Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA

Tunjuk Satu Bintang Untuk NAIYSA
TSBUN episode 04


__ADS_3

AKU masih membisu dengan pikiran yang masih melayang-layang jauh tidak karuan.Ingatanku masih tertuju akan kondisinya Naiysa yang masih belum juga sadarkan diri.


Gelisah ini tidak ada ujungnya, terus-menerus menghantui pikiranku yang belum bisa menenang.


Nenek ikut termenung memikirkan keadaan Naiysa raut wajahnya penuh dengan kecemasan,sesekali dia menengok ke arah dalam rumah yang megah tersebut berharap Nyai datang membawa kabar baik tentang Naiysa.


Berkali-kali raut wajah Nenek terlihat cemas dengan tidak menghiraukan keadaan dirinya yang masih keadaan lusuh sehabis pulang dari bukit teh tadi.Ia tidak menghiraukan akan di sekitarnya, begitupun aku masih dalam keadan badan berpeluh serta pakaian yang di pake pun masih terlihat lusuh.


Nyai menyembul dari arah pintu ruangan, wajahnya masih di liputi kecemasan.


" Nyai.Gimana keadaan Neng Nay ?" Seketika Nenek langsung menghampiri Nyai yang menemui kami di ruang tamu dengan kecemasan yang teramat dalam,Nyai nampak mengela dan membagikan pandangan ke arah kami.


" Mak War,Nay baik baik saja kok." jawabnya lirih. Tapi aku melihat sekilas keresahan yang begitu amat dalam benaknya.


" Kami minta maaf ya Nyai, sudah membuat Neng Nay jatuh sakit." Ucap nenek dengan suara bergetar.


" Tidak apa Mak War itu bukan kesalahanmu, Nay memang susah di bilangin." Balas Nyai tersenyum lembut.


" Tapi jika kami tidak membawanya ke bukit,pastinya Nay tidak akan seperti ini Nyai,kami salah." Nenek meradang,ia merasa bersalah atas kejadian ini, sedangkan aku tidak ikut berbicara hanya menyimak dengan penuh kecemasan.


" Tidak Mak War, tidak ada yang salah dalam hal ini,itu memang kemauan Nay ikut sama Mak dan Anna, lagian dia ada pamitan kok sama saya " jelas Nyai terlihat begitu bijak.


" Nyai saya khawatir dengan keadaan Neng Nay." kembali nenek berucap penuh dengan rasa sedih.


" Sudah tidak apa-apa,lagian Nay sudah di tanganin kok sama dokter pribadinya." Ucap Nyai dengan lembut.


Kemudian Nyai menatapku sedih dan tiba-tiba saja aku menangkap sorot mata yang berbeda dari biasanya.Nyai terlihat begitu dalam menatapku.


Ada apakah ini ?


hatiku mulai bertanya-tanya.


Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu hal yang sedang di pendam oleh Nyai dan sesuatu yang di rahasiakannya.


Aku mencoba untuk memancing apa yang sedang Nyai rasakan saat ini dengan tatapanku sendiri.


" Anna "


Panggil Nyai menatapku haru,sejadi-jadi jantungku berdebar tidak karuan,seakan-akan tau apa yang akan di bicarakan oleh Nyai tentang Naiysa kepadaku.


" Iya Nyai." sahutku cepat.


" Nyai yakin kamu adalah sahabat terbaik Nay, Nyai berharap kamu bisa menjaga Nay ." Ucap Nyai terdengar begitu lirih, namun cukup membuat hati dan perasaanku berdesir.


" Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Nay Nyai ? " Tiba-tiba aku memberanikan diri untuk bertanya perihal keadaan Naiysa.


Sejenak Nyai terlihat menghela napas panjang, mungkin itu terasa berat bagi dirinya yang kini sedang di rasakannya.Ada lelehan bening yang membayangi bola matanya secara tiba-tiba.

__ADS_1


Dan itupun tidak terasa aku merasakan hal yang sama,begitu berat napas ini tatkala melihat perubahan dari raut wajahnya Nyai.


Aku dan Nenek saling bertatapan mencoba untuk menegarkan hati ini tatkala mendengar yang sesungguhnya tentang ke adaan Naiysa.


" Naiysa mengidap penyakit Leukimia stadium 3 An." Ucap Nyai cukup jelas.


Darahku berdesir terasa begitu cepat, kepalaku tiba- tiba terasa berat,bak menanggung beban berton-ton. Aku beserta nenek terkejut bukan main,setahu aku penyakit yang Naiysa idap adalah penyakit yang sangat membahayakan,meskipun aku tak sempat sekolah hinggi jenjang lebih tinggi tapi setidaknya aku pernah tau tentang penyakit kangker darah itu.


Mungkin istilah dokternya adalah Leukimia.


Persendian ini tiba-tiba terasa ngilu semua yang kurasakan, tenagaku seketika menghilang.Dan Nyai masih menatapku dengan pandangan yang penuh duka,dan benar saja tiba-tiba kedua pipinya sudah terlihat basah.


Nenekku pun terdiam entah apa yang sedang dipikirkanya.


Rasanya aku terpukul dengan kenyataan yang sesungguhnya ini.Bagiku berita ini lebih dari suara petir disiang bolong.


" Tapi aku berharap,Anna sama Emak bisa merahasiakan ini semua dari Nay." Pinta Nyai dengan mulai terisak.


" Penyakit ini tiba-tiba saja mendera Nay begitu saja." Ungkapnya lirih.


" Sejak kapan Nay sakit seperti itu Nyai ? " Tanyaku dengan berusaha terlihat tegar atas ketidak percayaan ini.


" Tepatnya enam bulan yang lalu Anna, Nyai juga tidak menyangka jika Nay akan mengidap penyakit seperti itu,dan Nay sampe saat ini belum tahu akan penyakitnya itu." Jelas Nyai dengan perasaan sedih.


" Yaa Allah.Neng Nay teh kasihan pisan." Ungkap nenek dengan terlihat begitu sedihnya.


" Makanya Anna,Nyai minta tolong rahasiakan ini semua dari Nay, dan buat Nay tidak bertanya akan penyakitnya ini.Nyai ingin dia tetap bahagia di sisa-sisa usianya ini." Ucap Nyai dengan terisak.


" Saya cerita ke kalian, karna kalian sudah saya anggap keluarga sendiri, terlebih kamu Anna,Nay begitu dekat denganmu." Jelas Nyai dengan suara lebih parau.


Perlahan lahan aku menangis sejadi-jadi dalam hatiku,dan aku tidak bisa membayangkan jika Naiysa harus pergi selama-lamanya dari kehidupannku,dia adalah satu-satunya orang yang selalu menolongku,yang selalu membelaku bahkan dia selalu nerima aku seperti layaknya sodara kandungnya sendiri.


Aah rasanya ingin aku menghilang begitu saja dari kehidupan ini.


Nenek terlihat mencoba menenangkan hati Nyai yang terilhat sedih akan kondisi Naiysa, sang cucu semata wayangnya,sedangkan aku pun sibuk sendiri dengan berusaha menahan tangisanku yang terasa hendak pecah.


Suara mesin mobil dari luar berderu kencang,aku berserta Nyai dan Nenek menengok ke arah luar sana. Dengan cepat Nyai menyeka sisa-sisa air matanya yang masih menggenang.


Di lihatnya Kedua orang tua Naiysa datang dengan raut wajah wajah tak kalah cemasnya.


Sang Ibu Naiysa dari arah pintu sudah panjang menatapku lalu menghambur merangkul erat Nyai, ada rasa gelisah yang menyeruak dalam batiku.


" Mah,, Naiysa gimana ?" Tanyanya terbata.


" Nay belum sadarkan diri,tapi kamu tenang saja dokter udah memeriksanya kok.Mudah-mudahan Nay baik-baik saja." jelas Nyai sambil kembali merangkul Ibunya Naiysa yang benar-benar kelihatan cemas.


" Mah kenapa Nay bisa pingasan ?" Tanya sang Ayah Nay turut bertanya.

__ADS_1


Sejenak Nyai menatap ke arahku beserta Nenekku, Aku paham jika Nyai enggan untuk memberi tahu semuanya agar aku dan nenekku terhindar dari kemarahan sang Ayah Naiysa.


" Aldi,Nay ikut pergi ke bukit teh bersama Emak War dan juga Anna,tapi sebelumnya Mamah sudah melarangnya untuk ikut,tapi Nay memaksa ingin ikut.Nay bilang dia kangen akan massa kecilnya yang selalu ikut ke bukit bareng Emak War dan juga Anna." Jelas Nyai dengan perasaan tidak enak menatap ke arah aku dan Nenek.


Sang Ayah menarik napas panjang dan sempat menoleh ke arah aku yang merasa takut akan sikap Ayahnya Naisya tersebut.


" Tapi Nay tidak boleh cape mah." Ujar sang Ayah dengan perasaan gusar.


" Sudahlah Ayah,Ayah tidak usah menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, sebaiknya kita lihat dulu Nay yah." Ucap Ibu Naiysa sambil tersenyum ke arahku mencoba menenangkan aku dan nenek.


Dan tak lama kemudian kedua orang tua Naiysa pun bergegas menuju ke kamarnya putri kesayangannya.


Aku dan nenek hanya bisa menarik napas dan saling bertatapan dengan penuh kecemasan,begitupun Nyai di lihatnya dia begitu bersedih atas kejadian yang menimpa cucunya tersebut.


-------------


AKU masih terdiam menatap jauh ke langit tinggi sana,senja telah pergi dan malam tlah menjemputku dalam kesunyian.


Ku pandangi langit malam yang gelap tanpa terlihat satu pun bintang menghiasi langit malam ini.


Pikiranku masih tertuju pada keadaan Naysa saat ini, tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh ku jika Naysa mengidap penyakit seperti itu,dan tentunya itu seperti ancaman yang perlahan-lahan namun pasti akan memisahkan aku dengannya.


Ada yang sakit di dalam hati ini jika semua itu benar adanya terjadi dalam kehidupannku, aku yang pernah kehilangan kedua orang tua yang sangat kucintai,dan Naysa adalah salah satu harapan terbesarku yang amat kujadikan tempatku berbagi suka duka atas kehidupan ku ini,namun entah kenapa saat ini bahkan detik ini hal ini sangat menakutkan bagiku.Aku takut akan benar benar kehilangan orang yang amat kusayangi.


" Anna."


Suara Nenek membuyarkan semua lamunan panjangku.


" Apa yang sedang kamu pikirkan ?" Tanya nenek menatapku dalam.


Mungkin jika nenek harus berterus terang,dia akan menceritakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan saat ini.Bisa hampir sama dengan gambarannya yang dirasakannya.


" Aku masih kepikiran tentang Naysa." Ucapku singkat.


Nenek menarik napas lalu duduk di samping ranjangku yang usang.


" Jika GUSTI ALLAH lebih sayang sama neng Naysa, maka ketentuannya yang akan menjadi terbaik untuknya An.Karena kita juga tidak akan sanggup jika harus melihat kondisi Neng Nay dalam keadaan tersiksa seperti itu." Ucap nenekku mencoba menenangkan perasaanku.


" Anna hanya berpikir secepat itukah,Anna harus kehilangan sahabat kecil Anna nek.Sembilan belas tahun Anna berteman dengan Nay,dan saat ini adalah saat-saat yang begitu menyedihkan dalam kehidupan Anna." Sahutku dengan lirih.


" ALLAH adalah sebaik-baik pemberi rencana, jadi kamu jangan berlarut dalam kesedihan,nanti teh Nay tau malah ikut sedih.Kita semua tidak akan pernah tau usia seseorang akan sampai dimana. Jadi kita harus bisa mempergunakan waktu ini untuk membahagiakan orang-orang yang kita cintai sebelum mereka pergi." Jelas nenek lembut dengan membelai rambutku penuh kasih sayang.


Aku terdiam menatap sepi.


" Begitupun dengan kita juga An,usia tidak ada yang tau,kelak jika Nenek sudah tidak ada Nenek berharap kamu menjadi perempuan yang kuat dan sabar." Ucap nenek dengan suara begitu lirih,dia kembali menasehatiku dengan linangan air mata.


Aahh rasanya aku ingin membawa jauh pergi nenekku, membawa ke tempat yang tak pernah ada kematian.

__ADS_1


Namun hal itu sangat mustahil karena setiap insan yang bernyawa pasti akan mengalami namanya kematian dan menghadap ke Sang PENCIPTA seluruh alam semesta ini.


Aku mendekap erat tubuh renta tua itu yang seakan- akan aku tak ingin melepaskannya,sosok seorang nenek yang benar-benar menjadi jantung hati dalam kehidupanku ini.


__ADS_2