VIOLEN

VIOLEN
Penuh Tanda Tanya


__ADS_3

Aku terperangah setelah mendengar penjelasan dari Helen. Tubuhku segera mendekat ke arah Gery, yang sedang menyetir.


"Hei.. ehm, jangan dekat-dekat."


Pinta Gery yang terdengar tidak nyaman.


"Jadi kamu selama ini nggak nyata?"


Ucapku masih kebingungan dengan penjelasan Helen.


Gery melirikku dari kaca spion tengah, bola matanya nampak memutar malas, lalu kembali fokus menyetir.


"Bukan gitu Agatha.. Gery sengaja gak nampakin diri di panti asuhan aja."


Pungkas Helen, tanpa menoleh kebelakang.


"Karena takut Bu Ratih tau kalau Gery dari Jaidran?"


Balasku sembari menyenderkan kepala di jok mobil.


Helen mengangguk sekilas, tanganya mengibas kebelakang dengan cepat.


"Apa?"


Tanyaku yang tidak paham maksud dari gerak tanganya.


"Turun Agatha, udah sampai."


Jelas Helen dengan pelan, menoleh kebelakang menatapku.


Gery pun melepaskan seatbeltnya, mobil yang sudah terparkir sempurna dihalaman luas ini membuatku semakin penasaran, ingin segera keluar.


Aku mengangguk singkat dan tersenyum kepada Helen, lalu segera keluar setelah melepaskan seatbeltku juga.


"Tempat apa ini..?"


Tanyaku pelan, tidak percaya dengan pemandangan yang kulihat saat ini.


Bangunan yang sedikit tua untuk sekolah namun tampak mewah. Halaman yang luas serta pagar tinggi yang membatasi



Helen berjalan lebih dulu, setelah meraih tas dari mobil. Begitu juga Gery, tanganya menggandengku, mengajakku berjalan mendekati bangunan tersebut.


*Kato!


Tiba-tiba ponselku bergetar, notifikasi pesan masuk. Saat hendak mengeluarkan ponselku dari tas, Gery mencegahku. Begitupun Helen, ia langsung menoleh kearahku dan menghampiriku.


"Hei! jangan gunakan ponsel disini, tinggalkan di mobil!"


Ucap Helen pelan namun tegas.


Apasih, memangnya seketat apa peraturan disekolah ini? sampai-sampai nggak boleh menggunakan ponsel.


Batinku sedikit kecewa, lalu menuruti permintaan Helen. Dengan ditemani oleh Gery yang membukakan pintu mobil untukku, aku segera meletakkan ponselku dijok mobil. Lalu bergegas menghampiri Helen yang sudah menunggu. Walaupun penasaran dapat pesan dari siapa, namun aku lebih memilih untuk menurutinya. Lagipula ini hari pertamaku pindah sekolah.


...


"Astaga..."

__ADS_1


Ucapku terkesima setelah mendapati koridor yang sangat mewah.



Aku menoleh tersenyum kearah Helen dan Gery. dibalas dengan sambutan seseorang yang keluar tiba-tiba dari sisi kanan sebuah ruangan.


"Selamat datang.. Violen."


Ucapnya menyambutku ramah, tubuhnya dibungkukkan kearahku hormat. Begitupun aku, membalas sambutanya dan ikut membungkukkan tubuhku kearahnya.


*Grepp!


Tiba-tiba Helen menahanku, tanganya menarikku yang masih membungkukkan badan kearah pria muda yang menyambutku.


Aku kembali berdiri tegap, menatap Helen heran sembari mengernyitkan keningku.


"Kalau gitu, kami bertiga akan masuk kelas."


Pungkas Gery memecah kesalahpahamanku.


Pria muda tersebut tersenyum tipis kearah kami, lalu kembali masuk kedalam ruangan dimana ia keluar sebelumnya.


"Ger, rupanya kita harus ngajarin peraturan dulu ke Atha."


Celetuk Helen, membuatku membulatkan mata kembali heran.


"Iya nanti."


Jawab Gery setuju, lalu berjalan beriringan dengan Helen meninggalkan keberadaanku yang masih terdiam mencerna obrolan mereka.


Tanpa menunggu ajakan, aku segera menyusul mereka, menaiki tangga berkeramik mewah ini.


...


Gery meraih tanganku, turut mengajakku masuk kedalam ruangan yang tidak ku ketahui itu.


"Ah... "


Aku begitu terkejut saat mendapati ternyata ruangan yang kumasuki adalah kelas, namun murid-murid di dalamnya lah yang membuatku sangat terkejut.


"Dengarkan! ada penghuni baru yang akan belajar disini."


Pungkas Gery dengan tegas, berbicara di depan kelas.


Tampak sambutan mereka tidak begitu hangat, wajah mereka yang tampak putih pucat, warna mata yang asing serta bibir yang merah. Aku menelan ludah cemas, mendapati tatapan tajam dari mereka.


Apa ini, aku mau dibully lagi ya.. astaga menyeramkan sekali mereka.


Helen merangkul pundakku, lalu tersenyum kearahku.


"Dia ini, Putri Violen."


Ucap Helen dengan santai.


Namun respon mereka sangat aneh, mereka begitu terkejut setelah Helen berbiacara. Mata mereka yang semula menatapku tajam, kini nampak menciut. Aku menoleh kearah Helen heran, tidak mengerti dengan maksud ucapanya.


"Santai saja~"


Ucap Gery tersenyum padaku.

__ADS_1


Helen menarikku untuk duduk, tanganya yang masih merangkul pundakku membuat murid-murid yang kulalui menunduk kebawah. Aku semakin tidak paham dengan situasi ini.


"Helen--"


Langkahku terhenti, mengarah ke Gery yang meninggalkan kelas. Aku hendak berteriak memanggil namanya, namun kuurungkan karena takut menganggu murid-murid yang lain.


Helen mempersilahkanku duduk di bangku yang berada di baris tengah. Aku menuruti dengan polos, duduk di bangku pilihanya tersebut. Tak lama, Helen berjalan keluar meninggalkanku. Aku terkejut dan panik bukan main, menatap tubuh Helen dari belakang yang beranjak pergi.


Suasana mencekam datang, momen dimana prasangka burukku tiba. Aku tidak berani memperhatikan sekitar, tanganku dengan kaku mengeluarkan beberapa buku dari tas.


Situasi apa ini, kenapa sangat sunyi dan menegangkan.. astaga aku ingin bertemu Aidan kalau begini.


*Tukk.. tukk..!


Seseorang mengetuk mejaku, aku yang semula menunduk memberanikan diri menatap orang yang berada dihadapanku ini.


Seorang laki-laki berambut putih dan bermata biru, aku terkejut setelah menatapnya. Begitu juga orang itu, yang menatapku heran, mengapa aku tampak begitu terperanjat setelah menatapnya.


"Ah maaf.."


Ucapku dengan segera, sembari menundukkan kepalaku rendah kearahnya.


"Begini rupanya wajah putri marga kami,"


Pungkasnya sembari tersenyum kearahku.


Aku menatapnya kembali, mengernyitkan keningku heran dengan ucapanya.


"Maksud kamu?"


Tanyaku pelan.


"Salam hormat Putri.. kau adalah pujaan kami semua, bangsa Violen."


Ucap laki-laki tersebut, ia yang semula duduk, kini beranjak bangun sembari membungkuk rendah kepadaku.


Murid-murid yang lain nampak mulai menghampiriku, mereka semua melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan laki-laki tadi.


Aku yang masih kebingungan pun turut berdiri, membungkuk kembali kepada mereka. Kini senyuman mulai terukir dibibirku, prasangka buruk pun perlahan menghilang.


...


Tiba saatnya untuk melontarkan puluhan pertanyaan kepada Helen dan Gery. Langkahku terhenti saat sudah berada di depan kelas, bingung karena tidak tau harus mengarah kemana.


"Kau menanti siapa?"


Celetuk laki-laki dibelakangku, membuatku lekas menoleh kearahnya.


"Olen.."


Balasku tersenyum kearahnya.


Olen adalah laki-laki berambut putih dan bermata biru yang menyapaku pertama kali tadi. Nama lengkapnya Olen xekara, berasal dari marga yang sama denganku, Violen. Aku menjadi sedikit akrab denganya, karena dirinya yang mengajakku berbicara sangat baik.


"Mau berjalan-jalan di sekitar?"


Tanya Olen. Tawaranya membuatku sangat tertarik untuk mengikuti.


Dengan polos, aku mengikuti Olen. Kami berjalan beriringan, entah menuju kemana. Aku melupakan sejenak niatku untuk menemui Helen dan Gery. Meskipun awalnya ragu, namun aku dapat mempercayai Olen. Lagipula ia berada di marga yang sama denganku.

__ADS_1


...


__ADS_2