
...
Aku berharap Bu Ratih nggak menyadari, kalau Aidan yang sudah mengantarku kemari.
"Manja sekali anak Bunda.."
Ucap Bu Ratih sembari mengusap kepalaku lembut yang masih memeluknya.
Anak? jelas-jelas ia tau siapa orang tuaku, beneran deh, Bu Ratih yang terbaik.
Aku mendangakkan sedikit kepalaku, lalu tersenyum padanya. Langkah kami terhenti saat salah satu pengasuh panti menyapaku.
"Agatha? ini nak gatha, gadis yang sangat pendiam itu?"
Kata pengasuh tersebut.
Aku melepaskan pelukan pada Bu Ratih, berdiri tegap lalu menatap pengasuh itu dengan serius.
"Bibi.. Kamila?"
Tanyaku sembari mendekatinya, lalu disambut dengan respon menyenangkan dari pengasuh bernama Kamila itu.
Ia segera menarik tubuhku berada dipelukkanya, aroma tubuh yang khas membuatku merasa nyaman. Ia memelukku dan menatapku berulang kali.
"A-ada apa Bi? kok seperti nggak percaya gitu?"
Tanyaku tersenyum heran setelah Bi Kamila melepaskan pelukanya.
"Sepertinya banyak yang kangen sama kamu, sayang.."
Ucap Bu Ratih membuatku menoleh kepadanya.
Aku menatap Bi Kamila, lalu tersenyum padanya.
Bu Ratih meminta Bi Kamila untuk melepas kerinduan padaku nanti lagi. Bu Ratih mengatakan ada sesuatu yang menungguku. Aku kembali dibuat penasaran oleh Bu Ratih. Bi Kamila mengangguk setuju setelah menggenggam tanganku sejenak, wajahnya yang ramah membuatku menyesal, karena sepertinya dulu aku sangat pendiam padanya.
Bi Kamila berlalu meninggalkan kami. Bu Ratih mengajakku untuk meneruskan langkah kami, tentu saja menuju kantornya. Aku semakin penasaran ketika sudah berada semakin dekat dengan kantornya.
"Atha, mau makan dulu?"
Tanya Bu Ratih sebelum membuka pintu kantornya itu.
Aku menggelengkan kepalaku pelan sembari tersenyum.
"Nggak Bunda, Atha nanti saja makanya."
Ucapku menjawab pertanyaanya.
Bu Ratih segera membuka pintu, dan aku mendapati seorang perempuan seusiaku sedang berdiri bersandar di sofa kantor Bu Ratih, dengan pandangan yang menatap kearah luar jendela.
Suara pintu yang terbuka, membuat perempuan tersebut menoleh ke arah kami. Tampak wajahnya terkejut saat menatap kearahku. Aku mengernyitkan dahi sembari mendekatinya.
Bu Ratih mempersilahkanku untuk duduk disebelahnya, berhadapan dengan perempuan tersebut. Matanya tak selesai-selesai memandangku, dengan raut wajah yang cemas.
"Tenanglah Helen, tidak usah menatapnya dengan serius.."
Pungkas Bu Ratih kepada perempuan tersebut, sembari mengusap lututnya lembut.
Aku menoleh ke arah Bu Ratih, menunggunya untuk menjelaskan.
"Ini, namanya Helen.. dia salah satu sahabat terbaikmu disana."
Tunggu, apa maksudnya disana? Dunia yang masih nggak kupahami itu? lalu, sahabat?
"Maksud Bunda?"
__ADS_1
Tanyaku meminta Bu Ratih untuk menjelaskan lebih detail.
Namun ada yang lebih membuatku terkejut sekaligus penasaran, perempuan itu tiba-tiba saja menangis tepat setelah menatapku.
Bu Ratih justru tersenyum dan sedikit tertawa, Ia memintaku untuk memeluk perempuan tersebut. Aku tidak menuruti perkataanya, aku tetap diam duduk sembari menatapnya yang sedang menangis tidak jelas.
"Hey kau! jahat sekali~ jadi selama ini cuma aku yang kangen kau ya?! hhhiiiks-hhiiik,"
Ucapnya tiba-tiba sembari tersedu.
Kangen? lalu kenapa juga aku jadi wanita jahat?
"Maaf, aku nggak ngerti maksudmu."
Jawabku padanya, dengan tatapan masih terfokus padanya.
Bu Ratih kembali tertawa mendengar ucapanku barusan. Ia beranjak dari kursi sembari menepuk pundakku pelan.
"Bunda tinggal deh.. kalian jelaskan sendiri saja ya? selamat bersenang-senang!"
Ucap Bu Ratih setelah menepuk pundakku, Ia segera berjalan mendekati pintu.
"Bunda!"
Gerutuku padanya, Aku mengisyaratkan mataku padanya untuk tetap tinggal. Namun Bu Ratih mengabaikanku dengan melambaikan tanganya, lalu membuka pintu dan pergi.
Pandanganku kembali terfokus menatap perempuan dihadapanku yang mulai berhenti menangis, tanganya mengusap air mata yang sudah membasahi sebagian wajahnya itu.
Suasana hening sejenak, tidak ada obrolan apapun setelah Bu Ratih meninggalkan kami, padahal sudah hampir 10 menit. Perempuan tersebut melipat kedua tanganya, tatapanya kembali serius seperti orang yang akan marah.
Eh apasih, kok jadi seram begini suasananya..
Aku segera menundukkan kepalaku, mencari celah untuk menatap yang lain, memperhatikan semut yang sedang berjalan di lantai luntang-lantung. Aku tak sadar tersenyum ketika melihat semut tersebut.
--*Zraaashh!
Pandanganku langsung menoleh kepada perempuan tersebut, menatapnya dengan tajam. Ia tampak meniup ujung jari telunjuk yang dibentuk menyerupai pistol.
"Kamu yang bakar semut itu?!"
Tanyaku dengan nada sedikit mengeras.
"Iya,"
Jawabnya dengan santai sembari tersenyum padaku.
"Kejam sekali!"
Aku mendengus kesal, lalu menatap ke lantai itu lagi, memperhatikan dengan jelas semut yang terbakar hingga menyatu bersama debu di lantai.
"Kau bilang kejam? lalu gimana sama cewek aneh yang ngebakar pohon kesayanganya, gara-gara liat batang pohon itu penuh semut?"
Ucapnya, lalu menertawakanku.
Apa maksudnya, cewek aneh itu aku? dia tampak sekali lagi memojokkanku.
"Apa? aku nggak ngerti perkataanmu barusan."
Jawabku dengan nada dingin, membuatnya kesal lalu menghentikan tawanya dengan segera.
Tiba-tiba perempuan itu mendekatiku, ia duduk tepat disampingku, tempat dimana Bu Ratih duduk sebelumnya. Aku segera memberi jarak untuk menjauhinya yang tampak aneh, namun perempuan ini terus bergeser, sampai aku benar-benar harus berhenti karena posisiku sudah terantuk dengan tangan kursi.
"Aku Helen, aku bakal bantu ingatanmu kembali~"
Ucapnya dengan tersenyum lebar padaku.
__ADS_1
"Aku, Agatha.. baiklah kalau begitu,"
Jawabku kembali tersenyum canggung padanya.
Perempuan bernama Helen itu segera memeluk tubuhku dari samping, wajahnya menempel sangat dekat di pundakku. Aku terdiam kaku menerima pelukanya, lalu tanpa sadar melepaskan pelukanya dengan paksa.
Helen mengerucutkan bibirnya, menatapku kesal setelah aku melepaskan pelukanya dengan paksa.
Apa ini bodoh, kamu ngapain sih Tha, ahhh sial aku bertindak tanpa sadar lagi.
"Maaf, aku kurang nyaman terhadap orang baru."
Ucapku meminta maaf padanya, sembari menundukkan sedikit kepalaku.
"Hei, aku ini bukan orang baru. Aku sahabatmu sejak kecil, namaku Helen. Helen!"
Ucapnya dengan kesal, sangat menggemaskan.
Mataku memandangnya kembali, lalu mencoba untuk mencerna semua perkataanya.
"Oke, aku akam berusaha percaya. Tapi nggak sekarang."
Pungkasku dengan sedikit tersenyum.
"Astaga, yang benar! Kau benar-benar menyebalkan ya?"
Celetuknya padaku dengan sedikit menegakkan badanya sembari menatapku tajam.
"Kenapa aku?"
Ucapku dengan sedikit tertawa.
Baik, aku mengerti sekarang. Sedikit demi sedikit akan ada orang baru yang datang kepadaku, untuk menjelaskan semuanya. Tentang duniaku itu. Aku harus terbiasa, dan yang harus kulakukan adalah, mempercayainya sekarang. Lagipula, Helen bersama Bu Ratih.
"Kamu beneran mau bantu mulihin ingatanku?"
Tanyaku padanya dengan tatapan serius.
Tampak raut wajah yang semula kesal menjadi antusias tergambar jelas di wajahnya. Aku tersenyum ketika ia menganggukan kepalanya dengan cepat, menandakan ia membenarkan ucapanku.
"Kau kembali, cewek aneh! aaaah aku rindu kau banget!"
Pungkasnya lalu memeluk tubuhku lagi. Aku tersenyum menerima pelukanya kali ini, tanganku mengusap lengan tanganya. Ia menatap mataku sesekali, lalu terbenam kembali saat memelukku.
...
Pukul 13.10
Setelah berbincang-bincang cukup lama di dalam ruangan kantor Bu Ratih, Aku semakin mengenal Helen. Penjelasanya yang perlahan-lahan membuatku mengerti dan ingin segera mungkin mendapatkan ingatan serta kekuatanku lagi.
Pintu terketuk, lalu disusul dengan masuknya Bi Kamila setelah membuka pintu tersebut. Aku menatapnya dengan tersenyum.
"Nak Gatha, nak Helen, yuk makan siang.."
Pinta Bi Kamila kepada kami.
Aku mengangguk mengerti kepadanya, lalu bergegas untuk menghampirinya. Namun, saat hendak berdiri dari sofa, tangan Helen merangkulku. Ia berjalan sembari merangkul tanganku.
"Ah.. beneran deh, lepasin nggak!?"
Ucapku dengan tertawa sembari berusaha melepaskan tanganya dari lenganku.
Helen menggelengkan kepalanya dan masih terus merangkul tanganku. Aku membiarkanya, dan segera menghampiri Bi Kamila yang sudah menunggu kami di depan pintu.
lalu kami segera meninggalkan ruangan, hendak menuju ruang makan panti. Karena sudah jam 1 siang, mungkin tidak terlalu ramai. Bi Kamila menuntun jalan kami, sembari tertawa sesekali melihat keakraban kami. Aku tersenyum heran padanya, sambil terus berusaha melepaskan rangkulan Helen.
__ADS_1
...