
AKU masih berdiri di tepi tebing bukit teh, aku melepaskan semua penat di atas bukit ini, rasanya angin sepoy sepoy mengatarkan aku kepada kerinduan yang menenangkan jiwa dan pikiranku, ingin rasanya aku melintasi waktu kecilku lagi, hanya ada sakit ketika jatuh mengenai lututku bukan pada hatiku saat kini, jatuh hati memang penuh resikonya, pandanganku menebar ke bawah lembah hijau, hamparan perkebunan teh terbentang luas membelah cakrawala nan biru, angin semilir meniup lembut riak rambutku, aku masih tetap terdiam tak bergeming mencoba membiarkan separuh kegelisahanku tertiup angin, raga ini terasa rapuh, rasanya ingin sekali aku membuang rasa penat yang menyelimuti hatiku, tatkala kemampuanku sedang di uji, aku hanya bisa bepikir keras untuk bisa menyudahi sebuah tangtangan yang sedang aku alami saat ini, tangtangan yang sangat luar biasa sulitnya aku tempuh.
Pikiranku jauh menerawang entah kenapa aku berpikir lebih baik kehilangan Seorang Dika daripada harus kehilangan seorang sahabat kecilku yang telah kuanggap lebih dari seorang sahabat, tapi takdir berkata lain,, hati kecilku berburuk sangka atas takdir ini, sepertinya aku akan kehilangan dua duanya sekaligus dengan kenyataan seperti ini.
sejenak aku pejamkan mata ini mencoba untuk berdoa agar aku tidak kehilangan atas keduanya.
" Apa yang sedang kamu rasakan saat ini An..?" aku terkejut tatkala aku membuka mataku tiba tiba Panji sudah berada di hadapanku dan bertanya kepadaku.
" Panji,, aku kaget sekali.." ucapku sembari mengelus dada.
" maaf kan aku udah bikin kamu kaget." ucapnya dengan tersenyum simpul
" Apa yang sedang kamu lakukan disini ?" tanya Panji dengan sedikit bergeser dan berdiri sejajar denganku
" hmm... tidak ada.." jawabku singkat.
" ketika seseorang termenung seorang diri hanya ada 2 kemungkinan.."
" Apa itu ?" tanyaku dengan menyela cepat.
" lagi kangen seseorang atau sedang putus asa,, kamu ada di posisi yang mana ?"
" hahaha... so tau kamu nji ?" selaku dengan sedikit mencairkan suasana agar terlihat lebih santai.
" serius...pasti ada salah satu yang sedang kamu rasakan.."
" kalau dua duanya ada gimana??" ucapku dengan melirik sejenak Panji yang masih menatap ke arah hamparan bukit di dasar bawah sana.
" uhhh... berat sekali ujiannya...he he.." sela Panji dengan sedikit terkekeh.
" setiap hidup pasti akan ada ujiannya.." selanya lagi
" pasti,, tergantung kita yang menyikapinya..." jawbku pelan
" oia... gimana hubunganmu sama Dika ?" tanya Panji sembari menoleh ke arahku, sejenak aku tidak menjawab hanya menatap penuh tanya ke arah Panji kenapa dia harus bertanya tentang Dika.
" kenapa ??,, pasti kamu bertanya tanya kenapa aku tau hubungan kalian ?"
" ya... kamu bertanya atau memancing ?" selaku
" mancing,, ??? aku hanya sekedar bertanya aja Na." ucap Panji sembari membenarkan kerah jaketnya untuk menutup lehernya yang terasa mulai kedinginan,aku hanya terdiam tidak membalas apa yang di ucapkan Panji.
" Na... kamu pernah negrasaain gak kita itu berkorban perasan untuk orang lain ?" tanyanya dengan wajah serius menatapku
" maksud kamu ?" tanyaku dengan sedikit memutar bola mataku ke arah Panji yang masih berdiri di sampingku. aku menggeleng dengan sedikit tak tertarik sama sekali dengan pertanyaan Panji.
" yahh.. aku pernah mencintai seseorang,, tapi aku tidak bisa memilikinya, bahkan aku harus berpura pura cuek,, acuh kepadanya, padahal aku sangat mencintainya.." jelas Panji sembari terus menatap cakrawala.
sejenak aku mencoba untuk mencerna apa yang di ucapkan oleh Panji, dan memang ada sedikit kesamaan dengan apa yang sedang aku rasakan saat ini.
" terus ??" tanyaku dengan mulai penasaran
" aku tak bisa memilikinya,, sampe detik ini aku masih tetap menunggunya.." ucap Panji senejak menolehku, tatapan matanya beradu dengan tatapan mataku, sorot mata Panji terlihat berbinar binar menatapku.
" jadi kamu pernah jatuh cinta Nji ?" ucapku sembari segera membuang pandangannya dan membuang sedikit rasa grogiku.
" ha..ha.. pertanyaanmu Na,, aku punya hati lahh tentu aku pernah jatuh cinta." ucap Panji sambil tertawa renyah.
" tapi aku liat dulu kamu so cuek gitu,, sombong lagi dan aku pikir kamu suka membeda bedakan teman gitu" ucapku sembari tersenyum kaku
__ADS_1
" itulah... aku dipaksa untuk bersandiwara atas rasa ini.."
" sandiwara,, kenapa harus sandiwara ?"
" keadaanku yang memaksaku untuk melakukannya."
" hmmm sepertinya apa yang kamu alami aku pernah merasakannya." selaku pelan.
" Oooia ?? kamu bersandiwara untuk siapa ?"
" huuhh......!!!" aku tidak menjawab hanya menghela sembari mencoba menahan sesak di dada yang perlahan lahan meminta untuk keluar.
" cerita saja Na,, siapa tau aku bisa bantu.." ucap Panji sembari menolehku
" sudahlah aku tidak mau larut dalam masalah ini ?" ucapku sembari hendak membalikan badan.
" kamu berpura pura untuk putus sama Dika kan ?" sela Panji dengan cepat, sejenak aku terkejut bukan main dan menghentikan pijakan langkahku dengan pernyataan yang Panji ungkapkan.
" maksud kamu ?"
" aku tau semuanya Na.." ucap panji menolehku yang masih membelakanginya.
" tau tentang apa ?" tanyaku sembari memutar badanku dan kembali menghadapnya.
" aku tau semua tentang Dika Na.." ucap Panji dengan terlihat santai.
" Panji.. maksud kamu apa ?" tanyaku seraya menghadap lurus ke arahnya.
" Na,, kamu memilih mundurkan demi Nay ?"
"........" aku terkejut mendengar ucapan Panji, mata bulatku makin membesar tatkala ucapan Panji mengena di hati ini.
" Kamu tidak pernah tau kalo Dika masih sepupuku.."
" Ya TUHAN,, kamu jangan bercanda Nji." ucapku dengan nada benar benar tak percaya.
" buat aku apa untungnya bercanda,, kalau kamu tak percaya tanya saja sama Dika Na,," jelas Panji sembari menatapku, aku hanya terdiam tak percaya mendengarnya.
" Dulu kenapa aku jutek sama kamu,, kenapa aku cuek sama kamu,, karna aku bersaing dengan sepupuku sendiri, Dika meminta aku untuk tidak mendekatimu, dia suka kamu dari awal kepindahan dia kesini,, jadi aku ga mau ribut dengannya." lagi lagi Panji menceritakan tentang kisahnya dahulu.
aku hanya menyimak dengan penuh keterkejutan yang tak pernah aku duga sama sekali.
"Yaa TUHAN kejutan apa lagi untukku ini.." pekiku dalam hati membatin.
" kamu ga pernah tau itu kan ?, itulah sebabnya aku jutek dan gak ramah sama kamu, padahal aku sangat menyayangimu Na, sebelum jauh Dika hadir." ucap Panji dengan tetap menatapku, aku benar benar terkejut di buatnya, ucapan Panji benar benar telah menggetarkan pelan pelan Adrenalinku, aku merasa begitu besar hati, dan aku berpikir hanya Dika yang bisa mencintaiku apa adanya, buktinya Panji tak pernah aku bayangkan sebelomya jika perasaanya ada untukku, dan kini dia mengatakan apa yang dia rasakan untuku selama kita kecil hingga dewasa ini.
" Aku rela berkorban untuk orang lain Na,, perasaanku hancur demi orang lain " ucap Panji sembari menunduk sedih, sekilas aku menangkap raut wajah Panji terlihat mendalam.
" Aku tak pernah tau itu.." selaku kelu
" ah sudahlah itu hanya masa lalu.." ucap Panji sembari menengadah ke atas langit sana.
sementara aku larut dalam ingatanku beberapa tahun yang lalu, semenjak Dika hadir dalam persahabatanku dan Nay, Panji memang terasa berbeda dia sering menghindar dan perlahan lahan dia berubah sikap kepadaku, bahkan setelah tak sesekolah Panji semakin acuh dan seperti apa yang Nay katakan dia terlihat so misterius,, bahkan sampe ketika sekolah SMP pun dia benar benar terlihat sombong kepadaku,, aku hanya berpikir Panji tidak begitu suka kepadaku, dan hanya beranggapan Panji termasuk lelaki yang pemilih, nyatanya dia selama ini hanya ingin persaudaraanya terjalin baik dengan Dika.
" Na..!" panggil Panji mengejutkanku.
" kok kamu malah bengong ?" tanya Panji sambil melangkah perlahan lahan.
" Panji.. Panji tunggu.." panggilku sembari mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
" panji... maafkan aku,, selama ini aku udah berburuk sangka sama kamu,, aku pikir kamu benar benar tidak suka padaku.." ucapku sembari mengiringi langkahnya.
" kamu tak perlu minta maaf, biarlah semua ini akan jadi kenangan buatku." sela Panji sembari terus melangkah.
" tapi aku sering mengumpatmu dalam hati , karena kamu terlalu sombong banget, aku Dan Nay selalu memanggilmu dengan sebutan cowo so misterius." jelasku dengan sedikit tersenggal senggal.
" yang penting kamu tidak mendoakan aku yang jelek aja "
" tidak lah... " selaku dengan tersenyum
" doakan saja agar aku sama kamu bisa bersama..he..hee.." celoteh Panji sembari menatapku dengan menggoda, tiba tiba saja seketika wajahku memerah mendengarkan godaannya Panji, akupun hanya tersenyum sembari memukul kecil pergelangan Panji, sementara panji hanya tersenyum ceria sembari menatapku.
Ditengah asiknya aku bercanda, aku tersadar tatkala ada Dika menatapnya sedari tadi ke arahku dan Panji, raut wajahnya terlihat benar benar membenam sebuah amarah, tatapannya terlihat tidak suka ke arah Panji.
" Dik.." pekikku dengan hati was was.
" Hai Dik,, " sapa Panji sembari mendekatinya.Dika tidak menjawab dia hanya tersenyum kecut menatap Panji, sementara aku masih sibuk dengan perasaan was wasku.
" aku duluan yaa.." pamit Panji sembari menepuk pundak Dika yang sama sekali tidak berminat membalas ucapan Panji.
" Na.. aku duluan ya.." ucap Panji dengan tersenyum simpul ke arahku, aku hanya menganggukan kepala tanpa berkata sesikitpun.
Panji berjalan menjauh dariku, dengan sesekali masih menoleh kearahku yang masih terlihat kaku di hadapan Dika.
" Ngapain Dia ?" tanya Dika dengan Datar.
" tidak ada,, kita cuman kebetulan bertemu saja di sini ?"
" kebetulan ko sepertinya seneng banget." ucapnya dengan sedikit sinis.
" Dik ,, memangnya kenapa kalau aku dekat sama Panji, dia orangnya baik juga ko,, gak sperti apa yang kupikirkan dulu."
" jadi kamu baru sadar ?"
" kenapa see kamu ,, kamu tidak suka aku dekat sama Panji ?"
" yahh itu hak kamu.."
" terus ?"
" aku gak suka aja melihatnya."
" Dika,, sekarang Nay itu udah jadi pacar kamu, jadi aku mohon jaga persaanya."
" aku belum bisa merubah perasaanku."
" pelan pelan saja, aku yakin kamu bisa." ucapku sembari mencoba melangkah.
" aku mau pulang,, " pamitku dengan sedikit kaku.
" aku antar An.."
" makasih Dik.. aku pulang sendiri.." ucapku pelan.
" An..!!" panggil Dika dengan suara lemas, aku menoleh dan menatapnya.
" aku butuh waktu untuk mencintai Nay. " ucapnya lirih, aku terdiam dan kembali melangkah tanpa merespon ucapan Dika dan aku pun hanya berlalu pergi meninggalkan Dika seorang diri dengan keresahan hatinya, tak ada lagi rasaku ini untuk tetap bertahan, Aku hanya ingin Nay bahagia apapun itu caranya, hanya itu yang terbersit dalam pikiranku saat ini.
# bersambung.#
__ADS_1