VIOLEN

VIOLEN
Mempercayai Aidan


__ADS_3

Sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Aidan melindungiku dibelakang tubuhnya. Tampak seorang wanita berambut putih menatap kami, berusaha untuk mendekat. Gery, Serigala milik Aidan juga telah bersiap untuk menyerang.


"Wooow punya pemilik rupanya.."


Ucap wanita tersebut dengan tersenyum. Aku sempat melihat wajah wanita tersebut, cantik.


Aidan menarik tubuhku kepelukanya. Aku terkejut karena Aidan begitu tiba-tiba. Wanita itu tampak tidak senang, lalu ia pergi menghilang begitu saja.


"Tidak bisa begini, Kau harus kembali."


Ucap Aidan padaku. Aku menatap wajahnya yang dingin dan warna biru pada matanya memusatkan perhatianku. Saat ingin kusentuh wajah pemilik mata biru itu, Aidan melepaskan pelukanya. Suasana menjadi canggung saat itu juga. Aku tidak ingin berlama-lama dalam situasi seperti ini, Aku harus mencairkan suasana ini.


"Ahh Gerry.. kamu nggamau kenalan denganku?"


Ucapku pada serigala milik Aidan itu, sembari berjongkok mendekati hewan tersebut. Gerry memalingkan wajahnya ketika kudekati. Aku heran dan menatapnya dari arah lain namun Gerry tetap memalingkan wajahnya kembali. Aku segera berdiri dan menghampiri Aidan menanyakan mengapa Gerry tidak meresponku. Tiba-tiba Gerry menerobos langkahku dan lebih dulu berada didekat Aidan. Aku kesal menatap Gerry.


Aidan menyadari raut wajahku yang masam. Ia tersenyum padaku lalu mengatakan,


"Gerry sangat merindukanmu namun kau tidak segera memeluknya dari awal."


"Merindukanku?"


Tanyaku penasaran, sembari melanjutkan langkahku mendekati Aidan dan menatap Gerry yang sudah menatapku.


"Kau coba berbicara saja padanya."


Jawab Aidan padaku. Aku menatapnya sekilas dan kembali memusatkan perhatianku pada Gerry.


"Hei.."


Sapaku singkat pada Gerry.


"Tidak akan berhasil sekarang, Kita harus segera kembali."


Ucap Aidan sembari berjalan kearahku dan meraih tanganku. Aku mengikuti langkahnya dengan pandangan yang masih menoleh ke arah Gerry.


"Tunggu Aidan, aku mau pamit dengan Gerry."


Pintaku pada Aidan sambil melepaskan genggaman tanganya padaku. Aku mendekati serigala tersebut dan sedikit membungkuk dengan kedua tangan bersangga di lutut.


"Aku juga merindukanmu Gerry.. nanti kita bertemu lagi ya!"


Setelah berkata seperti itu pada Gerry, Aku kembali menghampiri Aidan dan menggenggam tanganya kembali. Kami berjalan mengarah ke gua saat pertama kali datang. Aku mengamati sekitar, apakah masih ada kelinci yang dapat berbicara itu. Namun aku tidak menjumpainya lagi. Aidan menyibak akar-akar tumbuhan yang menutupi gua tersebut. Kami melangkah keluar dan,


"Ah benar.. kan kita kemari saat malam hari."


Ucapku dengan sedikit tersenyum. Aidan menoleh sebentar kearahku dan kembali fokus berjalan. Kami telah melewati pohon besar dekat sungai dan rumahku sudah terlihat diujung jalan. Aku masih tidak mempercayai Apa saja yang kusaksikan di tempat aneh tadi.


Aidan menghentikan langkahnya ketika sudah sampai tepat didepan pintu rumahku. Ia berbalik badan dan menatapku,


"Hei.. aku akan pulang, Kau jangan lupa kunci rumah dan segera tidur."


Ucapnya tiba-tiba memintaku untuk menuruti perkataanya. Tanganya melepaskan genggamanku.


Aku menatap wajah dan tubuhnya bergantian. Mata yang kembali normal berwarna cokelat dan pakaian yang kembali seperti yang dikenakan Aidan semula. Entah mengapa aku sedikit kecewa ketika mendengar ucapan Aidan akan pulang, aku ingin menahan kepergianya.


"Aidan.. bisakah kamu menetap lebih lama disini?"


Tanyaku memohon pada Aidan. Ia tampak luluh ketika aku memohon kepadanya untuk tetap tinggal bersamaku malam ini. Ia mengangguk menyetujuiku. Aku senang dan segera membukakan pintu untuknya. Kami berdua masuk.

__ADS_1


"Aidan, ikut aku ke atap."


Aku berjalan lebih dulu setelah mengatakan itu. menarik tali tangga yang tersembunyi menyatu dengan atap itu kemudian menaikinya. Aidan segera menyusulku. Kami berdua duduk sambil menatap langit yang dipenuhi bintang.


"Kenapa kau mengajakku kesini?"


Tanya Aidan menoleh padaku. Aku tak menoleh kembali padanya dan tetap memandangi langit berbintang itu.


"Ceritakan padaku, semuanya Aidan.."


Ucapku dengan suara pelan.


"Tentang tempat tadi?"


Jawab Aidan masih menatapku.


"Semuanya, yang aku tidak ketahui."


aku menoleh kearahnya, menanti penjelasan panjang darinya.


"Kau ingin aku menceritakan semuanya sekarang?"


Tanya Aidan lagi.


"Pelan-pelan saja sehingga aku paham. Aku benar-benar penasaran dengan mimpi dan yang baru saja aku alami di tempat itu."


Kataku pelan sambil menunjuk kearah pohon besar dekat sungai yang terlihat jelas dari atas sini.


"Kita berteman sejak kecil dan kita menikah saat seusia sekarang."


Kata-katanya membuatku terkejut. Aku menatap tajam matanya.


Ia tersenyum mendengar perkataanku barusan. Ia tak menatapku kembali, mengalihkan pandangnya keatas langit.


"Tentu saja kau tak percaya sekarang. Tapi Tha, kau rasakan sendiri kan bagaiman tempat yang gelap disana itu berubah jadi tempat yang gak pernah kau duga."


Jawab Aidan menyangkal ucapanku barusan padanya. Aku mengangguk setuju dan meminta Aidan untuk meneruskan perkataanya.


"Ini adalah kehidupan kedua kita. Kita berdua janji akan terus menikah sampai kehidupan ke empat. Tapi kau menghilang dikehidupan kedua kita."


"Tunggu, apa maksudmu?!"


Tanyaku penasaran memutus pembicaraan Aidan. Aidan tampak sabar dan menatap wajahku kembali.


"Kau.. dan aku, saling mencintai. Percayalah padaku."


Perkataanya cukup meyakinkanku. Aku menghela nafas lalu mendengarkan kembali ucapanya.


"Kita adalah pasangan abadi yang berada di dunia sana. Dunia kita tidak disini, Tha."


Jelasnya lagi padaku. Aku tersenyum mendengar perkataanya, entah ingin percaya atau tidak.


"Oke, lalu bagaimana dengan putri.. violen? putri yang hilang, apa maksudnya itu?"


Tanyaku penasaran pada Aidan.


"Oh itu, kau ingat tidak kenapa banyak yang datang secara tiba-tiba padamu? sebenarnya gak cuma Vigo,perempuan dan Gerry."


Aku mengangguk mendengar perkataan Aidan, mengisyaratkan untuk melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Banyak yang sudah menantikan kedatanganmu, mereka semua ada yang menginginkanmu kembali dan ada juga yang ingin membunuhmu."


Aku terkejut ketika Aidan berkata ada yang ingin membunuhku.


"Tapi kau tenang aja, Aku akan mengurus mereka karna kau pasanganku."


Tidak tahu mengapa aku tersipu mendengar ucapan Aidan barusan.


"Tentang kau putri yang hilang, itu karena Ayahmu dan Ibumu melakukan kesalahan. Mereka berdua dihukum dan menetap di dunia ini."


"Kamu tau Ayahku?!"


Aku sangat terkejut ketika Aidan menyebut kalimat Ayah dan Ibu.


"Tentu saja, mereka adalah pemimpin disana. Kau benar-benar tidak ingat apapun?"


Aku tidak paham dengan apa yang sudah Aidan katakan. Aku ingin tidak mempercayai dirinya, namun aku takut dia akan kecewa dan marah padaku. Ini semua terdengar tidak masuk akal namun terasa nyata ketika aku berada di tempat tadi.


"Nama ayahmu, Violen. Ibumu bernama Ratih bukan?"


Jelas Aidan padaku. Kini aku semakin percaya dengan semua perkataanya. Ia mengetahui nama ibuku padahal aku tidak pernah memberitahukanya. Aku mengangguk pada Aidan.


"Yang jelas, Aku ditugaskan untuk membawamu kembali Tha."


Ucap Aidan menyambung perkataanya.


"Bagaimana caranya aku bisa kembali kesana?"


Aku bertanya pada Aidan dan memintanya untuk menjelaskan kembali padaku.


"Tidak mudah, Kau harus dapat kekuatanmu dulu."


Aku tidak mengerti lagi, kekuatan apa yang Aidan maksud.


"Tunggu, jika kamu bukan dari dunia ini.. bagaimana kamu menjadi kembaran Raja?!"


Aku melontarkan pertanyaan kepada Aidan, namun Aidan tertawa mendengar ucapanku barusan.


"Ah itu.. aku hanya meniru Raja saja, sebenarnya Aidan tidak benar-benar ada sejak awal."


Jelasnya masih sambil tertawa.


"Kenapa kamu meniru Raja?"


Tanyaku semakin penasaran. Ia menghentikan tawanya dan kembali menatapku.


"hmm, Karena kau suka Raja. Aku cemburu, dan sengaja menyerupai Raja. Aslinya aku sangat Tampan tau."


Aku tertawa mendengar kepedeanya barusan. Aidan menatapku heran.


"Hei, kau menertawaiku? padahal memang benar aku lebih tampan."


Aidan tampak kesal dan menatap langit kembali. aku tersenyum melihatnya. Seorang Aidan yang kukenal sebagai orang yang kasar sebelumnya, kini menjadi seseorang yang kubutuhkan saat ini. Aku mendekatkan tubuhku padanya dan menyenderkan kepalaku tepat dibahunya ikut memandangi langit.


"Kamu bilang kita pasangan.. bukankah ini hal yang biasa buat dilakuin sama pasangan?"


Aku mengatakan itu agar Aidan merasa nyaman. Tidak, kini aku yang merasa nyaman kepadanya. Aidan tidak menjawab ucapanku, Ia menerima sandaranku dengan hangat.


__ADS_1


...


__ADS_2