
...
setelah makan siang dan berbincang-bincang cukup lama dengan Helen, aku berpamitan kepadanya, begitu juga dengan Bu Ratih yang sedari tadi menemani kami makan siang.
"Hei, haruskah aku tinggal denganmu?"
Tanya Helen sembari menyenggol pundakku dengan sedikit tersenyum.
"Nggak. Kamu ngerepotin,"
Jawabku ketus, sembari tersenyum dengan Bu Ratih.
Wajah Helen tampak muram seketika. Ia beranjak dari kursinya, hendak mengantarku ke depan sampai gerbang.
"Bunda, maafin Atha ya nggak mau sekolah hari ini.."
Ucapku sembari menundukkan kepala pada Bu Ratih.
"Tidak, bukan salah Atha. Bunda akan mengurus semuanya, Atha cukup masuk sampai minggu ini saja, oke?"
Pungkas Bu Ratih menenangkanku, sembari mengusap lenganku dengan ibu jarinya.
Aku telah menceritakan semuanya kepada Bu Ratih, tentang Raja dan Aidan yang berkelahi hebat di sekolah. Juga alasan kenapa aku tidak masuk sekolah hari ini.
"Iya Bunda, terimakasih. Helen, aku pulang dulu ya!"
Ucapku mengakhiri pembicaraan dengan mereka, lalu pergi meninggalkan panti tersebut.
...
Oke, yang harus kulakukan sekarang adalah mencari pekerjaan paruh waktu baru. Benar~ aku nggak perlu repot-repot mikirin sekolah elite yang menyebalkan itu. Bertahanlah sampai minggu ini Agatha~
Dengan langkah kaki yang sedikit melompat-lompat ditambah dengan ayunan tangan, mengiringi jalanku menuju halte bus. Daerah perbukitan ditambah jalanan yang sepi mendukung suasana hatiku yang sangat bahagia hari ini.
Benar Agatha, kamu ini orang elite juga.. biarpun didunia sana sih hehe. Setidaknya hidup menyedihkanmu ini akan segera berakhir HAHAHA!
Batinku dalam hati sembari tertawa keras yang disaut oleh gema dari suaraku sendiri. Aku terkejut, merinding dan segera berlari secepat mungkin.
Setibanya di halte, aku harus menunggu kedatangan bus. Tanganku segera meraih ponsel di tasku, lalu menghidupkanya. Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore.
Hiiiih cepet banget, udah jam 3 aja! aku harus segera mencari pekerjaan sebelum malam tiba.
Aku membuka pesan dari Raja, yang sepertinya sudah ia kirimkan dari tadi pagi.
(Mau kuantar ke panti? nanti aku akan izin sekolah.) 09.15
(Hey, kau masih marah ya?) 09.54
(Atha tolong hubungi aku setelah kau lihat pesan ini, oke?) 12.40
Aku menghela nafas setelah membaca pesan darinya. Tak lama bus datang, hanya aku penumpang yang naik. Bus juga sedang tidak ramai, aku segera duduk dekat jendela, kembali fokus pada ponselku.
(Raja, aku sudah pulang dari panti.. kamu nggak usah khawatir aku masih marah denganmu, itu nggak benar.) *Send
Saat membaca pesan dari Raja yang mengatakan akan mengantarku ke panti, aku jadi teringat Aidan.
Aku tersenyum sembari menatap jalanan, masih memikirkan Aidan. Dari mulai pernyataan cintaku sampai diantar olehnya.
Ini mungkin bukan pertama kalinya bagiku menerima cinta dan merasakan cinta. Namun yang jelas, ini pertama kalinya di kehidupan menyedihkanku.
Aku memutuskan untuk mengirimnya sebuah pesaan, sesuai permintaanya tadi pagi.
(Aidan, aku udah selesai. Tapi aku harus pergi lagi, mencari pekerjaan.) *Send
Eh?! udah sampai, aku harus bergegas turun sebelum kelewatan.
Aku segera beranjak dari bus, lalu menuruninya. Untung saja banyak yang naik tadi, jadi masih sempat aku turun.
Pandanganku menatap lepas ramainya kota, setelah bus berjalan. Aku bingung harus memulai dari mana, karena sangat ramai orang yang berlalu lalang.
Aku bergegas jalan ke arah kanan, yang sepertinya terdapat banyak restoran makan dan toko-toko disana.
Mataku terus memperhatikan toko mana saja yang sedang menawarkan pekerjaan paruh waktu. Sudah hampir setengah jalan, aku belum menemukan tujuanku. Masih terus berjalan dan memperhatikan kanan kiri, mataku tiba-tiba terfokus pada salah satu kios yang sepertinya sebuah toko buku.
Aku segera membuka pintu yang terdapat tulisan mencari pekerja paruh waktu itu, dan segera memasukinya. Ternyata toko ini cukup luas didalam, aku mendekati wanita yang sudah menatapku sembari tersenyum ramah.
"Cari pekerjaan?"
Ucap wanita tersebut kepadaku.
"Iya, benar."
Jawabku setelah membungkukkan setengah badan kepadanya.
__ADS_1
"Siswi SMA?"
Tanya wanita tersebut lagi.
"Iya.. Tapi saya cukup berpengalaman soal bekerja, sebelumnya saya bekerja sebagai kasir dan penjaga toko pernak-pernik."
Jawabku dengan semangat.
Pengalaman memang benar tapi, toko pernak-pernik sialan itu! ah menyebalkan jika harus mengingatnya.
"Baiklah, silahkan bekerja disini. Kau diterima."
A-apa? semudah itu ia menerimaku? wahh hebat.
"Ah, Terimakasih banyak Bu bos!"
Ucapku dengan semangat lalu membungkukkan badanku berulang kali sebagai bentuk hormat dan rasa terimakasih.
...
Setelah menerima baju dan jadwal shift ku yang akan dimulai besok, Aku bergegas menuju supermarket untuk merayakan ini. Wanita yang bernama Cika itu sangat ramah kepadaku, bos wanita memang lebih baik.
Aku tersenyum lebar saat berjalan, dengan paperbag yang berisikan baju & kebutuhan untuk bekerja lainya di genggamanku.
*Kato!
Ponselku berdering, aku segers mengeluarkanya dari saku mantelku. Pesan dari Aidan rupanya.
(Kau sekarang dimana?) 16.45
Aku tersenyum setelah membacanya, terbesit dipikiranku untuk merayakan pekerjaan baruku bersamanya.
(Hei, mau ikut nggak? aku lagi senang nih.) *send
Sembari memperhatikan langkahku, tanganku masih menggenggam ponsel, menunggu balasan dari Aidan.
*Kato!
Aku segera membuka pesan darinya itu,
(Oke setuju! ketemuan dimana?) 16.50
Setelah mengirimkan lokasi cafe yang terbesit dibenakku kepada Aidan, aku bergegas mempercepat jalanku menuju supermarket.
...
Aku menatap ponsel setelah selesai membayar belanjaanku. Aidan tidak membalas pesan dariku, dan sekarang sudah menunjukkan pukul 17.35 sore. Jam janjian kami pukul 6 sore nanti, aku masih punya beberapa menit untuk sampai ke cafe tersebut.
Kuputuskan untuk berjalan menuju cafe, karena bus yang sepertinya akan ramai dan butuh waktu lama untuk menunggunya. Ini kan jam pulang kerja, pasti akan banyak yang menggunakan bus.
Dengan beberapa tentengan ditangan, aku berjalan seperti biasa dengan suasana hati yang tak biasa. Kali ini aku mulai merasakan sedikit perubahan dalam hidupku.
...
Ternyata jauh juga ya.. nggak kusangka, aku berjalan sejauh ini.
Batinku setelah hampir sampai di cafe tersebut. Aku tidak mendapati motor Aidan yang terparkir.
Apa Aidan belum sampai ya?
Aku segera mengeluarkan ponsel dan berhenti tepat di depan cafe tersebut. Belum ada balasan juga dari Aidan, lalu menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 18.10. Sudah lewat 10 menit dari waktu janjian kami.
Aku memutuskan untuk masuk lebih dulu kedalam cafe.
Aidan?!
Aku segera menghampiri seseorang yang tersenyum kepadaku, itu Aidan. Aku terkejut karena kupikir Aidan akan terlambat.
"Kau ngapain berdiri di depan sambil cemas menatap ponsel?"
Ucapnya menggodaku sembari tertawa kecil.
Aku segera duduk berhadapan denganya, namun ada yang mengganggu pandanganku. 3 orang perempuan berseragam dibelakang Aidan, menatapku.
Apasih, pasti kalian kira aku tidak pantas dengan Aidan kan? yang benar aja, aku pantas tuh! lepaskan pandangan kalian dari Aidanku kalau nggak mau mata kalian kuhilangkan..
Batinku setelah menerima tatapan dari mereka sembari meletakkan barang bawaanku disamping kursi.
Aidan menoleh kebelakang sekilas, lalu menatapku kembali. Ia tersenyum dengan sedikit tertawa, sontak membuatku tersadar.
"Aidan! nggak bukan itu, plis jangan dengarkan perkataanku barusan.."
Ucapku dengan tangan memohon kepadanya.
__ADS_1
Aku baru saja teringat, kalau Aidan dapat membaca pikiran. Tentu saja ia dengar semua ucapanku barusan.
"Duh seram sekali.."
Ucapnya dengan tangan yang menopang dagu, menatapku dari dekat.
"Maafkan saya~"
Ucapku dengan pelan kepada 3 perempuan itu sembari menundukkan kepala berulang kali.
Aku kembali menatap Aidan yang masih memperhatikanku dengan tersenyum.
"Kamu seneng ya? aku suka padamu.."
Ucapku padanya dengan santai.
"Mau gak jadi pacarku beneran?"
balasnya.
Aku mengernyitkan keningku, masih menatap dirinya. Tiba-tiba seorang waitress menghampiri kami, menyajikan dessert dan minuman yang sepertinya sudah Aidan pesan sebelum aku datang.
Setelah waitress itu pergi, aku menatap Aidan sembari memberi sinyal mengarah makanan tersebut.
"Kok kamu yang pesan, udah kamu bayar?"
Tanyaku padanya.
Aidan mengangguk pelan dengan tersenyum lebar.
"Kan aku yang ngajak, kok kamu yang bayar?"
Tanyaku lagi padanya.
Aidan meraih ponselku yang berada dimeja secara tiba-tiba.
"Hei!"
Ucapku dengan sedikit berteriak, membuat pengunjung yang lain menatap kami sejenak.
Aidan tampak tak menghiraukanku. Tanganya masih mengutak-atik ponsel milikku. Aku meraih minuman dihadapanku lalu meneguknya.
Dia barusan selfie di hp ku? ngapain sih Aidan..
Aku meletakkan kembali minuman tersebut, lalu memajukan wajahku lebih dekat denganya.
"Nih kubalikkin. Sebagai tanda hari jadi kita,"
Ucap Aidan dengan santainya sembari mengembalikan ponselku.
Aku tersedak minuman yang baru saja kuteguk, sembari menerima ponselku.
"Heh pelan-pelan!"
Sahut Aidan sembari memberikanku tissue.
Aku segera mengusap mulutku dengan tissue yang diberikanya.
"Jadian?"
Tanyaku padanya heran.
Aidan mengangguk pelan sembari menyuapkan cake di kepadaku. Aku menggelengkan kepala, menolak suapanya.
"Sayangku, terima dan makan ini."
Ucapnya yang membuatku terkejut sekaligus geli. Ia kembali menyuapiku dengan potongan kue di sendok.
Sayang apanya! image kasarmu lebih baik daripada saat ini.
Matanya seperti anak anjing yang memohon kepada induknya. Aku membuka mulutku, menerima suapanya dengan ragu.
"Pinter.. kau gak ngatain aku barusan kan?"
Celetuknya setelah aku mengunyah kue hasil suapan darinya itu.
"Enggak.. hehe"
Ucapku sembari tertawa kecil, mengetahui Aidan menyadari ucapanku dalam hati tadi.
Begitulah hari pertamaku jadian denganya, tentu saja dengan pernyataan sepihak dari Aidan. Memang benar aku menyukainya juga, tapi tidak kepikiran untuk berpacaran secepat ini.
...
__ADS_1