
UDARA pagi yang begitu dingin membuatku tak kuat menahan hawa tersebut, kabut yang begitu tebal masih tetap menyelimuti dusun kecilku, suara ayam jantan berkokok bersahutan silih berganti menyambut sang fajar yang telah tiba.
Aku masih asik menghangatkan tubuhku di hadapan perapian tungku,sebelum aku bersiap-siap mempersiapkan untuk perbekalan buat memetik teh nanti.
" Nay,aku ikut metik teh lagi ya.." Tiba-tiba Naysa sudah berada di belakangku, aku terkejut dengan kehadiran Naysa yang tiba tiba.
" Kamu mah ngagetin aja, sudah bangun Nay ?" Tanyaku pelan.
" Kenapa kamu gak bangunin aku ?." Tanyanya sambil mengucek-ngucek kedua matanya.
" Sengaja tidak aku bangunin cuaca di luar masih dingin Nay." Jawabku seraya mengaduk teh hangat di gelas.
" Kamu lagi ngapain ?" Tanya Naysa yang masih terlihat menguap.
" Siapain bekal buat nanti aku sama Nenek."
" Kalian metik teh, aku ikut yaa !!" Sela Naysa dengan cepat.
" Jangan !! kamu gak usah ikut lagi deh Nay." Sergahku tak kalah cepat.
" Kenapa? takut aku kecapean lagi ya ?" Tanya Naysa sambil duduk di bale bambu dekat tungku.
" Ya !cukup sekali saja kamu buat aku dan Nenek panik." Balasku sambil menuangan teh hangat ke termos kecilku.
" Aku udah sembuh kali An." Balas lagi Naysa memberi alasan.
" Pokoknya tidak. !!" Sergahku tegas menolak permintaan dia.
" Ada apa ini pagi-pagi sudah pada ribut?." Nenek menyembul dari dalam dan menghampiriku yang sedang mempersiapkan bekal makan siang nanti di bukit teh.
" Emak Nay pengen ikut lagi ke bukit.Boleh tak ?" Ucap Naysa seraya menghambur ke arah Nenekku,dia berharap nenekku mengijinkannya.
Aku menggelengkan kepala memberi isyarat penuh terhadap nenekku.
" Aduh Neng sebaiknya jangan atuh ! Emak sama Anna takut kenapa-napa lagi sama neng Nay." Jelas Nenek yang paham atas isyaratku.
" Tapi kan Nay teh sudah berobat atuh mak,masa sakit mulu." Ucapnya dengan nada memelas.
Nenek dan aku pun saling bertatapan satu sama lain.
" Nyai pasti akan nyariin kamu neng, dan pastinya teh Nyai tidak akan mengijinkan kamu ikut pergi dengan kami,nanti teh Emak yang kena omel Nyai dan Tuan bapak." Jelasku sambil menatap lembut Naysa,
Naysa terlihat menatapku dengan kecewa. Aku pun terdiam dan berharap Naysa kali ini menurut akan laranganku.
" Iya neng,perjalanan ke bukit teh tidaklah mudah perlu daya tubuh yang vit." Tambah nenekku menyakinkan Naysa.
" Jadi aku tidak boleh ikut ya ?" Ucap Naysa dengan nada sedih.
" Aku anter kamu pulang saja yaa." Sela membujuk Naysa yang terlihat murung, kali ini aku harus tega menolak permintaanya Naysa.
" Ya udah kita sarapan dulu ya, nih ada teh hangat sama rebus singkong.Neng suka gak rebus singkong?" Tanya Nenek mengalihkan pembicaraan.
Naysa tidak menjawab dia hanya mengangguk dengan tersenyum datar.
Maaf kan aku Nay,sudah membuatmu kecewa,ucap batinku seraya menatap Naysa yang mulai menyeruput teh manis hangat buatanku.
Beberap menit kemudian aku pun telah siap dengan peralatan tempurku, embun pagi terlihat berkilau di atas dedaunan yang rimbun.Suasana pagi ini memang masih terasa begitu dingin menyelimuti Dusun kecilku.Nay masih memakai swiiterku dia terlihat menahan suhu dingin yang begitu membeku.
Beberapa kali aku melihat dia mengoso- gosokan kedua telapak tangannya.
" Kamu gak dingin An. ?" Tanyanya sambil menolehku yang berjalan di sampingnya.
" Yaa dinginlah,tapi kan aku udah biasa." Jawabku semangat.
" An,kamu yakin aku gak boleh ikut nih?" Tanya lagi Naysa masih mempertanyakan dirinya,ia berharap aku akan merubah keputusanku.
" Engga Nay !! aku cemas kalau kamu ikut." Jawabku masih sama.
" Kamu takut aku pingsan lagi ya." Tanya lagi Naysa sambil melirikku kesal.
Sejenak aku menghentikan langkahku dan menoleh Nasya.
" Jika kamu ikut ke bukit resikonya banyak." Balasku.
" Aku bisa kecapean lagi ?" Tanyanya masih belum puas dengan jawabanku.
Aku mengangguk lalu tersenyum simpul.
" Lain kali aja ya. " Ujarku lembut.
Naysa kali ini tidak menjawab dia hanya menggangguk kecil.
Ketika dalam perjalananku mengantar Naysa pulang,aku dan Naysa serta Nenekku tak sengaja bertemu dengan Juragan Kos beserta anaknya Dika.
Mereka terlihat asyik mengobrol dengan salah satu pemetik teh.
Aku menatap lurus ke arah mereka, sepagi ini kan juragan Kos dan Dika sudah pergi ke bukit ?
Tanyaku membatin.Bahkan ada beberapa pertanyaan muncul dalam benakku.
Dika yang tak sengaja melihat ke arahku,ia melemparkan senyuman hangat ke arahku.Sementara Naysa begitu semeringah ketika bertemu kembali dengan Dika.
" Wilujeng enjing juragan Kos ! " Aapa Nenekku dengan penuh hormat ketika kami melewati mereka.
" Eh Mak War, wilujeng enjing juga. " Jawab juragan Kos tersenyum hangat ke arah Nenek,lalu juragan Kos pun tak lupa membagikan pandangannya ke arah aku dan Naysa.
" Naysa kamu ikut metik teh juga ??" Tanya Juragan Kos sambil tersenyum lembut.
" Oh tidak juragan,kebetulan saya tadi bermalam di rumah Emak,jadi sekarang saya hendak pulang." Jawab Naysa ramah,lalu ia pun melirik Dika yang berada tak jauh dari Ayahnya tersebut.
" Oh kamu mau pulang ? pulang sama siapa ?? kan Anna sama Emak mau kebukit ?" Tanyanya lagi, sejenak aku melambatkan langkah kakiku dan menoleh ke arah Naysa.
" Hmm,Anna yang anterin saya pulang juragan." Balas Naysa sambil menolehku.
__ADS_1
" Gimana kalau Dika saja yang antar kamu pulang,kasian Anna harus bulak balik,lagian kebetulan kita akan ke rumah Nyai juga.Kebetulan bapak ada perlu dengan Nyai kamu Nay." Jelas juragan kos menatap Naysa.
Naysa dan aku saling berpandangan satu sama lain.
Bagi Naysa ini adalah ketidak sengajaan yang membawa berkah bisa pulang bersama Dika.
Tapi bagiku,entah kenapa ada rasa cemburu yang secara diam-diam menyelinap dalam batinku.
Namun aku berusaha untuk mengusir jauh perasaan itu.
" Ohh kebetulan itu ! " Seruku bersorak.
Dika melirikku dengan kaku sedikitpun dia tidak merespon akan usulan Ayahnya. Dia hanya tersenyum datar tanpa ekspresi.
" An..." Panggil Naysa dengan setengan berbisik.
Aku tersenyum lalu mengangguk,mengiyakan ajakannya juragan kos.
" Makasih banyak juragan sebelumnya sudah mau mengantar pulang neng Nay.Kalau begitu saya dan Anna pamit dulu untuk ke bukit." Ucap Nenek sambil hendak melangkah kembali.
" Iya Mak sama-sama." Jawab juragan Kos dengan penuh wibawa.
Sebelum aku melangkah aku menatap sejenak Dika.
" Dik tolong anterin Nay ya." Pintaku sambil tersenyum, Dika tidak menjawab dia hanya tersenyum kaku, seolah-olah dia malas untuk membalas ucapanku.
sementara Naysa terlihat begitu senang tatkala Dika bisa mengantarnya pulang, aku pun pamit ke pada Juragan Kos dan bergegas menyusul langakah Nenek yang sudah cukup lumayan jauh meninggalkanku.
Aku masih terdiam menyusuri langkah perjalananku, pikiranku melayang ke arah Naysa dan Dika.
Ada perasaan yang tak biasa yang kini sedang menguasai perasaanku.
Aku terperangkap di antara dua perasaan, antara perasaanku bahagia atau cemburu.Entahlah dua perasaan itu berbaur menjadi satu dalam perasaanku saat ini, rasanya aku belum bisa melepaskan begitu saja perasaan yang melekat di dalam hatiku tentang sosok Dika hingga detik ini.
Rasanya menderita harus berjuang merelakan perasaan yang begitu berarti hanya untuk kebahagian sahabatku.
" Bersabarlah !! Nenek yakin kamu bisa melewati proses ini,nenek tahu kamu tidak selemah itu."
Suara Nenek membuyarkan lamunanku.
" ........." Aku menoleh nenenk ku namun enggan untuk menjawab perkataanya,dan aku pun hanya mampu tersenyum tak pasti.
Sepertinya Nenek memang mengetahui semua isi hati ku sehingga aku melihat sorot matanya tak lagi menatapku dengan berbagai pertanyaan,nenek sudah bisa menyimpulkan jika aku memang belum bisa seutuhnya menjauh dari rasa itu.
" Cinta itu tak selamanya harus memiliki.." Selannya lagi dengan penuh puitis.
Aku tercengang mendengar kata-kata pujanggga dari nenek ku dan itu berhasil membuat aku tersenyum geli atas ulah Nenekku yang kali ini menjelma bak seorang sahabat karib yang sedang menyuportku.
" Nenek Bisa alay juga ? " Gumanku pelan seraya menggeleng.
lumayanlahh ini bisa menghiburku walau aku sedang berusaha menahan rasa sesak di dada.
" Memangnya teh nenek tidak pernah muda dulu ? pernah atuh !" Ujar Nenek sambil terus berjalan. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum melihat sikap Nenekku yang begitu sangat menyayangiku.
" Ayo matahari udah bersinar tuh, nanti kita kesiangan metik tehnya." Ajak Nenek sambil mempercepat langkahnya, dan akupun tak lama ikut bergegas menyusulnya.
Yaa itu adalah harapanku yang selama ini ku pendam,dan mungkin ini tidak akan pernah tersampaikan,dan akan terus terpendam sampai batas waktu yang tidak bisa aku tentukan.
Aku terdiam masih memandangi sebuah kayu yang berbentuk sebuah hati, tergantung cantik di salah satu dahan pohon cemara.
Meski telah usang namun tulisannya masih bisa terlihat jelas, ukirannya masih sama sperti dahulu,ketika sepuluh tahun yang lalu dan itu tidak ada yang berubah, hanya warna dan suasananya saja yang berbeda.
Y**aa... disinilah aku selalu menceritakan tentang perasaan hati ini, dan di tempat ini pula seorang Dika selalu menemaniku, sepuluh tahun yang lalu aku begitu larut dalam perasaan hebatku. Nay tidak pernah tau begitu besarnya aku mencintai Dika, perasaan ini tumbuh seiring Dika selalu memperlakukanku dengan baik serta dia pun selalu memperhatikanku dengan begitu tulus.Dika begitu spesialnya dalam kehidupanku saat itu.
Semua kenangan itu datang bermunculan, silih berganti menghiasi pelupuk mataku, begitu sulitnya aku melepaskan perasaan itu sehingga aku tak bisa menahan rasa rindu ini,namun sepertinya aku harus mulai berusaha untuk belajar melupakan rasa itu,walau tidak secepat itu.
" Anna kok kamu Disini ??" Suara Naysa mengejutkanku dari belakang,Nyaris saja aku terloncat dari tempat dudukku.
Aku menolehnya dengan cepat.
" Kamu ngapain di sini ?" Tanya Naysa menatapku curiga.
" Kamu Nay ! dari mana ?" Tanyaku sedikit syok.
" Jawab dulu pertanyaanku, bukan malah balik nanya." Jawab Naysa terlihat kesal.
" Aku,aku lagi main saja,kebetulan tadi aku habis metik strobery,jadi aku lewat sini,gak tau kenapa kangen aja akan tempat ini." Jawabku tersenyum kaku.
" Kangen...??" Tanya Naysa menyeringah,sepertinya dia penasaran dengan jawaban yang terlontar begitu saja dari bibirku.
Aku baru terrefleks dari ucapanku sendiri yang membuat Naysa berhasil penasaran.
"Eh... eh.. euu..." Tiba-tiba aku menjadi gelagapan tak menentu.Naysa tersenyum penuh arti.
" Hayoo loh jangan-jangan kamu lagi mengenang masa lalu ya sama Panji ?,ngaku deh !!" Ucap Naysa menggodaku.
Yaa TUHAN kenapa jadi seperti ini !! rutuk ku membatin. Naysa mulai membahas masalah Panji lagi.
" Engga Nay,itu tidak benar ! " Sergahku dengan cepat.
" Ahh kamu,ngaku ajah dehh.." lagi-lagi Naysa terus menggodaku.
" Tapi kayanya aku belum pernah ke tempat ini dehh." Ucap Naysa sambil mengamati seluruh pelosok tempat itu.Nasya membagikan seluruh pandanganya lalu tak lama dia pun terlihat manggut-manggut seraya tersenyum kecil.Seolah-olah dia sedang menyimpulkan sesuatu.
" Sepertinya tempat ini memang sangat bersejarah buat kamu An." Ujar Naysa sambil menatapku curiga.
Aku terdiam tidak menjawab hanya menunduk mencoba menenangkan diri ini agar tidak terlalu panik.
" Hhmmm tempat ini bagus." Puji Naysa seraya tak luput membagi pandangannya ke seluruh tempat itu.
__ADS_1
Diam-diam aku menarik pelan papan yang terhalang duan-daun dan menariknya hingga putus lalu ku lempar jauh ke belakang pohon cemara tersebut.
" Aku juga baru singgah ke sini sih Nay..." Ucapku berbohong.
" Benerann ??? tapi kok bilang kangen ?? jangan-jangan tempat ini,tempat kamu jadian lagi sama panji dan itu tanpa sepengetahuanku." Ujar Naysa dengan setengah berbisik padaku.
Mataku melotot mendengar ucapannya Naysa.
" Kamu jangan berpikiran yang engga-engga ya Nay,aku sering lewat sini kalau pulang dari bukit,namun kali ini aku sengaja singgah,kangen aja lewat tempat ini sejuk sekali." Jelasku dengan nada kesal.
Naysa terlihat menahan tawanya sambil menatapku geli.
" Trus kamu lagi ngapain disini ??" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
" Hmmm,,,kasih tau gak ya." Jawabnya dengan enteng,aku mendelik ke arah Naysa dengan perasaan kesal.
" Kamu tau An,aku abis jalan-jalan tau bareng Dika.Tuhh dia lagi amblikan strobery untukku.." Ucap Naysa sambil menunjuk ke arah Dika yang baru saja keluar dari perkebunan Stobery.
Wajah Naysa tampak semeringah.
Deekk........
Aku terkejut melihat ke arah Dika yang tengah berjalan menghampiriku,lalu ia pun nampak tersenyum setelah melihat ke beradaanku.Aku menatapnya dengan berbagai perasaan.
" Kalian...??" Tanyaku menggantung.
Entahlah apa yang kulihat membuat aku berasumsi lain tentang mereka berdua.
" Kami cuman jalan-jalan saja An." Jelas Naysa sambil duduk di sampingku.
" Hai An,aku bawa strobery,kamu suka strobery kan ??" Sapa Dika menatapku panjang.
Aku menggeleng dengan membuang muka, ada yang terluka di dalam hati ini, entah itu karna cemburu atau karna bahagia melelihat mereka bisa berjalan berdua.
" Kamu lagi ngapain disini ?" Tanya Dika seraya duduk di hadapanku.
" Aku...," Ucapanku tertahan.
" Anna sepertinya lagi ngenang masa lalu deh Dik.." Potong Naysa cepat ia kembali menggodaku, aku melotot dan berusaha memberikan isyarat supaya Naysa tidak membesar-besarkan masalah tentang Panji dihadapan Dika.
" Oyaa ??" Balas Dika terlihat ikut berpura-pura menggodaku.Senyumannya seolah-olah ia tahu akan masalalu yang sedang di bahas Naysa.
" Dik,kamu kenal panji kan ?" Tanya Naysa seraya menatap serius Dika.
Aku semakin terhenyak atas pertanyaanya Naysa.
" Panjii ?? anak mana ?" Tanya lagi Dika dengan mengingat-ngingat sesuatu.Namun sorot matanya seolah-olah dia mengisyaratkan sesuatu terhadapku.
" Itu loh yang Anak otomotif.Nah ternyata Anna itu diam-diam naksir Panji." ucap Nay dengan polos.
TUHAN...... !! Pekikku membatin Naysa benar-benar membuatku jadi serba salah.
Ada yang berubah dari raut wajah Dika setelah mendengar penuturan Naysa.
Dika menatapku panjang dia mencoba menanti jawaban yang sebenarnya dari ku, sorot matanya berubah menjadi gelisah.
..." Itu tidak benar Dik !! Nay berlebihan,aku hanya....." Aku menjeda ucapanku dan aku pun berniat untuk menyanggahnya namun lagi-lagi Naysa segera memotong kalimatku....
..." Ikhh kamu gimana sih An, kamaren malam kamu bilang,kamu punya perasaan sama Panji sekarang so- soan gak ngaku.Kamu mahh payahh." Bantah Naysa sambil terus nyerocos.Dika masih terdiam,dan aku pun melihat jelas akan reaksi sikap dia benar-benar berubah....
..." Nay,pliss." Pekiku sambil mencubit kecil pahanya lalu Naysa pun terlihat meringis kesakitan setelah ku cubit kecil pahanya....
" Kalian habis jalan-jalan ? sepertinya ada sesuatu hal dehh yang kalian sembunyikan dari ku." Ucapku mengalihkan pembicaraan lalu membagi pandangan antara Naysa dan Dika.
Nasya melirikku dengan genit lalu tersenyum penuh arti.
" Ehemm.." Aku mendehem, lalu melirik ke arah Dika yang masih menatapku dengan berbagai perasaan.
" Hii hii...,kamu kepo ya An." Sela Naysa terlihat menahan malu.
" Cie cie,kalian tumben jalan berdua ?" Aku meledeknya berusaha untuk mengalihkan antensi Dika dari permasalahan Panji.
" Aku cuman ajak Dika putar-putar perkebunan saja, ehh dia ngajak lewat sini, katanya disini ada kebun strobery, aku baru tau loh An disini ada kebun strowbery." Jelas Naysa seraya tersenyum manis ke arah Dika.
" Massa sih Nay,kamu baru tau disini ada kebun strobery ?" Tanyaku sambil menggeser dudukku untuk menyandar di sebuah kayu besar.
" Aku dulu sering kesini Nay." Sela Dika sembari menolehku.
" Massa sih ?? tapi kok kamu gak pernah ajak kami berdua kesini, padahal bagus loh tempatnya." Ucap Naysa seraya bangkit dari tempat duduknya lalu ia pun berjalan mendekat ke arah pohon cemara tersebut.
" Nay !! ada yang lebih bagus lagi dari tempat ini." Selaku dengan cepat,lalu akupun ikut bangkit dari dudukku dan menarik tangan Nay.
" Dimana ?" Tanya Naysa mengeryitkan kedua alisnya.
" Di sana !!" Tunjukku ke arah utara.
" Di sana ada kebun bunga melati serta mawar." Jelasku seraya melirik Dika yang masih terdiam.
" Kok kamu bisa tau,disana ada kebun bunga ??,makin curiga deh aku." Tanya Naysa semakin heran,lalu ia pun terlihat mesem-mesem ke arahku.
" Kan aku barusan lewat situ Nay." Balasku sembari tersenyum,mencoba untuk lebih tenang.
" Dik kita kesana yuk !! " Ajak Naysa sambil repleks menarik tangan Dika.
Aku melongo menatap kejadian yang sedang berlangsung,Naysa begitu akrab dengan Dika sehingga dia berani menarik tangannya Dika.
Aku menghela dan mencoba menata rasa ini, aku tidak mungkin jika harus bersikap tidak suka atas sikap Naysa terhadap Dika.
Namun aku merasa lega,Naysa tidak jadi mendekat ke arah pohon cemara itu dan melihat ukiran nama yang ada di balik kayu pohon tersebut.
Naysa merengek meminta Dika untuk menemaninya ketempat yang aku tunjukan.
Dika tersenyum datar lalu sebelum ia beranjak pergi ia sempat menolehku dan ia pun hanya menatap kecewa ke arahku.
__ADS_1
Entahlah apa yang sedang di rasakannya saat ini, aku hanya bisa menebak jika Dika telah kecewa dengan apa yang telah ku katakan kepadanya beberapa hari yang lalu.
# bersambung#