
...
Malam setelah perkelahian, Aidan POV.
Merasa sedikit berbaikan, aku menuruti permintaan Gery cecunguk ini. Meninggalkan motorku di tempat persembunyianya, lalu berjalan beriringan denganya menembus dinginya kota malam hari.
"Mana bisa hewan minum,"
Pungkasku padanya, memasukkan tangan kedalam saku celana agar tidak kedinginan.
"Kau sendiri siluman, bisa mabuk?"
Balas Gery menatap malas jalanan, dengan tangan yang dilipat mendekap badanya sendiri.
Ucapanya barusan membuatku menoleh sinis, memperhatikanya dari samping lalu merasa puas hati saat melihat luka diwajahnya akibatku.
"Tutup mulutmu, sebelum kutambah lagi luka diwajah burukmu itu."
Ucapku setelah memalingkan wajah darinya.
"Ayam.."
Ucapnya pelan, menghela nafas.
"Apa?"
Balasku heran, menatapnya kembali yang menatap kosong kedepan.
"Ayam.. aku ingin makan ayam..."
Jelasnya lagi membuatku malas mendengarkanya.
*DUGG!
(Suara tendangan dariku yang mengenai kakinya.)
Langkahnya terhenti setelah menerima tendangan dariku yang sepertinya cukup keras, aku menatapnya dengan tersenyum usil.
"Kenapa?"
Tanyaku polos tanpa rasa bersalah, bersiap untuk lari.
"Cecunguk ini!!"
Bentaknya padaku seketika.
Aku segera berlari menjauhinya, begitu juga Gery yang mengejarku. Ada perasaan kuat yang muncul dihatiku, keakraban ini yang kurindukan dengan Gery.
"Siluman sial***, kemari kau!!"
Teriaknya yang tertinggal jauh dariku.
Terbesit dibenakku sekilas, karena khawatir akan wujudnya yang dapat berubah menjadi serigala, aku segera menghentikan lajuku.
*Grepp!
"Dapat kau, siluman cilik!"
Pungkasnya setelah menangkap tubuhku, dengan tidak serius menghabisiku di tengah jalan. Menjadikan pusat perhatian, karena tingkah konyol kami.
"Kau gila? lepasin. 3.. 2.."
Ucapku berusaha terus untuk lepas dari dekapan kasarnya.
Gery melepaskanku sebelum kusebut angka satu. Ia memutarkan bola matanya malas, mengalah padaku.
Pandanganku teralihkan ke arah sebuah restoran Ayam dan Bir yang terletak tidak jauh dari keberadaanku sekarang.
Tanpa menghiraukan Gery lagi, aku melangkahkan kaki mendekati restoran tersebut. Meninggalkan Gery yang ikut menyusulku juga saat itu.
...
"Selamat datang~"
Sambut pelayan dari meja pemesanan, lalu segera menghampiri kami yang sudah duduk.
Gery langsung merampas menu makanan dari tanganku. Matanya terlihat fokus mengamati menu-menu yang ada.
"Half & half serta 2 beer ukuran besar."
__ADS_1
Ucapku kepada pelayan yang sudah berdiri dari tadi, menunggu Gery yang tak kunjung memesan.
"Baik, mohon ditunggu.."
Jawab pelayan tersebut ramah setelah mencatat pesanan kami.
Gery melemparkan buku menu ke meja, tanganya dilipat diatas setinggi dada lalu memicingkan matanya menatapku.
"Kau sudah mirip dengan makhluk bumi ini beneran,"
Pungkasnya dengan nada keras, membuat pengunjung yang lain sempat menoleh ke arah kami.
"Kecilkan suaramu, atau kutendang keluar."
Balasku dingin.
Gery mengangguk mengerti, tanganya diarahkan kemulutnya seperti sedang mengunci.
"Hei, tapi menurutmu Raja dengan Agatha itu gimana?"
Ucapnya sedikit tersenyum dan menaikkan kedua alisnya singkat.
Deg. Tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat. Dengan berusaha tetap tenang, aku menatapnya kembali,
"Agatha itu pacarku."
Jawabku santai, yang sontak membuat Gery terbelalak terkejut.
"Ey.. mana mungkin Haha"
Balasnya meremehkanku sembari memukul meja pelan.
"Gak percaya, mau kutelfon sekarang?"
Bela ku dengan percaya diri, sembari mengeluarkan ponsel dari dalam jaket.
Masih dengan tatapan Gery yang meremehkan dan tanganya yang mempersilahkanku untuk menelfon Agatha, aku langsung melakukanya.
*Tuutt ... tut...
Apa ini kok gak segera diangkat, sudah tidur ya? bisa-bisa Gery menertawakanku habis-hab--
/"Halo?"
/"Iya, kau masih belum tidur?"
Balasku basa-basi sembari menatap Gery yang terbelalak terkejut.
/"Belum, kamu dimana? aku khawatir.."
Jawab Agatha. Deg, jantungku berdetak lebih cepat setelah mendengar Agatha mengatakan bahwa dirinya khawatir padaku.
/"Hm, habis berkelahi dengan Gery lalu makan ayam denganya."
Jelasku pada Agatha, sembari menatap Gery kembali dihadapanku yang juga menatapku sinis.
/"Hah?! kamu ngapain berantem? Aidan!"
Respon Agatha dengan nada yang sedikit berteriak, membuatku menjauhkan ponsel dari telinga sejenak.
/"Iya, nanti kujelasin. Kau cepat tidur sana, selamat malam pacarku.."
Pungkasku berbicara di telfon dengan nada sedikit manja, menatap Gery yang sudah tampak kesal.
/"Apasih.. haha, iya kamu juga."
Balas Agatha.
*Pipp!
Aku memasukkan kembali ponsel kedalam jaketku, lalu mendapati raut wajah Gery dengan banyak pertanyaan yang tersirat.
"Kau... pasti sengaja menyerupai Raja agar dapat mendekati Agatha lagi, kan?"
Pungkas Gery dengan tangan yang masih terlipat serta tatapanya yang tajam sipit.
"Hah, gila kau mikir apa.. aku memang diberikan wajah seperti ini saat misiku diberikan."
Jawabku menyangkal pernyataanya barusan.
"Ah.. jadi kau sudah dekat sejak pertemuan kita di bangunan tua hutan sana?"
__ADS_1
Ucap Gery mengangguk mengerti.
"Hm,"
Responku singkat.
Tak lama, ada pelayan yang menghampiri kami sembari menyajikan 1 piring besar ayam dan 2 gelas beer pesanan kami. Pelayan tersebut pergi setelah selesai menghidangkanya di meja.
Tampak tatapan Gery yang seperti orang kelaparan, tanganya diremas-remas mendekati ayam tersebut lalu mencium aroma ayam tersebut dengan tangan yang di kibas-kibaskan ke hidungnya.
"Kau norak sekali.."
Ucapku setelah berdecak heran.
"Selama ini aku hanya makan ayam mentah, Agatha yang bilang kalau ayam di negri ini enak."
Balasnya ketus sembari menyambar ayam dihadapanya, lalu memakanya dengan lahap.
Aku mengernyitkan dahi setelah mendengar nama Agatha dari ucapanya, lalu segera meraih segelas beer ditanganku, meminumnya sedikit.
"Kau ini bilang mau mabuk, tapi malah makan ayam sebanyak itu?"
Celetukku setelah meneguk beer di genggamanku.
Sontak Gery menatapku, tanganya masih menggenggam ayam,
"Ayam ini beneran enak, apa aku harus beli banyak lalu kusimpan di rumahku sana, gimana?"
Ucapnya dengan mata yang berbinar, seperti telah terhipnotis dengan ayam.
"Gak bisa, nanti basi."
Jawabku malas, menatapnya yang kembali menyantap ayam digenggamanya.
Gery mengangguk pelan, lalu terfokus kembali menikmati ayam-ayam dihadapanya. Aku menatap jam di dinding, mendapati sudah pukul 11 malam, harus segera pulang.
"Hei, kau masih ingin disini?"
Tanyaku padanya, setelah menghabiskan beer di gelasku.
Gery mengangguk pelan. Ketika hendak beranjak dari kursi, tiba-tiba sosok yang kukenal menhampiri kami, Helen.
"Ngapain kau?"
Tanyaku ketus.
"Bukan urusanmu."
Jawabnya tak kalah ketus, lalu menarik tangan Gery yang tengah asyik menyantap ayam.
"Biarkan dia menghabiskan ayam-ayamnya, kau temani saja."
Ucapku berusaha tenang, berbicara santai pada Helen.
"Huh siapa kau menyuruhku?"
Jawabnya tetap ketus, matanya melirik sinis kearahku.
"Yasudah."
Responku singkat, sembari beranjak dari kursi hendak menuju kasir untuk membayar.
Tampak Helen yang langsung duduk ditempatku singgah sebelumnya, tanganya memukul-mukul kepala dan badan Gery yang masih menikmati Ayam.
Aku tak menghiraukan mereka, lalu bergegas keluar dari restoran ayam tersebut setelah selesai membayar.
Dengan langkah kaki yang terasa sedikit berat, aku khawatir akan suatu hal. Bagaimana kalau Gery melantur yang tidak-tidak saat diinterogasi petinggi Jaidran? karena cepat atau lambat, mereka pasti sudah menerima sinyal perkelahianku tadi dengan Gery.
"Sial, kalungku!"
Ucapku pada diri sendiri, dengan langkah yang turut terhenti hendak kembali menemui Gery.
"Lain kali saja,"
Ucapku lagi, mengurungkan niatku untuk kembali menemui Gery, sembari melanjutkan langkahku untuk mengambil motor dikediaman Gery lalu pulang.
.
.
.
__ADS_1
Aidan POV. selesai ...