
AKU termenung di ambang jendela kayuku menatap jauh ke luaran sana, pikiranku masih melekat ke segala hal yang telah terjadi kepadaku, semua misteri dan semua itu seperti kejutan-kejutan manis yang tak terduga dari sebagian takdirku.
Sejenak aku masih larut dalam pikiranku dengan apa yang telah Panji katakan beberapa hari yang lalu tentang aku dan Dika, tak ada sedikitpun aku berpikir jika selama ini Panji mencintaiku dalam diamnha.
Ada rasa berbesar hati tatkala aku merasa TUHAN tentu akan adil dengan segala pemberiannya terhadap umatnya, aku tersenyum kecil seraya menatap jauh awan yang terlihat berkejaran di langit sana, manusiawi sekali jika aku merasa bahagia bisa di cintai oleh dua lelaki.
yaa aku tidak menolak jika memang Dika tak mampu menjadi bagian dalam hidupku tentunya Panji masih bisa menerimaku apa adanya,, hihii sedikit nakal memang pikiranku ini, namun aku hanya berpikir realita saja,, yahh meski aku butuh waktu untuk menumbuhkan sebuah perasaan itu tapi aku percaya ada cinta yang lain untukku.
Batinku terus berguman sembari menyunggingkan seulas senyuman.
" Anna..!"
Naysa memanggilku tepat di bawah jendela kamarku, aku terkejut bukan main melihat Naysa sudah berada di bawah sana,lalu ia melambaikan kedua tangannya dan tersenyum simpul kearahku.
" Nay ! kamu ngapain kesini?" Tanyaku dengan masih terkejut.
" Aku kangen kamar kamu." Balasnya dengan tersenyum semeringah.
" Ya TUHAN !! kamu ya." Gumanku sembari segera berlari menuju keluar.
" Nay ! sama siapa kamu kesini ?" Tanyaku setibanya di bawah.
" Mang sarif." Jawabnya simple.
" Nyai tau ?" Tanyaku dengan penuh rasa cemas, Naysa hanya mengangguk pelan.
" Ayo ke kamarku !!" Ajakku seraya menggendengnya masuk kedalam.
" Nay kamu itu banyak istirahat." Gumanku sembari duduk di sampingya.
" Aku jenuh istirahat mulu,kali-kali aku ingin keluar juga." Balas Naysa sembari membenarkan snebonya, wajah Naysa perlahan berubah lebih terlihat tirus dan memucat.
Gadis cantik jelita itu,kini kecantikannya telah memudar seiring sakit yang di deranya.
" Anna, aku masih belum percaya dengan apa yang Dika lakukan untukku.." Ungkapnya seraya menatapku dengan berbagai perasaan.
" Kenapa ?" Tanyaku heran.
" Entahlah ,aku merasa aku tidak melihat ada ketulusan dari matanya Dika, sepertinya dia mencintaiku karena kasihan." Ungkapnya dengan raut wajah terlihat murung.
" Tidaklah Nay,kalian kan baru jadian,aku tau kalian masih pada canggung lah.Wajar awal dari sahabat sekarang kalian jadi pacaran." Jelasku pelan.
Naysa terdiam.
" Hmmm,,sepertinya kita lebih nyaman sahabatan deh An dari pada pacaran seperti ini,aku merasa canggung jadinya sama dia.." Tutur Naysa dengan sikap bimbangnya.
" Sudahlah Nay nanti kamu akan terbiasa,dan aku yakin kalian akan baik-baik saja." Sergahku kembali meyakinkan perasaan Naysa.Naysa menatapku kian gamang.Sorot matanya terlihat memudar.
__ADS_1
" Kamu sebaiknya jangan terlalu banyak pikirann yah,jalani saja lagian Dika tulus kok mencintai kamu, yakinn dahh !! " Ucapku sembari tersenyum lembut.
" Kamu yakin An.?" Tanya Naysa seraya meraih tangannku yang bertumpu di pangkuanku dan menggegamnya erat, aku mengangguk pelan sembari tersenyum dan mencoba meyakinkannya kembali.
" Oya An,kamu bisa liatkan aku sudah tak secantik dulu lagi." Ungkap Naysa sembari menoleh ke arah cermin meja riasku.
" Cantik itu relatif Nay,dan cantik yang sesungguhnya itu dari hati,kalau cuma cantik fisik saja mah,sewaktu-waktu akan berubah kapanpun,tapi cantik hati tidak akan pernah pudar oleh waktupun,sampai menua nanti." Jelasku seraya berdiri di belakang Naysa yang masih tetap menatapi bayangannya di cermin.
" Kamu benar An,dan kamu memang sahabat terbaikku,kamu selalu hadir setiap saat untukku.Aku bahagia bisa bersahabat denganmu An." Ucap Naysa tersenyum pudar,ia menatapku lewat cermin,aku tersenyum seraya merangkul pundak Naysa.
Naysa menarik napas panjang lalu menghempaskanya secara perlahan,pandangannya menerawang jauh ke langit kamarku.
" Aku ga tau saat perpisahan itu akan segera menjemputku.." Ucapnya Naysa dengan tatapan kian memudar.
Aku tersentak hingga mulutku ternganga.
" Dan hanya maut yang akan memisahkan kita An.." Sela Naysa kembali dengan mata nanar.
Entah kenapa aku merasa merinding mendengar perkataan sahabatku itu,rasanya ada yang sakit di dalam hati ini tatkala ucapan Naysa masuk kedalam hati sanubariku dan menyayat seluruh hati ini.
Dan entah kenapa perasaan ini selalu ingin mengalah untuk segala kebahagiaanya.
" Janganlah bicara seperti itu Nay ! kita akan tetap hidup bersama,walaupun ajal memisahkan kita Nay.." Ucapku sembari memeluknya dari belakang, Naysa terlihat menitikan airmatanya walaupun dia tersenyum menatapku namun aku merasakan perasaan yang sebenarnya di rasakan.
Perlahan Naysa menyeka air matanya namun tiba-tiba saja darah segar keluar begitu saja dari salah satu lubang hidungnya.Sontak itu membuat Naysa terkejut.
Aku shok dibuatnya lalu dengan sigap aku menyambar tisu yang tersedia di meja riasku.
" Nay !!" Desisku panik.
Wajahku terasa memucat melihat kondisi Naysa.
" Aku tidak apa-apa !kamu gak usah khawatir.." Sergah Naysa sembari meraih tisu yang aku beri lalu menyekanya dengan pelan.
Dalam kondisi seperti itu dia masih tetap berusaha tenang ketika melihat reaksi panikku.
" Tidak apa-apa gimana ?kamu itu mimisan Nay !." Jeritku dengan gemeteran.
" Aku antar pulang ya Nay ! " Pintaku masih histeris.
" Nanti saja aku cape." Jawab Naysa sembari bersandar di pundakku dengan lemas, sejadi-jadi aku panik bahkan cemas di buatnya, entah apa yang membuat Naysa bersikap seperti itu.
" Nay ! Nay ! " Panggilku benar-benar panik ketika Naysa tiba-tiba ambruk dan tak sadarkan diri lagi.
" Tukan !!, aku udah bilang kan,kenapa sih kamu tuhh ngeyellll !! " Gumanku semakin panik sekejur tubuhku mendadak panas dingin melihat keadaan Naysa.
__ADS_1
" Ada apa An ??" Tanya Nenek tiba-tiba muncul dari balik tirai kamarku.
" Nay pingsan lagi Nek." Jawabku dengan panik
" Masyallah Neng !! kenapa deui atuh Nenk...?" Tanya Nenek tak kalah paniknya.
" Nek,bantu Anna untuk angkat Nay." Ujarku sembari membopong Naysa yang benar-benar tak sadarkan diri.
------------
AKU masih berdiri dengan berbagai perasaan di benaku, beberapa kali aku berjalan bolak-balik di lorong depan ruangan ICU, cemas bercampur panik berbaur satu di benaku.
Beberapa kali aku berusaha untuk melihat kedalam ruangan ICU memastikan kondisi Naysa baik-baik saja. Dengan perasaan tak pasti aku berusaha untuk menenangkan perasaan ini.
" Anna !! kenapa lagi Nay ??" tiba-tiba Nyai memburu dan menghampiriku,wajahnya terlihat panik.
" Nyaii Nay pingsan lagi !" Jawabku terbata.
" Yaa ALLAH !!." Pekik Nyai seraya berlari kearah pintu ruangan ICU.
" Pagi tadi Nay sudah minta jalan-jalan An,dia meminta ijin sama Ambunya namun Ambunya tidak memberi izin,,dan pada akhirnya Nyai yang mengijinkan,kasian tak tega melihatnya," Jelas Nyai dengan tatapan penuh penyesalan.
" Iya Nyai,aku lihat Nay sudah ada di halaman rumahku,katanya di antar mang sarif.."Sambungku membenarkan.
" Semoga Nay baik-baik saja,, Nyai khawatir kalau Ambu dan Ayahnya akan marah sama Nyai." Ucap Nyai dengan nada sedih.
" Mudah-mudahan Ambu Nay tidak marah sama Nyai." Selaku sembari mencoba menenangkan hatinya Nyai yang terlihat tak tenang.
Seorang Dokter keluar dari ruangan ICU tersebut, Aku dan Nyai segera memburunya dengan tak sabar.
" Dokter gimana cucu saya ?" Tanya Nyai cepat.
" Alhamdulillah baik-baik saja, cuman sepertinya dia harus banyak istirahat dan usahain jangan terlalu banyak pikirannya,efek dari cemo itu bisa memperngaruhi daya imun tubuhnya bu." Jelas Dokter sembari tersenyum ramah ke arah aku dan Nyai.
Aku dan Nyai saling bertatapan satu sama lain.
" Ibu jangan khawatir,inysallah cucu ibu baik-baik saja. Ucap sang Dokter menenangkan hati Nyai.
" Dokter adakah harapan untuk cucu saya bisa sembuh kembali " Tanya Nyai menatap penuh harapan ke arah Dokter pribadinya Naysa.
Dokter terlihat menarik napas lalu mencoba menenangkan hati Nyai yang terlihat penuh kekhawatiran.
" Maaf kan saya bu Nyai,saya tidak bisa memberikan kepastian apapun,dan kesembuhan itu kemungkinan sangat tipis Bu,berdoa saja semoga ada keajaiban yang terbaik untuk cucu Ibu." Jelas Dokter sembari mengusap lembut pundak Nyai.
Nyai tak bergeming dia masih menatap lekat ke arah Dokter pribadi keluarganya tersebut.
Aku menghela mendengar penuturan sang Dokter tersebut.Nyai menolehku dengan tatapan penuh iba, apa yang Nyai rasakan aku turut merasakanya, semua ini adalah takdir, keajaiban adalah mujizat yang sangat luar biasa jika TUHAN berikan untuk Naysa.
__ADS_1
Tak lama Dokter pun perpamitan lalu berlalu meninggalkan aku dan Nyai yang masih di rundung pilu seraya terus menatap langkah Dokter yang berjalan dengan gontai.