
"Jadi kita tetap berteman kan?"
Tanyaku memastikan lagi pernyataan Raja.
"Entahlah.. mungkin suatu saat nanti aku akan merebutmu."
Balasnya tanpa menatapku, berjalan santai dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celana, mengamati buku-buku.
Aku terdiam sejenak, tak menanggapi perkataanya barusan. Kalau aku menolak, Raja pasti akan marah. Kalau aku mengiyakan, Aidan akan membenciku. Benar kata Helen, aku tidak bisa memilih satu diantara mereka.
..
Aku ragu, hendak memberitahu Aidan atau tidak, kalau saat ini aku sedang bersama Raja. Sedari tadi sore, Raja menungguku bekerja, kesalahpahaman pun sudah terselesaikan.
Aku juga bercerita tentang dunia sana, yang jelas saja ia tidak paham. Untung saja, Raja bersikap dewasa, dan percaya semua ucapanku.
Ternyata, mimpi dan kejadian aneh yang selama ini ku alami, tidak hanya terjadi olehku, tapi juga dengan Raja. Bahkan mimpinya lebih seram, mati tertusuk panah api. Raja bercerita, kalau di mimpi itu ia tak sendirian, ada seorang gadis yang ikut bersamanya. Anehnya, wajah gadis itu menyerupaiku.
Selama ini aku hanya memikirkan diri sendiri, aku tidak peka terhadap orang-orang di sekitarku. Karena merasa bersalah, Raja memintaku untuk menemaninya makan es serut, favorit kami saat masih SMP.
"Sip! ayo~"
Kataku, usai mengunci toko buku ini.
Sekarang pukul 9 malam, terlalu malam untuk makan es serut. Aku pun melirik Raja, dibalas dengan senyumnya.
"Apa? kau ngeliatin gitu, takut dimarahi Aidan?"
"Ah~ ayo, aku habisi kamu di ujung jalan sana."
Ucapku sambil berlalu, meninggalkan Raja.
Raja terkekeh, kemudian segera menyamai langkahku.
"Wah coba lihat, kau sudah belajar ilmu berkelahi di sana ya?"
Godanya, dengan tertawa.
"Benar, ilmu memanah api!"
Seruku, ikut tertawa dan masih terus berjalan.
Suara tawa Raja terhenti, setelah aku mengucapkan kata memanah api. Mungkin teringat dengan mimpinya, haha maafkan aku Raja, nggak bermaksud.
"Aku nggak yakin kedai es serutnya masih buka"
Raja melirik, lalu merangkul pundakku.
"Kau dan aku nggak akan tau, kalau belum melihatnya langsung~"
Pungkas Raja, lalu tersenyum menatapku.
Lumayan jauh, kami berjalan dari toko buku, tempatku bekerja. Suasana malam yang dingin tentunya, membuatku betah untuk berjalan. Walaupun ada perasaan tidak nyaman, karena Aidan tidak mengetahui hal ini.
"Kamu di cari Bunda"
Kataku, ditengah perjalanan kami yang hampir sampai.
"Benarkah? yasudah nanti kau temani aku kesana ya~"
Pintanya, lalu menghentikan langkahnya.
Kami saling melemparkan pandangan, setelah berdiri tepat di kedai es serut yang sudah tutup dan gelap.
"Tuhkan!"
Gerutuku, sedikit kecewa.
Raja mengerutkan keningnya, kemudian mengacak acak rambutku sembari tertawa kecil.
"Yaudah, kau mau makan apa?"
Aku pun langsung memperhatikan sekeliling, mencari sesuatu yang menarik pandanganku dan dapat, Kedai Gelato dan macaroons.
"Karna kamu yang ngajak, jadi kamu yang traktir ya!"
Ucapku menatap Raja tersenyum, kemudian langsung menunjuk kedai gelato tersebut.
Raja mengangguk setuju, mendorong tubuhku dari belakang sembari berjalan mendekati kedai tersebut.
*Tringg...!
"Selamat datang~"
Sapa pelayan kedai tersebut ramah, setelah kami masuk.
Aku segera berbalik menghadap Raja, lalu tersenyum padanya, memberi sinyal kalau aku ingin makan lebih dari satu.
Raja menggandeng tanganku, berjalan mendekat ke bagian pemesanan.
"Cantik dan manis sekali~ Raja aku mau yang ini.."
__ADS_1
Pintaku sembari menunjuk salah satu macaroon.
"Tolong berikan macaroon setiap warna"
Ucap Raja seraya mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya, lalu diberikan kepada pelayan kedai tersebut.
Aku melongo, terkejut karena Raja mentraktirku lebih dari 1.
"Kamu ada maunya ya?"
Raja mendelik, lalu mencubit pipiku gemas.
"Iya, aku ingin menghajarmu, karena lebih memilih Kakak bodohku itu."
Ucap Raja, sembari menarik kursi untuk duduk. Aku pun segera menyusul.
"Besok aku kerja, jadi nggak bisa.."
Kataku.
"Maksudmu?"
"Kan kamu yang minta ditemani ke panti, nemuin Bunda."
Sambungku lebih jelas.
Tak lama, pelayan kedai datang sembari membawakan 7 ice cream macaroons yang siap kusantap.
"Selamat menikmati~"
Pungkas pelayan tersebut, kemudian berlalu.
"Kau suka?"
Tanya Raja, tersenyum padaku yang menatap semangat macaroons dihadapanku.
"Hei, jangan tanya. Aku suka banget!"
Jawabku dan langsung mengambil ice cream macaroon berwarna ungu.
Raja menopangkan dagunya dengan satu tangan, masih terpaku menatapku sembari tersenyum. Aku yang masih menikmati makanan mahal ini tidak terlalu memperhatikan Raja.
"Kau, suka sekolah disana?"
Aku menggeleng singkat, masih menikmati macaroon.
"Kalau aku pindah kesana, gimana?"
Ucapnya lagi, membuat pandanganku sedikit teralihkan padanya.
"Kau saja bisa, masa aku nggak mampu."
Balasnya sembari membersihkan mulutku dengan tisu.
Raja melakukan itu dengan santai, membuatku sedikit salah paham.
"Aku bisa sendiri.."
Ucapku, meraih tisu dari tanganya.
Raja pun langsung menarik tanganya kembali, pandanganya mengarah ke jendela.
"Kau jadi sungkan padaku, sejak pacaran dengan dia"
"Raja, maksudku bukan seperti itu.."
Sela ku, langsung meletakkan tisu lalu menggapai tangan Raja.
Raja menoleh ke arahku, matanya menatapku cemas, tatapanya sayu entah apa yang sedang ia pikirkan. Aku tidak dapat membaca pikiran seperti Aidan,Helen ataupun Gery.
"Santai saja, aku hanya bergumam."
Balas Raja, melepaskan tanganku dan tersenyum.
Aku pun langsung mengambil macaroon, lalu memberikanya pada Raja.
"Buat permintaan maaf"
Pungkasku seraya tersenyum, menyodorkan macaroon padanya.
Raja tertawa kecil, menerima macaroon tersebut. Ia memperhatikan macaroon tersebut sebelum akhirnya ia makan.
"Manis kan?"
Tanyaku bersemangat, tersenyum padanya.
"Kau bertingkah seperti ini, seperti kau yang mentraktirku."
Pungkasnya, menyurutkan senyumku menjadi cemberut.
..
"Pulangnya hati-hati ya?"
Pinta Raja, sembari mengusap rambutku.
__ADS_1
"Iyaaaa, udah sana masuk!"
Perintahku, melepaskan tanganya.
Raja pun langsung menaiki mobil yang sudah menunggunya. Mobil jemputan, seperti biasa.
"Kau yakin nggak mau bareng?"
Tanya Raja memastikan.
Aku menggeleng tersenyum, menatapnya yang menyembul dari kaca jendela. Raja melambaikan tanganya padaku, aku pun segera membalasnya, menyaksikan mobilnya melaju.
Setelah kepergian Raja, aku langsung melirik jam di tanganku, mendapati pukul 11 malam.
Bodoh Agatha.. mana ada bus pukul sekian. Apa boleh buat, aku harus naik taksi.
Ucapku dalam hati, kemudian berjalan menuju jalan raya untuk menghadang taksi.
Walaupun sudah hampir larut malam, masih ada beberapa pedagang makanan kecil yang berjualan. Para pekerja yang baru pulang pun, masih asyik tertawa bercanda sembari minum-minum. Sepertinya mereka sangat menikmati hidup.
Aku pun tersenyum, masih terus berjalan dengan tangan yang kumasukkan kedalam saku mantel.
*Kato!
Siapa yang mengirimiku pesan semalam ini?
Gumamku, sembari mengeluarkan ponsel dari saku mantel.
Aidan: (Sudah? mau aku jemput?) 11.10
Deg!
Aku langsung menoleh ke sekitar, memperhatikan dengan sekilas. Curiga, kalau ternyata ada Aidan yang membuntuti ku.
Karena tidak mendapati keberadaanya, aku segera menekan dial untuk menelfon Aidan, tak lama langsung tersambung.
/"Halo Aidan?"
ucapku memulai.
/"Mau di jemput?"
/"Kamu dimana?"
tanyaku dengan cemas.
/"Dirumah. Main game"
Jawabnya dengan tenang.
Aku terdiam sejenak, menghela nafas lega.
/"Sekarang aku sedang menunggu taksi"
/"Hei, aku jemput, kau tunggu disana!"
Pinta Aidan.
/"Nggak usah.. kalau aku menunggumu, akan menyita waktu lebih lama, lagipula aku takut berlama-lama disini."
Balasku.
"TAKSII!"
Tanganku langsung melambai, disusul dengan berhentinya mobil tersebut. Aku pun langsung masuk kedalam, menaiki taksi tersebut.
/"Halo? Tha?!"
/"Iya Aidan, aku baru saja masuk."
Balasku. Terdengar suara helaan nafas Aidan.
/"Kau sama sekali tidak mendengarkanku ya?"
Ucap Aidan.
Aku merasa bersalah, tapi aku juga tidak ingin membuatnya terganggu di malam hari seperti ini. Jarak rumah dan daerah kerjaku, cukup jauh.
/"Maaf Aidan.."
/"Yasudah, hati-hati. Tidur yang nyenyak, jangan lupa kunci pintu."
Pungkas Aidan penuh perhatian.
Aku tersenyum, sembari memasukan ponsel kembali kedalam saku mantelku. Pandanganku teralihkan, terpaku menatap tarif yang tertera, sudah melebihi 3x lipat tarif bus.
Astaga, ini saja baru sepertiga jalan
Batinku sedih. Lalu segera mengecek uang di dompetku, mengira ngira berapa uang yang harus ku bayarkan.
***dilain sisi***
"Kau bodoh Agatha.. aku lah disini yang sudah menunggu mu lama, setelah perbincanganmu dengan Raja."
Aidan menatap Agatha, yang sudah melaju pergi. Tak lama ia pun langsung memakai helmnya dan menghidupkan mesin. Motor yang di kendarainya, melaju kencang, menyalip taksi yang ditumpangi Agatha.
__ADS_1
****