
Aneh, sedari tadi ia tidak selesai-selesai menatapku. Aku merasa tidak nyaman, benar-benar tidak nyaman bersama seorang laki-laki dirumah yang jauh dari keramaian.
"Hey, kamu lihat apa sih?!"
Tanyaku pada Aidan kesal.
Ia tidak menjawab pertanyaanku namun mengalihkan pandanganya menatap jendela. benar-benar pribadi yang aneh. aku khawatir Aidan beneran mau menginap dirumahku.
"Aidan, makan dulu sudah aku buatin.."
pintaku padanya dengan lembut.
Ia langsung menghampiriku dan duduk tepat didepanku menatap hidangan yang sudah kusajikan untuknya. Aku menatapnya dengan penuh penasaran ada apa sebenarnya. Tidak mungkin kalau Aidan menyukaiku, ah yang benar saja. Pasti ada sesuatu penting yang harus ia katakan padaku.
"Ini kau yang masak?"
Tanya Aidan sembari menunjuk hidangan dengan sendok digenggamanya.
Aku menarik kursi dan duduk berhadapan denganya. Sama-sama sedang menyantap makanan, kami berdua terdiam tanpa mengatakan apapun. Suara hujan turun mulai terdengar di genting. Aku menatap Aidan yang sedang makan. Aku masih tidak percaya bahwa ia saat ini ada di rumahku. Wajahnya benar-benar mirip dengan Raja, teman pertamaku. Ah benar! Raja. Aku beranjak dari kursi dan mencari ponselku.
"Kau mencari apa?"
Tanya Aidan, menatapku yang sedang mondar-mandir tidak jelas.
"Mencari ponsel.. kamu lihat nggak?"
Tanyaku kembali, dengan masih mencari ponselku.
"Ah.. benar di tas!"
Kataku pada diri sendiri dan langsung bergegas masuk kamar untuk mengambil ponsel.
Setelah itu kembali ke meja makan menghampiri Aidan. Ia tampak menggeleng-gelengkan kepala setelah melihatku. Aku tersenyum padanya dan langsung menyalakan ponsel milikku.
Aku memikirkan Raja, dan berharap ada notifikasi muncul saat ponselku sudah nyala. Raut wajahku berubah menjadi cemas ketika tidak ada notifikasi yang kudapatkan. Pesan yang kukirimkan untuk raja juga belum dibaca.
"Aidan.. mungkinkah, kau bisa membantuku menghubungi Raja?"
pintaku pada Aidan.
Aidan menatapku sejenak, aku menatapnya kembali. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memberikanya padaku. Dengan ragu aku menerima ponsel miliknya.
"Kamu mau aku sendiri yang menghubungi?"
tanyaku pada Aidan untuk memastikan.
Ia mengangguk setuju dengan perkataanku. Aku langsung membuka ponsel miliknya dan, Apa ini sama sepertiku, kontak yang tersimpan di ponselnya tidak banyak. Ayah,Ibu,Raja,Agatha Violen. Yang benar saja, kukira ia terkenal memacari banyak perempuan.
Aku segera menekan dial untuk memanggil Raja, Tersambung!
"Kau dimana?"
Raja memulai pembicaraan.
Aku terdiam mendengar suara Raja. apa yang sedang ia lakukan, mengapa ia tidak merespon pesan dan panggilan dari ponselku sendiri. aku langsung memberikan ponsel pada Aidan. Aidan tampak kebingungan saat menerima ponsel miliknya sendiri. dengan panggilan yang masih tersambung pada Raja, aku mengisyaratkan pada Aidan untuk diam dan meyakinkan bahwa bukan aku yang menelfon Raja melainkan Aidan sendiri.
"Aku sedang berada di rumah teman. sepertinya tidak akan pulang."
Aidan menyetujui permintaanku dan menjawab perkataan Raja di telefon. Aku menghela nafas lega. benar-benar gila! mengapa aku merasa seperti sedang berbohong. aku menunduk ketika Aidan selesai berbicara dengan Raja di telfon.
"Kau gila? kenapa aku yang harus berbicara denganya."
Ucap Aidan dengan kesal padaku, sembari meletakkan ponselnya di meja.
"Maaf.. Raja pasti akan bingung kalau aku yang menelfon."
Jelasku. lalu membereskan piring-piring makan yang sudah kami berdua habiskan.
__ADS_1
Aku mengajak Aidan untuk berbicara di Sofa. Kami berdua duduk bersebelahan dengan pandangan hujan yang terlihat dari balik jendela.
"Aidan, mengenai Sungai dan pohon besar disana.."
ucapku sambil menunjuk keluar jendela. Aidan menatapku ketika aku berbicara mengenai ini.
"Aku berkali-kali memimpikan laki-laki disana."
sambungku menyelesaikan kalimatku.
Aidan memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di sofa. Ia tampak seperti mengetahui sesuatu namun enggan memberitahuku kebenaranya.
"Mungkin kamu tau sesuatu? Aidan.. bicaralah padaku.."
Aku menatap Aidan yang masih memejamkan matanya. Ia mendengar ucapanku barusan namun sepertinya ia membutuhkan waktu untuk berpikir. Aku beranjak dari sofa dan mengambil Album foto milik ibuku, memutar musik klasik seperti malam-malam biasanya. Aku kembali duduk disamping Aidan sembari membuka Album kenangan tersebut.
"Aku tidak pernah menunjukkan album ini pada siapapun.."
ucapku sambil menatap foto-foto mendiang ibuku.
"Cantik.. aku bahkan tak sempat melihatnya secara langsung."
Ucapku, berbicara lagi, setelah menoleh ke arah Aidan.
"Kamu tidur?"
Aku menutup album tersebut dan meletakkanya di meja dekat sofa. Menatap wajah Aidan yang sengaja Ia tutupi dengan lengan tanganya. Aku memikirkan banyak hal ketika menatap Aidan seperti ini.
"Jangan menatapku seperti itu.."
ucapnya tiba-tiba dengan suara pelan. Aku tersenyum mendengar ucapanya.
"Lalu kamu seharusnya bangun ketika aku menatapmu seperti ini.."
Jawabku dengan sedikit tertawa.
"Kau mau kesana ngga?"
Tanya Aidan tiba-tiba dengan wajahnya yang masih dekat denganku.
Aku mengangguk setuju dengan ajakanya barusan. Entah apa yang membuatku mengangguk, padahal aku belum tahu jelas kesana apa yang dimaksud dan dimana.
Aidan beranjak dari sofa sembari menarik tanganku. Aku mengikuti ajakanya dan kami keluar dari rumah. Ia berjalan didepanku dengan tanganya yang masih menggandengku.
"Akan kutunjukkan sesuatu padamu."
Ucapnya tiba-tiba tanpa menoleh kearahku.
Ia menuju sungai itu, namun ada yang aneh ketika kami sudah melewati Pohon besar. Aidan menyibak akar-akar tumbuhan yang menuju ke gua kecil didekat pohon. Aku tidak pernah tau jika terdapat gua dibalik pohon ini. Masih berada dibelakang Aidan, aku mengikutinya masuk kedalam gua tersebut.
Astaga!
Langkah kami terhenti ketika sudah memasuki gua tersebut. Aku terdiam dan menatap sekitarku. Bukan main! tempat indah seperti apa ini.. bagaimana bisa? aku menatap Aidan, namun ada yang aneh dengan pakaian Aidan.
"Hey! apa yang terjadi denganmu?"
Tanyaku penasaran dengan tatapan yang masih fokus ke tubuh dan wajahnya.
"Inilah aku Tha."
Jawabnya santai.
Aku terdiam dan berjalan mundur menjauhi Aidan, menatap lingkungan yang asing. Aku masih tidak dapat mempercayai apa yang sedang kusaksikan malam ini.
*krassh *kkrasakkk!
"Suara apa itu?!"
__ADS_1
Aku menoleh kesumber suara tersebut, namun tidak dapat melihat apa-apa. Aku menatap Aidan menunggu penjelasanya.
Aidan tampak mengayunkan tanganya dan berkata, "Keluarlah, dia bukan sembarang orang."
Aku bingung dengan ucapanya barusan yang berbicara sendiri. mataku masih mengawasi sekitar dengan perasaan tidak tenang.
*SRAKK!
"Apa itu?! tunggu.. Kelinci?!"
Aku kaget ketika melihat seekor kelinci muncul dihadapanku dari balik semak. Aku ragu dengan apa yang baru saja kulihat, bagaimana bisa kelinci berwarna pelangi transparan? aku berjalan mendekati Aidan dan saat itu juga kelinci tersebut lari mengikutiku.
Aku takut dan tidak sadar telah memeluk Aidan, bersembunyi di balik punggungnya. Ketika aku mengintip, Kelinci tersebut tampak tenang dan tetap memperhatikanku.
"Tenanglah.."
Ucap Aidan kepadaku. Aku melepaskan pelukanku terhadapnya dan berdiri disampingnya.
"Maaf..."
ucapku padanya.
Aku tidak bermaksud apapun selain benar-benar terkejut saat kelinci tersebut mengejarku. Kelinci itu mendekati kakiku dengan pelan.
"Sepertinya dia menyukaimu.. haha namanya Vigo."
Aidan tertawa ketika melihatku ketakutan dengan seekor kelinci. Aku cemberut melihatnya menertawaiku. kuberanikan untuk mendekati kelinci tersebut. Astaga! Atha yang bodoh.. bagaimana bisa takut dengan kelinci yang imut nan lucu seperti ini.
Saat ingin kusentuh badanya, Kelinci tersebut membuatku terkejut kembali.
"Putri yang hilang! putri yang hilang!"
Kelinci itu dapat berbicara! aku kembali memeluk Aidan karna terkejut. Aidan menatapku rendah, ia tampak heran dengan sikapku yang kekanak-kanakan barusan.
Aku segera melepaskan pelukanku terhadapnya. Saat ingin menatap kelinci tersebut lagi, Aidan berjalan meninggalkanku.
"Hei! yaaa! tunggu aku!"
Teriakku kepadanya seraya menyusul.
"Kau dengan seekor binatang kecil saja takut?"
Ejek Aidan lagi padaku.
Aku mendengus kesal. Pandangan teralihkan terhadap sebuah bangunan tua yang terdapat kolam dengan air berwarna hijau itu. Tanpa sadarpun, aku langsung berlari menuju kolam tersebut.
Aku memasuki bangunan tua tersebut, dan menyentuh air itu dengan tanganku untuk memastikan apakah kolam ini aman. Aidan menyusulku dengan segera.
"Aaahh! apa itu..?!"
ucapku terkejut saat melihat Aidan datang membawa seekor binatang bersamanya.
Ia tak menjawab pertanyaanku dan langsung duduk di sisi bangunan dengan tatapan tajam yang tampak sedang mengawasiku. Aku menatap hewan tersebut dengan jelas. Tunggu, Wolf?!
"Aidann! kamu ingin membunuhku? menyerahkanku, membiarkanku disantap oleh--"
"Berisik sekali kau.. ssst, ini milikku. Namanya Gery."
Aku menatap serigala disamping Aidan bernama Gery itu. serigala tersebut menatapku kembali. aku memikirkan apakah serigala itu dapat berbicara sama seperti kelinci yang tadi.
Aku kembali bermain dengan air yang terasa dingin di mata kaki ku ini. aku merasakan suasana tenang dan cerah. padahal kami keluar saat malam hari.
Aku tidak pernah merasakan hal-hal seperti ini sebelumnya. Aku juga belum penasaran dengan keberadaanku sekarang. lagipula, ada seseorang yang menemaniku. Aku menatap Aidan dan berjalan kearahnya. Duduk tepat disampingnya dan menghadap kearahnya. Ia menatapku kembali menunggu apa yang ingin kusampaikan.
....
__ADS_1