
KETIKA perasaanku tak lagi terpaut dengan hati seseorang,ada sebuah tekad untuk benar-benar keluar dari Zona perasaan yang pernah aku gaungkan atas nama Cinta, yaa Cinta yang setidaknya pernah membuat aku merasa hidup lebih berarti, cinta yang telah memperkenalkan aku untuk pertama kalinya rasa bahagia.
Namun perlahan rasa itu mulai memudar di dalam hatiku ketika di hadapkan dengan sebuah pengorbanan.
Aku terdiam dalam sepiku mencoba untuk menetapkan perasaanku ini,dan entah darimana datangnya perasaan itu muncul secara tiba-tiba.Ada rasa rindu yang tak bisa aku elakan lagi terhadap sosok seorang laki-laki yang bernama Panji.
Yaa Aku tidak munafik aku tau resiko dari sikap beraniku mencintai seseorang, adalah perasaanku taruhannya, cinta tak mudah untuk perpindah rasa, tapi cinta mudah menumbuhkan rasa dengan begitu saja.
Malam ini aku terduduk sepi seorang diri,menatap lagit di ambang jendela kayuku,menatap lepas sinaran bintang yang bertaburan di langit nan jauh,ada satu bintang yang bersinar terang menantapku.
Yaaa itulah bintang yang selalu menjadi harapannya seorang Naysa,aku menatap lekat ke arah bintang tersebut hingga nyaris tanpa berkedip, itulah bintang yang selalu di mintanya pulang oleh Naysa, aku tersenyum mencoba menyusun kembali ingatanku.
Aku pernah bahagia dengan perasaan yang dulu ku namakan sebagai Cinta, dimana rasa itu tumbuh di masa kecilku,mungkin itu bukanlah Cinta ! tepatnya rasa simpatik yang berlebihan antara seorang anak laki- laki terhadap teman perempuannya.Aku yang selalu kena bully sang teman, selalu mendapat pembelaan khusus dari salah satu anak laki-laki seusiaanku.
Sesering itulah aku di belanya dan sesering itu pula rasa simpatikku muncul di hati ini.
Sehingga aku mampu merasakan kebahagiaan yang teramat besar tatkala berada di sampingnya.
Y**aa inilah yang di namakan cinta, ada sebuah kenyaman yang luar biasa aku rasakan dan itu setidaknya melahirkan perasaan saling menyayangi dengan atas hadirnya perasaan Cinta, walau itu hanya sekedar cinta monyet.
Aku tersipu malu jika teringat akan masa itu, namun kini semua hanyalah kenangan serta harapan semu yang sewaktu-waktu akan terlepas dari genggaman rasa ini dan menguap entah kemana.
Senyumanku menyurut,setibanya ingatanku tertumpu pada satu kalimat yang telah Panji katakan sebelum kepergiannya, dia akan menemuiku setelah selesai wisudanya nanti.
Aahh benarkah itu ???
atau hanya membuatku bahagia sejenak saja,entahlahh !!
Tiba-tiba jantungku berdebar tak karuan, detaknya semakin kencang.Mungkinkah perasaan ini mulai beralih kepadanya ataukah hanya sekedar pelarian rasa saja ?
entahlah sampai saat ini aku belum berhasil menyingkirkan persaanku terhadap Dika,sosok laki-laki yang telah mencintaiku di masa kecil hingga detik ini, aku memang belum bisa melupkannya.
Aku tertunduk dengan perasaan yang di rundung pilu.
Rasanya ingin ku acak-acak seisi dunia ini untuk melampiaskan ke gamangan ini.
AKU berjalan menyisiri jalan setapak menuju rumah Naysa,aku baru teringat jika kemaren sore Nenekku menyuruhku untuk mengantarkan strowbery pesanannya Nyai.
Dua keranjang strowbery ku bawa dengan penuh semangat,seengganya aku bisa mendapat uang lebih dari jual buah stobery ini dan akan ku simpan dari hasil jualan buah Strobery tersebut.
Setibanya di depan Rumah Nyai beberapa orang pegawai nampak sibuk dengan beberapa karung teh yang siap untuk di jemur, aku mencoba mencari-cari orang yang terdekat pintu agar bisa membukakan pintu gerbang tanpa harus berteriak memanggilnya.
" Cari siapa Nenk Anna ?"
Tiba-tiba mang Sarif menyembul dari balik pintu gerbang dan mengejutkanku.
" Eh mang sarif ! Nyai ada ?" Tanyaku dengan sopan.
" Nyai barusan pergi sama Nyai ceu ceu An." Jawab mang Sarif dari balik pintu gerbang.
" Kalau Nay ada ?" Tanyaku lurus.
" Neng Nay mah barusan baru saja pulang neng,habis jalan-jalan pagi,tapi kayanya teh sudah masuk ke kamarnya lagi.!" Jelas mang Sarif dengan logat khasnya orang sunda.
Alisku mengkerut mendejgar penuturan mang Sarif ada rasa penasaran yang menyelinaf di pikirannku.
" Sama siapa Nay jalan-jalan paginya mang ?" Tanyaku penasaran.
" Sama Den Dika..!" Jawab mang Sarif begitu polos.
Sejenak aku berpikir,mungkin Dika masih ada di dalam rumah Naysa.
" Terus Dikanya sudah pulang belum mang ?" Tanyaku dengan harap-harap cemas, aku berharap untuk tidak bertemu dengan Dika kali ini.
"Sepertinya mah masih ada di dalam neng,mungkin lagi ambil mobilnya.Den Dika tadi parkir di dalam." Jelas mang Sarif dengan polos dan jujur.
" Oh gitu ! ya udah atuh mang ini strowbery pesannya Nyai tolong simpanin ya,nanti kasih tau Nyai kalau nyai sudah pulang." Ucapku seraya bergegas menyodorkan dua keranjang stobery tersebut.
" Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya mang." Pamitku cepat.
" Oh baik Neng Anna,nanti mang Sarif sampaikan kepada Nyai." Balas Mang Sarif ramah.
" Makasih banyak ya Mang." Ucapku pelan.
" Sama-sama atuh Neng Anna." Balas mang Sarif menyeringah.
Aku memutar badanku dan hendak melangkah.
" Eh Neng Anna tunggu !" Sergah mang Sarif menahan langkahku.
Aku menoleh lalu menatap penuh tanya.
" Ada apa Mang ?" Tanyaku dengan tak sabar.
" Neng Anna sudah tau kalau Neng Nay akan kejakarta besok ?" Tanya mang Sarif pelan.
Sontak aku terkejut sekaligus penasaran dengan apa yang di sampaikan mang Sarif barusan.
__ADS_1
Kulit Dahiku mengkerut cantik menampilkan rasa keingin tahuan yang dalam.
" Ada apa mang Nay ke Jakrta ?" Tanyaku dengan heran.
Aku melihat ada sinyal ketakutan yang terpancar dari raut wajah mang Sarif.
" Katanya neng Nay mau di pindahkan berobatnya," Jawab mang sarif cukup singkat.
Aku menghela,apakah kondisi Naysa semakin memburuk sehingga harus berobat ke kota?batinku cukup sibuk bertanya-tanya.
" Mang Sarif tau darimana jika Nay akan pindah berobatnya ? " Tanyaku lagi dengan sesekali menengok ke arah dalam halaman,entah kenapa aku merasa takut jika Dika akan datang secara tiba-tiba.
" Nyai yang bilang, makanya Beliu teh sekarang lagi pergi,mau membeli keperluan Neng Nay buat besok." Jelas Mang Sarif bijak.
Aku mengangguk memahami apa yang di sampaikan mang Sarif.
" Oh jadi begitu.., " Ucap menggantung, rasa- rasanya aku merasakan ada yang tak biasa dari sikapnya Naysa kali ini,aku yakin ada yang berubah dari sikap Naysa kepadaku saat ini.
Beberapa hari ini aku tidak sempat menemuinya bahkan menemani di karenakan pekerjaanku yang cukup banyak akhir-akhir ini,hingga aku tak sempat menemui dan menemaninya hanya sekedar untuk ngobrol atau dengar ceritanya.
Yaa aku salah. Aku terlalu sibuk,batinku pelan.
" Ya sudah atuh Mang,saya pamit dulu ya !" Gegasku dengan segera melangkah kembali dan meninggalkan mang Sarif yang masih menatapku di ambang pintu gerbang.
Aku berjalan dengan berbagai perasaan bimbang yang kian menyelimuti perasaanku.
Ada sikap Naysa yang saat ini membuatku merasa tak nyaman,dan itu berhasil membuatku heran akan sikapnya akhir-akhir ini.Dalam hatiku pun bertanya-tanya tentang rencana kepergian Naysa yang secara tiba-tiba akan kejakarta, setidaknya dia selalu bercerita jikalau ada apa-apa dengan dirinya.
Tapi kali ini aku tahu rencana itu dari mang Sarif bukan darinya.
Perasaanku semakin meracau entah apa yang sedang terjadi pada sahabatku itu ???namun aku mencoba untuk berbaik sangka terhadapnya dan aku tidak mau berpikir yang berlebihan.
Dengan cepat aku segera bergegas pulang, namun di tengah langkahku tiba-tiba sembuah mobil mengelaksoniku cukup keras.
Aku menyisir ke tepi jalan guna memberi jalan untuk mobil tersebut.
Namun klakson mobil itu tak kunjung berhenti meski aku sudah berada di tepi jalan.Aku penasaran dan memberanikan diri untuk melihat ke arah mobil tersebut.
Di lihatnya Mobil Dika sedang berada di belakangku lalu berhenti,namun dengan cepat aku segera mempercepat langkahku ini untuk segera meninggalkannya.Namunn.....,,
" Anna tunggu !! " Sergah Dika seraya keluar dari mobilnya dan mengejarku dengan cepat.
Aku menggeleng mendengar panggilannya Dika.
Aku menghela napas panjang lalu menoleh dengan rasa malasku.
" Ada apa Dik ?" Tanyaku kaku,seolah-olah aku enggan untuk menunggunya.
" Kamu darimana ?" Tanya Dika menatapku lembut.
" Dari rumah Nay ?? kok aku tadi gak melihat kamu ada disana ?" Tanya Dika mulai menatapku curiga.
" Aku hanya sampai gerbang saja." Jawabku mencoba untuk tidak berlama-lama berbicara denganya, karena jarak rumah Naysa belumlah jauh dari tempatku sekarang ini.
" Kok sampe gerbang saja,kamu gak ketemu Nay dulu ,kenapa ?" Tanyanya semakin menjadi-jadi.
" Aku hanya mengantarkan pesanannya Nyai saja Dik.." Balasku singkat.
" Apa susahnya kamu mampir sebentar untuk liat Nay, apa karena kamu tadi melihat mobilku hingga enggan untuk mampir ?" tanya Dika menatapku tajam, aku mulai menangkap perasaan marah dari nada bicaranya Dika.
Aku menghela dengan perasaan jengkel.
" Ya !! " Jawabku singkat.
" Kenapa sih An?cuman gara-gara kamu tau aku ada di situ kamu gak mah mampir dulu? Ada apa sih ?" Lagi-lagi Dika bertanya dengan nada penuh selidik.
" Tidak apa-apa! aku hanya buru-buru saja." Jawabku beralasan.
" Meksipun buru-buru seengganya kamu kan bisa bertemu sama Nay dulu,apa mungkin kamu sudah males ketemu Nay ?" Ujar Dika dengan sinis.
Aku tecekat mendengar ucapannya Dika yang cukup mengusik hatiku.
" Dik dengar ya,aku hanya mengantarkan pesanannya Nyai saja,bukan untuk menemuinya Nay, lagian aku tau kamu lagi berdua kan sama Nay." Jelasku mencoba memberi alesan.
Dika terlihat tersenyum sinis ke arahku lalu dia mendecih pelan.
" Heh kamu pasti cemburu kan liat aku berdua sama Nay?" Ujarnya dengan nada bicara penuh intonasi.
Sontak pernyataan itu membuatku sedikit terpancing akan emosiku.
" Kok cemburu sih ?." Selaku datar.Dan menatap kesal ke arah Dika.
" Yaahh !!! kali aja,siapa tau kamu masih ada persaan sama aku." Ucap Dika enteng,kali ini suaranya mulai terdengar mengejekku.
Aku mendilak dan enggan untuk menanggapinya.Aku berusaha tenang dan tidak terpancing dengan perkataanya.
" Iya kan ?? perasaan itu masih ada ?" Tanya Dika muali menyebalkan.
Aku memutar bola mataku dengan sebal.Sejak kapan seorang Dika bisa menyebalkan seperti ini.
" Sekarang ini kita hanya berteman Dik." Balasku ketus.
__ADS_1
Dika mendecih seolah-olah tidak mempercayai ucapanku.
" Lalu kalau kita berteman, kenapa kamu gak mau pulang bareng sama aku,kan bisa kamu tunggu aku sebentar untuk pulang bersama." Dika semakin berdalih.
" Tidak Dik !! aku pulang sendiri saja." Jawabku makin ketus.
" kenapa sih An kamu selalu menghindar dariku..?" Tanya Dika menatapku serius,kali ini sorot matanya terlihat begitu dalam.
Aku mengalihkan pandanganku agar terhindar dari tatapan lembutnya Dika.
" Aku tidak menghindar." Balasku singkat.
" Lalu ?"
Tanya Dika dengan sorot mata yang tajam menanti jawaban yang pasti.
" Aku ini mengenalmu tidak sehari dua hari An, jauh aku telah mengenali siapa kamu.Akhir-akhir ini kamu selalu menghindar jika bertemu dengan aku." Jelas Dika dengan suara yang semakin rendah.
" Dika aku ini menjaga perasaan Nay." Jawabku pelan.
Dika terlihat mengerutkan dahinya dengan perasaan heran.
" Kenapa ?? kenapa kamu selalu menjaga perasaannya Nay ? sementara persaan kamu sendiri tak ada yang peduli." Imbuh Dika dengan suara yang mulai terdengar kesal akan nada bicaranya.
" Dik !! aku minta kita tidak usah membahas masalah perasaan kita lagi,semua itu hanya masa lalu." Ucapku dengan ketus.
" Apa An ?? jadi kamu sudah menganggap semua ini telah berakhir ? tapi aku melakukan semua ini hanya sandiwara saja An." Sergah Dika dengan perasaan kian tak karuan.
Aku tercekat setelah mendengar penuturan Dika.
" Dika !! " Selaku terperangah.
Dika menggeleng menatapku dengan rasa frustasi.
" Aku sudah tak tahan dengan sandiwara ini,aku tidak bisa membohongi perasaanku lagi Anna." jelasnya dengan menatap serius ke arahku.
" Cukup Dik !! selama ini aku menduga bahwa kamu tulus mencintai Nay dan aku pun berharap banyak sama kamu untuk bisa mecintai Nay setulus hati kamu." Ucapku dengan berbagai penekanan.
" Tapi aku tidak bisa membohongi perasaaku ini An,dan aku pun tidak bisa mencintainya selain daripada kamu Nay." Sergah Dika tak kalah berat intonasi suaranya.
Aku terperangah dengan perasaan kian takut.
" Tapi...,," Ucapku menggantung.
" Kamu tidak bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini, setiap hari aku harus bersandiwara dengan perasaan aku sendiri,jujur saja aku tidak bisa lagi An harus seperti ini terus." Jelas Dika cukup membuat perasaanku menjadi tak karuan.
" Dika,tolong kamu ingat ya ! aku sudah tidak berharap apapun dari kamu selain persahabatan dan aku sudah melupakan semuanya dik, walaupun itu butuh waktu." Jelasku mencoba untuk memberi pengertian kepada Dika yang terlihat menahan sebuah rasa yang terpendam dalam hatinya.
Dika menatap nanar ke arahku dengan sorot mata yg sulit aku artikan.
" Kali ini saja Dik,aku Mohon lupakan rasa itu demi Nay." Ucapku lirih memohon untuk sebuah perasaan yang ku korbankan.
" Tapi sampai kapan aku harus membenam semua perasaan ini An?aku tidak tak sampai hati melihat ke adaan Naysa, dan sampai kapan aku harus terus bersandiwara hanya untuk bisa memberi harapan palsu kepadanya.Jelas aku tak bisa An,aku tak sekejam itu juga.." jelas Dika raut wajahya benar-benar terlihat berat.
" Cukup Dik !! demi aku.Aku mohon kepadamu jangan sakitin hati Nay,dia berhak untuk bahagia atas cintanya kepadamu." Ucapku seraya memohon kepada Dika agar tidak merubah keputusannya.
Dika menatapku dengan Nanar ada lelehan bening yang mengalir dari sudut matanya, sekilas aku melihat gambaran wajah iba yang berbaur dengan kesedihan yang begitu dalam,antara resah sekaligus ketakutan berbaur menjadi satu.
Perlahan Dika menggengam erat tanganku yang masih memohon kepadanya.
" Kamu tidak perlu memohon untuk ku An..-" tiba tiba suara parau menyela dari balik badannya Dika, aku menoleh ke arah suara itu, dan Naysa berdiri tepat di belakang Dika dengan tubuhnya bergetar.
Seperti ada sebuah benda keras menghantam hatiku, aku tidak mengira seujung rambutpun jika Naysa berada di antara aku dan Dika,yang sedari tadi mungkin telah mendengarkan sepenuhnya apa yang sedang aku bicarakan dengan Dika.
Perlahan Dika melepaskan genggamannya tersebut lalu menoleh kaku kearah Naysa yang berdiri tak jauh darinya.
" Nay..--" selaku terbata,dan aku pun dengan cepat menyeka air mata yang sudah membasahi pipiku ini.
Naysa terdiam raut wajahnya terlihat kacau.
" Kalian tega !! hikss " Ucap Naysa dengan berusaha menahan tangis yang hendak pecah.
Dengan tertatih tatih Naysa berusaha berdiri dengan sempurna.
Nasya menggeleng dengan terisak lembut,ia pun memutusak untuk segera pergi dari hadapannku.Naysa membalikan badannya sepertinya ia hendak berlari meninggalkan aku dan Dika.
" Nay !! dengarkan aku dulu !" Sergahku dengan cepat.
Namun sayang Naysa menepis tanganku dan menolak permintaanku.Sekilas aku melihat jika dia begitu sangat marah menatapku, bibirnya bergetar seolah- olah menahan dasyatnya rasa amarah yang sudah memuncak, bola matanya mulai tergenang oleh air mata.Tak ada lagi kata atau kalimat yang bisa dia ucapkan selain terisak begitu dalam.
" Nay !Nay biar aku jelaskan semuanya." Pintaku menahan langkah sahabatku.
" Jangan sentuh aku !! kalian tak perlu menjelaskan apapun !! semua sudah jelas..." pekik Nay dengan nada geram.
Aku menangis histeris melihat kemarahannya Naysa.
" Nay tunggu !! aku mohon." Rontaku.
Namun Naysa lagi-lagi menolak permintaaku itu, dengan sekuat tenaga dia berlari meninggalkan aku yang terus menangis dengan tersedu sedu.
Semua telah terlanjur, Naysa telah mengetahui apa yang selama ini telah kusembunyikan dengan rapat. apa yang kutakutkan selama ini terjadi juga, Naysa membenciku dan sangat membenciku.
__ADS_1
# bersambung#