VIOLEN

VIOLEN
Menentukan Pilihan


__ADS_3

Aku dan Raja berjalan bersama menuju halte bus. Tanganya seperti biasa, menggandengku hangat menuntun jalan dengan selangkah lebih maju.


"Kamu kan kesini bawa supir. Kok jadi naik bus sama Aku?"


Tanyaku sambil menatapnya.


"hm.. bagaimana ya, habis kau sangat manis."


Jawabnya dengan tersenyum manis kepadaku.


"Raja..."


Ucapku meminta alasan yang tepat menyuruhnya berhenti bercanda.


--- Tiba di halte bus.


"Sudah malam, aku gak mungkin ninggalin kau naik bus sendirian."


Ucap Raja lagi sembari menghentikan langkah kakinya.


Aku menatap ponsel sebentar melihat pukul berapa sekarang.


"Masih jam 9 nih."


Ucapku sambil menunjukkan ponselku padanya.


"Yaaa pokoknya kau kuantar."


Jawabnya dengan cepat lalu menangkup pipiku gemas.


"A.. a! Rajaaa!"


Kataku dengan kesusahan karena tangkupanya membuat mulutku membentuk huruf o. Aku berusaha melepaskan kedua tanganya dari pipiku. Namun pandanganku teralihkan saat 2 orang wanita menatap Raja kagum sambil menutupi mulutnya yang tersenyum.


"Ah benar, Raja dimanapun kamu berada selalu ada yang menyukaimu ya.."


Ucapku pelan setelah berhasil melepaskan tanganya dari pipiku. Mataku mengisyaratkan pandangan menuju ke 2 wanita tersebut yang masih menatap Raja.


Raja tidak menoleh ke arah wanita tersebut. Ia hanya mengangkat pundaknya keatas sekilas sambil menatapku.


"Nah udah dateng bus nya."


Ucapnya ketika bus berhenti dan membukakan pintu untuk kami. Raja membalikkan tubuhku sambil memegangi pundakku. Aku berjalan masuk menaiki bus tersebut dengan dorongan Raja dibelakangku.


Setelah membayar, aku menatap kursi untuk 2 orang yang bersebelahan namun tidak ada yang kosong. Raja menepuk pundakku dan menunjuk kearah single seat depan belakang. Aku mengangguk pelan dan menuju kearah tersebut. Raja duduk tepat dibelakangku.


"Kau gak keramas ya?"


Celetuknya tiba-tiba padaku membuat orang-orang di bus menatap kearah kami. Lagi, beberapa wanita didalam bus baik yang duduk maupun berdiri menjadi penyuka Raja dadakan.


"Rajaa!"


Bantahku pelan dengan mengisyaratkan tangan untuk diam.


Raja mengangguk sambil tersenyum lebar bersamaan dengan matanya yang disipitkan. Ia tampak tidak memperdulikan tempat.Tanganya memainkan rambutku dan terasa sesekali mencium rambutku dengan pandangan menatap jendela ke arah jalanan. Aku dapat melihat pantulan dirinya sedang memainkan rambutku di kaca jendela bus.


...


Transit bus kedua


Raja memimpin jalanku menuruni tangga bus tersebut. Setelah turun, mataku menatap wanita-wanita yang memandangi Raja sambil tersenyum kagum dari dalam bus. Benar-benar populer batinku.


"Berapa lama bus kedua datang?"


Tanya Raja kepadaku ketika bus baru saja jalan.


"Karena ini daerah pegunungan, bus lewat setiap 30 menit sekali di halte ini."

__ADS_1


Jawabku sambil menatap matanya.


Raja tampak melihat sekelilingnya setelah mendengar jawabanku.


"Tha, Mau kesana gak?"


Ucapnya sembari menunjuk kesebuah taman di seberang halte bus tempat kami berdiri.


Aku menatap tempat tersebut dan menyetujui ajakanya. Kami menyebrangi jalanan yang sepi lalu sampai di taman tersebut. Menaiki anak tangga satu persatu.


"Bagus banget.. Aku nggak tau ada tempat sebagus ini padahal sering transit di halte seberang."


Pungkasku sambil meregangkan tanganku ke samping dengan pandangan menatap lampu-lampu gedung dari pemandangan kota tersebut saat malam.



Aku menoleh ke arah Raja yang tidak membalas perkataanku. Pandanganya menatapku dengan serius. Ia menempatkan rambutku dibelakang telinga lalu tersenyum padaku.


"Kenapa sih?"


Tanyaku sambil sedikit tersenyum.


"Kau selama ini melalui hal sulit sendirian, Aku merasa bersalah."


Jawabnya dengan jelas.


Aku baru teringat kalau Raja sudah diceritakan oleh Bu Ratih saat aku tertidur tadi siang. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lampu kota sambil memegangi pagar berbahan kayu tersebut.


"Jangan merasa bersalah, ini semua udah jalan hidupku."


Ucapku sambil tersenyum.


Raja menatapku dari samping dengan tanganya ikut berpegangan di pagar kayu itu. Aku menoleh ke arahnya menatap dirinya kembali.


"Lupakan Aidan. Aku akan mencintaimu."


Aku mengerti fakta bahwa aku dan Raja memiliki kenangan yang banyak di masa lalu saat masih berada di dunia sana. Ah benar, aku harus banyak membaca buku tua itu. Tapi aku tidak bisa menghindari Aidan secara tiba-tiba karena ia sudah terlalu baik padaku bahkan dia tidak seperti apa yang di katakan Bu Ratih, Untuk membalas dendam padaku. Aidan lebih bersikap lembut dan melindungiku saat itu.


"Aku butuh waktu Raja. Aku mengerti, Kamu berada di dalam ingatanku di dunia itu. Aku akan berusaha menerima cintamu lagi, tapi tidak sekarang."


Pungkasku padanya dengan jelas dan detail.


Tampak raut wajah Raja yang berubah kecewa. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya tersenyum kepadaku sembari meraih tanganku.


Aku merasa bersalah kepadanya. Raja berusaha melindungiku namun aku menolaknya dengan berbagai alasan.


"Baik jika itu yang kau mau. Atha, Aku akan menunggu kesediaan kau menerimaku selagi mencari cara untuk kembali ke dunia asal kita."


Jawabnya dengan sangat lembut sembari mencium punggung tanganku.


"Ah kita harus kembali, bus nya akan segera tiba."


Ucapku mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk ke arah halte bus melepaskan genggaman tanganya dan berjalan duluan menuruni tangga.


Raja menyusulku dengan segera, Tanganya menggandengku kembali secara tiba-tiba. Aku tidak menolaknya dan tetap berjalan berdampingan denganya.


...


Bus datang, Kami segera menaikinya dan menempuh perjalanan sekitar 25 menit.


...


"Makasih udah mengantarku."


Ucapku padanya ketika baru saja turun dari bus.


Raja tersenyum padaku dengan tanganya mengusap pipiku lembut. Tak lama, mobil yang kuduga mengikuti perjalanan kami datang. Mobil tersebut menyusul Raja untuk menjemputnya kembali. Aku menundukan kepada ke supir tersebut yang turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Raja.

__ADS_1


"Ah yang benar saja."


Ucap Raja kesal menatap supirnya.


"Udah.. masuk sana." Balasku.


"Padahal mau mampir ke rumah kau."


Ucapnya lagi dengan nada berat yang tidak ingin berpisah. Ia memasukan tangan ke kantong celananya setelah berpamitan denganku.


"Hati-hati ya, Nanti kuhubungi."


Ucapku padanya ketika ia sudah masuk ke dalam mobil. Supirnya membungkukkan badan padaku dan berpamitan untuk pergi.


Aku menatap Raja dan melambaikan tangan ketika mobil yang ia naiki mulai melaju pergi namun kepalanya masih keluar dari jendela menatapku yang masih berdiri. Aku tersenyum dan berbalik badan segera untuk pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku memikirkan banyak hal tentang kemarin dan hari ini. Perasaan sedih mulai muncul ketika aku mengingat namaku sendiri, Agatha Violen. Benar, Aku bermarga Violen.


--*tap .. tap .. tap


--*grep!


Suara langkah kaki dan sentuhan tangan di pundakku secara tiba-tiba menyadarkan pikiranku.


"Aaah!"


Teriakku terkejut sambil menoleh kearah seseorang tersebut.


"Raj- ah bukan, Aidan!"


Ucapku lagi ketika menyadari sosok laki-laki yang baru saja mengagetiku.


"Maaf, Kau terkejut ya?"


Ucapnya sambil tersenyum kepadaku.


Aku menganggukan kepala dengan masih memasang raut wajah yang cemas sambil memegangi dadaku yang masih berdegup kencang.


"Ah nggak, Kamu kenapa datang tiba-tiba? Aku sedikit terkejut."


Jelasku padanya juga meminta penjelasanya.


"Itu aku gak sengaja lihat kau berjalan saat akan menemuimu."


Jawabnya sambil menggaruk rambut belakang kepalanya lalu tersenyum kembali padaku.


Perasaan tidak enak muncul saat mengingat kembali perkataan Bu Ratih dan juga Raja.


"Kamu akan kerumahku?"


Tanyaku dengan sedikit canggung.


Aidan mengangguk setuju dengan ucapanku.


"Apa terlalu malam ya.. Kalau gitu aku pamit saja, kita ketemuan di sekolah besok."


Ucapnya lagi dengan tersenyum.


Aku lega Aidan tidak jadi mampir, syukurlah ia paham. Aku mengangguk pelan padanya dengan raut wajah yang datar.


"Tidur yang nyenyak ya."


Perintahnya sebelum pergi meninggalkanku.


Aku menatap kepergianya dengan senyum yang terpaksa. Tubuhku tumbang di jalan ketika Aidan sudah pergi dari pandanganku. Aku bangkit kembali dan segera berlari menuju rumah. Air mataku menetes saat pejalanan hingga akhirnya aku sampai di rumah. Mengunci pintu lalu duduk bersandar lemas tepat di pintu. Aku menangis sampai larut malam itu dengan berbagai pikiran yang menyelimuti.


...

__ADS_1


__ADS_2