VIOLEN

VIOLEN
Sehari Sebelum Pindah


__ADS_3

Perpisahan mungkin tidak terlalu berarti bagiku. Mereka yang sejak awal meniadakan keberadaanku, mungkin sekarang akan menjadikanku topik hangat pembicaraan.


Raja, yang terkenal lengket denganku sejak kelas 10 dan Aidan yang baru-baru ini menjadi sangat perhatian padaku.


...


Sinar matahari yang masuk melalui sela-sela jendela kamarku, menusuk mataku yang masih terpejam untuk segera bangun.


Dengan samar-samar aku membuka mataku perlahan, menerima sinar matahari yang mencuak terang.


"Gawat!"


Ucapku segera beranjak dari kasur, setelah menghempaskan selimutku.


Langkahku segera tertuju ke kamar mandi. Tanpa mandi dan hanya cuci muka lalu menyikat gigi. Aku kesiangan! benar-benar kesiangan.


...


Pukul 07.20


Dengan wajah yang kusut dan rambut yang masih berantakan, aku berlari sekencang mungkin setelah mengunci pintu rumahku. Menuju halte bus untuk ke sekolah.


"Tungguuu!"


Teriakku sembari melambai-lambaikan tangan saat sudah melihat bus jurusan menuju sekolah yang berhenti di depan halte. Tampak para penumpang yang semula mengantri, kini sudah semuanya naik. Aku semakin berlari dengan kencang, menggapai tiang pintu bus lalu berhasil menaikinya.


"Fyuuuhhh.."


Dengusku sembari menyeka keringat yang menetes dari keningku, membuat rambutku tambah lepek akibat berlari seperti tadi.


Tidak ada bangku yang tersisa, orang-orang yang berdiripun juga ramai. Aku memilih untuk bertumpu pada tiang bus, karena lebih aman dan tidak akan terhantuk kedepan.


--Setelah lebih dari 28 menit perjalanan


Aku segera bergegas menuruni tangga bus, ketika sudah berhenti di depan halte sekolah. Menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 07.50, lalu bergegas memasuki sekolahan setelah berpikir masih ada 10 menit untuk sampai di kelas, aku berlari melewati gerbang yang hampir ditutup itu.


Kakiku semakin berlari cepat saat sedang melintas di lapangan, tentu saja setelah menerima tatapan dari Guru olahraga yang sudah menantikan keterlambatanku.


"Kemari!"


Teriak guru olahraga tersebut saat aku berjalan melewatinya.


Ahh, apa salahku sih. Masih ada 2 menit dan juga kan aku sudah menundukkan kepala.


"Iya pak?"


Ucapku sembari menoleh kepadanya, lalu memundurkan jalanku, berdiri tepat di hadapanya dengan kepala yang masih tertunduk.


"Kamu juga terlambat kemarin kan?!"


Tanya guru tersebut dengan nada sedikit membentak.


"Maafkan saya pak,"


Jawabku tanpa menatap matanya.


Guru olahraga tersebut tampaknya sangat kesal kepadaku, Tongkat pendek yang ia genggam diarahkanya ke pundakku.


--*Grepp!


Aku menoleh, mendapati Aidan yang baru saja meraih tongkat tersebut, menepiskanya dari pundakku. Sontak Guru tersebut melotot kepada Aidan, sembari menarik tongkat tersebut dari genggamanya.


Aidann.. kamu ngapain sih, kamu bisa dengerin aku kan? cepat minta maaf!


Ucapku dalam hati berupaya memberi sinyal kepada Aidan. Aidan menoleh kearahku, menarik tubuhku untuk disembunyikan dibelakang tubuhnya.


Guru tersebut tampak semakin marah, tanganya berusaha menarik pergelangan tanganku dengan paksa.



Tanpa berbicara apapun, Aidang langsung menarik tanganku, berjalan meninggalkan guru tersebut yang masih tampak kesal.


"Berenti disana! Hey kalian!!"


Teriak Guru tersebut dengan lantang menatap kami dari belakang yang terus berjalan maju, tanpa menghiraukan guru tersebut.


...


Suasana kelas yang semula ramai menjadi hening, ketika aku dan Aidan memasuki ruang kelas melalui pintu belakang. Mereka menatap kami dengan intens, aku segera melepaskan genggaman tangan Aidan, namun ia menahanya dengan sempurna.


"Dengarkan baik-baik! sampai ada yang berani ganggu cewekku, mamp*s kau! mulai sekarang kami berpacaran."


Ucap Aidan sembari menatap tajam seluruh anak kelas. Aku tertunduk, tidak tau harus berbuat apa. Yang jelas, ini akan menambah masalah dan akan menjadi berita yang dibesar-besarkan.


Setelah mendengar ucapan Aidan barusan, mereka tampak berbisik-bisik satu sama lain, dengan tangan yang saling mengetik di ponsel, tidak salah lagi pasti langsung menyebarkan berita ini.


Aku menatap kearah Aidan kesal. Tanganku melepaskan genggamanya dengan paksa, lalu berjalan mendekati kursi ku untuk meletakkan tas.


Tubuhku menjadi kaku, kakiku ingin melangkah keluar kelas, namun guru terlanjur memasuki ruangan kelas.


"Diam! Kenapa pagi-pagi sudah ribut? cepat kembali ketempat duduk masing-masing!"


Perintah Guru tersebut setelah meletakkan tumpukan buku dengan keras di meja.

__ADS_1


Aku segera menuruti guru tersebut. Pandanganku terus lurus kedepan memperhatikan papan tulis dan penjelasan dari guru tersebut, Tanpa menoleh kesamping ataupun kebelakang.


...


Pukul 12.15


"Agatha!"


Panggil seseorang yang suaranya kukenal. Aku segera menoleh kearahnya, begitupun dengan anak-anak kelas yang hendak makan siang. Mereka menatap Raja, lalu menatapku.


Tanpa menunggu lagi, Raja memasuki ruangan kelas untuk segera menghampiriku.


*BRAKK!


Suara tendangan meja berasal dari belakang, aku segera menoleh kebelakang, dan mendapati Aidan yang sudah menatap Raja dingin. Ia masih duduk dengan tangan di saku celananya. Mejanya tersingkir kesamping, sesuai dugaanku itu ulahnya.


"Hei, enyah kau dari pacarku."


Ucap Aidan dengan tatapan sinis kepada Raja.


Raja mengernyitkan keningnya, dengan senyuman yang tersungging tipis. Murid-murid kelas semakin menatap kami dengan serius, mereka masih bertahan didalam kelas untuk menyaksikan keributan ini.


"Gak mau tuh."


Celetuk Raja membalas perkataan Aidan, lalu menatapku dengan tersenyum.


"Kau kok gak cerita kalau mau pindah?"


Tanya Raja tiba-tiba padaku, tidak menggubris Aidan lagi.


"B*jingan gila satu ini benar-benar!"


Ucap Aidan dengan emosi sembari berjalan menghampiri Raja, lalu menarik kerah bajunya.


"Kau gak punya telinga ya?"


Ucap Aidan.


"Punya tapi gak untuk dengerin kau ngoceh."


Pungkas Raja dengan sedikit tersenyum, namun matanya menatap tajam Aidan yang mencengkram kerah seragamnya.


"Aidan!"


Teriakku sembari menahan tangan satunya yang hendak meninju wajah Raja.


Aidan menoleh padaku, ia melepaskan cengkramanya pada Raja dengan kesal.


Pungkas Aidan dengan raut wajah yang masih sangat emosi, nafasnya terengah.


Aidan menarik tanganku, menuju keluar kelas. Keadaan kelas semakin ramai saat aku dan Aidan meninggalkan kelas. Begitu juga di koridor, ternyata banyak murid yang menonton.


Aku melepaskan paksa tangan Aidan, membuat langkahnya terhenti lalu menatapku heran.


"Kenapa?"


Tanya Aidan, tiba-tiba suaranya menjadi lembut.


"Aidan, kamu salah kalau kaya gini."


Pungkasku padanya.


Aidan memperhatikan sekitar sekilas, lalu menatapku kembali.


"Gini gimana Tha?"


Ucap Aidan sembari mengusap pipiku.


Aku segera menyingkirkan tanganya dari pipiku, karena tatapan tidak enak dari murid-murid yang memperhatikan kami.


"Kau tau nggak pacarmu mau pindah?"


Celetuk Raja yang tiba-tiba keluar kelas menghampiri kami.


Aidan menoleh sengit ke arah Raja, ia menghampiri saudara kembarnya itu dengan segera.


"Tau apa kau?!"


Tanya Aidan setelah memajukan tubuhnya, menatap Raja lekat.


Raja mendorong tubuh Aidan dengan keras, menyingkirkan dari hadapanya. Aidan yang tidak terima dengan perlakuan Raja, ia kembali menarik kerah baju milik adiknya itu.


Aku menjadi sangat kesal, kenapa Aidan harus memulai pertengkaran lagi. Jelas-jelas aku sudah memperingatinya. Aku segera meninggalkan mereka berdua, mengabaikan perkelahianya.


Aku juga tidak peduli lagi dengan tatapan murid-murid yang kulewati, mereka mengataiku sembari menyumpahiku.


Benar, aku hanya perlu bertahan untuk hari ini. Untuk hari ini saja, dan nggak usah kembali di sekolah ini lagi.


"Agatha!"


Teriak Aidan yang sepertinya menyusulku dengan segera.


Aku semakin mempercepat langkahku, berencana untuk menuju taman.

__ADS_1


Setelah menuruni anak tangga, perasaanku sedikit lega karena dapat merasakan angin segar dari arah taman. Aku bergegas menuju taman tersebut dengan sesekali menoleh kebelakang, mendapati Aidan yang terus menyusulku.


"Atha, aku minta maaf.."


Pungkasnya setelah berhasil meraih tanganku.


Langkahku terhenti tepat saat tanganya menahanku. Aku menoleh kebelakang, lalu berbalik badan menatap wajahnya.


"Tha, maaf ya? aku cemburu."


Ucapnya sedikit santai lalu tersenyum.


Cemburu katamu? kamu udah nggak waras ya Aidan?


"Gak Tha aku beneran cemburu."


Ucapnya setelah mendengar perkataanku dalam hati.


"Aidan, aku akan pindah sekolah. Seperti yang Raja katakan tadi."


Ucapku dengan terpaksa.


"Hah?!"


Aidan tampak terkejut, matanya menatapku semakin serius.


"Makanya kamu nggak boleh emosi kaya gitu Aidan! semakin nambah masalah.."


Jelasku padanya.


"Tunggu, pindah sekolah kenapa?"


Tanya Aidan tanpa menggubris ucapanku barusan.


Aku menghela nafas, lalu menjelaskan pelan-pelan denganya. Termasuk kejadian orang tuanya yang membentakku tempo hari, sehingga Bu Ratih menerima panggilan dari sekolah bahwa beasiswaku dicabut.


...


Aidan tampak sangat kesal setelah mendengar penjelasanku, ia langsung berbalik badan lalu bergegas meninggalkanku. Aku yang terkejut langsung menghadangnya didepan, lalu memeluk tubuhnya.


"Tolong Aidan jangan menambah masalah lagi.."


Pintaku padanya, yang masih terbenam memeluk tubuhnya.


Aidan tidak membalas pelukanku, tanganya melepaskan pelukanku, menggenggam pundakku dengan erat.


"Kau gak boleh pindah, kau harus tetap disini."


Ucapnya dengan tegas sembari tertunduk menatapku.


Aku mendongakkan kepalaku menatapnya, lalu memeluknya kembali.


"Aidan, ini semua kemauanku juga."


Pungkasku padanya.


Aidan menghela nafas panjang setelah mendengar ucapanku barusan. Ia memeluk tubuhku kembali, dengan tangan yang mengusap punggungku lembut.


"Maafin aku ya, nggak cerita soal ini.."


Ucapku padanya.


"Gak aku maafin, kau harus dihukum."


Ucapnya sembari merenggangkan pelukan, lalu manangkup kedua pipiku.


Apasih kamu gila? udahlah aku mau makan siang.


Batinku sembari melepaskan pelukan dan menyingkirkan tanganya dari pipiku, lalu bergegas meninggalkan taman.


Aidan terkekeh sembari menyusul langkahku. Aku menoleh sinis kearahnya dari samping, lalu kembali fokus pada jalanan.


"Beneran tuh, bakalan aku kasih hukuman."


Celetuk Aidan tanpa menatapku dan masih terus berjalan mengikutiku.


"Hukumanya ngobrol sama Raja ya? hehe"


Ucapku dengan sengaja menggodanya.


"Mau mati kau?"


Jawab Aidan dingin.


Hiiih jahat bangetT_T~



Aidan langsung menggandeng tanganku erat, menuntun jalanku keluar dari taman. Dengan tersenyum aku mengikuti langkahnya, menuju kantin untuk makan siang.


Aku juga berencana untuk membicarakan masalah kepindahanku dengan Raja nanti, tanpa sepengetahuan Aidan.


...

__ADS_1


__ADS_2