Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA

Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA
TSBUN Episode 14


__ADS_3

HARI semakin senja dan matahari perlahan mulai terbenam untuk memasuki peraduannya. Aku tergesa menuju arah pulang hari ini Nenek tidak ikut serta menemaniku dalam memetik teh.Karena Nenek hari ini mendapat pekerjaan lagi dari juragan Kos menjemur teh pesanannya.


Beberapa orang berjalan tak jauh dariku beriringan, langkah mereka terlihat begitu gontai seharian bekerja tak mengenal lelah.Aku yang tengah asik menyimak langkah-langkah mereka yang begitu asik bercengkrama mengiringi perjalanan mereka menuju pulang mendadak terhenti setelah merasakan ada sesuatu hal yang menggangu langkahku.


Braakkkk !!!!


Tiba-tiba keranjang yang sedang ku gendong talinya putus, nyaris separu teh yang berada di keranjangku tercecer berhamburan, aku tersentak dan kaget bukan main,mana ini di tengah perjalanan lagi.


" Yaa ALLAH !! kenapa harus putus sih talinya !! " Gumanku dengan nada kesal.


Lelah bercampur emosi tiba-tiba saja melandaku, dengan cepat aku mengumpulkan teh-teh yang terceceran dan berserakan di tanah.


Senja semakin larut aku berusaha untuk bergerak cepat, agar sampe rumah tidak bertepatan dengan waktu magrib.


Ketika aku sedang asik memasukan kembali teh-teh tersebut ke keranjang ,gerak tanganku terhenti, tiba- tiba Dika sudah ada di hadapanku dan berjongkok ikut menolongku membereskan teh-teh yang masih berserakan di tanah.


" Dik !! kok kamu disini ?" Tanyaku dengan bergegas merapikannya.


" Aku menunggumu dari tadi di sini." Sela Dika sembari berkali-kali menatapku.


" Tidak usah Dik ! kamu tidak usah bantuin aku, biar aku saja yang beresin." Sergahku menepis tangan Dika yang masih sibuk mengumpulin daun- daun teh tersebut.


" Biarkan aku membantumu." Balas Dika sambil terus mengumpulkan teh tanpa menghiraukan laranganku.


" Makasih !! " Selaku pelan lalu membiarkan Dika merapihkannya.


Dan akhirnya teh-teh tersebut terkumpul kembali di keranjangku.


" Tali keranjangmu putus." Ucap Dika sambil mengambil tali keranjangku yang terjuntai ke tanah.


" Ya." Jawabku singkat dan aku merasa risih sendiri dengan kehadiran Dika yang datang secara tiba- tiba.


" Aku betulin dulu ya ." Pinta Dika sambil mengangkat keranjang tehku.


" Kamu bisa ? " Tanyaku sedikit kurang yakin atas sikapnya Dika.


" Kamu jangan meledek aku ya,masa iya aku tidak bisa memperbaiki benda seperti ini." Sela Dika terlihat tersenyum sinis.


" Yaaa secara calon S1 mana bisa melakukan hal seperti ini.." Ujarku menggoda Dika.


" Kamu rupanya meremehkan aku." Balas Dika sambil menatapku sedikit kesal, aku hanya mesem sembari tersenyum pasi.


" Liat saja yaa." Ungkap Dika sambil segera memperbaiki tali keranjangku tersebut, dan benar saja beberapa menit kemudian keranjangku sudah bisa di perbaiki lagi.


" Bisakan ??" Ucap Dika sambil menyodorkan keranjang yang sudah di pasang talinya.


" Wahh kamu hebat !!! makasih ya." Sanjungku dengan tersenyum lembut.


Aku mencoba untuk mengusir perasaan gerogi ini di hadapan Dika.


" Mentang-mentang aku kuliah terus aku ga bisa ngelakuin apa apa gitu?!" Guman Dika terlihat sedikit melirik nakal ke arahku.

__ADS_1


" Hmmm... " Aku tak menjawab hanya kumenaikan kedua pundakku seraya tersenyum malu.


" Terus kamu lagi ngapain disini ?" Tanyaku lagi heran.


" Kan sudah aku bilang,aku sedang nungguin kamu disini Anna." Jawabnya dengan penuh penekanan.


" Tapi kok di sini,, ?" Tanyaku lagi penasaran.


" Tadi aku kerumah kamu sama papah, kata Emak kamu pergi petik teh sendirian,kamu berani ya di kebun senditian gitu ?" Tanya Dika terlihat cemas.


" Udah biasa Dik,lagian aku tidak sendirian juga kali,pegawai Nyai itu banyak Dik.Mana ada aku sendirian di kebun teh." Selaku seraya menunduk.


" Terus kamu kesini pake apa ? jalan kaki ??" tanya ku polos,setelah melihat di sekitarku tak ada kendaraan yang di pergunakan Dika.


" Tuh motorku di sana !" Ucap Dika sambil menunjuk motor yang terparkir di pinggir jalan.


" Oh ! " Jawabku bulat.


" An !! " Panggil Dika menatapku tajam, aku menoleh dan menatap kearah sorot matanya yang menatapku dengan penuh rindu.


Lagi-lagi tatapan yang membuatku dag dig dug.


" Kamu sebenarnya ingat gak sih akan janji kita? " Tanya Dika lembut.


Aku menghela,kenapa Dika mempertanyakan hal itu lagi,desisku dalam batin


Ada yang berdesir dalam hati ini kala Dika menatapku penuh kelembutan, yaa Dika tidak pernah berubah dia masih seperti yang dulu, masih mencintaiku dengan tulus.


" Ya !! " Jawabku singkat.


Aku terpenjam merasakan perasaan yang semakin menyakitkan.Perasaam yang sedang ku kubur dalam-dalam harus terus di pertanyakannya.


" Maaf kan aku Dik, aku tak sempat menemuimu." Ucapku pelan.


" Karena kamu sibuk ? atau sedang menghindariku ?" Tanya Dika pelan namun begitu dalam kata-katanya.


" Tidak seperti itu,aku benar-benar sibuk akhir-akhir ini.Aku sedang bergelut dengan kebutuhan hidupku Dika,mengertilah !! dan aku pun tak mungkin melupakan janji kita itu." Jelasku mencoba memberi pengertian yang bisa di maklumi oleh Dika.


" An !! ." Dika menghadang jalanku, aku terhenti dan menatapnya dalam.


" Oya Dika,aku ingin bicara sesuatu kepadamu.." Selaku cepat,sebelum Dika kembali bicara padaku.


Dika terlihat mengernyit menatapku dengan berbagai pertanyaan di benaknya.


" Katakanlah ! " Ucap Dika dengan lembut menatapku.


Yaa TUHAN !! inilah kelembutan yang sangat memberatkan di dalam hati ini untuk melepaskanya. kelembutan ini lah yang membuatku nyaman, dan Dia adalah benar-benar sosok pria idaman,aku harus bagaimana ini TUHAN, pekiku membatin,rasanya aku sedang berperang dalam kedilemaan ini.


" Ayo katakanlah... " Ucap kembali Dika dengan berdiri menghadapku dan dia membuat jarak lebih dekat lagi di depanku yang membuat aku semakin salah tingkah di buatnya.


" Hmmm... , Dika aku minta maaf,aku mau kita tidak meneruskan hubungan ini lagi." Ucapku dengan sekuat tenaga aku mengumpulkan kekuatan ini hanya untuk mengatakan hal seperti itu.

__ADS_1


Dika terlihat shok menatapku seolah-olah dia tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan barusan olehku.


" Apa....!! maksud kamu ??.." Dika terlihat tak percaya mendengar ucapanku, dia terlihat terkejut bukan main.


" Aku tidak paham apa maksud kamu itu.." Tanyanya lagi dengan suara tertekan.


" Dika,Dika.Aku mohon kamu lupakan tentang kita." Ucapku dengan suara bergetar,aku berusaha menyembunyikan perasaan sedihku yang teramat dalam.


Rasanya aku juga tidak tega harus melihat raut wajah Dika yang langsung berubah drastis atas sikapku ini.


" Tunggu Anna,aku belum paham apa maksud dari perkataan kamu itu !" Sergahnya lagi dengan terlihat linglung.


" Hubungan kita tidak usah di lanjutkan !!" Ucapku tandas membuat Dika semakin tertegun.


" Iyaa.Tapi kenapa An.?" Sergah kembali Dika sembari menghalangi arah jalanku pulang.


" Aku akan berhenti mengharapkanmu." Balasku dengan perasaan tak menentu.


" Tapi kamu tidak memberi tahu aku apa alasannya...?" Dika menghadangku kembali.


" Kita ini tidak sepadan Dik." Ucapku kembali melangkah cepat dan aku berusaha menghindar dari tatapan tajamnya Dika.


" Hanya gara-gara itu,kamu memutuskan hubungan ini,alasan kamu terlalu lebay." Selanya dengan cepat.


Aku tidak peduli aku tetap mempercepat langkah ku ini.


" Anna ! Anna ! tunggu ! aku tidak paham dengan apa yang kamu katakan,jika itu alasannya kenapa gak dari dulu kita berpisah ?" Tanya Dika sambil meraih tangannku,dia terus berusaha menghentikan langkahku.


" Makanya dari itu aku katakan dari sekarang,sebelum semuanya melabgkah jauh,aku berharap kita sekarang ini tidak lagi ....,,,," Ucapanku tertahan,aku mencoba berusaha menahan sesak di dada ini yang semakin menekanku.


Aku menghela dengan menahan tangisku yang mulai terasa meksa untuk keluar.


" Jadi kamu sudah tidak mengharapkanku lagi ??" Tanya Dika semakin menatapku tajam.


" tidak Dika..." ucapku semakin tak karuan.


" kalau alasan cuman kita gak sepadan.. kenapa aku masih bertahan di perasaan ini An... ? kenapa aku sekaliam saja mencintai Nay..."


" itu yang kuharapkan.." selaku sambil menerobos Dika yang masih menghalangi jalanku.


" An.. anna maksudnya apa see..."


" maaf Dika aku mau pulang... hari makin senja."


" aku antar pulang..."


" tidak Dik.. makasih.." sergahku sambil terus melangkah meninggalkan Dika yang masih terlihat kebjngungan dengan sikapku yang benar benar telah membuatnya terkejut bukan main dengan keputusan ku ini.


" Anna..." serunya lagi, aku terus berjalan tanpa menghiraukannya, tak terasa bulir bulir kecil jatuh di pipiku bersama cepatnya langkah kakiku.


entahlah... inilah pertamakalinya aku menangis karena cinta, yaa cinta yang tak bisa kumiliki seutuhnya, cinta yang telah membuatku gelisah tiap malam karena memikirkannya, cinta yang telah membuatku mengenal rasa jatuhnya hati ini kepelukannya, dan cinta yang memperkenalkanku dalam sebuah pengorbananku untuk seorang sahabatku.

__ADS_1


ANGIN malam menyapaku dingin menemani dikala sepi, langit hitam mengkilat tak sedikitpun bintang menemaniya aku masih terdiam menatapnya, entah kenapa malam ini begitu sepi, bintang pun tak hadir temanin malam tak satupun di antara mereka aku bisa melihatnya seolah olah mereka tau akan isi dari hatiku yang sedang patah hati, aku tidak akan menyesal telah mencintainya walaupun akhirnya aku harus mengubur semua rasa itu, entah kenapa aku begitu mengalah untuk perasaan ini, aku hanya ingin memberikan terbaik unuk seseorang yang telah ku anggap sodara, bukan karna aku iba akan kondisinya tapi aku hanya ingin memberikan yang terindah untunya, karna merasa takut dengan kondisi yang sewaktu waktu bisa memisahkan antara aku dan dia.


lelehan air bening ini menetes perlahan lahan menuruni tebing pipiku, terasa hangat ku rasakan, telah begitu banyak air mata ini keluar hanya untuk perasaan yang benar benar telah membuatku menjadi sebuah dilema, yaa Aku telah mengorbankan perasaan ini hanya untuk Nay... untuk bisa menunjuk satu bintang untuknya.


__ADS_2