Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA

Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA
TSBUN ~Episode 09


__ADS_3

" ANNA !!! An !!"


Suara cukup keras memanggilku dari luar halaman rumahku,aku berdiri dan menjulurkan kepalaku ke arah luar jendela.


Terlihat Naysa melambaikan kedua tangannya dan menatapku dengan begitu ceria.


" Ayo masuk Nay !! " Seruku dari atas loteng kayu kamarku, Naysa tersenyum ceria untuk kali ini. Dan beberapa menit kemudian dia sudah berada di pintu kamarku yang bernuansa kayu semua.


Dia langsung menghambur kepelukanku seperti anak kecil yang bahagia setelah sekian lama tak bertemu dengan orang tuanya.


" Anna..." Pekiknya lagi denganbegitu antusias, kali iniaku melihatnya Naysa lebih ceria dari hari-hari sebelumnya.Dan itu membuat aku semakin penasaran.


" Ada apa Nay ?" Tanyaku dengan semangat.


Naysa terlihat begitu kegirangan,aku menanti dia cerita dengan tak sabar.


" Kamu tau ???" Ucapnya malah bertanya.


Aku menggeleng dengan tersenyum kaku.


" Aku bertemu dengan Dika An. " Ucapnya dengan napas tersengal-senggal.


Aku mengernyit dengan tersenyum hambar.


" Dika ???" Tanyaku mengulang nama pria itu,dan aku pun berusaha untuk terlihat kaget.


" Iyaa Dika,aduhh Anna aku kok grogi ya ketemu dengan dia,apa karena kita udah lama ga ketemu ?" Ujarnya lagi dengan berusaha mengatur laju napasnya.


Ada perasaan campur aduk di benaknya yang aku lihat saat ini.


" Ok,ok,kamu coba tenang dulu,,tenang !!kamu pelan-pelan aja jangan buru-buru gitu,sampe ngos ngosan lagi." Selaku mencoba menenangkan keadaan Naysa.


Dan akupun berusaha menyembunyikan persaanku yang entah seperti apa kurasakan.


" Aduh An,aku tuh grogi sumpah." Ucapnya lagi dengan trus terlihat gugup.Aku tersenyum datar tanpa ekspresi apapun.


" Oya...,kamu udah ketemu dia ?" sejurus kemudian Naysa melontarkan pertanyaan kepadaku, aku hanya menggeleng dengan tetap tersenyum.


" An... dia makin ganteng loh,, asli." Serunya dengan rona wajah begitu sangat bahagia, aku terdiam mencoba terus larut dalam sandiwara perasaan ini.


" Trus kalian memangnya ketemu dimana ?" Lanjutku dengan semangat.


" Tadi aku ikut Nyai kerumah juragan Kos,ehh di tengah jalan aku malah ketemu Dika yaa akhirnya aku jadi gak ikut nenek.Aku jadinya ngobrol sama dia," Jelas Naysa dengan tersenyum-senyum penuh arti.


" Kalian seru donk ngobrol,secara ini pertemuan pertama kalinya kalian setelah lama gak ketemu ?" Tanya dengan perasaan tak menentu.


" Seru banget An,oya dia juga ada nanyain kamu tuh." Jelas Naysa dengan tersenyum simpul padaku.


Deekk !!!!


Entah kenapa jantungku berdebar sesaat mendengar Dika bertanya akan ke adaanku.


" Massa sih ? " Ucapku tersipu dalam sikap kepalsuaanku.


" Beneran An,yuk kita kumpul lagi !aku kangen ni ngobrol bareng-bareng lagi An." Ucap Naysa sambil menyender ke tubuhku.


Aku terdiam tak memberikan komentar.


" Tapi An,kok tiba-tiba aku merasa aneh ya sama Dika tuh." ucap Naysa sambil menoleh ke arahku dengan raut wajah terlihat sedih.


Aku terhenyak namun berusaha untuk tidak terihat kaget akan ucapannya Naysa, semoga saja dia tidak berpikiran aneh-aneh tentang aku dan Dika.


" Memangnya kenapa Nay..?" Tanyaku dengan penuh selidik sekaligus was-was.


" Hiii hiii...." Naysa hanya terlihat cekikikan dan tiba-tiba raut wajahnya terlihat merona,Naysa tersipu malu ketika membayangkan sesuatu hal.


Sontak saja itu berhasil mengunsang perasaan curigaku, dan perlahan-lahan perasaan itu mulai terkuak.

__ADS_1


Aku sangat yakin jika ada sesuatu hal dalam diri Naysa mengenai Dika, aku menunduk dan mencoba mengacak-ngacak semua isi pikiranku agar tidak terpusat kepada perasaan yang tak menentu.


" An !! " Panggil lagi Naysa dengan tersenyum lebih ngembang lagi.Aku menoleh lagi namun kali ini tanpa semangat.


" Kenapa sih Nay ?" Tanyaku penasaran.


" Apa mungkin karena kita gak jumpa lama,jadi merasa kangen teruss." Celoteh Naysa enteng dan itu membuatku berhasil membuatku cemburu.


" Kamu kangen Dika ?" Tanyaku pelan. Naysa mengangguk lalu ia kembali tersenyum malu-malu. Yaa,aku semakin yakin jika perasaan Naysa kali ini bukan sekedar sebagai sahabat lagi melainkan perasaannya sudah berubah suka terhadap Dika.


" Anna, jika kamu nanti ketemu Dika pasti kamu bakalan naksir juga." Ucapnya dengan polos.


Naksir ????


Batinku.


Tuh kan tebakanku benar dan tidak meleset sama sekali, Naysa sudah benar-benar naksir sama Dika.


" Masa sih Nay ?emang sekarang Dika seperti apa ?" Tanyaku dengan so tak percaya.


Padahal perasaanku sendiri semakin kacau ketika mendengar pernyataan sahabatku itu.


" An,denger ya ! Dika itu sekarang makin ganteng, tinggi dan sedikit berjambang.Aduh duduhh sweett banget dan aku gak nyangka aja dia bakalan makin ganteng An,sangat berbeda dengan dulu." Pujinya dengan penuh pesona,


Tiba-tiba saja dadaku berdebar tak karuan rasa rindu ini benar-benar mengecap lembut hatiku, seharusnya aku tidak merasakan hal seperti ini, seharusnya aku tidak terbuai dalam rasa yang dulu pernah ada Aku rasakan, dan saat detik ini pun aku merasa bersalah setelah melihat kebahagian Naysa yang begitu terpancar dari raut wajahnya.


Dan perasaanku ini akan menjadi awal yang boomerang bagiku, dan perkataan nenekku kembali mengikatku jika semua perasaan yang kumiliki akan menjadi ketidakmungkinan yang tak pasti.


" An kok malah bengong ??? hayoo loh jangan-jangan kamu lagi ngebayangin Dika juga ya?" Ucap Naysa dengan polos mencandaiku,sontak saja aku terhenyak lalu melirik Naysa dengan rona wajah memerah.


" Kamu mah Nay so gahu,aku malah sebaliknya, ngebayangin jika nanti ketemu Dika,dia pasti lupa sama aku." Ucapku mlengos.


" Dika itu engga akan lupa sama kamu An,buktinya tadi aja dia nanyain kamu." Ucap Naysa menegaskan.


" Yang benerr ??" Godaku dengan tersenyum simpul,Naysa mengguk pelan.



" Tapi,jangan-jangan dia udah punya cewek lagi di jakarta An ?" Celoteh Naysa cukup mengejutkanku.


Ada bara api di dalam hatiku ketika mendengar ucapan Naysa barusa .


" Kamu dari mana Nay dia udah punya cewek di kota sana?" Selaku membantah.


" Yaa kali aja,Dika kan ganteng An, cewek-cewek pastilah naksir dia,bahkan bisa jadi aku juga naksir dia,ha ha haa." Ucap Naysa dengan terkekeh-kekeh.


Aku tersenyum pasi dengan mencoba mengendalikan rasa panas dingin di seluruh tubuhku yang mulai menjalar.


Ahh mungkin benar juga apa yang dicelotehin oleh Nay,jika Dika bisa saja sudah memiliki kekasih baru,perempuan kota yang lebih cantik.


Pikirku dengan melongo.


" Eh ngomong-ngomong kamu kesini sama siapa ?" Tanyaku mengalihkan topik pembicaraan seraya menoleh ke arah Naysa yang asyik rebahan di atas kasur lepekku.


" Aku di antar mang Sarif, jalan kaki aku cape." jawabnya pendek dengan sesekali dia memejamkan matanya.


" Hmm Nay gimana kesehatanmu ?" Tanyaku pelan.


" Lumayan aku agak lebih baikan An, cuman kok sekarang aku sering merasa capek ya An? trus kaya sesak-sesak gimana gitu ?" Jelasnya dengan penuh rasa heran,lalu ia pun kembali terbangun dan duduk di sampingku, aku terdiam dan mencoba menangkap segala kecemasan yang ada di dalam hati Naysa.



" An sebenarnya aku sakit apa ya ? aku selalu merasa ada yang sakit di sekujur tubuhku ini, kadang badan ini lemas tak bertenaga bahkan kepalaku kaya mau pecah gitu kalau terasa sakit." Ucap Naysa dengan suara begitu lirih.


Hatiku berdesir mendengar penuturan sahabat kecilku itu,aku pun menolehnya dan berusaha untuk tidak menampakan kesedihan yang aku rasakan.


" Kamu akan baik-baik saja Nay.Aku yakin kamu sehat dan tidak sakit." Selaku sambil merangkul pundak mungilnya Naysa.

__ADS_1


" Tapi aku selalu merasakan ada sesuatu hal yang akan meninpaku An,hmm....,seperti sebuah kematian gitu An." Ucapnya begitu jelas dan itu membuatku merasa terpukul atasan ucapannya Nay.


Wajahnya berubah menjadi sedih dan seketika hilang semua aura kebahagian yang tadi terpancar begitu kuat,entah kenapa seketika aku merasa bersalah jika harus menayakan kesehatan dia disaat dia lagi bahagia seperti ini atas pertemuannya dengan Dika.


Aku berubah pikiran dan tak ingin menayakan kembali keadaannya.


" Oya kapan kita bisa kumpul lagi bareng Dika ?" Ku coba mengalihkan pertanyaan.


" An !!" Panggil Nay dengan wajah serius seraya memeganging ke dua tanganku, aku menatap lembut ke arah wajah Nay, sorot matanya terlihat berubah,ada kegelisahan yang begitu berkepanjangan.


Ada rasa salah yang menyeruak di dalam batinku kenapa juga aku harus mempertanyakan tentang kondisi kesehatannya.


" Aku ingin cek kesehatanku An." Ucapnya lirih


" Nay kamu itu baik-baik saja kok." Jawabku berusaha menenangkannya.


Aku merasa begitu cemas dengan sikap Naysa, sorot matanya benar-benar berubah drastis.


" Tapi apa yang dikatakan Nyai,Ambu dan Ayah sangat berbeda dengan apa yang kurasakan saat ini Nay." Jelasnya lagi dengan nada suara yang begitu cemasnya.


Aku menghela,entah apa yang harus ku sampaikan kepadanya untuk meyakinkan ke adaan Naysa.


" Mmm.Nay kan udah aku bilang jika kamu itu baik baik saja." Ucapku lagi.


" Yakin An.? " Nay menatatapku tajam, seolah-olah sorot matanya menusuk hatiku yang berada dalam ketidak jujuranku ini.


" Aku yakin Nay bahwa kamu baik-baik saja. Percaya sama aku." Ucapku sambil menggenggam erat tangan sahabat kecilku.


Nay membalas gengamannku lalu meletakan kepalanya di pundakku,dan tiba-tiba dia tertawa kecil.


" kok malah tertawa sih Nay ?" Tanyaku sambil mengoyangkan pundakku.


" Sepertinya kamu khawatir banget sama ke adaanku ini An." Ucapnya dengan enteng.


Aku melengos dengan kesal atas ucapan leluconya Naysa.


" Yaa jelas lah Nay,aku cemas akan ke adaan kamu. kamu ini gimana sih !" Ucapku sedikit jengkel.


Naysa terlihat tersenyum-senyum menanggapi kekesalanku.


" Kamu salah satu orang yang paling berharga dalah hidupku, jadi kamu jangan buat aku cemas deh." Ucapku jengkel melihat ulah Naysa yang selalu bercanda atas keseriusanku.


" Hiii hii hii..., iya maaf bercanda deh An." Balas Naysa sambil mencolek pinggangku, aku hanya cemberut tanpa reaksi apapun.


Nay berdiri dan menatap ke arah luar jendela sana, senja mulai terlihat gelap, udara pun mulai terasa dingin merambat melalui celah-celah dingding kamar kayuku.


" Udah magrib Nay,kamu mau pulang ?" Tanyaku seraya menghampiri Naysa yang berdiri di ambang jendela kamarku.


" Aku nginep di rumahmu aja An ?" Jawabnya singkat.


" Tapi nanti Nyai nyariin kamu dan ia pastinya akan khawatir Nay." Ucapku pelan.


" Kamu gak usah lebay gitu deh, tadi sore kan aku udah pamitan ama Nyai.Kamu mah suka gitu deh." Ucap Naysa menatapku keki.


" Yaa engga gitu juga Nay,kan kamu gak bilang mau nginep di rumahku." Bantahku pelan.


" Alahh,Nyai pasti ngerti kok aku nginep di rumah sababatnya,dia pasti gak akan cemas." Ucap Naysa dengan terlihat kembali ceria lagi.


Naiysa memang wanita yang paling hebat yang pernah aku temui dia tidak pernah mau larut dalam masalah apapun,selalu tenang ceria dan tak suka membuat orang lain sedih akan ke adaanya dan termasuk aku sahabatnya sendiri.


" Nay,kamarku kecil.Tar......" Selaku mengantung


" Tar aku kedinginan,di gigit nyamuk,lalu sakit badan,egel-pegel gitu ! Sudah dehh lagu lama itu, kamu mah kebanyakan basa-basinya." Ucap Nay nyerocos, mematahkan semua isi pikiranku.


" Aku itu dari dulu suka tidur bareng kamu, di atas ubin lah di atas kayu lah ga pake ini lah gak pakenitu lah, aku seneng seneng aja.Sekarang kamu malah baperan." Ucapnya lagi sambil memonyongkan bibir mungilnya hampir maju beberapa centi kedepan.


Aku hanya bisa tersenyum kaku menatap Naysa yang masih ngoceh-ngoceh dengan masalah tempat tidurku.

__ADS_1


" Ayo kita sholat magrib dulu ! " Ajak Naysa yang masih berdiri dengan sikap masih mengoceh-ngoceh.


" Siap bos !! " Selaku dengan cepat dan tanpa berpikir panjang lagi aku segera menarik tangan Naysa ,dan kami pun bersamaan berjalan bmenuruni tangga kayu kamarku.


__ADS_2