
Kami berhenti di sebuah taman yang cukup sepi. Aidan memarkirkan motornya, lalu membantuku turun lebih dulu.
Langkahnya menuntun jalanku, raut wajahnya juga nampak masih serius.
Apa ini, Aidan marah karena aku memeluknya terlalu erat dijalan tadi? Tolong katakan tidak.
Tanganya langsung menggandeng tanganku begitu pandanganya tertuju kearah kursi yang berada di atas bukit tidak terlalu tinggi itu.
Aku menuruti ajakanya dan mengikuti langkahnya dari belakang. Aidan mempersilahkanku untuk duduk melalui senyuman dan tanganya yang mengarah ke kursi.
Aku segera duduk dengan pandangan yang tak lepas darinya. Ia menyusulku, duduk berdekatan disampingku. Matanya yang coklat menatapku, seperti ingin mengungkapkan sesuatu.
"Langsung saja, Atha dengarkan aku dan jangan langsung mengambil kesimpulan,"
Pungkasnya sembari menggenggam tanganku.
Aku mengangguk, mempersilahkanya untuk melanjutkan kata-katanya.
"Sepertinya kau tau siapa sebenarnya aku, aku memang bukan pasanganmu didunia sana,"
Aku berusaha terlihat tenang mendengar pengakuanya barusan. Jadi, ternyata benar yang dikatakan Bu Ratih.
"Kenapa kamu ngelakuin itu, Aidan?"
"Tapi percayalah Tha, akhir-akhir ini aku beralih mencintaimu, tulus. Aku benar-benar ingin mencintaimu.."
Ucapnya lagi dengan penuh keyakinan sembari menggemggam tanganku erat. Sontak, aku terkejut dengan pengakuan cintanya barusan. Aku menatapnya lirih, merasakan tanganya yang dingin menggenggamku erat.
"Cinta? tapi apa benar Aidan, kamu berusaha untuk membalas dendam padaku?"
Tanyaku tanpa ragu-ragu setelah menatap matanya yang tampak penuh penyesalan itu.
"Dengarkan aku, memang benar itu misi awalku. Aku ditugaskan oleh Pemimpin marga Jaidran, negeri kita disana. Tapi Tha, aku gak bisa menghindari perasaan yang berubah menjadi cinta padamu,"
Ucapnya lagi dengan mata yang seperti memohon padaku.
Takdir sialan, kalau berbicara seperti ini aku tampak seperti orang penting, tapi sekali lagi aku jelaskan, kenapa aku hidup miskin dan menderita seperti ini.
"Aidan, makasih udah mengatakan yang sebenarnya padaku. Aku udah tau dari pengasuhku di panti, kalau kamu.. menipuku."
Mata Aidan terbelalak terkejut ketika aku mengeluarkan kata-kata menipu.
"Atha, itu gak benar! Aku gak pernah menipumu sejak awal, aku hanya membantu ingatanmu kembali."
Aidan membela dirinya sendiri, ia menatapku sangat serius.
"Tenanglah Aidan, aku hanya mendengarkan penjelasan dari pengasuhku. Lagipula, yang kita lakukan di malam hari itu, semua tergambar jelas di sebuah buku. Seperti kamu mengikutinya dengan detail,"
Pungkasku pada Aidan.
"Tha, Kau mau baca buku milikku?" Ucap Aidan setelah menghela nafas.
"Buku apa?" Tanyaku penasaran.
Aidan beranjak dari kursi yang juga sedang kududuki itu. Matanya celingak celinguk memperhatikan sekitar, setelah merasa aman karena tidak ada orang yang memperhatikan, tanganya segera menggenggam rumput lalu mencabutnya keluar.
Tapi ada yang aneh saat kuperhatikan, jelas-jelas Aidan mencabut rumput, namun aku melihatnya ia sedang menggenggam sebuah buku tebal berwarna hijau tua.
Tunggu, Aidan melakukan sihir lagi?
Aidan menghampiriku lalu duduk kembali sembari memegangi buku yang berasal dari rumput itu. Aku menatapnya penuh heran.
"Aidan, kamu.. sebenarnya punya kekuatan apa sih?!"
Aku benar-benar tidak habis pikir, waktu itu ia menghentikan waktu, lalu dapat memasuki dunia sana, terus sekarang merubah rumput menjadi buku? Yang benar saja.
"Tenanglah, ini memang kemampuanku."
Ucapnya sambil menoleh sebentar kearahku lalu kembali menatap serius buku tersebut dan membukanya.
Lembar pertama yang ia buka, membuatku semakin penasaran dan bergeser lebih dekat denganya. Mataku memperhatikan dengan jelas tulisan dan gambar yang tertera di halaman itu.
(Sifatmu yang egois, sulit menemukan cinta sejati. Rebutlah seseorang yang berasal dari Marga Violen, ada putri yang akan mencintaimu dengan tulus. Sekali lagi, rebutlah.)
Aku mengernyitkan dahi ketika membaca kalimat awal dari halaman tersebut, sekaligus heran.
kenapa ada margaku Violen?
__ADS_1
Aidan langsung membalikkan halaman cukup banyak hingga tanganya berhenti membalik saat menemukan halaman yang ia cari. Matanya melirikku, memintaku untuk membacanya.
Aku segera membaca isi dari halaman tersebut
(Hari itu, sesuatu yang buruk menimpa keluargamu. Ayah dari gadis yang berhasil kau cintai itu, membunuh pamanmu.)
Aku menoleh sekilas pada Aidan, lalu kembali membaca kalimat selanjutnya.
(Hubunganmu tidak direstui lagi. Kau harus meninggalkanya, demi keabadian Jaidran.)
"Hubungan yang dimaksud itu kita berdua."
Ucap Aidan tiba-tiba sembari menoleh padaku. Aku menatapnya kembali dengan raut wajah yang nampak bingung.
"Aidan aku pusing, aku nggak ngerti sama pernyataanmu," Sahutku padanya.
Aidan menutup buku yang ia genggam tersebut, dalam sekejap, buku itu sudah menghilang dari genggamanya. Kembali menjadi rumput yang tercabut bersama tanah, lalu ia membuangnya.
"Ah, aku jadi gak bisa mengusap rambutmu, Tanganku kotor."
Celetuk Aidan, wajahnya tampak cemberut setelah memperhatikanku. Tanganya yang hampir menyentuh rambutku itu mendadak ditarik kembali, membuatku tertawa kecil melihat tingkahnya.
"Aidan, kamu nggak kembali ke sekolah?"
tanyaku.
"Malas. Sepertinya anak yang kuhajar habis-habisan itu mengadu,"
Jawab Aidan dengan santai, pandangan dan tubuhnya menghadap kedepan sembari bersandar di bangku taman dengan tangan terlipat dibawah dada.
"Ah benar, Aidan! kamu ngapain ngehajar murid itu?" Tanyaku menoleh kesamping menatapnya.
"Dia yang membicarakanmu, mulutnya minta dihajar. Oh, tentang mejamu itu ulah anak perempuan." jawabnya dengan mata yang mulai terpejam, menikmati hembusan angin.
"Terus kamu hajar juga?!" Tanyaku lagi.
"Kalau iya kenapa? memukul perempuan gak sulit bagiku." ucapnya dengan tak bersalah menatapku sembari tersenyum.
"Kamu!"
Aku memukul paha Aidan, hendak memarahinya.
Aidan menahan tanganku, lalu menggenggamnya.
Benar juga, kenapa aku jadi bersikap santai begini kepadanya? astaga Agatha sadarkan dirimu.. kalau begini bisa-bisa Aidan tau aku suka padanya.
"Maaf, habisnya kamu bicara enteng sekali.."
Ucapku dengan nada pelan, dengan tangan yang masih tergenggam olehnya.
"Haha bodoh, mana mungkin aku menghajar perempuan.. Aku bermain sedikit dengan mereka,"
Pungkas Aidan, menatapku jahil.
"Ber-bermain..?
Tanyaku, entah kenapa nadaku menjadi terbata-bata.
Aidan tertawa puas, tanganya melepaskan genggaman terhadapku. Ia kembali menatapku dengan jahil.
"Di toilet, kami bermain di toilet. Melakukan ini itu, lalu aku pergi setelah merasa puas."
Demi Dewa semesta alam, apa yang dikatakanya barusan membuatku ambigu. Toilet? pergi setelah puas? apa-apa maksudnya
"HAHAHAHAHA"
Ia menertawaiku lagi dengan suara keras.
"Kamu kenapa ketawa terus sih,"
Ucapku padanya heran, dengan raut wajah yang cemberut.
"Kau pasti mikir yang enggak-enggak kan? bukan itu, aku menyuruh mereka membersihkan toilet laki-laki." jelasnya padaku, setelah menghentikan tawanya.
"Aku nggak bilang apa-apa tuh. Tapi kamu keterlaluan sekali Aidan!" Kataku.
"Apanya gak bilang, jelas-jelas kau mikir ambigu gitu. Lagipula Tha, mereka juga keterlaluan padamu."
__ADS_1
Pungkas Aidan, sontak membuatku terkejut dengan perkataanya barusan.
"Aidan.. Kamu bisa baca pikiran?!"
Tanyaku penuh penasaran, menatap matanya tajam.
Ia tampak seperti orang yang baru saja ketangkap basah, pandanganya berpaling dari wajahku. Aidan bangkit dari kursi, sembari meletakkan kedua tanganya dikantong celana.
"Ayo, katanya kau mau ke panti.."
Ucapnya setelah beranjak dari kursi.
Benar, kamu mengalihkan pembicaraan. Aidan aku mencintaimu, aku mencintaimu, jadian yuk? kamu pasti dengar ini kan?
Ucapku dalam hati, berusaha membuktikan perkataanku tentang Aidan dapat membaca pikiran. Aku segera berdiri setelah mengatakan itu, mataku masih menatapnya. Menunggu gerak-geriknya saat aku menyatakan cinta dalam hati padanya.
Aidan menoleh kearahku tiba-tiba, raut wajahnya nampak terkejut.
Berhasil! kamu beneran bisa baca pikiran rupanya.
"Kamu.. barusan tau aku bilang apa kan?"
Ucapku menginterogasinya, dengan telunjuk yang mengarah ke wajahnya.
Sebuah senyuman tersungging di bibirnya, Aidan memajukan wajahnya mendekati wajahku yang berdiri disampingnya, membuat telunjuk dan wajahku menciut mundur.
"Ah.. ketahuan."
Ucapnya dengan santai setelah menghela nafas.
Apa? jadi benar? astaga.. ****** aku sudah gila! ehhh Aidan bisa mendengarku, bodoh Agatha bodoh!
Tubuhku segera berbalik, lalu berjalan menghindari Aidan. Aku segera menutupi wajahku, dan berjalan secepat mungkin meninggalkan Aidan.
"Atha... kita jadian nih? aku juga suka kau tuh,"
Ucap Aidan dengan nada sedikit berteriak, lalu segera menyusulku dengan larian kecil.
"Engga! aku cuma mau nge tes,"
Jawabku dengan pipi yang merona sembari terus berjalan tegap, menghindari langkah yang bersamaan dengan Aidan. Aku berjalan sedikit di depan darinya.
...
Aidan mengantarku ke panti, lalu segera pergi setelah sampai, karena menyadari kehadiran Bu Ratih yang terlihat di pos jaga.
"Nanti kabari aku setelah selesai."
Pungkasnya sambil mengalungkan helm yang baru saja kukenakan di lenganya.
Aku mengangguk mengerti dengan perkataanya. Dengan segera, Aidan langsung melajukan motornya itu setelah kulambaikan tangan.
"Atha!"
Teriak Bu Ratih setelah melihatku berjalan mendekati gerbang.
Aku segera berlari menghampirinya, lalu memeluk tubuhnya hangat.
"Bunda..."
Ucapku dengan nada lirih sembari membenamkan wajahku di pelukanya.
"Sepertinya Bunda baru saja mendengar suara motor, Atha diantar seseorang?"
Tanya Bu Ratih setelah memelukku, sontak membuatku sedikit terkejut.
Astaga, motor Aidan suaranya keras sekali sampai Bu Ratih menyadarinya.
"Motor? Atha naik bus Bunda.."
Jawabku berusaha tenang.
"Tapi tadi.."
Sela Bu Ratih membantah perkataanku.
"ah ayo Bunda, masuk.. sepertinya Atha laper banget belum sarapan, hehe"
__ADS_1
Pungkasku mengalihkan pembicaraan, lalu bergegas jalan dengan tangan yang masih memeluk Bu Ratih, memaksanya masuk setelah menundukkan kepala kepada satpam penjaga panti.
...