VIOLEN

VIOLEN
Sebaiknya Berteman


__ADS_3

...


Pagi hari, pukul 06.30.


Setelah menangis terlalu larut, aku bersiap-siap untuk segera berangkat sekolah. Seperti biasanya, berjalan sekitar 10 menit sampai akhirnya naik bus menuju sekolah.


Aku terbebani oleh pikiran yang memenuhi benakku. Tidak bisakah aku menjalani hidup yang normal seperti orang lain? aku sudah hidup susah, harus bekerja dan menerima kenyataan bahwa aku tidak benar-benar diciptakan sejak awal di dunia yang menyeramkan ini.


"Astaga gawat!"


Ucapku pada diri sendiri setelah menatap jam di ponselku. Aku segera berlari secepat mungkin menuju halte bus. Nafasku ter-engah begitu bus datang. Aku segera menaiki bus tersebut, namun tidak ada kursi yang tersisa. Aku menghela nafas panjang lalu berpegangan pada tiang bus. Menatap jalanan yang tampak dari jendela sembari memasangkan headset ditelingaku untuk menenangkan pikiran melalui musik-musik.


--*ssrakk


Aku menoleh kearah orang yang baru saja mencabut headset yang terpasang di telingaku. Mataku menatap wajahnya tajam yang tidak begitu terlihat karena terhalang topi yang ia kenakan.


Orang tersebut berseragam sama denganku, aku semakin penasaran denganya. Ia mengangkat sedikit kepalanya keatas lalu tersenyum padaku.


"Aidan!"


Ucapku sembari memukul lenganya pelan.


Ia tampak santai berada disebelahku. Tanganya yang kanan langsung meraih pegangan bus dan tangan satunya lagi menjaga tubuku dari belakang sambil berpegangan tiang bus yang kujadikan pegangan.


Pandanganku kosong menatap jalanan. Aku benar-benar tidak dapat memikirkan apa yang harus kulakukan saat situasi seperti ini terjadi. Aidan tidak menatapku, pandanganya juga lurus menatap jalanan.


-- *Criiiiiittttt ....!


Bus terhenti ketika di rem mendadak. Tubuhku terhempas kesamping tanpa sadar, namun Aidan segera bergerak melindungi tubuku dengan tubuhnya. Tangan kirinya menarikku berada di pelukanya untuk menghindari kepalaku yang akan terbentur di tiang bus.


"Ah astaga! maafkan saya.. tiba-tiba ada kucing yang menyebrang."


Pungkas supir bus tersebut dengan segera meminta maaf kepada kami semua yang berada di bus.


Aku segera menghindar dari Aidan, memberi jarak terhadap kami. Bus kembali melaju dan keadaan yang semula panik menjadi tenang kembali.


...


Aku turun lebih dulu meninggalkan Aidan. Kami tidak berbicara lagi setelah kejadian rem mendadak. Aidan menyusulku dengan segera. Tanganya menahan pundakku ketika sedang berjalan.


"Kau kenapa?"


Tanya Aidan setelah membalikkan tubuhku menghadapnya.


"Nggak ada alasan khusus."


Jawabku singkat dan cuek lalu kembali berjalan menuju gerbang sekolah.


Aidan tak mengejarku. Kurasa Ia masih tetap berdiri setelah aku mengabaikanya.


...


Kelas dimulai. Murid-murid menghentikan segala aktivitasnya ketika Guru sudah memasuki ruangan kelas.


"Aidan absen hari ini?"

__ADS_1


Tanya Guru matematika tersebut setelah menatap kami.


Aku segera menoleh ke belakang, menatap bangku Aidan yang kosong.


"Sudah.. sudah. Kembali fokus ke pelajaran-"


Pungkas guru tersebut menghentikan suara kami yang gaduh karena ketidakhadiran Aidan.


...


Kelas berlangsung lamban tak seperti biasanya. Murid-murid mulai meninggalkan kelas untuk segera makan siang. Aku tidak berselera untuk makan. Kemana perginya Aidan? jelas-jelas Ia datang bersamaku tadi pagi. Aku merasa bersalah, apa mungkin karena sikapku yang dingin kepadanya? benar, Aidan mungkin heran dan bingung karena sikapku yang berubah tiba-tiba. Aidan mungkin belum menyadari bahwa aku sudah sadar dengan dirinya yang menipuku seperti apa yang dikatakan Bunda, Bu Ratih pemilik panti.


-- "ada apa sih?" / "yang benar??!" /


Suara gaduh murid-murid yang berlari melalui koridor kelas mengalihkan pandanganku. Aku segera berlari keluar dan bertanya kepada salah satu murid yang kuhentikan langkahnya.


"Hey ada apa??"


Tanyaku sangat penasaran.


"Ahh itu.. 2 orang laki-laki kembar sedang berantem tuh."


Jawabnya padaku lalu berlari lagi meninggalkanku.


"Tunggu? Bukankah yang dimaksud itu Raja dan Aidan?"


Gumamku dalam hati. Aku segera mengikuti mereka yang berlari keluar. Banyaknya murid-murid yang berkerumun untuk menonton membuatku tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang sedang berkelahi itu.


"Hentikan!! Raja! Aidan!"


Aku lemas bukan main. Mereka yang berkelahi benar-benar Raja dan Aidan.


"Apa-apaan kalian! kalian itu saudara!"


Tegas guru tersebut setelah memisahkan Aidan dan Raja. Guru-guru yang lain membubarkan kerumunan murid-murid dan menyuruh mereka untuk segera masuk kembali ke kelas, termasuk aku. Dengan berat hati dan pikiran yang campur aduk, aku menuruti perkataan guru tersebut untuk kembali ke kelas.


Ruangan kelas tampak gaduh karena kejadian tersebut. Mereka yang menyukai Raja dan membenci Aidan menjadi-jadi ketika salah satu orang memprovokasi. Aku memasuki ruang kelas dan kembali duduk ke kursiku.


"Yang bernama Agatha silahkan keluar."


Ucap seorang guru perempuan ketika memasuki kelas tiba-tiba. Aku terkejut ketika namaku dipanggil. Mereka yang berada di kelas menatapku dengan tatapan yang menyeramkan. Aku bangkit dari kursiku dan mulai berjalan menghampiri guru yang memanggil namaku tersebut.


Suara bising kelas menjadi lebih gaduh ketika aku baru saja keluar kelas. Perasaan tidak enak mulai muncul ketika guru perempuan tersebut berjalan lebih cepat menuju ke suatu tempat yang aku tidak ketahui.


...


"Silahkan."


Ucap guru tersebut sembari membukakan pintu dari sebuah ruangan kepadaku. Aku membungkukkan badanku sebagai tanda hormat dan segera memasuki ruangan tersebut.


Pemandangan apa ini, sangat asing untuk disaksikan. Aku mendapati Raja dan Aidan yang babak belur duduk bersebrangan.


"Sedang apa? cepat duduk."


Perintah salah satu laki-laki yang cukup tua itu kepadaku. Aku segera duduk di kursi yang berada ditengah-tengah tersebut. Seorang wanita yang tampak berusia setengah baya berpakaian serba mahal beserta perhiasan yang ia kenakan itu menatapku dengan dingin. Ia duduk bersebelahan dengan Raja. Begitu juga dengan Raja, Ia menatapku sedih.

__ADS_1


"Kamu tahu tidak penyebab kedua anak saya berkelahi itu karena meributkan kamu?"


Tanya pria tua itu kepadaku. Aku terkejut, anak saya? Aku menggelengkan kepalaku tanpa menatapnya. Kepalaku menunduk rendah.


"Gak usah takut Tha. Ini bukan salahmu."


Aku menoleh kesumber suara tersebut, Raja rupanya.


Aku masih sangat bingung dengan situasi ini. 4 orang guru bersama Kepala sekolah serta Direktur sekolah dengan Istrinya yang merupakan orangtua dari Raja dan Aidan. Mereka hadir disini karena perkelahian yang baru saja terjadi. Aku manatap Aidan sejenak, pandanganya kosong tampak melamun dengan beberapa luka di wajahnya. Muncul perasaan bersalah di hatiku.


"Kamu mengencani kedua putraku ini sekaligus? sudah tidak waras?!"


Perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Istri direktur tersebut kepadaku membuat suasana ruangan semakin mencekam. Aku menatapnya keheranan.


"Saya tidak pernah melakukan itu."


Belaku terhadap diri sendiri. Mataku mulai lelah tidak bisa membendung lagi air mata yang ingin segera keluar.


"Terus apa kalau bukan itu?!"


Bentaknya kepadaku lagi.


Aku sangat tertekan dan ketakutan. Aku tidak berani menatap wajah mereka kembali. Air mataku jatuh mengenai lutuku dengan kepala yang sengaja kutundukkan. Aku terdiam tidak menjawab perkataan Istri direktur itu.


Kaki ku terasa ingin segera lari meninggalkan ruangan dari orang-orang dewasa yang menyeramkan ini. Hatiku terasa berat dan campur aduk ketika dihakimi seperti ini.


-- *grepp


"Berdiri. Kubilang berdiri!"


Bentak seseorang sambil meraih tanganku.


Aku mengangkat kepalaku, menatap wajah orang tersebut.


"Aidan.."


Ucapku lirih masih terisak dalam tangisan. Aku memandangi orang-orang termasuk Raja yang berada dalam ruangan ini. Mereka tampak terkejut.


Aku terpaksa berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut karena tarikan Aidan yang kasar. Aku menatap tubuhnya dari belakang yang terus menarik tanganku untuk mengikutinya.


...


Ia membawaku menaiki tangga menuju atap. Aidan segera mengunci pintu tersebut dari luar begitu kami sudah berada di atap gedung sekolah. Aku terjatuh lemas dan meluapkan semua tangisanku bersama hembusan angin yang cukup kencang.


"Gak usah nangis!"


Ucapnya dengan kasar. Ia mencengkram pundakku dengan kedua tanganya. Menyaksikanku yang masih menangis.


"Kubilang jangan menangis.."


Ucapnya lagi dengan suara yang mulai melemah dan tenang. Tanganya melepaskan cengkraman pada pundakku. Ia mengusap air mata di pipiku lalu memeluk tubuhku erat.


Aku tidak mempunyai tenaga yang cukup untuk menolak pelukanya. Aku menangis dalam pelukanya.


__ADS_1


...


__ADS_2