Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA

Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA
TSBUN episode 02


__ADS_3

HARI semakin terasa kian panas dengan langit berwarna biru yang beriringan dengan awan putih membungbung tinggi bersanding dengan teriknya matahari.


Panas matahari menebar keseluruh perbukitan teh yang terhampar luas,sinarnya yang begitu menyengat menjadi teman di kala seharian aku melakukan aktivitas tersebut.


Berulang-ulang aku dan nenek mengumpulkan teh dari keranjang ke keranjang lainya lalu di alihkan ke karung putih yang besar.


Seperti itulah rutinitas setiap hari ku,tanpa ada rasa bosan dan jenuh.Itu semua ku lakukan demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah.


" Anna !!"


Panggil seseorang dari belakangku, aku menoleh dan memastikan suara siapa yang memanggilku.


Di lihatnya gadis cantik berambut ikal melambaikan kedua tangannya ke arahku dengan wajah begitu ceria.


" Nayy !!" Seruku dengan sangat bahagia.


Tanpa pikir panjang lagi aku segera menghampiri gadis cantik itu yang tiada lain adalah Naysa sahabatku.


Naysa berdiri di antara sela pematangan perkebunan teh, aku yang kaget bercampur sekaligus bahagia melihat kedatangan Naisya segera memburunya.


" Anna !Aku kangeen." Teriaknya seraya hendak memeluku.


Sejenak aku terhenti sesaat tersadar akan ke adaanku yang kotor serta berpeluh.


Aku menahan langkahku dengan canggung.


" Badanku bau." selaku pelan.


" Apaan sih kamu !" Ucap Naiysa sambil segera memeluku dengan tak segan-segan.


" Gimana kabarmu.?" Tanyanya dengan ceria.


" Alhamdulillah sehat Nay.Kamu ?" Tanyaku balik sambil melepaskan pelukan nya Naiysa.


" Seperti yang kamu lihat,Aku baik-baik saja bukan." Ucap Naysa tersenyum hangat.


Aku teringat akan kondisi Nay pada saat itu.


" Tapi kenapa kamu kesini ?kamu kan....?" Tanyaku mengantung.


" Aku kangen kamu atuh An,gak boleh aku datang kesini ? " Sela Naysa tersenyum simpul.


" Iya tau.Tapi ketempat ini teh lumayan jauh." Selaku dengan cemas.


" Tenang,tadi aku ikut mang sarif naik mobil baknya dia.hii hii hii." Ucap Naysa di akhiri dengan tertawa kecil.


" Yaa ampyun ! kamu mah ada-ada aja ikh bukannya istirahat kek di rumah." Ucapku kesal bercampur rindu.


" Hii hii hii,saking aku kangen nya sama kamu An,jadi gak sabar pengen cerita-cerita banyak sama kamu." Jelas Naiysa sambil tersenyum bahagia.


" Yuk kita ke saung aja di sini panas." Ajakku sambil menggendeng Naysa berjalan menuju saung tempat beristirahat.


" Eh emak mana ?" Tanya Nay sambil clingukan mencari nenekku.


" Emak di sana,tuh lagi metik teh." Ucapku seraya menujuk ke arah barat.


" Aku bosan baru tinggal beberapa bulan di jakarta An." Ujar Nay terlihat merengut.


" Tapi kan kamu biar sembuh di sana Nay." Selaku cepat.


" Iya tapi di sana teh gak ada teman untuk cerita atuh An." Jelas Nay dengan ekspresi wajah penuh kesedihan.


" Hii hii...,biasanya kamu di sini aku temenin jika cerita hingga sampai pagi,malahan sampe-sampe aku gak tidur dengerin kamu cerita dan alhasil aku suka ketiduran di saung pas lagi metik teh." Ucapku mengenang kembali ke masa-masa dulu itu.


" Hii hii...,abisnya kalau sudah cerita serruu ya ?" Sela Naiysa terlihat begitu sangat ceria.


" Memangnya kamu teh punya cerita apa ?" Tanyaku dengan penasaran.


" Banyak.Pokonya aku ingin cerita banyak." Balasnya menatapku cemerlang.


" Terus ?" Tanyaku menatap curiga karena aku paham dengan bahasa tubuh Naiysa yang ingin mengajakku untuk mendengarkan ceritanya.


" Tar malam kamu nginep di rumahku ya !" Seru Nay dengan tersenyum lebar.


" Tuh kan." Balasku pelan dan dugaanku ternyata benar.


" Ayolah !!" Rengek Naysa seperti anak kecil yang merengek ke orang tuanya untuk meminta mainan baru.Aku menghela.


" Tapi.," Selaku datar.


" Kamu udah bosan yaa dengan cerita-ceritaku ?" Ucap Nay dengan merengut manja.


Aku terdiam lalu menatap panjang Naiysa yang sedang menatapku penuh harap.


" Iya deh aku tar nginep di rumahmu." Balasku dengan tersenyum pasti.


" Bagus." Ucap Naiysa dengan begitu riang.

__ADS_1


Aku menatap dalam ke wajah cantiknya Naiysa ada kebahagian yang tersirat begitu dalam di benaknya,aku dan dia memang selalu berdua kemanapun kita pergi meskipun Naiysa cucu dari pemilik perkebunan teh ini tapi dia tidak pernah merasa sombong,apa lagi membeda-bedakan ke adaanku.Perlakuan ia teramat sangat baik terhadapku dan dia lah sahabat yang terbaik yang pernah aku miliki.


" Eh ada neng Naiysa." Tiba-tiba nenekku menghampiri kami.


" Iya emak." Ucapnya tersenyum sijmpul.


" Kapan dari jakarta ?" Tanya nenek sembari duduk di sampingku dan menyeka dahinya dengan ujung kain yang melingkar di kepalanya.


" Nay b?aru saja tiba mak dan Nay langsung kesini soalnya udah kangen sama Anna mak." Jelas Naiysa bawel.


" Kalian memang gak mau jauhan." Ucap nenekku sambil menuangkan minuman di cawan bambunya.


" Kita Bff mak." Sela Naiysa tersenyum.


" Apa itu Bff ?" Tanya sang nenek ku polos.


" Best friend forever." Jelasnya.


" Mak mah gak ngerti atuh bahasa gituan." Imbuh sang nenek semakin polos.


Aku dan Mona tertawa melihat kepolosan nenekku.


" Neng nay sudah makan ?" Nenek menoleh ke arah Nay.


" Sudah mak.Nay langsung kesini ingin segera ketemu sama Anna." Ucap Nay seraya melirikku manja.


" Sebaiknya Neng teh istirahat dulu atuh.Kenapa langsung kesini kasian nanti neng cape." Ujar sang nenek mulai cemas.


" Tidak apa-apa mak." Sergah Nay lincah.


" Yuk makan atuh neng !" Ajak kembali nenek seraya mengeluarkan rantang berisi makanan.


Nay melongo ke arah isi rantang tersebut lalu ia pun tersenyum bahagia saat melihat makanan yang nenek buat ada kesukaannya.


" Kebetulan nih mak,Nay kangen sama masakannya emak pasti masakan emak enak,ya gak An ?." Ujar Naiysa menatap ku ceria.


Aku hanya mengangguk penuh semangat lalu kami pun bertiga menyantap makan siang kami dengan lahap makanan yang sudah di siapkan oleh nenekku sepagi tadi.


_________


SEPERTI yang di minta oleh Naiysa akupun bersedia menginap di rumah Naiysa yang megah dan luas itu.Aku pun di bawanya kekamar Nay yang luasnya seperti lapangan pustal, semua pajangannya begitu tertata rapih dan cantik.


" Sini deh An !kamu ngapain di situ." Ucap Naisya menyuruhku untuk duduk di atas kasurnya.


Dengan hati-hati aku menghampiri Naiysa yang sedari tadi duduk sambil mengotak ngatik gawai mahal miliknya.


" An !Dika kok gak ada kabarnya ya ?" Tanya Nay sambil menolehku.


" Apa kabarnya dia ya ?" Tanya Naiysa dengan menatapku penuh tanya.


" Terakhir aku dengar kabar dia kuliah di BANDUNG An." Ucapnya lagi Nay sambil terus asik mengotak ngatik gawainya tersebut entah apa yang sedang di carinya itu.


" Apa lagi aku Nay.Aku tidak tau sama sekali tentang keadaan Dika kaya gimana." Balasku dengan suara datar.


" Kangen ya ke masa kecil kita dulu." Ucap Naiysa sambil menolehku.


" Tau gak Nay ? kalau aku jadi pindah kuliah ke JAKARTA nanti pastinya aku bakalan kangen akan masa-masa seperti ini." Ucap Nay dengan nada bicara penuh penekanan.


Aku terhenyak mendengar penuturan Nay yang akan pindah kuliah ke JAKARTA.


" Apa ?kamu mau pindah kuliah ?" Tanyaku dengan kaget.


" Sepertinya.Karena ambu sama abah bilang seperti itu biar aku tidak bolak balik untuk berobat, mungkin mereka juga capek harus bolak-balik periksa kesehatanku An." Jelas Nay dengan wajah mulai terlihat sedih.


" Tapi kamu sudah tau,kamu sakit apa Nay ?" Tanyaku dengan cemas.


" Ambu belum ada bilang tentang hal itu sama aku An, katanya aku sehat-sehat saja." Jawab Naysa tersenyum hambar.


" Mudah-mudahan saja kamu baik-baik saja Nay." Ucapku dengan nada datar,ada rasa cemas menyelinap dalam hatiku bila harus membahas tentang apa sakitnya yang di rasakan oleh Naiysa akhir-akhir ini.


Naiysa bercerita banyak malam ini aku dengan setia mendengarkan semua ceritakannya Nay walaupun mata ini sudah mulai naik turun rasanya,namun tetap aku paksakan untuk tetap menyimak dengan penuh antusias akan ceritanya Naiysa tersebut.


________


AKU terbangun ketika sinar mentari mulai menghangatkan suasana kamar Nay yang dingin karena Ac,sinar mentari itu menerobos melalui celah-celah tirai jendela kamarnya Naysa yang tidak tertutup sempurna, lalu perlahan-lahan aku pun membuka mata ini mencoba menyimak apa yang sedang aku lihat saat ini.Dan aku pun tersentak kaget sehingga nyaris terloncat dari tempat tidurnya Nay.


" Yaa ALLAH Nay !!" Pekiku kaget menatap klimpungan.


" Aduh..,ada apa sih an,gak usah teriak-teriak dong.?" Tanya Naiysa yang ikut terjaga mendengar teriakanku yang cukup keras.


" Aku kesiangan Nay dan nenekku pasti sudah pergi ke perkebunan sendirian." Seruk seraya duduk di tepi ranjang Naisya.


" Kamu libur aja sih sehari,kan gak apa-apa ?" Sela Naiysa seraya menggeliatkan badannya begitu nikmat.


" Tapi Nay," Selaku menggantung.


cek lek...

__ADS_1


Tiba-tiba gagang pintu kamar Naiysa tergerak lalu pintu itu pun terdorong menampilkan Nyai yang menyembul dari balik pintu tersebut.


" Pagi semuanya !!" Sapa Nyai dengan tersenyum hangat,sehangat senyumannya mentari di pagi hari yang mampu menghangatkan suasana pagi ini.


" Nyai..." Pekiku dengan ragu.


" Tidak usah takut atuh An,tidak apa-apa kamu gak metik teh hari ini." Ucap Nyai yang tau akan kondisi hatiku saat ini.


" Tapi saya teh tidak enak sama nenek Nyai." Selaku pelan.


" Tidak apa-apa atuh,nenek kamu ngertiin kok.Ayo sarapan pagi dulu bibi Ema sudah menyiapkan sarapan buat kalian." Ucap Nyai penuh dengan kelembutan.


" Iya nyai,nanti aku sama Anna turun." Sela Naiysa sambil menghepaskan kembali tubuhnya ke kasur empuknya tersebut.


Tak lama Nyai pun meninggalkan kita berdua, aku hanya menatap kaku ke arah Naiysa,betapa beruntungnya hidupnya Naiysa yang bergelimpang harta hingga tak kekurangan apapun.Aku hanya bisa menghela napas mencoba untuk tidak larut dalam kekuranganku ini.


____________


PAGI ini aku sudah kembali bersiap-siap untuk memulai pekerjaanku memetik teh setelah beberapa hari ini aku di minta Nay untuk menemaninya sekedar jalan- jalan bahkan menemaninya mendengarkan semua cerita tentang dia selama ada di Jakarta.


" Nek ayo ! sudah mulai terang ni nek." Ucapku sambil membetulkan tali keranjangku yang terlihat panjang sebelah di pundak kananku.


" Iya iya.Sebentar nenek lagi Tuangin air panas dulu." Sahut nenekku dari dalam dapur tak kalah kencang.


Lalu beberapa menit kemudian nenek sudah berada di sampingku dengan wajah penuh semangat.


" Ayo atuh !" Ajak nenek sambil tersenyum ke arahku.


" Mudah-mudahan hasil petikan hari ini banyak ya nek." Ucapku seraya melangkah.


" Aamiin.Kita juga sehat yang metiknya."Nenek menimpali seraya berjalan mendahuluiku.


Sepanjang perjalan aku terus terdiam hanya berbicara dalam hatiku ini,seolah-olah hati ini terus berdo'a agar kelak nenekku bisa hidup bahagia tanpa harus melakukan pekerjaan seperti ini lagi.


" Nay !emak !."


Tiba-tiba suara lembut menyeruku dari belakang.


Hampir dengan bersamaan aku dan nenek menoleh kearah datangnya suara itu.Naiysa menghampiriku dengan senyumanan khasnya itu.


" Nay ?" Pekikku heran.


" Aku ikut ya ?" Ucap Nay menggandeng tanganku.


" Ikut kemana ? " Tanyaku semakin heran.


" Ikut sama kalian atuh." Jawab Nay dengan semeringah.


" Ikut ke perkebunan neng ?" Tanya Nenek memperjelas.


" Iyah mak." Jawab Nay menyeringah.


Aku dan Nenek saling bertatapan satu sama lain.


Yang benar saja dia ikut berjalan ke perbukitan yang jauh itu,pikirku sesaat.


" Aduh jangan lah Nay,nanti kamu cape ikut sama kami." Sergahku dengan cemas.


" Ahh...,aku bosan di rumah terus,lagian aku udah ijin kok sama Nyai jika aku ingin ikut kalian ke perkebunan." Jelas Nay dengan lincah.


" Tapi Nay,perkebunan teh itu jauh,nanti kamu kecapean." Aku tetap menolak permintaan nya Nay.


" Ah sudahlah !dulu juga kita sering main di sana masa udah gede kaya gini gak kuat menempuhnya." Balas Nay dengan keras kepalanya ingin ikut bersama kami.


Tapi keadaan dulu beda Nay,kamu sehat dan akh.....,aku merasa semakin cemas jika ingat hal itu.


" Tapi,tapi Nay." Ucapku lagi-lagi berusaha mencegah ke inginan Nay yang keras kepala itu.


" Ayolah,please !! " Rengek Naiysa sambil berjalan mengdahuluiku,aku dan nenek saling menatap bingung sekaligus tak berdaya atas keinginannya Naiysa.


Aku berusaha mengabaikan perasaan cemasku dan mengijinkan Naiysa ikut bersama ku.


Setengah perjalanan telah di lalui aku pun melihat langkah gontainya Naiysa.Dengan cepat aku pun segera mengikuti langkahnya dan berusaha membututinya lebih dekat,dan benar saja, tiba-tiba perasaan cemas yang menggelayuti perasaanku kini semakin beralasan.Ada rasa takut yang hadir dalam pikiranku terhadap ke adaan Naiysa saat ini.


" Nay !" Panggilku pelan ketika melihat Naiysa mulai bercucuran keringat.


" Huuuh !!"


Ucapnya lirih.


" Kamu cape neng ?" Tanya neneku dengan suara lembut menolehkan kepalanya ke arah Nay yang mulai terlihat ngos ngosan.


" Tidak mak,cuman pegal doank kakinya Nay mak." Jawab Nay seraya menjinjitkan kedua kakinya berjalan penuh semangat.


" Neng mendingan jangan di paksain atuh,nanti neng gimna-gimana lagi." Ucap nenek dengan menatapnya cemas.


" Emak tenang aja,aku dari kecilkan udah terbiasa main keperkebunan teh,masa sekarang udah besar malah gak bisa aneh kan?" Balas Naysa tetap dengan alasaanya.

__ADS_1


Aku hanya terdiam berusaha mendamaikan perasaanku dengan menatap ke arah Naiysa yang begitu asik menikmati perjalanan menuju puncak perkebunan teh.


*Bersambung*


__ADS_2