
AKU masih berdiri di tepi lembah bukit teh seraya melepaskan semua penat di dalam hati yang sedang bergejolak.Angin bertiup sepoy-sepoy rasanya dia sedang mengatarkan aku kepada kerinduan yang menenangkan jiwa dan pikiranku, ingin rasanya aku melintasi waktu kecilku lagi, karena pada saat itu hanya ada rasa sakit ketika ku terjatuh.
Rasa sakit itu mengenai lututku bukan pada hatiku yang seperti saat kini, aku menggeleng dengan perasaan hancur,yaa jatuh hati memang penuh resikonya.
Pandanganku menebar ke seluruh lembah nan hijau, hamparan perkebunan teh terbentang luas membelah cakrawala, angin semilir meniup lembut riak rambutku aku masih tetap terdiam tak bergeming mencoba membiarkan separuh kegelisahanku terhempas angin.
Separuh raga ini terasa rapuh, rasanya ingin sekali aku membuang rasa penat yang menyelimuti hatiku, tatkala kemampuanku sedang di uji, aku hanya bisa bepikir keras untuk bisa menyudahi sebuah tangtangan yang sedang aku alami saat ini, tangtangan yang sangat luar biasa sulitnya aku tempuh.
Pikiranku jauh menerawang entah kenapa aku berpikir lebih baik kehilangan Seorang Dika daripada harus kehilangan seorang sahabat kecilku yang telah kuanggap lebih dari seorang sahabat, tapi takdir berkata lain dan hati kecilku hanya bisa berbaik sangka atas takdir ini.
Kali ini tak hanya kehilangan sahabatku sepertinya aku akan kehilangan dua-duanya sekaligus ( Cinta ) dengan kenyataan seperti ini.
Sejenak ku pejamkan mata ini dan mencoba untuk berdo'a agar aku tidak kehilangan atas keduanya.
" Apa yang sedang kamu lakukan disini Na ?." Tanya suara seseorang mengejutkan ku.
Aku tersentak lalu membuka kedua mataku dan menoleh ke arah pemilik suara itu.
Aku terkejut tatkala melihat Panji tiba-tiba sudah berada di sampingku.
" Panji ! kamu mengagetkan ku !" Ucapku mengelus dada.
" Maafkan aku sudah buat kamu kaget." Balasnya tersenyum simpul.
" Apa yang sedang kamu lakukan disini ?" Tanya lagi Panji menolehku.
" Hmm...,tidak ada." Jawabku singkat.
" Ketika seseorang termenung seorang diri di tempat yang sunyi hanya ada dua kemungkinan." Ujar Panji kembali menolehku.
Aku mengernyit menaikan tinggi kedua alisku.
" Maksudnya?" Tanyaku menyela cepat.
" Bisa jadi lagi kangen seseorang,atau sedang patah hati.Dan kamu ada di posisi yang mana ?" Tanya Panji dengan tersenyum menggodaku.
Aku memesem,dan melemparkan senyuman kecut.
" Heem...,so tau kamu nji !! " Gumannku dengan sedikit bercanda guna mencairkan suasana supaya tidak terlalu serius.
" Serius Na,itu pasti ada salah satunya sedang kamu rasakan saat ini." Balas Panji mencoba memancingku.
" Kalau dua duanya sedang aku alami gimana??" Ucapku dengan melirik genit ke arah Panji yang masih menatap lepas hamparan bukit teh.
Panji menolehku lalu menatapnya dengan intens.
" Uuhh !! berat sekali ujiannya he he.." Selanya dengan terkekeh.
" Setiap hidup pasti akan ada ujiannya." Sambungnya lagi dengan tersenyum enteng.
" Itu pasti.Dan itu semua tergantung kita yang menyikapinya." Jawbku pelan.
" Oya,by the way, hubungan kamu sama Dika gimana ?" Tanya Panji sembari menoleh kembali ke arahku.
Sesaat aku terdiam ketika pertanyaan itu mengejutkan perasaanku.dan aku pun memilih diam dan tidak menjawab,hanya saja aku menatap penuh tanya ke arah Panji kenapa dia harus bertanya tentang Dika kepadaku.
" Kenapa ??pasti kamu sedang bertanya-tanya kenapa aku tau hubungan kalian ?" Ucapnya lagi dengan tersenyum pasti.Seolah-olah dia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Dika.
" Kamu bertanya atau memancing ku ?" Tanyaku menatap biasa.
" Memancing??? kurasa tidak,aku hanya sekedar bertanya saja Na." Balasnya seraya membenarkan kerah jaketnya untuk menutup lehernya supaya tidak kedinginan.
Aku kembali terdiam dan enggan untuk membalas apa yang di pertanyakan Panji kepadaku.
" Oya Na,apakah kamu pernah ngerasaain gak berkorban untuk perasaan orang lain ?" Tanyanya dengan wajah serius menatapku.
Kembali kulit dahiku di buat mengkerut olehnya.
" Maksud kamu ?" Tanyaku dengan memutar bola mataku ke arah Panji yang masih berdiri di sampingku. Aku menggeleng dengan sikap sama sekali tidak tertarik dengan pertanyaan Panji tersebut.
Sebelum Panji menjawab,ia terlihat tersenyum-senyum sendiri dengan berbagai perasaan lain di hatinya dan itu berhasil mencuri rasa kepenasaranku.
" Yahh seperti aku pernah mencintai seseorang, tapi aku tidak bisa memilikinya, bahkan aku harus berpura-pura cuek bahkan acuh kepadanya, padahal sudah jelas jika aku sangat mencintainya.." Jelas Panji sembari terus menatap jauh cakrawala sana.
Sejenak aku mencoba mencerna kata-kata yang di ucapkan oleh Panji, dan sepertinya memang ada sedikit kesamaan dengan apa yang sedang aku rasakan saat ini.
" Lalu ??" Tanyaku dengan rasa penasaran mulai merorong isi kepalaku.
Panji mengalihkan pandangannya dan menatap lurus ke wajahku.
" Aku mencintai seseorang,tapi aku tak bisa memilikinya hingga detik ini aku masih tetap mencinyainya,dan menunggunya.." Jelas Panji begitu lugas.
Aku menoleh dan tatapan matanya beradu dengan tatapan mataku, sorot mata Panji terlihat berbinar- binar menatapku,sorot mata yang tak bisa aku artikan begitu saja.
" Jadi !!! kamu sedang jatuh cinta Nji ?" Tanyaku seraya membuang jauh pandangannya untuk membuang sedikit rasa grogiku yang secara tiba-tiba melandaku seusai tatapan Panji membekas di hatiku.
" Haa..ha..haa !!"
Tiba-tiba Panji tergelak menertawakan pertanyaanku.
Aku terdiam menatap semakin tak menentu.
" Kenapa kamu tertawa ?apakah pertanyaanku cukup membuat mu lucu ?" Tanyaku dengan nada kesal.
Panji masih tergelak lalu ia pun menggeleng dengan tersenyum-senyum.
" Pertanyaanmu itu Na.Aku mencintai seseorang bukan jatuh cinta lagi." Balas Panji sambil tertawa terus membuatku semakin serba salah.
__ADS_1
" Massa sih,kamu bisa jatuh cinta ?" Olokku mentap cemooh ke arah Panji yang masih tertawa.
" Kamu pikir aku gak punya perasaan ??" Tanyanya di tengah-tengah tawanya.
" Tapi aku kan liat kamu dulu so cuek gitu, sombong lagi,dan aku pikir kamu orangnya suka membeda-bedakan teman gitu" Selaku tersenyum kaku.
" Itulah,aku dipaksa untuk bersandiwara atas perasaan ini.." Jawabnya dengan intonasi yang cukup berbeda.
" Sandiwara ???kenapa harus sandiwara ?" Tanyaku heran.
Panji mengangkat kedua bahunya dengan sikap pasrah.
" Yaah keadaanlah yang memaksaku untuk melakukannya." Jawabnya pendek.
Kedua alisku saling bertemu di satu titik,memberi kesan jika aku tidak sama sekali memahami apa yang di ucapkan oleh panji.
" Kamu memahaminya ???" Tanya Panji menolehku yang sedang bingung.
Aku menggeleng.
" Aku harus berpura-pura tidak menyukainya walau kenyataanya aku sangat mencintainya." Jelasnya singkat.
Aku melongo setelah penjelasannya cukup membuatku paham.
" Apakah kamu sedang menyindirku ??" Tanyaku pelan,entah kenapa aku merasakan apa yang di ucapkan Panji terasa menyentil ke adaaku.
" Menyindir ??? Tidak sama sekali Anna." Sergah Panji dengan raut wajah tak enak hati.
" Hmmm sepertinya apa yang kamu alami aku merasakannya." selaku pelan,dan aku membenamkan pandanganku ke ujung kakiku.
Panji mengeryit lalu menatap penuh selidik ke arahku.
" Oyaa kamu mengalaminya ?? memangnya kamu bersandiwara untuk siapa ?" Tanyanya penuh curiga sekaligus tak percaya.
" Hhufff.....!!!" Aku tidak menjawab hanya menghela sembari mencoba menahan sesak di dada yang perlahan meminta keluar.
" Cerita saja lah Na, siapa tau aku bisa bantu kamu." Ujar Panji sembari menepuk pundakku.
" Ahh sudahlah !! aku tidak mau larut dalam masalah ini." Desisku seraya membalikan badan.
" Annna !!" Panggil Panji dengan cepat.
" Kamu berpura-pura untuk melepaskan Dika kan ?" Tanya Panji dengan cepat, sejenak aku terkejut bukan main atas ucapan Panji tersebut.
Dan aku pun menghentikan pijakan langkahku dan mengurungkannya untuk kembali berjalan.
" Maksud kamu apa ?" Tanyaku menoleh.
" Aku sudah tau semuanya Na." Balas Panji menatap aku yang sudah membelakanginya.
Kuputar kembali badannku dan menghadap lurus ke arahnya.
Dika tersenyum enteng dengan air muka yang tak biasa.
" Aku tau semuanya Na, tentang Dika dan kamu." Balas Panji dengan santai.
Aku semakin jengkel melihat sikap Panji yang terasa membuat suasana semakin tak karuan.
" Panji !! aku benar-benar gak paham dengan apa yang kamu tau tentang aku maupun Dika?" Tanyaku seraya menghadap lurus ke arahnya.
" Na.Kamu itu memilih mundurkan demi sahabat kamu Nay ?" Jelasnya.
Mataku membulat mendengar pernyaan Panji tersebut.Sejauh itukah dia mengetahui akan kehidupanku.
Kenapa ???
Tanyaku membatin.
" Kamu tau darimana ?? " Tanyaku terbata.
Panji tersenyum enteng.
" Panji kamu jangan so tau !! " Selaku lagi dengan memasang wajah sedikit jutek.
Panji lagi-lagi hanya tersenyum dengan penuh arti.
" Anna,kamu tidak pernah tau kalau selama ini Dika masih sepupuku.." Jelasnya.
Aku trsentak,baru kali ini aku mengetahui jika Dika dan panji ada hubungan sodara.
" Ya TUHAN !! kamu jangan bercanda Nji." Pekiku dengan nada tak percaya.
" Buat aku apa untungnya bercanda dengan kamu, kalau kamu tak percaya tanya saja sama Dika." Jelas Panji sembari menatapku, aku hanya terdiam dan masih tak percaya atas apa yang ku dengar.
Tapi ??? aku tidak melihat jika mereka masih ada ikatan sodara di antara mereka,ini pasti bohong !! aku membatin seraya menatap dalam wajah Panji yang masih terlihat begitu santai.
" Dan kamu tau Na ?? kenapa aku dulu sangat jutek sama kamu ? kenapa aku cuek sama kamu ?karna aku merasa sedang bersaing dengan sepupuku sendiri, Dika meminta aku untuk tidak mendekatimu, dia suka kamu dari awal kepindahan dia kedesa ini, jadi aku gak mau ribut dengannya.Aku sangat menghormati Ayah Dika yang tak lain kakak Ayahku." Jelas Panji menceritakan tentang kisahnya dahulu.
Aku semakin di buatnya tercengang setelah tau Juragan Kos dengan Ayah Panji adalah adik kaka.Aku tidak pernah menduga akan mendengar kebenaran ini.
Yaa TUHAN kejutan apa lagi untukku ini ??
Pekiku dalam hati membatin.
" Kamu gak pernah tau akan hal itu kan ?, itulah sebabnya aku jutek dan gak ramah sama kamu, padahal aku sangat menyayangimu Na, sebelum jauh Dika hadir dalam kehidupan mu." Ucap Panji dengan tetap menatapku dengan tatapan sempurna.
Dan pernyataanya panji lagi-lagi berhasil membuat aku semakin terkejut di buatnya.
__ADS_1
Ucapan Panji sungguh telah menggetarkan perasaan Adrenalinku.
Entah kenapa aku merasa begitu berbesar hati setelah mendengar pernyaan dari seorang Panji,aku selalu berpikir hanya Dikalah yang bisa mencintaiku apa adanya.Tapi buktinya Panji tak pernah aku bayangkan sebelumya jika perasaanya ternyata ada untukku.
Kini dia begitu berani mengatakan apa yang dia rasakan selama ini kepadaku,perasaan yang tertahan ketika dia masih kecil hingga dewasa sekarang ini.
" Aku rela berkorban untuk orang lain Na, perasaanku hancur demi orang lain." Ucap lagi Panji sembari menunduk pilu, sekilas aku menangkap raut wajah sedih yang begitu mendalam.
" Aku tak pernah tau akan hal itu." Selaku kelu
" Ahh sudahlah !! mungkin itu hanya masa laluku saja.." Ucap Panji sembari menengadah ke atas langit sana.
sementara aku masih larut dalam ingatanku ke beberapa tahun yang lalu, semenjak Dika hadir dalam persahabatanku dan Naysa, Panji memang terlihat berbeda kepadku, dia sering menghindariku bahkan perlahan sikapnya berubah kepadaku.
Hingga setelah lulus sekolah Panji semakin acuh. Seperti apa yang Naysa katakan dia memang terlihat so misterius,bahkan ketika dia Sekolah Menengah Akhir pun dia benar-benar sombong kepadaku dan tidak mau kenal dengan aku.
Maka aku pun hanya berpikir jika Panji memang tidak begitu suka kepadaku.
Hingga aku selalu berburuk sangka kepadanya jika Panji sosok lelaki yang pemilih, nyatanya selama ini dia hanya ingin menjaga persaudaraanya tetap terjalin baik dengan Dika.
" Na..!" Panggil Panji membuyarkan lamunanku.
" Kok kamu malah bengong ?" Tanya Panji seraya perlahan melangkah melewatiku.
" Panji !! Panji tunggu !! " Panggilku dengan ikut berjalan mengikutinya.
" Panji. Maafkan aku jika selama ini aku udah berburuk sangka terhadap kamu, aku pikir kamu benar- benar tidak suka padaku." Ucapku seraya mengiringi langkahnya.
" Kamu sebaiknya tidak perlu meminta maaf Na, biarlah semua ini menjadi kenangan saja untukku Na." Sela Panji seraya terus melangkah.
" Tapi jujur saja aku sering mengumpatmu dalam hatiku ini, karena sikap kamu yang terlalu sombong itu membuat aku sakit hati.Dan aku sama Naysa selalu memanggilmu dengan sebutan cowok so misterius." Jelasku dengan tersenggal-senggal mengejar langkan Panji.
Panji menolehku laku ia menghentikan langkahnya.
" Yang penting kamu tidak mendoakan aku yang jelek saja Na. " Ucapnya tersenyum simpul.
" Tidak lah,aku tidak sejahat itu. " Balasku dengan tersenyum kaku.
" Do'akan saja agar aku sama kamu bisa secepatnya bersama..he..hee.." Celoteh Panji sembari menatapku dengan menggoda.
Ada yang terbang dari dalam ubun-ubunku,dan gombalan itu seketika membuat wajahku memerah mendengarkan godaannya Panji,
Mau tak mau akupun hanya tersenyum malu seraya memukul kecil pergelangan tangan Panji,sementara panji hanya tersenyum simpul menatapku.
Ditengah asiknya bercanda antara aku dan Panji, aku baru menyadari akan hadirnya Dika di tengah-tengah kami,dia menatapnya sedari tadi ke arahku dan Panji. Raut wajahnya terlihat memendam sebuah amarah dan tatapan itu terlihat penuh ancaman ke arah kami berdua.
" Dik.." Pekikku dengan perasaan was-was.
" Hai Dik ! " Sapa Panji seraya berjalan mendekatinya.
Dika tidak menjawab dia hanya tersenyum sinis menatap Panji, sementara aku masih sibuk dengan perasaan was-wasku.
" Aku duluan yaa !" Pamit Panji sembari menepuk pundak Dika yang sama sekali tidak berminat membalas ucapannya Panji.
" Na ! aku duluan ya." Pamit Panji dengan tersenyum simpul ke arahku, aku hanya mengangguk tanpa berkata sedikitpun.
Panji berjalan meninggalkanku dengan sesekali masih menoleh kearahku yang tak berkutik di hadapan Dika.
" Ngapain dia ?" Tanya Dika datar.
" Tidak ada,kita kebetulan saja bertemu di sini ?" Balasku pelan.
" Kebetulan ??? kok bisa ya kebetulan secara akrab gitu ?" Desisnya dengan sedikit sinis.
" Dik,memangnya kenapa jika aku dekat sama Panji, dia orangnya baik juga kok,, gak sperti apa yang kupikirkan selama ini." Ungkapku menatap dalam Dika.
" Oh !! jadi kamu baru sadar ?" Tanya kian sinis.
" Kamu kenapa sih ? kamu tidak suka jika aku dekat sama Panji ?" Tanyaku heran.
" Yahh itu hak kamu !!" Jawabnya singkat.
" Terus,kenapa kamu liatnya suka sensi ??" Desaku.
Dika mendegus lalu membuang muka.
" Aku tidak suka aja melihat dia dekat sama kamu." Ungkapnya kaku.
" Dika.Sekarang ini Nay sudah jadi pacar kamu, jadi aku mohon jaga perasaanya Nay." Ujarku pelan.
" Aku belum bisa merubah perasaanku ini An." Balas Dika dengan perasaan gamang.
" Pelan-pelan saja, aku yakin kamu akan terbiasa." Selaku mencoba menyakinkanperasaan Dika.
Dika terdiam.
" Maaf Dik,aku mau pulang. " Pamitku dengan ragu.
" Aku antar ya An. " Pinta menatap penuh permohonan.
" Makasih Dik,aku pulang sendiri saja." Balasku pelan.
" An..!!" Panggil Dika dengan suara lembut, aku menoleh dan menatapnya.
" Aku masih butuh banyak waktu untuk mencintai Nay. " Ucapnya lirih, aku terdiam namun tetap kembali melangkah tanpa mau peduli akan ucapan Dika.
Dika tertegun aku pun berlalu pergi meninggalkan Dika seorang diri dengan keresahan hatinya, tak ada lagi rasaku ini untuk tetap bertahan,aku hanya ingin Naysa bahagia saat ini,apapun itu caranya hanya itu yang terbersit dalam pikiranku saat ini.
__ADS_1
# bersambung.#