Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA

Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA
TSBUN Episode 21


__ADS_3

" Gimana ke adaan neng Naysa An ??"


Aku tersentak setelah suara Nenek memecah kesunyian.


" Nenek sudah pulang ?" Selaku sembari dengan cepat menyeka air mata yang sedari tadi tak berhentinya membasahi kedua pipi ini.


" Kamu menangis ?" Tanya Nenek menyimak baik ke arah wajahku yang sudah muali sembab.


Aku tidak menjawab hanya mengangguk pelan dan langsung memeluk separuh badan Nenekku yang masih berdiri menatapku, sejenak Nenek menarik napas panjang dan mengusap lembut rambutku.


" Berkorban itu memang menyakitkan." Ucapku pelan sembari menangis.


" Belajarlah untuk selalu iklas,karena kita tak mampu untuk mengubah semua ini Anna." Ucap lembut nenek sembari meletakan keranjang teh di sampingku.


Perlahan aku melepaskan pelukannya dan menyeka air mataku dengan ujung bajuku.


" Nenek selalu bilang sama kamu,apapun yang di gariskan dalam kehidupan ini,semata-mata itu adalah takdir dari yang maha kuasa, semakin kamu iklas melepaskanya maka akan lebih berkualitas kehidupanmu,nenek yakin Gusti Allah sedang merencanakan yang terbaik untuk An,dan keiklasan ini akan memudahkan apa yang akan kamu jalani." Jelas Nenek sambil menatapku dengan penuh kelembutan.


Aku tertunduk meratapi perasaanku.


" Anna belum siap merelakan Dika.." Ucapku lirih.


" Tapi Dika bukan yang terbaik untukmu, jadi berhentilah menyesalinya.Nenek tau kamu teh kuat Anna." Ucap Nenek sembari berdiri dan mengambil segelas air putih dari teko berwarna biru lalu diminumnya hingga habis.


" Sudah ya jangan menangis lagi ?? kamu sudah makan ?" Tanya nenek menolehku.


" Anna tidak lapar." Jawabku masih terisak lembut.


" Tenangkan dirimu Anna, jangan membuat dirimu sakit,ada yang lebih berharga dari seorang Dika, yaitu orang yang selalu ada di sampingmu..." Balas nenek tersenyum simpul.


Aku menghela menatap ke arah nenek dengan berbagai perasaan,ucapan nenekku benar-benar menusukku,selama ini aku terlalu mengabaikan perasaannya.


" Ahh Nenek,Anna tidak bisa membayangkan jika Nenek tak ada di samping Anna." Ucapku sembari bergelendot manja di pundak Nenekku,


" Jadi jangan terlalu dalam mencintai seseorang karna hanya bisa membuat kecewa saja,jadi sewajarnya saja.." Tambah Nenek sembari menolehku yang masih bersandar di pundaknya.


" ### Neng Naynya gimana An?" Nenek mengalihkan pembicaraan.


" Alhamdulillah,Nay sudah siuman Nek,Anna sedih banget ngeliat kondisinya Nay saat ini,makanya Anna tak tega jika tidak bisa mengabulkan keinginanya Nek.." Ucapku pelan.


" Lakukanlah apa yang membuatmu merasa baik, tapi ingat kamu harus jaga perasaanmu juga." Sambung Nenek sembari meminum air yang di gelas tersebut. Aku hanya bisa tersenyum getir mencoba mendamaikan persaan yang telah berperang dengan egoku ini.


Yaa hanya untuk kebahagiann seorang sahabat kecilku aku harus rela menghancurkan persaan diri ini.


SORE ini aku berniat ingin menjenguk kembali Naysa dan aku berharap Naysa hari ini telah pulih.


Kali ini aku sengaja membawakan sekeranjang buah strowbery yang sudah masak, warnanya yang merah merona bak gincu cinderella, perasaanku agak lebih baik setelah Nenekku memberi pemahaman baru arti sebuah perasaan, yahh meskipun Nenek terlihat kolot tapi daya pikirnya masih mampu melebihi batas usianya.


Perlahan aku berjalan menuju ruangan tempat Naysa di rawat,setelah sebelumnya aku sudah mendapatkan info dari resepsionis bahwa Nay telah di pindahkan dari ruang ICU ke ruang biasa, aku mendengar kabar itu semakin lega, aku yakin Naysa sudah mulai membaik lagi.


Setelah beberapa nomer kamar ku cek akhirnya aku menemukan ruangan yang ku maksdu.Perlahan aku mendekati gagang pintu tersebut, namun tiba-tiba langakahku tertahan, dari dalam terdengar raungan suara yang sangat aku kenali,, sejenak aku


mengintip dari sebuah kaca , Terlihat Dika sedang mencoba menenangkan Naysa yang masih terlihat meraung-raung entah kenapa.


Aku terkejut,apa yang telah terjadi kepada Naysa ?aku mencoba menyimak lebih dekat lagi.


" Biarkan aku pergi !!! biarkann !! " Raung Naysa terlihat tak terkontrol, sehingga Dika terlihat kewalahan.


" Sabar Nay, sabar ! semua pasti akan ada jalannya." Sela Dika sembari terus menghalangi Naysa yang ingin turun dari tempat tidurnya.


" Kenapa ini terjadi sama aku Dik ? kenapa ? dan aku harus bagaimana hiksss ?" Teriaknya semakin tak terkontrol.


Aku menatap getir dengan perasaan semakin kacau.


" Plis Nay,kamu tenangkan dirimu itu Nay, tenangkan !! " Seru Dika dengan tak segan-segan Dika memeluknya dengan erat di sela rontaanya Naysa, aku semakin terpaku menatap dengan sejuta perasaan yang kian berkecambuk di hatiku.


Aku harus bisa kuat,dan aku berusaha untuk tidak cemburu,pintaku membatin.


Penasaran dengan apa yang telah terjadi aku berusaha untuk tetap menyimak di balik kaca ruangan tersebut.


" Tenang Nay.Ok kamu harus tenang." Ucapnya lagi Dika di tengah-tengah dekapannya. Sementara Naysa teisak dalam pelukan Dika tanpa menolak.


" Aku akan mati Dik.." Isak Naysa sembari tetap menangis.


Deekkkk.......


Terkejut bukan main aku mendengarkan apa yang Naysa katakan, sekiranya Naysa telah mengetahui apa yang telah menimpanya saat ini.


Naysa telah mengetahui penyakitnya ??? Batinku bertanya-tanya.


" Anna !!


Tiba-tiba suara Nyai mengejutkanku dari belakang, Dengan cepat aku segera menoleh Nyai yang berdiri tak jauh dariku, raut wajahnya terlihat sedih kembali dan membuatku semakin tak karuan.


" Nyai..." Pekikku cemas.

__ADS_1


" Ann,Nay sudah tau kalau dia sakit leukimia, dari tadi dia menangis terus, dan besok pagi dia mulai di kemoterapy An.." Ujar Nyai dengan nada sedih.


Lemass semua persendian tubuhku ini mendengar penuturannya Nyai.


" Yaa Allah. " Pekiku pelan,denganmembungkam mulutku dengan tanganku.


" Dia menangis histeris setelah tau akan kondisinya saat ini Nay." Sela lagi Nyai.


" Siapa yang memberi tahu Nay akan tentang hal ini Nyai ?"


" Dokter An, Dokter meminta kesiapan Naysa untuk di kemo." Balas Nyai lirih.


" Jadi Nay udah tau sekarang sakitnya apa, aku sangat sedih mendengarnya Nyai."


" Yaa Anna.Nyai menyayangkan hal ini,seharusnya Nay tidak usah tau hal ini." Ujar Nyai dengan nada sedih.


" Tentunya Nay sangat terpukul." Balasku dengan perasaan tak kalah sedihnya.


" Oya Anna baru dateng ?"


" Iya Nyai,saya barusan baru tau jika Nay sudah di pindahkan ruang rawatnya."


" Iya barusan Nyai tinggalin sebentar untuk mengurus semua biayaya kemo besok,tapi untung Ada Dika yang bisa menenangkan Nay." Ucap Nyai seraya melongo ke arah dalam ruangan.


Aku tersenyum enteng lalu mengikuti tatapan Nyai yang sedang melongo ke arah dalam ruangan.


" Nay masih menangis Nyai.." Ucapku sembari menoleh kearah kaca ruangan kamar Naysa, Nyai sejenak ikut mengintip dari arah kaca luar, raut wajahnya berubah semakin sedih ketika Melihat Naysa menangis dalam pelukan Dika.


" Nyai khawatir hal ini bisa memperburuk keadaan Nay." Ungkapnya dengan pilu.


" Aku berharap ALLAH memberi keajaiban untuk kesembuhan Nay.." Selaku dengan nada sedih,, Nyai merangkul pundakku sembari meneteskan air matanya.


" kenapa harus Naysa yang sakit ??" Ucap Nyai lirih tatpannya menerawang jauh,dan hal itu mampu mengguncangkan perasaanku.Aku hanya mampu terdiam tanpa bicara apa-apa lagi.


-------


NAYSA si gadis cantik yang ramah dia adalah gadis yang paling baik yang pernah aku kenal,namun kini paras wajahnya tak seceria dulu lagi,terakhir kalinya aku melihat senyuman cantiknya di kebun mawar, senyumnya begitu lebar hingga membentang luas ke ujung cakrawala yang berhiaskan pelangi.


Rona kebahagiaanya begitu terpancar kuat dari ekspresi wajah imutnya yang jelitanya.


Aku melihat aura kecantiknya semakin keluar tatkala kebahagiaan menghampiri perasaannya bersama Dika, yaa Hanya seorang Dika yang mampu membuatnya tersenyum seindah itu.


Gadis berambut ikal itu terlihat manja duduk di atas kursi rodanya, meski dia tersenyum namun senyumanya memudar tak lagi memperlihatkan jajaran giginya yang tersusun rapi dan cantik, hanya ada seulas senyuman yang muncul di saat-saat tertentu.


Ketika ku hadir di sampingnya aku selalu berpura-pura untuk tidak ingin tau tentang penyakit yang sedang di rasakannya bahkan kini aku sering membiarkan Dika lebih sering menemaninya.


" Anna. " Panggil Naysa mengawali pembicaraanya,aku menoleh lalu menatapnya dengan datar.


" Ada apa Nay ?"


" Kenapa Nyai sama Ambu serta Ayah tidak memberi tau sebelumnya akan sakitku ini ?" Tanyanya dengan menatapku dalam.


Aku tersentak namun berusaha untuk menetralkan perasaanku.


" Memangnya kamu sakit apa ?" Tanyaku penuh kepura-puraan.


Naysa terlihat membuang jauh pandangannya dengan raut wajah penuh kecewa.


" Kamu jangan berpura-pura seperti mereka..?" Ucapnya datar.


" Aku serius Nay,aku selalu berpikir jika kamu akan baik-baik saja." Balasku kembali berusaha meyakinkan perasaan Naysa.


Naysa menarik napas panjang lalu sejenak ia memejamkan matanya dengan berbagai perasaan.


Aku tau ini sangat berat untuknya.


" Aku sakit Leukima An." Imbuhnya dengan suara berat.


Aku terdiam namun perasaanku hancur.


" Kamu tau sakit apa itu ?" Tanya Naysa menolehku, aku hanya menggeleng dengan memasang wajah polos.


" Itu penyakit kangker darah itu An,dan tiba-tiba saja penyakit itu sudah stadium akhir,itu artinya....." Ucapnya tak lantas,Ia terlihat menunduk menatap ujung jari-jari kakinya.


" Yang menentukan hidupnya seseorang itu adalah TUHAN.." Sergahku dengan cepat.



" Yaa dan yang memberi takdir ini pun adalah TUHAN." Sela Naysa dengan kedua matanya mulai berkaca-kaca .


Aku menghela merasakan panas di hulu hatiku.


" An....!" Panggil Naysa dengan lembut.


" Apa Nay ?" Jawabku lirih.

__ADS_1


" Sepertinya aku mulai bosan di rumahku terus." Ucap Naysa seraya perlahan bangkit dari kursi rodanya.


" Kamu mau kemana ?" Tanyaku cemas.


" Aku kangen kamarmu An." Ucapnya sembari perlahan melangkah mendekati jendela kaca kamarnya.


" Tapi kamu tidak boleh kemana-mana dulu Nay, makanya aku saja yang kesini terus." Ungkapku menahan tubuh Naysa yang masih terlihat ringkih.


" Aku ingin banyak cerita sama kamu dan aku kangen kamarmu, jendelamu,, dan bintangnya kamu.."


Hatiku tiba-tiba saja menjerit mendengar ucapan Naysa yang menyebutkan bintangku.


Bintang ??? Apakah Dika adalah bintangku yang Naysa mau ??


" Nay,kamu kan bisa cerita di sini,gak ada yang bisa nguping,tenang saja. " Ucapku tersenyum enteng.


Naysa menggeleng lalu tertunduk lesu membenamkan kepalanya hingga dalam.


" Sampai saat ini,sepertinya Dika belum merasakan apa yang kurasakan An ." Ucapnya sendu.


Aku mengernyit mencoba memahami akan perasaannya Naysa.


" Maksud kamu ?"


" Sepertinya Dika hanya kasiah saja melihat kondisiku saat ini An,selama ini dia baik padaku yaa karena dia tau kondisiku seperti ini.." Ungkapnya dengan raut wajah kian pilu.


" Ohh tidak seperti itu Nay,mungkin saja dia perlu waktu yang pas untuk menyatakan perasaannya.Kita tidak pernah tau hati seseorang kan?" Ucapku berusaha menenangkan hati Naysa yang sedang gamang.


" Entahlah !! selama ini tak ada kata cinta yang terucap dari perasaannya, apa mungkin dia takut dengan kondisiku saat ini? sehingga dia takut mencintaiku." Ujarnya lagi dengan nada suara kian sumbang.


" Sudahlah Nay,sebaiknya kamu jangan banyak pikiran dulu ya !masalah Dika nanti juga dia akan mengatakan apa yang akan dia katakan,aku yakin jika Dika diam-diam suka kamu.." Imbuhku dengan tersenyum simpul.


Naysa menolehku dan tiba-tiba saja dia menatapku dengan panjang.


" Seyakin itu kah kamu,jika Dika akan suka sama aku ?" Tanya Nay pelan.


Aku terbata membalas tatapannya yang di rasa begitu mencurigaiku.


" Hmm itu hanya keyakinanku saja.Lagian kamu itu kan cantik Cowok mana sih yang gak suka lihat kamu,termasuk Dika salah satunya pasti menyukai kamu juga." Ucapku sembari tersenyum pasi.


" Ahh kebiasaan kamu mah suka bikin orang terbang hidungnya haha...." Ucap Naysa sembari terkekeh, kembali aku melihat dia tertawa lebar.


" Padahal dia sering nemanin aku terus An,tapi setiap kali aku mengatakan perasaanku ini,dia selalu mengalihkan pembicaraanku, apa mungkin dia masih ngerasa aku ini sahabatnya.." Guman Naysa terdengar bertanya-tanya.


" Mungkin dia hanya sedang menunggu waktu yang tepat saja kali Nay." Selaku lagi.


" Yahh.. keburu akunya mati." Celoteh Naysa dengan enteng.


Aku menghela,ingin aku rasanya membungkam mulutnya agar dia tidak sembarangan berbicara.


" Nay kamu jangan bercanda kaya gitu !!" Gertakku kesal.


Naysa terlihat tersenyum enteng.


" Kamu akan sembuh dan aku yakin itu,aku selalu berdo'a agar kamu bisa sembuh dan bisa menikah dengan Dika..hehe.." Ujarku dengan tersenyum tak jelas.


" Ahh Anna...,so sweet banget do'anya,mendoakan aku nikah sama Dika,makasih ya !!" Ucap Naysa sembari merangkulku dengan manja.


" Semoga Allah mendengar do'a-do'a kita." Ungkapku dengan penuh rasa haru.


" Amiin." Balas Naysa sembari melepaskan pelukanya.


" Oya kabar Panji gimana sekarang ??, ganteng loh sekarang dia." Sela Naysa sambil menatapku menggoda.


Ujung sudut bibirku melebar tatkala Naysa kembali membahas Panji.


" Hmmm...." Balasku tak pasti seraya mengangkatkan tinggi kedua pundakku.


" Kok gituu sih !! jangan-jangan kamu naksir beneran lagi sama dia." Ujar Naysa sembari mengusap- ngusap rambutnya sendiri lalu merapihkannya dengan jari-jari tangannya.


Namun seketika ekspresi wajahnya berubah panik setiba melihat helayan rambutnya berada di jari-jarinya tersebut,sontak Naysa pun terlihat syok.


" Ann !! rambutku." Pekik Naysa sembari memperlihatkan rambut yang rontok di jari-jari tanganya tersebut.


Aku pun tak kalah terkejutnya, hingga beberapa saat aku menatapnya dengan tak percaya.


Dengan rasa yang tak menentu kemudian Naysa kembali menarik rambutnya dan kali ini rambutnya lebih banyak lagi yang rontok.


Kedua mata Naysa terbelalak nyaris tak herkedip menatap perubahan yang terjadi pada rambutnya.


" Anna rambutku rontok..." Seru Naysa dengan histeris,dengan tak sadar ia pun terlihat menitikan air matanya, dan raut wajahnya terlihat ketakutan.


" Nay.Nay kamu tenang, jangan panik dulu !!" sergahku cepat


" Gimana aku gak panik rambutku rontok, nanti...." Ucapanya menggantung lalu ia pun memeluk erat tubuhku,seolah-olah ia sedang merasakan ketakutan yang begitu dalam mengancam hidupnya.

__ADS_1


Aku tak mampu berkata-kata apa lagi selain hanya ikut menangis melihat kondisinya saat ini.


# bersambung #


__ADS_2