Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA

Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA
episode 12


__ADS_3

 


AKU masih mematuti bayangan sendiri di cermin, dan aku masih asik menatatpi dalam ke raut wajahku sendiri, entah apa yang membuat Dika tetap mempertahankan rasa yang begitu besar terhadapku, aku merasa tidak ada apa apanya di banding dengan Naisya,dia jauh lebih dengan keadaanya denganku, perbandingan itu seperti langit dan bumi, semuanya jelas jauh berbeda antara parasku maupun dengan kehidupannya,jelas aku merasa benar benar rendah jika harus bersanding dengan seorang Dika, aku tidak bisa membayangkan jika Naisya tau akan perasaan ini dan tau akan kecuranganku dengan seorang Dika, entahlah aku merasa telah melakukan dosa besar yang amat sangat membuatku semakin bersalah.


 


Ahh.... jika bisa aku memutar kembali waktu ingin rasanya aku mengusir jauh dan tidak mengindahkan apa yang selama ini aku raskan, entahlah ini menjadi bomerang buat diriku sendiri serta sahabat terbaikku Naisya.


" Anna..." suara khas yang lembut mengejutkanku dari lamunan panjangku,Nenek menatap lembut ke arahku dan meremas lembut kedua pundakku.


" Apa yang sedang kamu pikirkan ??"


" tidak ada Nek..." ucapku sembari menyentuh lembut nan hangat jari jemari nya yang terlihat keriput menyentuhku.


" Nenek tau Apa yang kamu rasakan atuh,, Nenek tak bisa di bohongin walaupun kamu mengatakan tidak ada apa apa,," ucap Nenek dengan menatap penuh selidik ke arahku, aku terdiam mencoba memendam perasaan yang mulai berkecambuk dalam batinku entah apa yang harus aku katakan entah di mulai dari mana cerita ini.


" ceritalah...." Nenek duduk di hadapanku dengan sorot mata yang sangat meneduhkan hatiku.


entah apa yang membuatku menangis sejadi jadi ketika ucapan Nenekku meluluhlantakan pertahanan perasaanku yang selama ini aku pendam.


entahlah,rasa tangis ini tiba tiba saja pecah dan hancur dalam pangkuan Nenekku.


" menangislah ... jika kamu merasa sedih.., lepaskan .. jika itu bisa membuatmu puas.." ucap Nenekku dengan suara parau


Aku benar benar tidak lagi bisa menjawab hanya mulai terasa sesak menahan isak tangisku yang tak bisa lagi aku tahan.


" Aku telah menghianati Nay Nek..." ucapku pelan dengan sedikit terisak.


" memangnya apa yang telah kamu lakukan ??"


" Aku mencintai Dika dan Dika mencintai ku,, kami saling mencintai tanpa sepengetahuan Nay,, " ucapku terbata bata


" entah seperti apa jika Nay mengetahui akan hal ini, terlebih lebih Nay dalam kondisi sperti sekarang ini."


aku menatap nanar ke arah Nenekku.


" aku takut dengan perasaan ini akan melukai hati Nay,, dan akan memperburuk kondisinya." kembali aku berkata sedikit meraung raung.


Nenek terlihat menarik napas panjang dan menatapku dengan berjuta perasaan yang tak menentu, Nenekku sepertinya dia paham apa yang sedang kurasakan.


" Apa yang harus kulakukan Nek ?"


sejenak Nenekku terdiam dia tidak membalas pertanyaanku ada kegamangan yang ku rasakan kuat darinya. dia turut serta merasakan dalam benaknya.


" Anna,, sebaiknya kamu berhenti untuk tidak mengharapkan Den Dika..." ucapnya lirih dengan sorot matanya terlihat mulai mengembun dengan lelehan bening di pelupuk matanya.


" maksud Nenek ?

__ADS_1


" lupakan Den Dika, dia jelas tidak sepadan denganmu,lagi pula ada yang lebih pantas untuk Den Dika adalah neng Nay.." ucap Nenekku dengan sedikit bergetar suaranya.


sesuatu yang berat telah menimpaku,, yaa sesuatu itu telah kuat menghantamku aku tidak berdaya dan hanya bisa menyadari dengan penuh sesal.. apa yang di takutkan terjadi juga, cinta ini tak bertuah.


" Cacing akan tetaplah menjadi se ekor cacing tidak akan menjadi naga An,, dan ikan mujair tetaplah ikan mujair tidak akan menjadi emas,, berpikir kembali An untuk tetap mempertahankan perasaanmu.." ucap Nenek lembut membelai rambutku dengan penuh kasih sayang, entahlah rasanya perempuan separuh baya itu tiba tiba berasa menjelma menjadi sahabat yang sangat mengerti akan perasaanku.


tangisku semakin pecah tatkala perasaan ini memanggil jauh akan sosok seorang ibu, yaa jika aku harus membayangkan seperti apa sosok seorang ibu, mungkin ini saatnya aku sangat membutuhkan pelukan dan segala dekap hangatnya yang bisa menguatkanku, yaa tangisanku benar benar semakin pecah meratapi segala bentuk ketidak adilan ini.


" Akan ada kebahagian lain yang akan menjemputmu." Nenek menggengam erat tanganku dan menyimak wajahku dengan penuh haru.


aku tidak bisa menjawab sesak rasanya di dada tak ada sepatah katapun yang mampu keluar dari mulut ini, benar benar sulit untuk mengungkapkan segala sesuatu tentang rasa ini.


Suara mesin berderu kencang dari arah luar rumahku, menyadarakan aku dari tangisan kecilku. dengan bersamaan aku menatap ke arah luar, terdengar suara mesin mobil berhenti tepat di depan rumahku, aku terhenyak dari tempat dudukku bersamaan dengan Neneku, sejenak aku dan Nenek saling pandang mencoba menebak kedatangan dari balik mesin mobil yang tak lama berhenti, dengan disusul suara kecil pintu mobil tertutup.


dengan cepat aku menyeka air mataku dan mencoba untuk merapihkan keadaanku.


Nenek dengan sigap segera meninggalkan kamarku dan menghampirinya.aku hanya terdiam menatap jauh ke arah luar jendelaku.


aku tersadar teringat akan kata kata Dika untuk menemuinya sore ini..


" yaa Tuhan..." pekiku dengan menatap ke arah jam wekerku.


" udah jam 4,, Dika.." pekiku menutup mulut dengan kedua tanganku.


" Anna.... ada Den Dika dengan Nenk Nay.."


" Iyaa Nek..." jawabku singkat, aku menoleh ke arah cerminku mata ini sedikit sembab dan pipi ini pun seketika terlihat memerah.


tiba tiba Nay sudah menghambur ke kamarku dengan terlihat riang dan sangat ceria.


" Nayy...." teriaknya dengan cepat mendekapku erat.


aku terdiam berusaha untuk menyembunyikan rona wajahku yang terlihat tidak menetu.


" kita ke rangkeng lagi yukk..." ajak Nay mengajakku untuk pergi ke rangkeng, rangkeng adalah jenis pondok kecil yang berada di tengah bukit,, yaa tempat kami bermain semasa kecil, dan di tempat itu pula saksi kami bersahabat erat.


" Rangkeng.... ?? " tanyaku menatap kearah wajah Nay yang masih tetap terlihat ceria.


" iyaa... sama Dika.." ucap Nay sambil mengguncang guncangkan pundakku.aku terdiam, ingin rasanya aku menghilang sejenak detik ini juga untuk tidak memperlihatkan kesedihan yang kuraskan saat ini.


" Ann...." sejenak Nay menatapku dalam dia mencoba menyimak dan memperhatikan wajahku.


" kenapa ?"


" kamu habis nangis ??"


" tidak..." ucapku dengan memalingkan wajahku

__ADS_1


" jangan suka berbohong dari ku ?" ucap Nay sambil terus mengejarku dengan tatapannya.


" ahh... aku cuman lagi kangen aja."


" kangen ???" tanyanya dengan penuh selidik.


" ahh sudahlah lupakan ." ucapku dengan kembali menahan tangis yang mulai mengembang di pelupuk mataku.


" Ann..., sajak kapan kamu bisa mengindar dariku ?" tanyanya dengan sedikit menatapku tajam.


" Nay...." selaku kelu


" kamu tidak ingin bercerita denganku lagi ?"


"....." aku menggeleng seraya memeluk tangan Nay dengan erat


" Aku kangen akan ......" ucapku menggantung, Nay menyimakku dengan terlihat penasaran


" kangen kedua orang tuaku.." selaku dengan tertunduk entahlah, entah drama apa yang sedang ku mainkan, aku hanya ingin terlihat baik baik saja tidak mau memperlihatkan kesedihanku di hadapan Nay dengan berpura pura aku merasa kangen terhadap Almarhum ke dua orang tuaku.


" Ahh... Nay... maafkan aku.." ucap Nay sambil mendekapku, memelukku dengan lembut.


" maafkan aku..." ucapnya dengan mengusap ngusap lembut punggungku.aku hanya bisa terisak kecil di pelukan sahabatku.


" menangislah... aku merasakan apa yang kamu rasakan,, kedua orang tuamu adalah kedua orang tuaku... dan kedua orang tuaku adalah kedua orang tuamu juga,, aku adalah sodaramu." ucap Nay dengan tersenyum lembut kepadaku, itulah kata kata yang selalu menguatkanku, Nay selalu hadir dikala aku benar benar rapuh, tapi entah apa yang membuatku merasa air mata ini sebuah kebohongan yang benar benar telah mengelabui empati seorang sahabtaku


" kamu tidak sendiri,, ada aku... emak,, dan sekarang Dika ada,, kita sahabat.." ucap Nay terlihat berkaca kaca.


pedih rasanya jika aku harus melihat dia menangis tulus untukku, aku terdiam mencoba terus bersembunyi di balik sipat munafikku.


" sudah yaa... kamu teh jangan sedih terus,, aku jadi ikutan sedihh nee.." ucap Nay sambil menyeka air matanya,aku tersenyum tawar menatap ke arah Nay, sosoknya benar benar tulus mengasihiku.


" Dika udah nungguin kamu,, yuk..!!." ucap Nay sambil menyeka bekas air mataku yang masih basah di pipi.


aku hanya mengangguk pelan dan tersenyum pasi.


perlahan lahan aku mengikuti langkah Nay yang menggendengku keluar kamar, sementara Dika terlihat akrab ngobrol dengan Nenekku, entah apa yang di obrolkan oleh mereka.


Dika meliriku sedikit kaku, aku hanya sekilas melihat raut wajahnya sedikit bermuram, menatapku sedikit kecewa, namun aku mencoba untuk tidak menatap lebih lama lagi.


aku pamit sama Nenekku untuk pergi keluar sebentar menemani Nay dan Dika untuk pergi ke tempat kami bermain kecil.


Dika masih menatapku lekat entah apa yang ada dalam pikirannya.


di ujung pandangan Nenek menatapku penuh haru, kesedihannya terlihat jelas dari garis sudut bibirnya yang tertahan, aku hanya bisa tersenyum tanpa ekspresi,mencoba untuk menyakinkan bahwa aku baik baik saja.


# bersambung #

__ADS_1


__ADS_2