
Ini aku, Agatha Violen. Gadis sederhana yang tumbuh cukup baik, di sebuah Panti asuhan. Sejak kecil, bahkan setelah 2 hari aku lahir di dunia ini, Orang tua ku sudah menyerahkan ku di panti asuhan.
Ah bukan,
Ayahku maksudnya. Saat ini aku tidak mengetahui keberadaan dan kabarnya. Peduli? tentu saja tidak lagi. Aku sudah sejak lama dendam tanpa sebab padanya, mencoba untuk melupakanya. Seorang wanita tua pengurus panti pun juga tidak pernah membahas tentang ayahku ini.
Ibuku?
Sedikit ku ceritakan, Ibuku meninggal setelah melahirkanku. Disebuah rumah sakit swasta, pada tanggal 20 bulan September tahun 2002. Tentu saja itu menjadi tanggal kelahiranku sekaligus. Oleh karena itu, aku menolak untuk merayakan ulang tahunku.
...
Seiring berjalanya waktu, aku semakin tumbuh dewasa. Sekarang aku sudah menjadi siswi di sebuah SMA elite. Kenapa elite? padahal aku berasal dari sebuah panti. Itu semua karena pengajuan dari wanita tua pengurus panti, ia merekomendasikan namaku untuk mendapatkan sebuah beasiswa penuh. Dan keberuntungan memihakku, aku menerima beasiswa itu dan dapat mulai sekolah disana setelah libur musim panas ini berakhir.
Bisa dibilang, aku cukup buruk dalam hal ber sosialisasi. Aku tidak memiliki banyak teman, saat Tk,SD dan SMP. Hanya 1 orang yang menjadi temanku sejak SD, ia sama-sama dibesarkan di panti asuhan. Sisanya, mengabaikanku, mengejekku dan ada juga yang menindasku. Sakit hati? tentu iya. Saat SMP, aku sudah sempat pindah sekolah, namun nasibku tetap sama sialnya.
Entah apa kesalahan yang ku perbuat, aku hanya dapat menerima semua itu lapang dada. Namun, perasaan yang kuat tumbuh dari dalam diriku, memintaku untuk bangkit dan mengubah keadaan. Tepatnya, saat aku berusia 17 tahun.
Setelah tamat SMP, aku memutuskan untuk hidup mandiri, keluar dari panti. Aku tau ini keputusan bodoh yang pernah ku buat, namun tekad ku sangat kuat. Dengan bekal keberanian diri, aku mencoba untuk berinteraksi dengan dunia dan juga lingkungan sekitarku.
__ADS_1
Walaupun awalnya sulit, aku mulai dapat menerima dan terbiasa.
...
Saat ini aku tinggal sendiri, setelah mendapat izin dan tempat tinggal yang cukup dekat dari sekolah.
Walaupun awalnya hanyalah gudang penyimpanan kayu bakar dan barang usang, namun pengasuhku di panti mengubah segalanya, dari mulai ruang tamu sampai kamar.
Ini semua tidak gratis, aku sendiri yang meminta untuk memberikan biaya sewa bulanan. Pengasuhku pun setuju, karena rumahku saat ini juga bukan miliknya, melainkan milik kerabatnya.
di dalam kamarku inilah, aku sering termenung. Memikirkan pahitnya hidupku selama ini. Tiap hari aku selalu meminta keajaiban datang, namun sia-sia. Mungkin dewa sedang tidur, jadi tidak mendengar ucapanku.
Anehnya, mimpi itu terus berulang, bahkan saat tidak sengaja tertidur di siang hari. Seolah, ada sesuatu yang ingin disampaikan melalui mimpi-mimpi tersebut.
...
Hari pun mulai petang, hujan yang perlahan mereda, kini menyisakan embun di kaca jendela. Alunan musik klasik mendiang ibuku, sengaja ku putar. Sembari mengulas album foto di genggamanku.
__ADS_1
Besok adalah minggu kedua ku disekolah. Tandanya, aku harus mempersiapkan mental untuk kembali bersekolah, walaupun sedikit sulit karena ada beberapa kendala. Namun itu semua tidak menyurutkan semangatku, aku juga harus bekerja paruh waktu besok.
Saat sedang serius mengulas album foto milik mendiang ibuku, pandanganku teralihkan kearah luar jendela.
Siapa?
Sosok laki-laki tinggi, dengan baju tanpa lengan seperti sedang menatapku. Tidak, memang benar Ia menatapku. Tubuhnya menghadap ke arah rumahku. Aku penasaran dengan sosok yang menatapku itu, lalu dengan sedikit keberanian bergegas keluar rumah.
Anehnya, sosok laki-laki itu menghilang, tepat setelah aku melewati pintu. Namun langkahku terbilang cukup berani, aku melangkah dengan yakin mendekati tempat dimana laki-laki itu berdiri sebelumnya.
Sesampainya disitu, ada yang aneh. Seperti sedang mengalami kejadian yang sering ku alami. Aku mencoba untuk mengingat lebih jelas dan..
Pohon besar di tepi sungai, mimpi?
Aku segera mencubit tanganku sendiri, mengetes apakah diriku sedang bermimpi atau tidak. Namun yang kudapatkan adalah rasa sakit, oleh karena itu, aku mencoba terfokus kembali dengan wajah laki-laki yang sebelumnya kulihat tadi.
Tidak begitu yakin apakah benar ia sosok yang juga berada di mimpi ku atau bukan.
__ADS_1
Karena langit yang semakin petang, aku memutuskan untuk kembali kedalam rumah. Lagipula cukup berbahaya berada sendirian di tempat seperti ini, lebih baik aku berdiam di rumah.
...