lagi di rumah sakit.
Aku pulang dengan langkah gontai, perasaanku melebur, ketakutanku semakin menguat tak kala aku membayangkan kembali wajah Naysa dalam keadaan lemah tak berdaya dengan beberapa alat bantu terpasang di beberapa bagian wajahnya dan pergelangannya, rasanya selera ini begitu pahit ku kecap.
"Y**aa TUHAN jangan ambil nyawanya,, biarkan aku bisa melihatnya bahagia,, biarkan aku memberi kesempatan untuk menyatukan cinta Naysa dengan cintanya Dika, aku ingin melihatnya bahagia walau pun aku harus menderita."
__ADS_1