
Terus-terusan menatap ponsel, aku tidak menerima balasan apapun dari Raja. Sebenarnya ada apa? Mengapa ia pergi begitu saja? jelas-jelas ia melihatku. Aku memutuskan untuk menghubunginya lagi nanti.
Setelah menghabiskan waktu cukup lama untuk bekerja, seperti biasa, aku mendapatkan upah harian. Lalu segera menuju supermarket untuk membeli bahan makanan, seperti yang sudah ku rencanakan.
Aku kembali menatap ponselku didalam bus sepanjang perjalanan ke supermarket. Ketika mulai kesal karena Raja tak kunjung membalas pesanku, aku menyandarkan kepalaku di jendela bus. Tiba-tiba ponselku berdering, ada panggilan masuk dari nomor yang tidak kukenal. Dengan ragu, aku mengangkat panggilan tersebut.
/"H-halo?"
kataku memulai pembicaraan selepas menerima panggilan tersebut.
/"Kau sudah selesai?"
Jawab seseorang bersuara laki-laki tersebut.
Aidan! ini adalah suara aidan. Aku teringat sebelumnya bahwa ia akan menghubungiku selepas bekerja.
/"Sudah.. sekarang aku akan menuju supermarket"
Jelasku pada Aidan.
/"Supermarket mana? kususul."
Jawabnya, dengan nada dingin.
/"Ah, nggak usa--" Belum selesai kalimatku, Aidan langsung menutup panggilan.
*Tutt!
"Apa-apaan. benar-benar tidak sopan." Gumamku kesal lalu menatap kearah jendela bus kembali.
Tak lama, ada notifikasi pesan masuk. Awalnya yang kukira itu Raja, ternyata pesan dari Aidan. Ia memintaku untuk mengirimkan lokasi supermarket yang kutuju. Aku benar-benar kesal dengan sikapnya yang semaunya sendiri.
...
Bus berhenti di halte dekat supermarket. Aku menuruni bus tersebut dan berjalan menuju supermarket sembari mengabari kepada Aidan bahwa aku telah sampai. Namun belum sempat kukirimkan pesan tersebut, ada laki-laki mengenakan jaket dan topi yang menghampiriku.
"Aidan?"
Sapaku pada laki-laki tersebut. Ia memang benar Aidan. Benar-benar sifat yang sulit ditebak.
"Kau lupa ada janji denganku?"
Tanya Aidan, yang sontak membuatku mengalihkan pandangan darinya.
"Ehm, nggak kok! kamu mau tunggu disini atau ikut masuk?"
Tanyaku padanya, setelah menyangkal pernyataanya.
__ADS_1
"Masuk."
Jawabnya dingin, lalu berjalan lebih dulu meninggalkanku.
Aku pun segera menyusul dan menyamai langkah kakinya. Ini pertama kalinya aku berjalan bersama Aidan setelah kejadian di sekolah tadi, bahkan ini terjadi diluar sekolah. Benar-benar sosok yang tidak dapat di duga. Seorang Aidan, yang suka menindas murid lain dan terkenal kasar kini berjalan bersamaku.
"Ihh apa sih! aku mikirin apa!! sadar Athaa, mikir apa kamu." ucapku dalam hati berusaha membuyarkan pikiranku yang aneh.
Aidan tiba-tiba tersenyum ketika aku tidak sengaja menoleh kearahnya. Aku pura-pura tidak melihatnya dan segera mengambil keranjang belanja. Aidan membuntutiku dari belakang. Aku mencari barang yang sesuai dengan kebutuhanku selama sepekan. Aidan yang terus mengikutiku tiba-tiba pergi begitu saja tanpa pamit sepatah katapun.
"Lagi.." Kataku berbicara sendiri melihat sikap Aidan yang seenaknya sendiri.
Aku melihat jam dan mendapati jarum jam yang menunjuk pukul 7 malam. Ah yang benar saja, aku harus segera menyelesaikan belanjaku dan bergegas pulang kerumah.
Ketika hendak membayarkan belanjaanku ke kasir, Aidan datang membawa tumpukan kemasan daging dan beberapa minuman energi. Aku mengernyitkan dahiku dan menatap Aidan memberi isyarat apa yang sedang ia lakukan. Ia tidak mengeluarkan sepatah katapun padaku. ketika giliranku tiba untuk membayar belanjaan, aku mengkhawatirkan Aidan yang tidak akan membayar daging-daging yang diambilnya. Astaga, benar-benar Aidan.
"Sekalian."
ucap Aidan kepada petugas kasir sembari memberikan kartu kredit miliknya.
Aku kaget dan langsung menahan tanganya, namun ia memberi isyarat padaku untuk tetap diam.
Kami berjalan menuju halte bus dengan bawaan belanjaan di tangan. Aku berterimakasih pada Aidan dan memberikan kantung belanjaan miliknya mengisyaratkan bahwa kami akan berpisah disini. Namun ia menyergap tanganku.
"Kau bilang akan membawaku kerumahmu kan?"
Aku menatapnya dengan intens berusaha membaca dengan jelas apa ada yang salah dengan dirinya hari ini.
"Kamu bercanda?"
Tanyaku.
"Serius, aku akan ikut kerumahmu."
Jawabnya meyakinkanku.
"Tapi su--"
belum selesai berbicara Aidan sudah menjawab perkataanku lagi.
"Sudah malam? Aku akan menginap kalau begitu. Lagipula besok hari minggu."
Ucapnya asal-asalan.
Aku tidak memperdulikan kata-kata Aidan karena kupikir ia sedang sakit. Aku memberikan paksa barang belanjaan ditanganya dan kemudian bergegas pergi berjalan menuju halte bus. Aidan mungkin tampak kesal, Ia segera mengerjarku, lalu mengekorku masuk kedalam bus.
Aku menatap kesal Aidan namun ia hanya tersenyum membalas tatapanku. Kami duduk berdua di dalam bus. Pandanganku terfokus seperti biasa pada jalanan suasana malam. Pandaanganku terhenti ketika aidan mencolek bahuku, wajahnya begitu dekat saat aku menoleh kearahnya.
__ADS_1
*Degg!
Yang benar saja, sadarlah Agathaa sadarlah.
Aku menjauhkan sedikit kepalaku dan Aidan tiba-tiba tertawa pelan. Ia menatapku lalu tertawa lagi. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dilakukanya sekarang.
"Ih apasih!"
Gerutuku, memecah tawa milik Aidan.
"Ahh yang benar saja, Atha kau pikir aku akan mencium bibirmu?"
Jawab Aidan yang sontak membulatkan mataku, membuatku tidak tenang.
"Hah? mana mungkin aku berpikir seperti itu." Bantahku pada Aidan, namun pipiku lebih menunjukkan kejujuran, merona.
Perjalanan dari pusat kota ke rumahku lumayan memakan banyak waktu, hingga akhirnya kami sampai dihalte terakhir. Benar-benar hanya kami berdua yang tersisa. Kami bergegas turun dari bus dan berterima kasih kepada supir bus tersebut.
"Aidan, kamu benar mau kerumahku?"
Tanyaku sekali lagi memastikan perkataan aidan sebelumnya.
Aidan menjawab pertanyaanku dengan santai dan menganggukan kepalanya sembari tersenyum padaku. Kami berjalan berdampingan, menuju rumahku. Namun ada yang aneh saat sudah hampir dekat dengan rumahku. Aidan menghentikan langkah kakinya dan menahan tanganku untuk ikut berhenti juga.
"Ada apa?"
Tanyaku pada Aidan.
"Kau yakin, Ini rumahmu?"
Pertanyaan Aidan membuatku semakin penasaran, sebenarnya apa yang sedang ia sembunyikan sejak di sekolah.
"Ah tidak, ayo cepat tunjukkan rumahmu dan masuk."
Sambung Aidan lagi.
...
Kami sampai dirumah. Aidan menatap sekitaran rumahku. Pandanganya tertuju pada sungai dekat pohon besar tersebut. Namun saat aku menyadarkan dirinya, Ia terlihat terkejut dan seperti orang yang sedang kebingungan.
"Aidan kamu mikirin apa sih?"
tanyaku padanya.
"Gak. ayo masuk."
Jawabnya singkat sembari mendorong tubuhku masuk kedalam rumah.
__ADS_1
...