
AKU menatap lurus kearah Naysa yang sedang asyik bercanda dengan Dika, susah rasanya hati ini untuk tidak merasa cemburu tatkala melihat mereka terlihat begitu akrab.
Naysa terlihat semeringah ketika tangannya di gengam erat oleh Dika,aku kembali harus berpura-pura untuk tidak melihatnya dan mencoba untuk menutup mata ini.
Aku berusaha untuk bersandiwara tanpa harus memperlihatkan rasa sedih ataupun terganggu dengan perasaan yang kurasakan saat ini, aku berusaha senyaman mungkin dengan sikap Naysa dan Dika yang semakin memperlihatkan kemesraanya di hadapanku, dan aku tetap berusaha bersikap seolah baik-baik saja.
" Anna !! " Panggil Naysa melambaikan tangannya ke arahku,memintaku untuk mendekatinya.
Aku menjulurkan kepalaku menatap penuh tanya.
" Aku ingin ke kebun mawar bersama kalian lagi, sepertinya aku merindukan sesuatu." Seru Naysa berbicara ke arahku.
" Tidak,tidak !! aku tidak mau." Balasku cepat.
Aku tidak akan mengijinkan kembali Naysa pergi ke tempat itu,jauh dan pasti akan melelahkan bagi kondisinya Naysa.
" Kok gitu sih An, kita kesana bertiga kok,kalau gak kita ajak mang sarif kesana dan pakai mobilnya dia,gimana ??? " Usul Naysa dengan memasang wajah memelas, aku menggeleng tidak mengiyakan atau menolak.Sudah pasti ke inginan Naysa tidak bisa tolak.
" Aku gak mau kamu kenapa-napa lagi." Balasku tegas.
" Nay sebaiknya kamu banyak istirahat saja ya." Sela Dika dengan tetap menggengam erat tangnya Naysa.
Sempat terlintas di otakku ada perasaan ingin membuang muka namun Naysa menatapku lurus sehingga dia bisa menangkap jelas raut wajahku yang berubah secara tiba-tiba.
" Dika betul Nay." Sambungku seraya berdiri di sebelah Dika yang masih duduk di samping Naysa.
" Aku kangen kita kumpul dan aku kangen menyatakan perasaanku dan harapanku." Ucap Naysa seraya terus mendekap erat tangan Dika.
Dika menoleh ke arahku dengan berbagai ekspresi.
Aahh rasanya aku ingin menghilang begitu saja dari pandangan mereka,rasanya aku sperti sedang membawa sebutir telur di atas kepalaku yang takut terjatuh secara tiba-tiba, dan rasanya bara ini tiba-tiba membuncah di dalam hatiku.
Aku berusaha menenangkan hati ini yang sedang terbakar api cemburu, akan tetapi aku sadar aku tidak bisa cemburu atas sikap Naysa dan Dika,biarlah aku terluka saat ini serta membiarkan Naysa bahagia bersama Dika.
" Aku ingin mengatakan sesuatu Disana ." Imbuh Naysa dengan manja.
" Saat ini kitakan lagi kumpul,jadi kamu bisa mengatakan apa yang ingin kamu katakan saat ini,gak mesti harus ke tempat itu." Ucapku tak lepas menatap rona wajah Naysa yang kian menampakan raut wajah bahagianya.
" Kalian gak mau ke tempat itu lagi ?" Tanya Naysa dengan merengut.
" Nay, kita ini berpikir akan kesehatan kamu, sabar saja dulu ya !nanti kita pasti bisa berkumpul lagi di tempat kita biasa main kok,jika kamu benar-benar pulih." Ucapku mencoba membujuk Naysa agar mengurungkan ke inginannya untuk pergi ketempat biasa kami bermain.
Nasya menolehku lalu melepaskan rangkulan tangannya dari Dika dan berdiri mendekatiku.
" Anna makasih yaa kamu sangat perhatiaan banget sama aku.." Ucapnya merangkulku.
" Aku akan melakukan apapun buat kamu Nay,dan aku pastikan kamu akan merasa senang jika di dekatku." Ujarku menoleh ke arah Dika yang sedari tadi hanya terdiam seperti hilang selera.
" Dika,kamu kok diam mulu dari tadi ?" Tanya Naysa sembari melepaskan rangkulannya dan mendekati kembali Dika.
" Aku sedang mendengarkan omongan kalian, aku setuju dengan apa yang dikatakan Anna." Jawab Dika seraya menatapku Dalam.
__ADS_1
" Sepertinya Dika bingung mau ngomong apa,lagian kenapa sih kamu kok jadi kaku gitu dehh." Selaku seraya tersenyum menggoda ke arah Dika aku berusaha mengajaknya untuk bercanda.
" Hm biasa aja kali." Sela Dika membalas senyumanku dengan rasa canggung.
" By the way kalian sekarang kok sering diem- dieman gitu deh,aku perhatiin dari kemaren-kemaren ada apa ?" Tanya Naysa tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang tak pernah aku duga,Naysa membagi pandangannya ke arah aku dan Dika.
Aku mengernyit sekaligus kaget akan pertanyaanya Naysa.
" Dika sekarang sombong semenjak jadian ama kamu Nay." Selorohku dengan tak sengaja aku menoleh Dika yang sedang menatapku juga.
Dika membulatkan bola matanya menatap tak mengerti dengan apa yang aku celotehkan.
" Apa sih An,jangan fitnah ya." Sambung Dika meliriku kesal.
" Kenapa sih Dik ? gak terima baget deh." Ucap Naysa tersenyum manja,lalu ia pun meraih kembali tangan Dika dan di genggamnya erat.
" Bukan aku yang sombong,tapi emang Anna sedikit menjauh dari kita." Balas Dika dengan enteng.
" Kamu ya Dik,aku sibuk kerja juga kali." Sergahku lagi tak mau kalah.
" Kalian itu aku perhatiin jadi agak renggang semenjak aku jadian ama Dika." Ucap Naysa sambil bersandar di pundaknya Dika.
" Gak lah Nay,aku masih deket kok ama Dika,buktinya kemaren aku pulang bareng Dika lagian di antara kami tidak ada apa-apa kok.Iya kan Dik ?" Imbuhku tersenyum palsu kearah Dika yang sedikitpun tidak merespon ucapanku.
Yaa**a perasaan ini memang menjadi canggung semenjak aku memutuskan hubungan ini, aku merasa kaku di buatnya entah apa yang telah memisahkan perasaan ini terhadapnya, seperti ada jarak di antara kita dan aku berasa baru mengenalnya kembali.
maaf kan aku Dika, aku tidak bisa berbuat banyak selain hanya membahagiakan Nay untuk yang terakhir kalinya.
" Seandainya aku pergi dan tak ada lagi di antara kalian,aku ingin kalian tetap bersama,menjadi sahabat yang solid dan tak terpisahkan." Tiba-tiba saja Naysa berkata sesuatu yang membuat aku dan Dika saling bertatapan satu sama lain dengan terperangah.
" Nay ! Jangan ngomong kaya gitu ?" Sergahku cepat dengan sedikit tinggi nada bicaraku.
" Aku berharap persahabatan ini akan menjadi persahabatan yang abadi An,Dik.Dan kalian harus tetap bersama walau aku sudah tak ada lagi di antara kalian." Lagi-lagi Naysa berbicara dengan suaranya yang begitu serak.
Ucapannya berhasil membuat aku semakin ketakutan.
" Persahabatan ini akan abadi,tapi kebersamaan kita belum tentu,karena kita pastinya akan memiliki pasangan masing-masing yaitu keluarga kecil kita.jadi kita teh gak mungkin sendiri teruskan ?" Selaku cepat
" Apasalahnya kalian nikah ? jadi persahabatan kita akan tetap ada," Imbuh Naysa tanpa beban,Naysa melirik ke arahku dengan lirikan penuh makna.
Sontak itu membuatku tak berkutik.Aku pastikan ini adalah usulan yang mengandung candaan.
Dika menolehku dengan tatapan penuh makna seakan-akan ia sedang mengaminkan setiap ucapan yang di katakan Naysa.
" Kamu ada -ada aja sih Nay.Dika mana mau sama aku..he..he.." Selaku tersenyum kaku.
" Bisa saja kan,jodoh gak ada yang tau." Celoteh lagi Naysa membuatku semakin ga karuan.
" Ahh,,Levelan Dika kamu bukan aku Nay,ngaca juga dong aku." Selorohku dengan tersenyum enteng seolah-olah aku sedang melontarkan candaan yang menurutku terasa garing.
Aku hanya sedang berusaha untuk tidak terbawa dengan suasana ini.
__ADS_1
" Naysa benar,kalau jodohkan gak ada yang tau." Dika menyela dengan membenarkan ucapannya Naysa.Dia menatapku dengan tatapan percis pertama kalinya ia menemuiku,sejenak aku terpaku dan menatap canggung ke arah Naysa yang tersenyum-senyum penuh arti ke arahku.
" Ha.ha.ha...." Tiba-tiba Naysa tertawa renyah melihat ekspresiku seperti orang idiot yang sedang kege-eran.
Sepertinya dia tidak berpikir sedikitpun akan apa yang sebenarnya telah terjadi antara aku dan Dika.
" Dika,Dika.Kadang candaan kamu suka beneran dehh." Sela Naysa menggeleng,ia terlihat sedikit berbeda akan tatapannya ke arahku.
Sejadi -jadi aku segera menepis semua celotehan Dika, untuk tidak terbawa perasaan.
" Pokonya kita akan tetap bersahabat, selamanya.." Sergahku tegas tanpa memperdulikan Dika yang masih menatapku begitu dalam.
" Makasih yaa ! kalian selalu ada buat aku." Tambah Naysa seraya menggengam erat tangaku lalu tangan kirinya masih menggenggam erat tangan Dika.aku hanya tersenyum mencoba terus bersandiwara di hadapan Naysa tanpa memperlihatkan akan perasaan hatiku yang sesungguhnya.
WAKTU berjalan tanpa ada yang bisa menghentikannya,terus menelusuri tiap detik,melewati rambatan hari,berputar tanpa kendali. Terkadang waktu sering meninggalkan jejak bermakna serta serpihan sesal di hati,meski waktu tetap berjalan namun aku belum mampu memastikan hati dan persaan ini akan tertuju kemana arahnya.
Mungkin waktu akan mempertemukan kembali dengan perasaan yang sedang ku pertimbangkan saat ini.
Aku tersadar ada sebuah harapan yang sedang menantiku saat ini,ada sebuah keinginan yang akan menempati ruang yang baru di hati ini,saat ini aku memang tidak bisa berjanji jika hati ini bisa berpaling dari rasa yang pernah ada, bahkan aku sendiri terasa linglung menatanya, seakan lelah dengan perasaan yang tak Menentu.
Huh...,mampukah aku bertahan dalam persaan ini ? ataukah perasaan ini perlahan akan memudar.
Janji yang tak pernah pasti, terombang ambing dengan sebuah persaan yang kian membingungkan.
Panji menatapku lurus, sebuah tas rangsel dia sandang di pundaknya,aku hanya bisa melihat tanpa sepatah katapun keluar dari mulutku.
ingin rasanya aku melarang dia pergi lagi, tapi entah kenapa pengendali rasa ini seolah-olah menahannya.
" Aku akan kembali setelah kau benar-benar siap." Ucapnya dengan suara berat.
Aku tertunduk mencoba mengumpulkan sebait dua bait kata perpisahan untuknya.
" Aku akan berjanji pada diriku sendiri jika aku selesai wisuda aku akan meminangmu Na." Ucapnya terdengar halus menyentuh dalam hati ini, lagi-lagi aku hanya tertegun mendengarkan apa yang telah Panji sampaikan di detik-detik kepergiannya.
Apalah daya batin ini hanya bisa memanggil tanpa suara,berperang dalam kegelisahan persaan sendiri antara mencintainya dan tidak,hatiku masih berharap Dika bisa kembali ke hatiku, jahat memang jika aku masih berharap Dika menjadi miliki jika setelah Nay tiada.
Aku lemah,aku terus berperang dengan perasaan sendiri lalu mencoba mengusir perasaan jahat ini, aku sadar aku tidak akan setega itu.
" Kamu tidak ingin menjawab apa yang aku katakan ?" Tanya Panji menatap syahdu.
Aku membalas tatapannya dengan berbagai perasaan.
"Jika ucapanmu adalah nyata bagiku, maka aku percayakan semu ini kepada Takdir TUHAN." Balasku dengan semampu mungkin aku ucapkan.
Panji tersenyum simpul kepadaku ada secercah harapan indah yang terpancar dari raut wajahnya.
" Baiklah aku pamit Na !" Ujarnya pelan, dia berdiri tegak menatapaku dengan begitu dalam, aku hanya menggangguk seraya tersenyum kaku.
Panji melangkah memasuki mobil pribadinya dan tak lama deru mesin mobil menyala,lalu perlahan berjalan meninggalkanku seorang diri, Panji menjulurkan kepalanya dari arah balik kaca jendela mobilnya dan menoleh seraya tersenyum manis kearahku.
# bersambung #
__ADS_1