
AKU termangu di hadapan pantulan bayanganku sendiri, pandanganku terus menatap begitu dalam kearah bayanganku yang berada di cermin.
Aku mematuti diri sendiri tanpa bergeming,lalu pandanganku bergeser ke sebuah kotak merah yang berukiran kayu minimalis yang warnanya kini telah usang.
Kotak itu ku simpan di bawah meja riasku dan rupanya sedikit berdebu,perlahan tanganku meraih kotak tersebut lalu ku mencoba membuka kembali kotak merah tersebut yang berukuran tidak terlalu panjang.
Dengan perasaan yang bercampur aduk ku pandangi isi kotak merah tersebut,ada beberapa helai kertas menumpuk di dalamnya.
Di helaian kertas tersebut ada tulisan-tulisan yang telah usang,yaa tulisan sepuluh tahun yang lalu tepatnya ketika aku masih menduduki bangku kelas enam sekolah dasar,hingga kelas tiga sekolah menengah pertama surat itu masih tertata rapih.
Ada sebuah cincin yang terbuat dari lintingan kelakar sebuah ranting yang telah mengering namun masih tersimpan cantik di atas tumpukan kertas-kertas tersebut.
Sebuah cincin yang terbuat dari serat ranting dan bunga itu adalah pemberian Dika ketika ia menyatakan perasaanya.
Aah sepertinya rasa kegilaan itu menguasaiku perasaanku pada saat itu.
Jika aku mengingatnya, begitu polosnya aku dan Dika pada saat itu,mungkin jika anak jaman sekarang mengatakan bahwa aku alay, yaa Alay.
Tapi kata-kata itu dulu tak pernah ada dalam kamus pergaulanku.
Ingatanku kembali menelusuri ke sepuluh tahun yang lalu dimana ada rasa cinta yang timbul antara aku dan Dika di dalam persahabatan yang sedari kecil aku bina bersamanya.
Persahabatan kami sangat indah, antara aku, Nay dan juga Dika .
Kami bertiga selalu berada dalam kondisi apapun, kami bersahabat penuh dengan tawa tanpa ada rasa saling mengejek ataupun menghina segala kekurangan di antara kami bertiga.
Kami bertiga selalu tertawa canda mengisi hari-hari kami yang ceria.
Hingga pada suatu hari perasaan ini muncul begitu tiba- tiba tatkala kami memasuki usia puber.
__ADS_1
Dika dengan kejujurannya di usia yang teramat masih polos mengatakan isi hatinya bahwa dia suka kepadaku, aku yang tak paham dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya seperti apa,hanya bisa mengiyakan saja apa yang dikatakan Dika terhadapku dan itu tanpa sepengetahuan Naysa.
Entah egois atau hanya sekedar terbawa perasaan bahwa aku memang menyukai Dika semenjak dia menjadi siswa baru di Sekolah Dasar tempat aku dan Naysa sekolah.
Jujur saja Dika merupakan siswa laki-laki yang paling ganteng yang pernah aku temuin,Dika adalah satu siswa pindahan dari kota JAKARTA, orang tuanya pindah ke Desa kami karena Tugasnya sebagai INSINYUR PERTANIAN, dan kebetulan tugas orang tua Dika di tempatkan di desa kami yang indah ini hingga menetap saat ini.
Aku dan Naysa tidak menyangka jika Dika bisa begitu welcome dengan kehadiran kami, terlebih-lebih aku yang bukan siapa-siapa di mata teman temanku.
Naysa sejak dulu selalu mendapat perhatian lebih dari teman-teman Kelasku terlebih,apalagi Naysa orangnya cantik dan sangat baik hati kepada semua orang.
Nyaris semua orang pasti menyukai akan kehadirannya, beda dengan aku.
Aku hanya anak orang miskin yang sering mendapat perlakuan beda dari teman-temanku di karenakan perbedaan sebuah kesenjangan, yaa tepatnya beda kasta.
Aku memang terlahir dari keluarga miskin yang jauh dari kata mewah, bisa bersekolah saja aku sudah sangat amat bersyukur dengan hanya mengandalkan tenaga dari seorang perempuan tua yang rela berkorban demi cucunya,dan aku bisa mengecap bangku sekolahan saja sangat bersyukur sekali.
Disamping itu aku pun tak luput dari keluarga Naysa yang selalu ikut andil dalam membantu biyaya sekolahku.
Sering kali aku mendapat perlakuan yang tidak begitu menyenangkan dari teman-teman sekolahku bahkan dari orang-orang sekelilingku atas keadaanku yang berada jauh dari mereka.
Masih ingat betul ketika hari pertama bertemu dengan seorang Dika,dia yang menolongku dari ejekan teman- temanku di karenakan spetuku yang sudah tidak layak pakei, dengan ramah dia membelaku dari bulian teman- temanku.
Dika merupakan siswa laki-laki yang tidak sombong untuk seukuran anak-anak sebayanya dan satu hal yang aku suka darinya dia tidak pernah membeda bedakan aku dengan teman-temanku yang lainya, dia merupakan anak laki-laki yang tidak suka membuli walaupun keadaan aku sama sekali tak seimbang dengannya.
Dika memang menyenangkan dan kami bertiga pun cocok menjadi sahabat sampai duduk di kelas tiga sekolah menengah pertama.
Yaah perjalanan kami sangat menyenangkan, walau aku dan Dika hanya diam-diam saling menyukai,tapi entah kenapa itu sudah terasa cukup bagiku.
Entah apa yang membuat Dika menyukai ku secara diam-diam, jika aku harus memberi pilihan tentulah Naysa yang lebih cantik dari aku, aku saja sebagai seorang perempuan mengagumi akan kecantikannya apa lagi di mata lelaki.
Tapi rupanya tidak dengan Dika, aku belum tau pasti apa alasan dia menyukaiku,hingga sampai sekarang pun aku belum tahu pasti alasan apa dia begitu tulus menyayangiku.
Naysa tidak pernah tau akan perasaan kami berdua, dia hanya tahu kalau kami bersahabat, karna Dika selalu menutupi perasaanya ketika kami dalam keadaan bersama.
__ADS_1
Aku tersenyum kecil tatkala mengingat perasaan itu, tepatnya itu adalah Cinta monyetku. Mungkin orang- orang dewasa bilang sekarang seperti itu.
Dan aku hanya mencoba menyimpan baik perasaan itu agar siapapun tidak mengetahuinya, aku menikmati kebahagian itu.
Yaa aku sangat menikmati perasaan itu ketika cinta kami semakin tumbuh besar di bangku Sekolah Menengah Pertama.
Dika kian semakin memberi perhatian penuh terhadapku, dan aku pun tidak pernah menolak akan perasaan itu yang semakin tumbuh mekar di hatiku. Aku menikmati setiap perasaan yang membuatku merasa bahagia ketika bersama Dika.
Yaa hanya dialah Laki-laki yang tidak pernah menghinaku bahkan mengejekku.
Ingatanku masih utuh ketika Randi pernah mengejekku dengan sebutan si miskin hampir saja mereka berantem berdua,kalau saja pada saat itu tidak ada yang memisahkannya, Dika memang beda dari anak laki-laki yang lainnya.
Tapi senyumanku terhenti ketika pikiranku teringat akan sosok Naysa dengan kondisinya yang saat ini begitu menyesakan perasaanku.
Naysa yang dulu bukanlah yang sekarang,dulu dia adalah sosok gadis yang Energik yang selalu membuat aku tersenyum yang selalu memberiku semangat,dia selalu memberikan apa yang aku butuhkan.
Sahabat kecilku yang selalu membelaku di setiap hinaan dari mata duniku,dia lah yang selalu merangkulku dalam keadaan dan kondisi apapun.
Tiba-tiba saja ada yang terlepas dari kenangan manisku dan kini berubah menjadi sebuah ketakutan yang tak berujung.
Aku teringat ketika beberapa hari yang lalu dia bercerita dengan raut wajah yang begitu berbeda akan sosok Dika,dan hati kecilku dapat menerka bahwa Naysa mulai ada perasaan terhadap Dika.
Ketakutanku tiba-tiba muncul di dalam hatiku,ketika perasaan Naysa mulai berubah kepada Dika.
Meski waktu telah berubah tapi aku yakin akan perasaan itu tidak akan berubah.
Kami berpisah semenjak keluar sekolah masing-masing.
Aku yang hanya mampu sekolah sampe Sekolah Menengah Pertama, sementara Naysa dan Dika melanjutkannya hingga Sekolah Menengah Akhir.Dan akhirnya kami bertiga pun berpisah saat mereka berkuliah dan aku melanjutkan hari-hariku sebagai seorang buruh kebun.
Hari ini entah kenapa aku merasa bahagia yang amat sangat kurasakan, Dika kembali dan aku berusaha menebak isi hati Dika,apakah dia masih ingatkah ? atau dia sudah lupa dengan aku?dan entah kenapa aku berpikir, mungkin Dika sudah melupakan semua hal itu, perasaanku ini apalah,hanya sekedar perasaan masalalu saja,perasaan yang bisa saja berubah kapanpun.
Terlebih lagi tentunya Dika pasti telah menjumpai beberapa wanita-wanita cantik di JAKARTA sana,yang pastinya lebih cantik dariku.
__ADS_1
Aku menghela menarik napas dengan perasaan berat dan harapanku memudar, biarlah perasaan ini menjadi perasaan yang menjadi kenangan indah,dari segala rasa yang pernah aku miliki dari apapun.
Ku hentikan lamunan ini dan kembali ku metatap bayanganku di cermin,diri ini berusaha membisikan sesuatu yang cukup membuat sesak dada ini,agar diri ini untuk tidak berharap banyak atas perasaan yang aku gantungkan dari sosok seorang laki-laki yang bernama MAHARDIKA.