
AKU masih mematuti bayanganku sendiri di cermin, dan aku masih asik memandangi raut wajahku sendiri, entah apa yang membuat Dika tetap mempertahankan rasa yang begitu besar terhadapku, aku merasa tidak ada apa-apanya di banding dengan Naysa.
Naysa jauh lebih baik keadaanya denganku,dan itu perbandingannya seperti langit dan bumi, semuanya jelas jauh berbeda antara parasku maupun dengan kehidupannya.
Jelas aku merasa benar-benar rendah jika harus bersanding dengan seorang Dika,apa yang di kayakan nenekku,aku dan Dika tidak selevel.
Aku tidak bisa membayangkan jika Naysa tau akan perasaan ini,lalu dia tau akan kecuranganku.
Entahlah aku merasa telah melakukan dosa besar yang amat sangat membuatku semakin bersalah.
Ahh.... jika bisa aku memutar kembali waktu, ingin rasanya aku mengusir jauh dan tidak mengindahkan apa yang selama ini aku rasakan, entahlah ini menjadi boomerang buat diriku sendiri serta sahabat terbaikku Naysa.
" Anna " Suara khas yang lembut itu mengejutkanku dari lamunan panjangku,Nenek menatap lembut ke arahku seraya meremas lembut kedua pundakku.
" Apa yang sedang kamu pikirkan ??"
" Tidak ada Nek." Jawabku pelan sembari menyentuh lembut nan hangat jari jemari yang sudah terlihat keriput termakan waktu dan usia.
" Nenek tau apa yang sedang kamu rasakan saat ini, Nenek itu tak bisa di bohongin walaupun kamu mengatakan tidak ada apa-apa sekalipun." Ucap Nenek dengan menatap penuh artike arahku.
Aku terdiam mencoba memendam perasaan yang mulai berkecambuk dalam batinku entah apa yang harus aku katakan dan entah di mulai dari mana akan cerita ini.
" Ceritalah." Ucap neneku seraya mengambil duduk di hadapanku,sorot mata yang hangat begitu sangat meneduhkan hatiku.
Entah kenapa ada hal yang membuatku menangis sejadi-jadi ketika ucapan nenekku meluluhlantakan pertahanan perasaanku yang selama ini kupertahankan.
Entahlah,rasa tangis ini tiba-tiba saja pecah dan hancur dalam pangkuan Nenekku.
" Menangislah,jika itu membuat kamu lega dan lepaskan,jika itu bisa membuatmu puas." Ucap Nenekku dengan suara mulai parau.
Aku benar-benar tidak lagi bisa berbicara hanya air mata yang mewakili isi hayiku.Dadaku mulai terasa sesak menahan isak tangisku yang tak bisa lagi aku tahan.
" Anna telah menghianati Nay Nek." Ucapku pelan dengan sedikit terisak.
" Memangnya apa yang telah kamu lakukan ??" Tanya nenekku lembut.
" Anna mencintai Dika dan kami saling mencintai tanpa sepengetahuan Nay. " Ucapku tersendu-sendu.
" Entah seperti apa jika Nay mengetahui akan hal ini, terlebih-lebih Nay dalam kondisi seperti sekarang ini nek." Jelasku dengan isak tangis kian pecah.
Ku angkat kepala ini dan menatap nanar ke arah Nenekku.
" Anna takut dengan perasaan ini akan melukai hatinya Nay dan memperburuk kondisinya Nay." Raungku dengan perasaan lemah.
Nenek terlihat menarik napas panjang dan menatapku dengan berjuta perasaan yang tak menentu, Nenek sepertinya paham dengan apa yang sedang kurasakan.
" Apa yang harus Anna lakukan Nek ?" Tanyaku dengan berlinang air mata.
Sejenak Nenek terlihat terdiam dia tidak membalas atas pertanyaanku,ada kegamangan yang begitu kuat ku rasakan darinya.Sepertinya Nenek turut serta merasakan apa yang kurasakan.
" Seperti yang pernah nenek katakan,bahwa kamu sebaiknya berhenti untuk tidak mengharapkan Den Dika lagi.Lebih baik kamu melupakannya walaupun itu pahit rasanya." Ucap nenek begitu lirih,suaranya twrasa kian berat dan sorot matanya terlihat mulai mengembun ada lelehan bening yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
" Jadi ???" Tanyaku menggantung merasakan tenggorokan ini kian mengering.
" Lupakan Den Dika, sudah jelas antara dia dan kamu tidak akan pernah sepadan,lagi pula ada yang lebih pantas untuk Den Dika yaitu neng Naysa." Jelas Nenekku dengan sedikit bergetar suaranya.
Aku paham nenek sebenarnya tak ingin melukai perasaanku,tapi kenyataan yang membuatnya harus rela menyakiti perasaan cucunya.
Sesuatu benda yang begitu berat telah menimpaku, yaa sesuatu itu telah kuat menghantam perasaanku dan aku pun tidak berdaya atas segalanya,hanya bisa menyadari semua ini dengan penuh rasa sesal.
__ADS_1
Apa yang di takutkan itu terjadi juga, cinta ini tak bertuah.
" Cacing akan tetaplah menjadi seekor cacing tidak akan pernah menjadi naga Anna,dan ikan mujair tetaplah ikan mujair tidak akan menjadi ikan emas. berpikir kembali Anna untuk tetap mempertahankan perasaanmu itu." Ungkap Nenekku penuh lemah lembut membelai rambutku.
Dia menasihatiku dengan penuh kasih sayang.
Entahlah rasanya perempuan separuh baya itu tiba-tiba berasa menjelma menjadi sahabat yang begitu sangat mengertikan perasaanku.
Tangisku semakin pecah tatkala perasaan ini memanggil jauh akan sosok seorang ibu.
Yaa jika aku harus membayangkan seperti apa sosok seorang ibu, mungkin saat inilah yang aku butuhkan hadirnya sosok seorang ibu,aku membutuhkan sangat pelukan dan segala dekap hangatnya yang bisa menguatkanku.
Tangisanku benar-benar semakin pecah meratapi segala bentuk ketidak adilan hidupku ini.
" Akan ada kebahagian lain yang akan menjemputmu Anna." Nenek menggengam erat tanganku dan menyimak wajahku dengan penuh haru.
aku tidak bisa menjawab hanya ada sesak di dada,tak ada sepatah katapun yang mampu keluar dari mulutku ini, benar-benar sulit untuk mengungkapkan segala sesuatu tentang rasa ini.
Suara mesin berderu kencang dari arah luar rumahku, menghentikan aku dari tangisan kecilku. dengan bersamaan aku dan Nenek menatap ke arah luar halaman rumahku.Terdengar suara mesin mobil berhenti tepat di depan rumahku.
Aku terhenyak dari tempat dudukku bersamaan dengan Neneku, sejenak aku dan Nenek saling pandang mencoba menebak kedatangan seseorang dari dalam mobil tersebut.
Dengan cepat aku menyeka air mataku dan mencoba untuk merapihkan keadaanku.
Nenek dengan sigap segera meninggalkan kamarku dan menghampiri tamu yang berkunjung ke rumahku.aku hanya terdiam menatap jauh ke arah luar jendelaku.
Aku baru tersadar akan perkataan Dika terhadapku yanh akan menemuiku sore ini.
" Yaa Tuhan !!! Pekiku dengan menatap ke arah jam yang menempel di dingding kayu kamarku.
" Sudah jam empat sore,Dika pasti...." Pekiku sambil menutup mulut dengan kedua tanganku.
" Anna ! ada den Dika dengan Nenk Naysa ."
Nay sama Dika ????
Batinku bertanya-tanya.
Ada apa mereka ???
Semakin meracau pikiranku,entah harus apa yang semestinya ku lakukan.
" Iyaa Nek sebentar " Sahutku singkat, aku menoleh ke arah cerminku mata ini sedikit sembab dan pipi ini pun masih terlihat memerah.
Belum saja aku bersiap-siap tiba-tiba Naysa sudah menghambur ke kamarku dengan begitu riangnya dan ceria.
" Nayy !! " Teriaknya dengan cepat mendekapku erat.
Aku terdiam berusaha untuk menyembunyikan rona wajahku yang terlihat tidak menetu.
" Kita ke rangkeng lagi yukk ! " Ajak Naysa melepaskan pelukannya dan mengajakku untuk pergi ke rangkeng.
Rangkeng adalah jenis pondok kecil yang berada di tengah bukit.
Yaa itu adalah tempat bermain kami semasa kecil dulu, dan di tempat itu pula saksi kami bersahabat begitu solid.
" Rangkeng.... ?? " Tanyaku menatap kearah wajah Naysa yang masih terlihat ceria.
" iyaa kita pergi sama Dika." Ucap Naysa sambil mengguncang-guncangkan pundakku.aku terdiam, ingin rasanya aku menghilang sejenak detik ini juga untuk tidak memperlihatkan kesedihan yang kuraskan saat ini.
__ADS_1
" Anna" Sejenak Naysa menatapku begitu dalam dia mencoba menyimak dan memperhatikan ke dalam wajahku.
" Kenapa ?" Tanyaku ragu.
" Sepertinya kamu habis nangis ??" Tanyanya dengan terus memperhatikan jauh wajahku.
" Tidak !!" Jawabku pelan seraya memalingkan wajahku.
" Jangan suka berbohong padaku An ?" Ucap Naysa sambil terus mengejarku dengan tatapannya.
" Ahh,aku cuman lagi kangen saja." Dalihku beralasan.
" Kangen ???" Tanya Naysa semakin penasaran.
" Ahh sudahlah lupakan itu ." ucapku dengan kembali menahan tangis yang nyaris saja pecah di pelupuk mataku.
" Anna.Sejak kapan kamu bisa membohongiku ?" Tanyanya dengan sedikit menatapku tajam.
" Nay,." Selaku kelu
" Kamu tidak ingin bercerita denganku lagi ?" Tanya Naysa semakin mencecarku.Aku terdiam dan aku pun menggeleng seraya menggengam tangan Nay dengan erat.
" Aku hanya kangen akan ......,," Ucapanku menggantung, Naysa menyimakku dengan terlihat begitu penasaran akan keadaanku.
" Aku hanya kangen kedua orang tuaku,yaaa aku kangen mereka." Selaku dengan tertunduk lemah. entahlah, entah drama apa ini yang sedang ku mainkan, aku hanya ingin terlihat baik-baik saja di mata Naysa. Aku tidak mau memperlihatkan kesedihanku di hadapannya dengan berpura-pura merasa kangen terhadap Almarhum ke dua orang tuaku.
" Ahh Anna !! maafkan aku." Ujar Naysa sambil mendekap dan memelukku erat.
" Maafkan aku ya,udah berburuk sangka sama kamu." Ucapnya dengan terus mengusap-ngusap lembut punggungku.aku hanya bisa terisak kecil di pelukan sahabatku.Dengan tangisan palsuku.
" Menangislah aku merasakan apa yang kamu rasakan,Kedua orang tuamu adalah kedua orang tuaku juga An.Dan kedua orang tuaku adalah kedua orang tuamu juga,aku adalah sodaramu Anna." Ucap Naysa menguatkanku dengan tersenyum lembut kepadaku. Itulah kata-kata Naysa yang selalu menguatkanku.
Naysa selalu hadir dikala aku benar-benar rapuh, tapi entah kenapa aku merasa air mata ini adalah air mata sebuah kebohongan yang benar-benar telah membihongi rasa empati seorang sahabataku.
" Kamu tidak sendiri An,ada aku,ada Emak, dan sekarang ada Dika juga,kita masih sahabatan An." Jelas Naysa terlihat berkaca-kaca.
pedih rasanya jika aku harus melihat dia menangis tulus untukku, aku terdiam mencoba terus bersembunyi di balik sipat munafikku ini,rasanya aku seperyi mafia yang sewaktu-waktu akan menikamnya.
" Sudah yaa !! kamu teh jangan sedih terus nanti aku jadi ikutan sedihh ." Ucap Naysa sambil menyeka air matanya,aku tersenyum tawar menatap ke arah Naysa, sosok sahabat yang benar-benar tulus mengasihiku.
" Dika sudah nungguin kamu.Yukk kita pergi,kita harus senang-senang." Ucap Naysa sambil menyeka bekas air mataku yang masih basah di pipi.
Aku hanya mengangguk pelan dan tersenyum pasi.
Perlahan aku mengikuti langkah Naysa yang menggendengku keluar kamar, sementara Dika terlihat akrab ngobrol dengan Nenekku, entah apa yang di obrolkan oleh keduanya.
Dika meliriku dengan sedikit kaku, aku hanya sekilas melihat raut wajahnya yang sedikit muram, menatapku dengan sorot mata kecewa.
Namun aku mencoba untuk tidak menatap lebih lama lagi ke arahnya.
Tak lama aku pamit kepada Nenekku untuk pergi keluar sebentar menemani Naysa dan Dika yang akan pergi ke tempat kami bermain kecil.
Dika masih menatapku lekat entah apa yang ada dalam pikirannya.
__ADS_1
di ujung pandangan Nenek menatapku penuh haru, kesedihannya terlihat jelas dari garis sudut bibirnya yang tertahan, aku hanya bisa tersenyum tanpa ekspresi,mencoba untuk menyakinkan bahwa aku baik baik saja.
# bersambung #