VIOLEN

VIOLEN
Gery


__ADS_3

...


Pukul 04.00, pulang sekolah.


"Aidan aku duluan ya,"


ucapku seraya melambaikan tangan padanya.


Aidan mengangguk, membiarkanku pergi. Aku segera menaiki bus yang baru saja datang, Aidan melambaikan tanganya padaku begitu bus perlahan mulai melaju. Aku tersenyum menatapnya yang mulai tertinggal dibelakang, melalui jendela bus.


Aku segera mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang sudah kusiapkan semalam, lalu membaca & memahaminya baik-baik. Sesekilas pandanganku menatap ke jalanan, untuk memperkirakan berapa lama lagi aku sampai.


Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku, aku tidak dapat terfokus pada catatan yang sedang kubaca. Aku memejamkan mataku untuk menenangkan pikiran, namun semakin tergambar jelas saat Aidan menciumku berkali-kali diatap tadi.


Kenapa selalu di atap sih, Aidan kamu benar-benar. ahh turut ngerasain susu apanya! aku malah merasakan bibir manismu.


Bus berhenti, membuatku membuka mataku dan mendapati halte yang akan ku turuni, aku segera menekan bel untuk berhenti dan meminta maaf kepada supir bus.


"Maafkan saya terlambat turun,"


Ucapku sembari membungkukkan badan kepada supir bus yang sudah bersedia berhenti itu, lalu segera menuruni bus dan menghela nafas lega.


Fokus Tha, lupakan Aidan sejenak. Ini adalah hari pertamaku kerja, jangan sampai membuat kesalahan. oke semangat!


Aku segera berjalan menuju toko buku tempatku bekerja paruh waktu, walaupun sedikit gugup aku mencoba untuk meyakinkan diriku bahwa aku bisa melakukanya dengan baik, lagipula bos nya wanita.


-*Triingg!


Suara lonceng berbunyi ketika aku membuka pintu kaca tersebut, mendapati Bu Cika yang sudah menyambutku dengan senyuman ramah.


"Lebih cepat dari yang saya kira,"


Ucapnya sembari beranjak dari kursi kasir tersebut, lalu berjalan menghampiriku.


"Iya, saya berusaha sebaik mungkin.."


Balasku dengan senyuman lalu menundukkan kepalaku padanya.


"Santai saja, nggak usah terlalu bekerja keras yang penting kamu jujur."


Pungkasnya seraya menepuk pundakku pelan, ia melaluiku dan berhenti saat hampir membuka pintu.


"Ah, jangan lupa untuk merapihkan sesuai warna di rak ujung sana ya, mengerti?"


Pintanya padaku.


"Iya mengerti, saya akan melakukanya dengan baik!"


Jawabku penuh semangat.


"Hmm ya, kupercayakan tokoku padamu selagi aku kencan buta, haha sudah ya!"


Ucapnya sembari melewati pintu tersebut.


"Baik! semoga sukses dengan kencanya!~"


Kataku sembari membungkukkan badan setelah melihatnya berlalu keluar toko.


ehmm, pertama aku harus mengganti pakaianku dulu lalu seperti yang sudah kubaca, merapihkan rak dan menyusun buku dengan warna seragam. Semangat!


Aku segera menyimpan tasku didalam loker samping meja kasir, mengambil paperbag berisikan baju ganti. Setelah itu bergegas menuju toilet untuk berganti pakaian.


...


Aku tidak kesulitan saat mengatur buku sesuai judul dan warna, menurutku pekerjaan ini lebih tenang dan orang-orang yang datang juga ramah. Suasana tenang diiringi musik jazz dari sound system yang kuputarkan, membuat orang-orang yang sedang memilah buku ikut tenang.


Setelah merasa cukup rapih, aku segera meninggalkan lorong rak penuh buku itu dan berjalan menuju meja kasir. Karena tempatnya yang terletak ditengah kota, toko buku ini ramai pengunjung. Aku juga dapat melihat dengan jelas orang berlalu lalang melewati toko kami.


"Aku akan membeli buku ini~"


Ucap seorang laki-laki mengalihkan pandanganku.


"Ah iya, tunggu sebentar,"


Jawabku sembari meraih buku-buku tersebut dan megetikkan kode harganya di mesin kasir.


"Totalnya 168.000 ribu."


Ucapku padanya, disusul dengan tangan laki-laki tersebut yang memberikanku kartu kredit. Aku segera menerimanya, dan memproses pembayaran.


"Terimakasih, silahkan datang kembali.."


Kataku seraya membungkukkan setengah badan kepadanya setelah laki-laki tersebut berjalan meninggalkan toko.


...


Hari sudah semakin gelap, menandakan shift kerjaku hari ini akan segera selesai. Seraya menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 21.00, aku menoleh kepada laki-laki yang tampak masih memilah buku.


Sudah jam sembilan lebih, apa dia masih belum memutuskan buku mana yang mau dibeli?


Aku memutuskan untuk menghampirinya, hendak membantu mencarikan buku yang ia cari.


"Permisi, ada yang dapat kubantu?"


Ucapku ramah.


Laki-laki tersebut tidak menggubris ucapanku, ia masih menatap buku-buku yang berjejer rapih di rak buku.

__ADS_1


"Ekhem, Maaf toko kami akan segera tutup jadi--"


"Berisik."


Apa ini? dia baru saja mengatakanku berisik?! jelas-jelas aku cuma mau membantunya.


Laki-laki tersebut tiba-tiba menoleh kearahku, memicingkan matanya, menatapku tajam.


Apasih malah lihat-lihat kaya gitu padaku, kok seram..


Aku menunduk ciut setelah menerima tatapan tajam darinya. Laki-laki tersebut berjalan melaluiku, menuju pintu dengan kedua tangan yang berada di saku celananya.


Setelah melihat dirinya pergi begitu saja, tiba-tiba aku menjadi emosi sendiri.


Sabar Tha, kendalikan emosimu, belakangan ini aku mudah sekali terbawa emosi~


Aku segera bergegas mengambil barangku dan menutup toko, lalu menghubungi Nyonya Cika, untuk memberitahunya bahwa aku sudah menutup toko dan menguncinya dengan benar.


...


Kasih tau Aidan nggak ya kalau aku udah selesai kerja?


Masih sambil berjalan menuju halte bus, aku memperhatikan ponselku dengan intens, ragu apakah harus menghubungi Aidan sesuai permintaanya tadi sore atau tidak.


Tapi di lain sisi, aku masih malu dan merasa sangat canggung pada Aidan, walaupun cuma mengirimkan pesan. Karena kejadian tadi siang, aku jadi memikirkan hal aneh-aneh dibenakku.


Tiba-tiba langkahku terhenti, saat menyadari ada sosok yang kukenal baru saja keluar dari minimarket.


"Helen!"


Ucapku sedikit berteriak, lalu bergegas menghampirinya.


"Wah coba liat siapa ini,"


Balas Helen sembari tersenyum dan menepuk pundakku pelan.


Mataku menatap lurus kepada laki-laki yang tiba-tiba menghampiri Helen, berdiri tepat disampingnya sembari membalas tatapanku.


Aku segera mengalihkan pandangan ke Helen,


menunggu penjelasanya saat sudah menerima sinyal dariku.


"Aahh.. Ini Gery, kau pasti gak ingat dan gak tau dia sama sekali." Jelas Helen padaku.


"Gery? sepertinya aku pernah dengar nama ini.. tapi dimana ya?"


Ucapku sambil berusaha untuk mengingat-ingat sosok laki-laki dihadapnku yang bernama gery ini.


Belum selesai aku memikirkan, tiba-tiba Gery mendekatiku, memajukan wajahnya untuk menatapku dari dekat.


"Sepertinya aku yang sedang berusaha mengingatmu."


Helen segera menarik tubuh Gery kebelakang, menjauhkanya dariku.


"Hey yha.. apa yang kamu lakuin barusan? dia ini Agatha Violen tau!" Ucap Helen sambil mendongakkan kepalanya menatap Gery.


"AGATHA VIOLEN?!"


Celetuk Gery tiba-tiba membuatku terkejut menoleh kearahnya, begitu juga Helen yang langsung memukul punggungnya keras.


..


Setelah berdebat cukup panjang di depan minimarket, kami memutuskan untuk melanjutkan obrolan di sebuah cafe yang terletak tidak begitu jauh dari minimarket tadi.



Malam ini sepertinya tidak begitu ramai yang bekunjung di cafe ini, jadi kami dapat berbicara leluasa tanpa harus khawatir akan ada yang mendengar obrolan kami, seperti di depan minimarket tadi.


Perlahan aku sudah sedikit mengenal Gery, sosok laki-laki yang ditugaskan oleh pimpinan marga Jaidran untuk mengawasi keberadaan Aidan di dunia ini. Gery, seperti yang kuingat sebelumnya aku pernah mendengar namanya. Gery pada saat itu bersamaku dan Aidan saat aku pertama kali memasuki dunia sana. Yang awalnya kukira peliharaan, ternyata bukan.


Gery sengaja bekerja sama dengan Helen untuk saling bertukar informasi di dunia ini, mereka masih sangat bingung ketika pertama kali tiba di dunia ini. Gery terutama, dengan memberanikan diri ia menghampiri Helen yang saat itu sama-sama tersungkur ditanah seperti dirinya.


Mereka saling menyadari identitas masing-masing saat melihat kalung yang dikenakan mereka. Melambangkan asal Marga dan sumber kekuatan mereka.


Aku tidak tahu jelas hubungan Helen dengan Bu Ratih, pemilik panti. Pembicaraan kami tersenggal saat orang-orang menatap kami dengan curiga, karena kesalahan Gery yang menggunakan kekuatanya untuk melemparkan meja tanpa bantuan tanganya. Sehingga kami diusir oleh pemilik minimarket karena sudah merusak meja tersebut, tentu saja setelah membayar uang ganti rugi.


"Kau beneran hilang kekuatan?"


Tanya Gery tiba-tiba, masih sangat penasaran.


Aku membalasnya dengan sedikit anggukan, lalu menopang daguku bertumpu di meja, menghela nafas dengan raut wajah yang tidak bersemangat sama sekali.


"Jadi, Aidan masih bisa menggunakan kekuatanya sedangkan kau gak bisa, gitu?"


Pungkas Helen menatapku, setelah meneguk minuman di tanganya itu.


Aku kembali mengangguk, merespon pertanyaanya.


-*Kato!


Ponselku berdering sebentar, menandakan ada pesan masuk. Aku segera duduk dengan tegap, lalu meraih ponselku dan membuka pesan yang baru saja masuk tersebut.


Aidan: (Kau masih kerja? sampai jam berapa?)


Aku segera menutupi ponselku saat Helen dan Gery mulai mengintip.


"Heii! ini privasi tau.."

__ADS_1


Ucapku ketus, lalu hendak membalas pesan dari Aidan.


(Sudah, dan sekarang lagi ngobrol sama teman.. maaf nggak mengabarimu langsung.) *send


Setelah mengirimkan pesan kepada Aidan, mataku menatap Helen dan Gery yang menatapku malas sembari meneguk minumanya masing-masing.


"Kalian ngambek?"


Tanyaku setelah memperhatikan tingkah mereka yang tiba-tiba jadi cuek lalu mengalihkan pandanganya, menolak untuk menatapku.


*Kato!


Notifikasi di hpku muncul, aku segera membaca isi pesan tersebut,


Aidan: (Lagi dimana?)


Aku tersenyum menatap ponsel, mendapati Aidan yang terus-terusan ingin tau tentangku.


..


Setelah terfokus pada ponselku selama beberapa menit, aku tersadar bahwa ada 2 orang yang sedang menatapku dingin.


"Ngaku kau, itu pasti Raja."


Celetuk Helen padaku, dengan memicingkan matanya.


"Raja siapa? Aahh.. si cecunguk dari Violen,"


Ucap Gery yang tiba-tiba membuat Helen melotot kearahnya.


"C-ccecunguk katamu?!"


Helen langsung meraih kerah baju yang dikenakan Gery, menatapnya dengan tajam yang sama-sama masih duduk.


"Aahkk..!"


Rintih Gery sembari berusaha melepaskan cengkraman tangan Helen di kerah bajunya, yang membuat dirinya tercekik.


Aku segera menghentikan mereka, karena beberapa orang yang berada di cafe ini menatap kami sembari berbisik-bisik.


"Hey.. hentikan,"


ucapku dengan sedikit bangkit dari kursi, sembari memisahkan tangan Helen dari Gery.


Helen melepaskan cengkramanya, beralih melipat tanganya dibawah dada dengan tatapan super ketus kepada Gery.


"Raja hampir memanahku karna dia pikir aku anjing betina."


Pungkas Gery dengan raut wajah yang masam.


"Anjing betina??"


Tanyaku penasaran.


Gery menoleh kearahku,


"Iya, aku bertemu denganya di hutan dan dia pikir aku ini anjing betina dari belakang, dia bilang aku cantik dan berbulu halus."


Jelas Gery.


"Lalu??"


Tanyaku masih penasaran.


"Aku membalikkan tubuhku, saat itu juga dia terkejut lalu menendangku dan memburuku sampai-sampai melontarkan anak panah. B*jingan gila."


"HAHAHAHAHAHA"


Helen tiba-tiba tertawa saat mendengar penjelasan dari Gery. Ia sampai memegangi perutnya karna tertawa lepas.


Aku tersenyum heran menatap Helen. Gery melemparkan gulungan tisu kearah Helen, karena sudah menertawainya.


"Hei serigala bodoh, anjing betina? kau masang muka gimana memangnya saat berbalik badab menghadap Raja?"


Tanya Helen masih menertawakanya.


"Berisik kau, diam gak?!"


Jawab Gery sedikit kesal.


"Ululuu, memang sih kau sedikit keliatan seperti uhmm, wanita."


Pungkas Helen sembari menggerakkan tanganya mengarah ke dadanya, lalu disambung dengan tawanya lagi.


"Terus, itu di ponselmu kau berhubungan dengan Raja?"


Tanya Gery setelah tidak menggubris ucapan Helen, mengalihkan pandanganya malas lalu terfokus padaku.


"Aa-ahh ini.. aku, mengirimkan pesan ke temanku, karena bakal pulang terlambat."


Jawabku setelah menemukan alasan tepat.


Helen menatapku serius, matanya menyipit mengarahku.


"Kau kan gak punya teman. Teman yang mana sampai perhatian kau pulang terlambat atau nggak." Tegas Helen, membuatku tersudut.


Bener juga, sejak kapan aku punya temenT_T

__ADS_1


Aku tersenyum malu-malu setelah Helen mendapatiku berbohong. Tapi kalau aku mengatakan yang sebenarnya ini Aidan, Helen dan Gery pasti akan terkejut. Aku harus menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan hubunganku dengan Aidan saat ini.


....


__ADS_2