Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA

Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA
TSBUN-Episode 19


__ADS_3

AKU termenung seorang diri seraya memandangi tungku yang masih menyala di hadapanku,perapian itu cukup menghangatkanku dalam dinginnya udara pagi.


Pikiranku masih belum bisa tenang,masih melayang jauh tentang keadaan Naysa yang hingga sampe saat ini belum ada kabarnya.


Kupejamkan mata ini sembari terus kupanjatkan do'a, semoga saja Naysa baik-baik saja.


Aku terus berusaha mengusir perasaanku yang semakin kacau hingga berpikiran burukku tentang Naysa.


Aku menghela napas panjang lalu perlahan membuka mata ini dengan harapan yang besar jika hari ini Naysa telah sadarkan diri.


" Yaa Allah." Desahku begitu dalam.


" Anna, jadi hari ini kamu gak ikut metik dulu ?." Tanya Nenek seraya berdiri di sampingku.


" Sepertinya hari ini Anna tidak ikut dulu Nek,Anna masih kepikiran keadaan Nay terus dan rencananya


hari ini Anna akan ke rumah sakit lagi untuk liat Nay." Jelasku dengan suara parau.


Nenek terlihat menghela merasakan apa yang sedang aku rasakan.


" Semoga saja neng Nay baik-baik saja." Do'a Nenek dengan raut wajah yang sedih.


" Nek, entah kenapa tiba-tiba saja perasaaku takut sekali akan ke adaanya Naysa Nek.." Ucapku lirih.


" Berdo'a saja semoga Allah memberikan yang terbaik untuk neng Nay,berupa kesembuhan." Balas nenek dengan suara tak kalah bergetarnya.


" Amiin..!!" Jawabku penuh haru.


" Dan semoga saja Dika mau mencintai Nay Nek.." Ucapku menatap Nanar ke arah Nenek yang tau percis akan keadaan perasaanku saat ini.


" Nenek teh yakin jika kamu pasti bisa melakukan hal itu,walau menyakitkan tapi nenek tau,kamu pasti kuat." Ungkap Nenek sambil mengusap-ngusap kedua pundakku.


Runtuh rasanya semua pertahananku ketika Nenek berusaha menguatkanku,nenek begitu yakin aku akan kuat,namun sesungguhnya aku hanya berusaha tegar saja,betapa rapuhnya hati ini jika harus merelakan perasaan itu begitu saja.


dan aku pun mencoba untuk menahan agar apa yang menjadi pikiranku tidak membuatku menangis.


" Iya nek,aku sangat sedih mendengar cerita Nyai semalam Nek,ternyata Nay sudah banyak cerita tentang Dika ke Nyai." Ungkapku pelan.


" Neng Nay dan den Dika itu sepadan An,juragan Kos orang kaya ,Nyai pun begitu dan mereka sepadan dengan keadaan orang tuanya masing-masing." Imbuh Nenek menambahkan dan itu semakin membuatku semakin kerdil.


" Itu benar nek." Jawabku pelan.


" Ya sudah Nenek berangkat dulu ya ke bukit, hati-hati nanti pergi kerumah sakitnya." Pamit Nenekku seraya menepuk-nepuk pundaku dengan lembut.


" BaikNek." Jawabku menggangguk.


" Kamu akan berangkat dengan siapa ?" Tanya Nenek menoleh ke arahku.


" Sendiri saja nek." Jawabku seraya menuanhkan air panas ke dalam sebuah termos.


" Kalau tidak kamu kerumah Nyai saja dan minta anter sama mang sarif." Usul Nenek seraya menaikan keranjangnya ke pundaknya.


" Tidak usah nek,sepertinya aku naik angkot aja.." Ucapku sembari merapihkan peralatan masakku.


" Oh,ya sudah kalau begitu Nenek pergi dulu ya." Pamit Nenek sembari melangkah keluar.


" Hati-hati ya Nek,," Ucapku sembari tatapanku mengantar Nenek keluar, Nenek hanya tersenyum lembut ke arahku.


 


Hari sudah cukup siang aku pun bergegas hendak pergi ke rumah sakit, setelah aku siap mengunci pintu rumahku,aku pun melangkah menuju ke tepi jalan dan berniat untuk menunggu angkot lewat,akupun berdiri di sana cukup lama menanti Angkot lewat.


Namun tiba-tiba saja sebuah kendaraan motor berhenti tepat di hadapanku.


Aku mengernyit ke arah pengendara motor tersebut.


Seseorang itu membuka helmya dan wajah dibalik kaca helm itu tersenyum padaku.


" Panji !!" Desisiku pelan.


" Hai Na !" Sapanya dengan ramah.


" Kamu Nji.." Balasku tersenyum.


" Mau kemana Na ?" Tanyanya sambil mencopit helmya.


" Aku mau kerumah sakit !"


" Siapa yang sakit ?" Tanya Panji penasaran.


" Nay,kemaren dia masuk rumah sakit."


" Oya, sakit apa dia ?" Tanya Panji terlihat khawatir.


" Aku belum tau pasti Nay saki apa ?" Jawabku singkat.


" Terus kamu lagi ngapain disini ?"

__ADS_1


" Nunggu angkot lah ."


" Aku antar saja ya.." Ujar Panji menawarkan kebaikannya kepadaku.


" Tapi..." Selaku tak lantas.


" Ayolah,, sekalian kita pergi bersama untuk menjenguknya." Ujar lagi Panji menatap serius.


" Tapi aku naik angkot saja Nji." Aku tetap menolaknya.


" Ayolah Na !! sekalian saja kita pergi bersama." Ajak lagi Panji memaksa.


Sejenak aku pun berpikir,dan kenapa tidak bareng saja itu bisa membuatku aman juga jiga pergi dengan dia.


" Baiklah.." Balasku setelah hasil pertimbanganku.


Dan akupun memutuskan untuk ikut bersama Panji menaiki motornya menuju rumah sakit.


Tak butuh waktu lama aku dan Panji sudah sampai di rumah sakit.


Aku dan Panji berjalan beriringan menuju ruangan tempat Naysa di rawat.


Aku sangat berharap dapat kabar baik tentang Naysa, Panji berjalan mengiringiku.


Ketika aku dan Panji sudah sampai di depan ruang rawat Naysa, Nyai muncul dari balik pintu hendak keluar.


" Nyai !! gimana kabar Nay ?" Tanyaku dengan cepat setibanya Nyai di luar, wajah Nyai terlihat sedikit lebih terlihat ceria di bandingkan dengan kemaren, aku berharap dapat kabar baik tentang Naysa.


" Alhamdulillah Nay sudah siuman,tapi dia harus banyak istirahat dulu." Ucap Nyai tersenyum lega.


Aku menghela merasakan perasaan yang begitu lega mendengar kabar baik tersehut.


" Alhamdulillah, syukurlah aku senang sekali mendengar kabar ini." Ucapku dengan perasaan lega.


" Maksih banyak ya An kamu sudah ikut mendo'akan yang terbaik untuk Nay.." Ujar Nyai tersenyum hangat.


" Sama-sama Nyai,sudah seharusnya saya ikut mendoakan kesembuhan Nay." Bapasku dengan penuh haru.


" Sekali lagi,makasih banyak ya An." Ucap lagi Nyai sambil merangkul kedua pundakku dengan begitu bijak.


" Aku boleh masuk Nyai ?" Tanyaku ragu.


" Tentu dong Anna, kebetulan di dalam ada Dika juga ." Sela Nyai tersenyum ramah.


Namun cukup terkejut ketika mendengar kalimat yang di ucapkan Nyai akan beredaan Dika di dalam sana, namun aku tetap harus terlihat baik-baik saja untuk tidak gaduh perasaan Nyai.


Aku menoleh ke arah Panji,panji tersenyum tak pasti ke arahku.Entah rasa bahagia atau cemburukan yang tiba- tiba kurasakan saat ini.


Sejurus aku menjulurkan kepalaku untuk melihat kedalam ruangan tempat Naysa di rawat aku memastikan jika Dika benar-benar ada di dalam sana.


Benar saja Dika nampak sedang duduk di samping Naysa yang terlihat masih lemas dengan wajah pucat.


" Masuk saja atuh An ! " Sela Nyai sembari membagikan pandangannya ke Panji.


" Iya Nyai,nanti jika Dika sudah keluar,tidak baik juga jika kita berada rame-rame di dalam sana." Selaku pelan.


" Oya,ini kenalkan Panji Nyai,teman Anna dan Nay juga !" Ucapku baru tersadar jika dari tadi Nyai memandangi terus ke arah Panji.


" Oh ya,saya neneknya Nay,nak Panji." Balas Nyai dengan ramah.


" Saya Panji Nyai." Sahut Panji penuh hormat.


" Dulu satu sekolahan kalian ?" Tanya Nyai menatapku penuh selidik.


" Tidak,kami beda sekolahan,cuman sering berjumpa saja dengan Anna mau pun Nay." Sahut Panji segera menjelaskanya.


" Oh,baiklah kalau begitu Nyai tinggal dulu ya, tolong jagain dulu Nay,Nyai ada urusan sebentar." Ujar Nyai dengan sikap ramahnya.


" Baik Nyai." Balasku sambil menggangguk pelan.


Nyai melangkah meninggalkanku dan aku masih terdiam menatap langkah Nyai yang menuju lorong gedung tersebut.


" Kita masuk apa nunggu dulu di luar ?" Tanya Panji mencolekku.


" Sebaiknya kita tunggu Dika keluar saja." Balasku sambil duduk di kursi yang sudah di siapkan untuk menunggu pasien di luar


" Tapi,sebaiknya kita masuk saja,bisa saja Dika lama di ruangan sana,lagian Dokter tidak melarang banyak untuk menjengkuk pasieunya,hanya tiga orang saja." Ajak Panji sambil menolehku.


Aku terdiam mencoba mempertimbangkan usulannya Panji.


"Hmm.. baiklah !!" Ucapku menyetujui ajakannya Panji.


Beberapa saat kemudian aku pun perlahan membuka pintu ruangan tersebut.


" Assalamualaikum Nay." Sapaku dengan tersenyum ke arah Naysa,Dika menoleh setelah mendengar suaraku,awalnya dia senyuman lembut menyambut kedatanganku namun tiba-tiba senyumannya tertahan seketika setelah melihat panji berada di belakangku.


" Walaikumsalam Anna." Balas Naysa dengan suara yang masih lemah, nyaris tak terdengar.

__ADS_1


Dengan cepat aku segera mendekat ke arag Naysa.


" Syukurlah kamu sudah siuman,aku cemas dengar kamu pingsan." Seruku sembali memegang erat tangannya yang masih tertancap sebuah infusan.


Naysa tidak menjawab dia hanya tersenyum lesu menatapku.


" Aku yakin kamu akan baik-baik saja." Ucapku sembari tetap menatap lekat ke arah Naysa.


" Dika menemaniku dari tadi An." Ucap Naysa sambil melirik Dika yang duduk di sampingnya.


" Aku senang melihatnya." Balasku dengan tersenyum lega.


" Hai Dik kamu udah lama ?" Tanyaku mengalihkan pandangan ke arah Dika lalu aku tersenyum dengan kaku.


" Ya. " Jawabnya singkat.


" kenapa kamu gak ngajak ngajak aku jika mau ke rumah sakit, kan aku bisa nebeng." Ucapku seraya bercanda dengan tersenyum hambar.


Dika terlihat mendecih sinis ke arahku.


" Kan ada Panji sekarang." Balas Dika sedikit jutek.


" Aku hanya kebetulan saja bertemu dengan Anna Dik,dan dia lagi nunggu angkot tadi itu,jadi aku tawarin untuk pergi bersama menjenguk Nay kerumah sakit, gimana keadaanmu Nay ?" tanya Panji sambil menghampiriku dan menatap panjang ke arah Naysa,


" Aku baik-baik saja." Balaa Naysa hanya tersenyum.Panji menoleh ke adah Dika lalu ia melempar senyuman hangat, namun sayang Dika membalasnya dengan senyuman terpaksa ,aku melihatnya hanya mencoba diam dan tidak ingin terpancing dengan sikap tidak sukanya Dika terhadap Panji.


" Badanku serasa sakit semua An.." Ucap Naysa lirih.nyaris suaranya tak terdengar.


" Mungkin kamu kecapean" Selaku cepat.


" Tapi aku tidak habis darimana-mana An,apa aku kemaren-kemaren abis dari kebun mawar itu kali ya ? Tanya Naysa dengan terbata bata."


" Bisa jadi Nay,dan itu artinya kamu memang tidak bisa main jauh-jauh Nay." Ucapku sambil terus menatap lekat wajah pucatnya Nay.


" Oya,ini buat kamu Nay." Ucap Panji seraya menyimpan sekeranjang buah di atas nakas.


" Makasih ya pan,kamu sudah repot-repot jengkuk aku." Sela Naysa terdengar lemas menatap Panji.


" Tidak apa-apa Nay,aku tidak merasa kerepotan kok menjenguk kamu,tapi maaf aku tidak bisa lama- lama nih,soalnya masih ada urusan lain.Semoga kamu cepat sembuh ya Nay.." Ucap Panji sembari membagikan pandangannya ke arah aku.


" Aamiin !! makasih banyak do'anya yahh Pan." Balas Nay sedikit parau.


" Sama-sama Nay.Oya Na,kamu pulang sendiri gak papa ?soalnya aku tak bisa mengantar kamu pulang." Ucap Panji menatapku lekat.


" Gak papa,kamu duluan saja,aku mah gampang bisa naik Angkot." Balasku tersenyum enteng.


Dika melengos mengalihkan tatapannya dengan tak senang hati atas sikap Panji terhadapku.


" Dik aku duluan ya." Pamit Panji sembari menepuk pundak Dika, Dika hanya mengangkat jari jempolnya seraya bilang ok.


" Makasih ya Nji !" Selaku lagi,Panji pun hanya mengangguk seraya berlalu.


Sejenak hening.


" An,seperti aku merasakan sesuatu yang sangat sakit di seluruh tubuhku ini ." Ucap Naysa memecah keheningan,ia menatap Nanar kearahku.


" Apa yang membuatmu sakit,,?" Tanya Dika menatap cemas Naysa.


" Badanku terasa sakit semua dan kepalaku ini terasa berdenyut-denyut." Ucap Naysa dengan suara kian lemah.Matanya menerawang ke langit ruangan tersebut.


" Semuanya akan baik-baik saja." Selaku sembari menoleh Dika yang masih tetap menatap dalam Nay.


" Kemarin itu aku tak ingat apa-apa,dan tau- taunya aku sudah di sini saja." Jepas Naysa sambil memegangi kepalanya dengan meringis kecil.


" Sebaiknya kamu istirahat saja ya Nay." Ucapku dengan perasaan tak menentu.


" Apa yang sebenarnya kamu rasakan Nay ?" Tanya Dika seraya meraih tangan Naysa lalu mengenggam tangannya.


Aku melihat itu dan itu berhasil membuatku terasa semakin tak karuan,perlahan aku membuang pandanganku dan mengalihkan perasaanku untuk tidak menghiraukan perasaan cemburuku tersebut.


" Entahlah,sekujur tubuhku terasa ngilu dan sakit,dan rasanya penat saja ,aku penasaran dengan penyakitku ini An,Dik.Karena pagi itu tiba-tiba aku ngerasa panas dingin dan badanku sakit semua lemas tak bertenaga setelah itu hidungku mimisan dan aku tidak tau apa apa lagi." Jelas Naysa dengan suaranya kian terbata.


" Sudahh ya Nay ! kamu jangan banyak pikiran dulu,semua akan baik-baik saja.Percayalahh !!" Selaku seraya membelai lembut rambutnya Naysa,aku berusaha menenangkan pikirannya.


" Tenang saja Nay,aku akan cari tau sakitmu apa ." Ujar Dika dengan begitu entengnya.


Aku tersentak atas perkataan Dika tersebut,jelas saja itu membuat aku tak setuju.


Aku menatap tajam ke arah Dika,lalu tak sadar Dika menatapku kembali,tak mau melewatkan kesempatan aku segera memberi isyarat kepada Dika untuk tidak menlanjutkan ucapannya.


" Nay,aku yakin jika kamu itu baik-baik saja." Selaku cepat mencoba mematahkan usulannya Dika.


Dika terdiam seengganya Dia paham dengan isyaratku untuknya.


" Makasih banyak ya Dik, An ! kalian sahabat terbaikku." Ungkap Naysa dengan suara lirih,dan kedua matanya terlihat berkaca-kaca.


" Aku selalu berdo'a atas kesembuhanmu Nay.." Selaku dengan tersenyum, dengan bersamaan aku dan Dika saling bertatapan lalu saling menggenggam erat tangannya Naysa yang masih terbaring tak berdaya.

__ADS_1


Aku berharap Naysa tidak lagi mempertanyakan atau pun mempersalahkan lagi tentang penyakitnya tesebut.


__ADS_2