
SENYUMAN yang sering aku bayangkan tatkala jenuh menyergapku, candaan dan tawa yang selalu ku ingat untuk sekedar mengusir rasa penatku jika melanda, dan pujian yang selalu terngiang-ngiang ditelingaku sebagai pelepas rasa lelahku kini muncul bersamaan dalam renung relung hatiku, aku masih ingat akan pesan dulu Dika kepadaku dia akan kembali ke desa ini,dan ketika dia kembali dia akan menunggu di tempat biasa kita bertemu, tempat dimana yang selalu menjadi sebuah pertemuan yang penuh makna dan kenangan itu selalu tersimpan rapih dalam benaku.
Aku berdiri di depan cermin usangku mencoba menyimak akan penampilanku.Aku mengenakan sebuah dres berwarna pich yang sedikit merona,meski warnanya telah memudar namun cukup membuatku merasa nyaman dengan dres tersebut,dan aku yakin jika pertemuan pertama kalinya ini akan begitu sangat berarti dengan Dika setelah sekian lama kita tak bersua.
Dan hal ini pastinya akan sedikit mengobati atas kerinduan yang telah lama mengilang.
Dan tiba-tiba saja aku merasa salah tingkah dengan keadaanku sekarang ini,perasaan grogi hingga gugup tiba-tiba melandaku, panas dingin serta merta membuatku menjadi demam.
Yaa demam antara ingin bertemu namun ada rasa malu yang menyergapku,entah seperti apa wajah Dika saat ini,aku pun tersenyum membayangkan hal itu.
Aku bersyukur sekali jika benar Dika sudah menanti di tempat biasa, akan tetapi jika semua itu tak benar maka harapanku hanya pertepuk sebelah tangan saja.
Sedihkan ???
Dengan langkah yang melambat aku mencoba hentakan perlahan-lahan pijakan kakiku ini hingga terus menapak dengan deru tak karuan di hatiku rasanya pertemuan kali ini tidak membuatku yakin akan berakhir dengan bahagia.
Entah kenapa rasa cemas, hingga sebuah kekhawatiran terus menggelayuti menemani setiap detakan jantungku ini.
Langkahku terhenti dan aku menatap lurus ke arah jalanku,di sela pohon pinus itu aku menatap kaku dan nyaris saja keranjang yang berisikan buah strobery yang kucekal erat terlepas dari gengamanku.
Aku mencoba memperjelas pandangannku,Dika memamng sudah berada di tempat itu,namun dengan di temanin Naysa.
Yaa Naysa berada di samping Dika dengan raut wajah begitu ceria.
Naysa terlihat bercanda ria bersama Dika dan mereka pun terlihat semakin akrab, yaa persahabatan itu sepertinya masih tersimpan utuh di dalam hati Dika serta Naysa.
Raut wajah Naysa terlihat begitu berseri seri dengan sesekali dia bersenda gurau melepas rindu yang sudah lama di rasakannya.Aku mencoba menyimak di balik pohon Pinus yang cukup besar mengahalangiku.
Aku berusaha untuk tidak ikut serta dalam kehangatan mereka dalam melepas rasa rindu.
Tapi.....,kenapa juga aku harus menahan langkahku ini,bukannya aku dan mereka bersahabat,layaknya aku menyambut kedatangan sabahat kecilku dengan suka cita.
Tapi......,aku sadar aku datang dengan penampilan yang sedikit berbeda kali ini,aku tidak ingin Naysa mencurigai akan penampilanku ini.
Ada kecemasan yang menyergapku tentang pikiran Naysa terhadapku,jadi biarlah mereka larut dalam pertemuannya itu.
Aku pun hanya menyaksikan dari jauh dengan berbagai perasaan, menahan untuk tidak merasa cemburu atas sikap mereka berdua, Dika tidak pernah lupa akan janjinya buktinya dia berada di tempat biasa kita berjumpa,namun entah kenapa Naysa tiba-tiba berada ditempat tersebuy.
Pikiranku jauh melayang,sibuk dengan terkaan dan dugaan-dugaan yang ku buat sendiri,aku menggeleng ketika pikiranku semakin meracau,biarlah saat ini hatiku penat dengan beberapa pertanyaan yang berseliweran di kepala.
--------------
__ADS_1
AKU pulang dengan membawa rasa kecewa yang terpendam dalam sudut hatiku, dan batinku sedang perperang melawan logika-logika nakalku yang memancingku untuk berpikiran buruk tentang Naysa dan Dika.
Dan pikiran itu berhasil menghampiriku hingga menguasai diri ini.
Aku berusaha untuk melawan rasa cemburu itu, aku terangkan jika aku, Naysa, dan Dika adalah sahabat dan aku tersadar jika selama ini aku telah mencurangi Naysa dengan mencintai Dika diam-diam.
Bibirku terkatup-katup tatkala rasa cemburu ini kian merasuk dalam batinku rasanya berperang melawan batin ini sangat menyiksa bahkan melawanya berasa seperti menarik sesuatu yang tak bisa aku tarik, hingga sesak teramat sangat menyakitkan dan aku pun berusaha untuk tidak larut dalam perasaan sesat ini.
" Anna !! " Panggilan Nenek mengejutkanku dan hampir saja strobery yang berada di keranjangku tersentak.
" Nenek." Pekikku benar-benar terkejut.
" Loh kok kamu kaget pisan ? ada apa ?" Tanya nenekku dengan tak kalah terkejutnya.
Aku menghela seraya mengusap dadaku dengan lembut.
" Anna lagi bengong tiba-tiba nenek panggil,ya Anna kaget lah nek." Selaku dengan sedikit jengkel. Namun sejenak aku menatap ke arah Nenekku yang sedari tadi menatatapku dari ujung kaki hingga rambut dengan berbagai pertanyaan di benaknya.
" Kenapa nek ?" Tanyaku dengan sedikit meredup
" Kamu teh mau kemana ?" Tanya nenek sambil duduk di sebrangku,ia tersenyum menggodaku dan senyumannya berhasil membuatku malu sendiri.
" Hmm,,, engga kemana mana nek." Jawabku dengan segera mengacak-ngacak kembali penampilanku agar terlihat biasa-biasa saja.
" Kamu cantik banget hari ini neng." Ucap nenek memujiku dan aku pun berhasil tersipu.Berasa benar- benar malu di buatnya aku dihadapan Nenekku.
Aku sadar aku tak pernah berpenampilan serapih ini di hadapan nenekku.
" Hmm... Anna,anna cuman....," Selaku dengan sedikit semaput, entah apa yang harus ku ucapkan agar nenekku berhenti menatapku dengan penuh penasaran.
Nenek masih tetap menatapku dengan penuh rasa kepenasarannya serta tatapannya penuh dengan berbagai pertanyaan.
Oh TUHAN bantu aku untuk bersembuyi dalam perasaan yang sedang ku alami saat ini, rasanya tatapan Nenekku kali ini seakan-akan menelanjangiku dan itu membuatku sangat malu.
Tiba-tiba Nenek tersenyum lembut ke arahku seakan- akan dia tahu apa yang sedang aku alami saat ini.Dan itu membuatku semakin heran.
" Loh kok Nenek malah senyum-senyum gitu." Tanyaku dengan rona wajahnku memerah.
Aku berusaha untuk tidak mengubris kecurigaan nenekku sehingga aku salah tingkah.
" Hihi...hihi... Nenek pernah muda kok Anna." Sambungnya seraya bangkit dan berdiri di depanku. Mendengar ucapan Nenekku perasaanku semakin tidak karuan, Nenekku menatapku penuh dengan penuh selidik bak seorang diktektif yang sedang mencari tahu sesuatu.
" Nenek tahu kamu itu bersahabat dengan anak juragan Kos dan lebih dari itu." Ucapnya begitu jelas, dan itu sedikit membuatku terkejut sekaligus malu yang tak terhingga,jika benar Nenekku mengetahui akan hungungan ini,maka Nenekku sangat hebat bisa memperhatikan sikapku tanpa sepengetahuanku.
__ADS_1
" Nenek." Pekikku dengan suara yang nyaris tertahan.
" Nenek itu bukan siapa-siapa kamu An, dan Nenek itu tau apa yang selama ini kamu sembunyikan dari Nenek." Ucap Neneku dengan lembut membelai rambutku yang masih terurai.
Aku semakin tercengang mendengar penuturan nenekku.
Aah rasanya aku memeluk erat Nenekku dan mencurahkan segala perasaanku yang terpendam dan menumpahkan rasa kegelisahan hati yang sedang bergelayut dalam ketidak nyamananku ini, akan tetapi aku mencoba untuk menahannya berusaha untuk menjaga perasaan ini dan menolak atas dugaan yang sangat lah tepat dari perasaan Nenekku.
" Nenek,Anna hanya berteman saja kok dengan anak juragan kos itu." Selaku mencoba membantah.
Nenekku menatap penuh ketidak percayaannya.
" Semoga kamu tidak sedang berbohong,menutupi perasaan kamu yang sesungguhnya." Ujar Nenek dengan penuh intonasi.
Lagi-lagi ucapan Nenekku membuat aku tak berkutik.
" Lepas tuh,kamu akan merasa tersiksa dengan perasaan kamu sendiri,Nenek bukan seseorang yang bisa kamu bohongi begitu saja." Ucap Nenek dengan menatapku pasti.
Aku tak bisa berkilah lagi,Nenekku memang ahli dalam menebak perasaanku,entahlah...!apa mungkin Nenek tahu akan hubunganku selama ini dengan Dika,atau hanya sekedar praduganya saja,namun yang pasti aku tidak bisa berkilah lagi akan perasaan ini.
Aku menghela lalu menatap dalam nenekku.
" Semoga perasaan Anna ini Naysa tidak akan mengetahuinya nek,Anna tahu perasaan ini salah." Akhirnya aku mengakui perasaan itu.
Dengan sesak aku memeluk erat tubuh Nenekku, hanya Nenekku lah yang benar-benar bisa paham akan kondisiku dan itu membuatku sangat nyaman dan tenang.
Tidak ada rahasia lagi yang kupendam selama ini,semuanya telah Nenek ketahui, tanpa aku harus menjelaskanya sekalipun, perasaan Seorang Nenek begitu peka terhadap cucunya.Setelah itu ada perasaan yang lenyap begitu saja yang mengganjal di ranah batinku.
" Nenek tau itu, tapi jika boleh nenek memberimu sedikit saran, berhentilah berharap terhadap anak juragan Kos, karna kamu harus ingat bahwa kita tidak akan satu evel dengan keluarga mereka Anna." Jelas Nenek dengan suara berat.
Kembali Nenekku mengingatkanku dan kata-katanya langsung menghujam ulu hatiku.
Ya memang aku terlalu yakin jika Dika akan bisa nerimaku apa adanya, tidak kah ku berkaca secara utuh jika aku dengan Dika bagai langit dan bumi mustahil jika aku menggapainya.
kata-kata nenekku berasa penjara untuk perasaan yang aku rasakan saat ini,rasa yang akan menghalangi cintaku yang dulu aku agungkan,rasa kasih yang dulu aku panjatkan agar menjadi do'a untuk bisa bersama, tapi kenyataanya Nenekku dengan tegas menyadarkan aku dalam buayan mimipi yang tidak akan mungkin jadi kenyataan.
" Jangan pernah berharap suatu hal yang tak mungkin bagi kita." Ucap nenekku kembali mematahkan asaku,aku terdiam dengan perasaan yang kian tersakiti.
" Kita harus selalu sadar diri,akan siapa kita ini Anna." Ucap nenek seraya mendekapku erat, lelehan bening tak terasa mengalir di lembah mataku dan perlahan menuruni kedua pipiku, inilah takdirku aku harus sadar itu.
Dan sejatinya aku harus bangun dari harapan semu ini,dan seharusnya aku tidak berharap lebih dari perasaan dulu yang pernah ada untuk seorang Dika.
Aku terisak lembut, Nenekku telah menyadarkan aku dari keyakinan rasa ini, ucapannya yang terlontar dari mulutnya seperti tamparan keras dalam keterlenaanku yang berhayal tinggi tentang sebuah rasa yang kumiliki.
Biarlah untuk saat ini aku kecewa biarlah,, mungkin benar yang pantas untuk bersama Dika adalah Naysa karena mereka satu kasta, mereka satu level tapi tidak denganku, dan rasa ini mungkin akan tetap menjadi rasa persahabatan yang tidak akan pernah merubah menjadi apapun.
__ADS_1