Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA

Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA
TSBUN~ Episode 10


__ADS_3

AKU masih terjaga mendengarkan semua ceritanya Naysa, dengan mata yang mulai terkatuk- katuk aku memaksakan untuk tetap terjaga merespon dan mendengarkan semua ceritanya Naysa dengan setia.


Nay berbaring di sampingku matanya menatap keluar jendela kamarku yang dengan sengaja ia biarkan tetap terbuka.


Matanya Naysa mengamati ke arah langit malam sana ada beberapa bintang yang bersinar terang bertaburan menghiasi hamparan langit hitam ke abu abuan pada malam ini.


Ada pula beberapa sinar bintang yang redup,bahkan ada juga bintang yang bersinar berkelap kelip manja menatap kami berdua.


" An tunjuk satu bintang untuk aku " Ucap Naysa memecah kesunyian,Naysa terlihat mendekap sebuah guling di dadanya, aku menoleh ke arah Nay yang masih menatap lekat ke arah langit sana dengan perasaan gamang.


" An,kamu tau ? ada satu bintang yang terang menatapku." Ucapnya dengan penuh puitis.


Aku mengernyit lalu ikut menatap ke arah langit sana.


Benar saja ada sebuah bintang yang begitu terang akan sinarnya.


" Kamu suka bintang itu ? " Tanyaku dengan terus menatap lekat ke arah Bintang yang di maksud Naysa.


" Jika itu adalah bintang kehidupanku maka bersinar lah dalam hidupku yang terbatas ini." Ucapnya pelan.


Aku tidak mengerti apa yang di maksud dengan ucapan Naysa akan kata terbatas.


" Ko terbatas ??" Tanyaku dengan heran.


Nasya menggeserkan kepalanya lalu menoleh ke arahku.


" An aku gak tau kalau suatu saat nanti rasa sakit yang ada di tubuh ini akan merenggut nyawaku,dan apakah aku masih bisa mencintai seseorang dengan perasaan yang sesingkat ini." Imbuhnya dengan suara yang begitu pelan,lalu di ujung sudut matanya dia melirik ke arahku dengan tajam hingga membuat perasaanku berubah tak karuan.


Entah apa yang telah mendorong Naysa untuk berbicara seperti itu, bagiku ini adalah kata-kata yang benar-benar menghujam kuat ulu hatiku dan meluluh lantahkan seketika perasaanku.


Tanpa tersadar aku membandingkan sosok Dika dengan cahaya bintang yang di maksud oleh Naysa.


Yaaa aku tau,Naysa sudah jatuh cinta kepada Dika sehingga dia mampu berkata apa yang dia rasa untuk saat ini.


Menyandingkan cayaha bintang itu dengan harapan cintanya.


Aku menghela napas mencoba meredam perasaan yang berkecambuk di dalam batinku, perasaan yang perlahan-lahan akan memusnakah semua harapanku tentang sebuah rasa.


" Jangan pernah berbicara seperti itu Nay,aku yakin bintang yang bersinar itu suatu saat nangi akan menjadi milikmu.Percayalah." Tambahku dengan masih menatapnya lekat ke langit sana,aku tak mampu untuk memandang wajah Naysa.


" Ahh...,kau jangan cuman menghiburku Anna." Ucap Naysa sambil membuang pandangannya kembali menatap langit sana.


" Aku tidak sedang menghiburmu Nay,tapi sedang memberi do'a." Ucapku pelan.


" An !! aku mau ngomong." Ucap Naysa sambil memiringkan posisi tubuhnya dan menghadap ke arahku,dan di tahanya kepalanya dengan satu tangannya.


" Ada apa ?" Tanyaku dengan berbagai perasaan yang tak menentu.


Sejenak Naysa terlihat sedang berpikir.


" Hm...., kalau aku tiba-tiba jatuh cinta gimana ya ?"


Ucapnya dengan singkat penuh serat makna.


T**ukan ... tebakanku sangat benar sekali,, Nay jatuh cinta terhadap Dika, tiba -tiba saja perasaanku menjadi campur aduk harus merespon apa atas ucapan yang dikatakan Naysa kepadaku.


" Apakah kamu sedang jatuh cinta ??" Tanyaku balik.


Naysa terlihat kesal menatapku.


" Yaa aku sedang jatuh cinta Annabelarasati !" Jawabnya dengan menyembut nama kepanjanganku begitu lengkap.


Aku tersenyum dengan penuh ke pura-puraan.


" Aah yang benar saja Nay ? kamu jangan bercanda ??" Jawabku dengan tak percaya.


" Oh Anna !!" Pekik Naysa sembari megusap-ngusap kulit dahinya.


" Memangnya pria mana yang sudah membuat kamu jatuh cinta ?" Tanyaku dengan penuh sandiwara.


Aku sudah menebak apa yang akan di katakan Naysa kepadaku,karena selama aku bersahabat dengan Nay,dia tak pernah bohong kepadaku.


" Dikaa." Jawabnya dengan jujur sekali.


PRANNGG........


Ada yang pecah di dalam hatiku setelah mendengar kejujuran sahabatku itu,apa yang selama ini aku khawatirkan benar-benar terjadi, Naysa mencintai Dika.


Dan itu alasan dia untuk tetep bahagia di dalam keadaan kondisinya yang sesang sakit.


Aku tidak bisa membiarkan Naysa sedih bahkan kecewa atas perasaanya itu,Naysa harus bahagia di saat kondisinya yang terbatas ini.


Ketakutanku semakin menjadi-jadi jika memang penyakitnya Naysa akan memisahkan aku dengannya. Maka tak ada negosiasi apapun lagi untuk mengambil keputusan untuk mengubur dalam tentang perasaanku terhadap Dika,dan aku berniat akan membuat Naysa bersatu dengan Dika apapun itu caranya.


" Halloo An !! kok malah bengong sih." Ucap Naysa membuyarkan lamunanku.


" Astagfirullah kaget Nay !" pekiku terperanjat.


" Kamu kok kaya gak percaya gitu,salah ya aku naksir Dika ?" Tanya Nasya merengut,wajahnya terlihat meredup.


" Bu bukan gitu Nay,tapi kamu seriusu naksir Dika ?" Tanyaku lagi menyakinkan.


" Serius lah Nay,mm tiba-tiba aja perasaanku berbeda aja pas liat dia Nay. " Ucapnya sedikit berguman.


" Tapi mmm kamu gak marahkan An ?" Tanya Nasya menatapku dalam.


Aku menyeringah dengan tersenyum geli ke arah Nasya.


" Kok aku marah sih ?memang aku siapanya Dika? aku kan sama sabahatnya dia juga Nay.Sama halnya kaya kamu,yaa kalau kamu suka dia yaa itu wajar saja." Jelasku dengan berbagai perasaan yang ku tahan.

__ADS_1


" Tapi jika aku ngerubah perasaanku ini yang tadinya sahabat jadi pacar,mmm kira-kira bisa gak yaa..?" Tanya dengan gamang.


" Yaa siapa tau Dika juga diam-diam juga sama kamu Nay,kita tidak pernah tau kan perasaan seseorang." Ucapku berusaha memberi dukungan terhadap Naysa.


" Hmm.....,seperti itu ??" Balas Naysa dengan tersipu-sipu.


" Nay !persahabatan antara kita itu tidak ada perjanjian apapun,jadi bebas saja jika suatu saat di antara kita ada yang ngerasa jatuh cinta." Jelasku menatap lembut Naysa yang masih terlihat memasang wajah gamang.


" Benar juga sih,tapi masalahnya Dika ngerasa gak ya dengan apa yang kurasa ?" Tanya Naysa menerawang jauh.


" Kamu kan cantik Nay,gak mungkin Dika gak suka kamu,Dika pasti ada naksir kamu juga,aku yakin itu." Ucapku mantap.


" Ah so tau banget kamu An." Balas Nay sambil melempar gulingnya ke arahku.


" Ha ha ha...,ya kali aja kan aku bilang gak ada yang tahu isi hati seseorang." Sahutku dengan tertawa lepas,aku berusaha menutupi perasaanku yang mulai pupus perlahan-lahan.


" Termasuk hati kamu !!" Celotehnya menyerangku.


" Etss !! jangankan sama Dika ama pria lain pun aku tak berani jatuh cinta." Ucapku terbata.


" Kenapa ?? " Tanya Naysa cepat.


" Sadar dirilah Nay siapa aku ??" Jawabku lirih.


Naysa tertawa renyahh sesaat melihat ekspresiku dan itu membuatku heran.


" Jadi kamu gak berhak jatuh cinta gitu !" Ucapnya dengan masih tertawa.


" Kamu kan tau siapa sebenarnya sahabatmu yang satu ini,aku tak seperti....." Ucapanku menggantung Naysa langsung memotong perkataanku.


" Udah malam alam,kita tidur yuukk !! " Ajaknya sambil menarik selimutku.


" Aku belum selesai bicara." Selaku jengkel.


" Aku malas jika harus mendegar nyanyianmu yang lama itu,apapun ke adaan kita,kita tetap sama dan kamu juga berhak punya cinta." Ucap Naysa seraya membelakangiku.


Aku menghela merasakan ketidak puasaan dalam hatiku.


Aku beranjak lalu berjalan mendekat ke arah jendela kamarku yang masih terbuka.


Sebelum menutup kembali jendela kamarku aku menatap kembali bintang,bintang yang begitu terang akan sinarnya,aku pun tersenyum dengan penuh rasa haru.


" Mimpi indah An ! " Celoteh Nay sambil menarik selimutnya.


Aku menoleh ke arah Naysa yang sedang melakukan ritual sebelum tidur dan aku pun hanya tersenyum tidak menjawab ucapannya.


Aku duduk di tepi kasurku lalu ku amati Naysa yang masih asyik dengan perasaanya sendiri, dia pun larut dalam khayalannya.


Aku tidak bisa berkutik lagi hanya terdiam berusaha berdamai dengan perasaanku yang menolak untuk mengalah dari rasa yang telah lama ku pendam.


HARI ini aku sengaja tidak ikut memetik teh, Nenek menyuruhku untuk menjemur beberapa karung teh pesanannya juragan Kos.


Sebuah kendaraan mobil Jip berhenti di depan pelataran rumahku, aku menoleh ke arah deru mesin yang berhenti dengan hati yang berdebar-debar.


Entah kenapa aku merasa takut akan kedatangan Dika yang secara tiba-tiba menemuiku.


Akan tetapi aku berusaha untuk tidak mengindahkan perasaan takutku tersebut dan aku tidak mau larut dalam perasaaanku sendiri.


" Assalamualikum Anna." Tiba-tiba suara berat juragan Kos meyapa dari belakangku.


" Walaikumsalam pak juragan !" Jawabku dengan sedikit terkejut.


" Kamu teh sedang melamun ya ?kok kaget begitu mendengar suara bapak." Tanya juragan Kos dengan ramah.


" Maaf pak juragan,saya terlalu fokus dengan teh-teh ini !" Jawabku dengan terbata.


" Emak ada ?" Tanya juragan Kos sambil duduk di bangku bambu.


" Emak lagi di bukit Juragan,jadi saya yang jemurin teh pesananya juragan." Balasku dengan pejuh hormat.


" Oh bagus lah pesanan bapak segera kamu kerjakan,gimana sudah ada yang kering tehnya An ?" Tanya juragan Kos menatapku ramah.


" Sudah ada juragan ! di belakang sana sudah ada yang saya kemasi." Jawabku sambil menunjuk ke arah belakang rumahku.


" Bagus kan yaa tehnya ? pasti aromanya wangi." Ucap Juragan Kos sambil berlutut dan mengamati teh- teh yang sedang aku jemur.


" Mau saya ambilin dulu Juragan tehnya ?" Ucapku sambil sesekali mencoba melihat ke arah mobil juragan yang terpakir tak jauh dari temparku.


Perasaanku entah kenapa tidak enak ketika melihat ke arah mobil Jip biru tersebut.


" Biar mang Asep yang bawa An." Ucap juragan Kos sambil berdiri.


" Nanti sore mang Asep bapak suruh ke sini ambil semuanya yang sudah kering, biar dia tidak bolak balik." Tutur juragan Kos sambil terus memperhatikan teh-teh yang sedang aku jemur.


" Sebentar pak juragan saya liat kebelakang dulu,saya pastikan tehnya sudah tersimpan dengan baik." Pamitku dengan penuh hormat.


" Sok mangga Anna. !" Balas Juragan kos dengan tetap memperhatikan jemuran teh tersebut.


Aku pun melangkah ke arah belakang rumahku, beberapa Dus teh sudah terkemas dengan rapih.


" Anna !!! "


Suara lembut itu bergema memanggil namaku,hatiku semakin makin takut untuk menoleh si pemilik suara lembut itu, suara yang dulu begitu tipis itu kini telah berubah lebih berat ,namun tidak bisa merubah rasa pengenalianku.


yaa aku masih mengenal suara itu,suara yang sepuluh tahun yang lalu yang memanggilku dengan penuh kelembutan.


Hatiku semakin gamang untuk melihat si pemilik suara tersebut.


" Dika " Bisikku batinku pelan.Aku belum berani untuk menoleh ke arahnya.

__ADS_1


" Anna !" Panggilnya lagi semakin lembut.


Akhirnya dengan sisa-sisa kekuatan yang ada aku memberanikan diri untuk membalikan badanku dan menatap sosoknya.


" Apa kabar ?" Tanyanya dengan lurus menatapku.


Aku tertunduk tak sedikitpun mengankat kepalaku untuk memandangnya.


" Aku ba baik-baik saja." jawabku terbata,perasaanku semakin kacau.


" Anna. " Lagi-lagi Dika memanggil namaku, dan mau tak mau aku pun menatapnya.


Taapp.......


Sebuah tatapan membentur sosok wajah yang telah lama tak ku jumpai.


Mataku tercengan menatap wajah itu,hati kecilkupun bersorak kagum ata apa yang kulihat di hadapanku,aku melihat Dika yang saat ini berdiri di hadapanku dengan sempurna.


*Y**aa TUHAN !!! ganteng sekali Dika saat ini.Mimpikah aku bisa menatapnya kembali, perubahan yang sangat luar biasa, Dika makin tampan.


hati ini bersorak tak henti-hentinya memuji paras pria yang tengah berada di hadapanku.Rasanya aku tak sanggup mengedipkan mata ini walau sejenak,melewatkan ketampan yang di miliki oleh seorang Mahardikq. Dika memang tampan sekali, dan aku pun di buatnya salah tingkah, pantaslah Naysa begitu dalam menyanjunginya,bahkan dia langsung jatuh hati melihatnya.


Dan aku pun merasakan hal yang sama,hal yang Naysa rasakan.


" Anna !!" Panggil lagi Dika mengejutkanku dari alam sadarku.


" Ehh iyaa." Jawabku dengan terbata-bata.


Oh TUHAN aku benar-benar gagal fokus aku di buatnya.


" Kok kamu malah bengong ?bukannya nanyain kabar aku,malah bengong." Ujar Dika dengan tersenyum lembut.


Dika tidak pernah berubah masih sama seperti dahulu selalu perhatiaan kepadaku.


" Oh maaf,aku pangling melihat mu Dika." Ucapku sambil sedikit tersenyum malu-malu.


" Pangling kenapa ??aku masih seperti yang dulu kok An, tidak ada yang berubah." Balasnya sembari tersenyum begitu manis kepadaku hingga aku lupa harga gula pasir sekarang berapa satu kilonya he hee.


" Hmm,,maksudku kamu makin tampan saja Dik.." Jawabku dengan polos, Dika tersenyum lebar mendengar ucapanku, sementara aku masih memperhatikan senyumanya yang benar-benar semakin menggetarkan kembali perasaanku yang telah lama terpendam beberapa tahun lamanya.


" Kamu rupanya sekarang udah pintar menggombal yaa?dan itu membuatku terbang melayang." Balas Dika tersenyum semakin menggemaskan hingga aku lupa perasaan yang seharusnya aku jaga.


" Tapi ini fakta,kamu pulang dari kota seperti boy band korea yang terkenal itu." Ucapku semakin polos.


Dika menggeleng dengan tersenyum geli melihat sikapku.


" Kamu penyuka boy band korea itu ?" Tanyanya tersenyum menggoda.


" Hanya menyukai saja,karena mereka tampan-tampan !" Balasku dengan malu.


" Tampan seperti aku !" Seloroh Dika makin menjadi.


Yaa TUHAN,ujian apa lagi ini ?


Jeritku menatap tak kuasa ke arah senyumannya Dika yang semakin menggula.Aku hanya memesem tanpa berkomentar lagi.


" Oya An,kamu melupakan sesuatu. ?" Tiba-tiba Dika menatapku dengan tajam dan itu membuat aliran darahku berhenti seketika.


" Melupakan sesuatu ?? apa itu.. ?" Ucapku tercengang menatap penuh selidik ke arah Dika.


Dika tersenyum,lagi-lagi candu yang kuraskan.


" Katanya kalau aku pulang kamu akan menungguku di tempat biasa,tapi kok malah Naysa yang ada di tempat itu." Jelas Dika dengan wajah kecewa.


" Masyallah !! aku lupa akan hal itu Dika,aku minta maaf." Ucapku dengan penuh drama, namun dalam hati ingin rasanya aku berhambur memeluknya, betapa bahagianya jika Dika masih menyimpan janjinya itu, tapi bahagiaku terhenti saat teringat Naysa.


Dika terlihat berdehem,melepaskan perasaanya yang tertahan.


" Apa kamu sudah melupakan aku ?" Tanya Dika dengan sorot mata tak biasa.


Dan suasana pun berubah terasa kaku.


" Tidak Dika,tidak seperti itu !!" Selaku dengan raut wajah terlihat penuh sesal.


" Lalu.....?" Tanyanya dengan tatapan penuh tutuntutan.


" Dika,aku lagi banyak kerjaan,jadi aku tidak sempat menemuimu." Ucapku seraya membuang jauh pandanganku,mencoba mengalihkan perasaan ini tat kala Dika mulai mendekatiku.


" Sesibuk itu ???" Tanyanya dengan lembut.


Aku hanya mengangguk,namun Dika sepertinya semakin mendekat ke arahku.


" Maaf Dika,sepertinya Ayahmu sudah menunggu teh-teh ku." Ucapku sembari perlahan mencoba menghindari tatapan Dika yang terus menatapiku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan.


" Anna ! Apakah ada Dika d situ ?" Tiba-tiba juragan Kos muncul lalu menghampiri kami yang berada di belakang rumah.


" Ada apa Yah ?" Tanya Dika menoleh juragan kos.


" Ayo kita pulang,Ayah ada perlu sebentar kerumah Nyai." Seru Juragan kos mengajak pulang Dika.


" Baiklah Ayah. " Balas Dika singkat.


" Anna aku tunggu di tempat biasa ya ! jangan sampai kamu tak datang lagi." Ucap Dika setengah berbisik ke arahku.


Aku terdiam menatapi langakah Dika yang perlahan lahan menjauh meninggalkanku.


" Oya Anna,tolong sampaikan sama Emak kamu, bapak akan ambil sore nanti teh- tehnya ya." Seru Juragan kos menatapku sembari berpamitan.


" Mangga pak juragan.." Sahutku dengan membungkuk penuh hormat.

__ADS_1


Aku hanya bisa menghela napas mencoba kembali berperang dengan perasaanku yang sangat bahagia atas pertemuanku dengan Dika.


__ADS_2