
Suasana pagi yang mendung cukup menenangkan hatiku. Tepat pukul 6 pagi, selepas sarapan dan seragam yang sudah rapih, aku segera melangkahkan kakiku dengan payung digenggamanku.
"Ahh, benar-benar suasana yang kudambakan. oke! hari ini akan baik-baik saja."
Semangatku untuk diri sendiri.
Seperti yang kubilang sebelumnya, aku benar-benar mengharapkan suatu keajaiban terjadi setiap hari. Namun yang kudapatkan hanyalah kesialan, benar-benar nasib buruk seorang yatim piatu.
Rumput yang basah menyambut langkah kakiku, aku senang karena berada disebuah rumah yang jauh dari keramaian. Benar-benar tenang dan menyenangkan. Berjalan melewati rumah-rumah modern yang berjejer, terlihat sudah gambaran kebahagiaan penghuni didalamnya. Aku menghela nafas dan memasangkan earphone di telingaku. Musik mulai memenuhi kepalaku, sembari menatap lurus jalanan hingga pada akhirnya sampai di tempat pemberhentian bus.
Aku segera menaiki bus yang sudah datang tersebut. Dicelah-celah jendela yang sedikit terbuka, aku menikmati udara dingin yang mengenai wajahku, sembari terus menatap kejendela sepanjang perjalanan.
Sesampainya di depan halte yang berjarak cukup dekat dengan sekolahan, aku segera menuruni bus tersebut. Merapihkan seragamku, lalu melangkahkan kaki ku mendekati sekolah tersebut.
..
"Tha!"
Panggil salah satu murid yang tidak kusukai. Aku mengabaikanya dan terus berjalan menuju kelas.
"Atha sayang.. kok kau cuekin aku?"
Sambil menghadang jalanku, murid laki-laki berambut coklat dengan tubuh yang tinggi itu membuat langkahku terhenti.
"Awas Raja, aku sedang tidak ingin diganggu."
Pintaku terhadapnya sambil berjalan kesamping meninggalkan laki-laki tersebut.
Namanya Raja seperti raja pada umumnya yang memiliki kekuasaan. Ia adalah anak dari direktur sekolah ini. Benar-benar nasib yang baik dan berbanding terbalik dengan nasibku.
Raja menyusul jalanku, dan menyamai langkahku ia beberapa kali menatapku dan tersenyum seperti orang bodoh. Benar saja, Begitu memasuki koridor, raut-raut wajah dan suasana mencekam menghantuiku. Tatapan sinis yang dilemparkan kepadaku membuatku tidak nyaman. Aku membenci setiap tatapan dari murid cewek yang terus menatapku ketika berdampingan dengan Raja.
"Kau dengarin apa?"
Tanya Raja, sembari meraih salah satu earphone yang terpasang ditelingaku. Kemudian ia memasang earphone tersebut ditelinganya sendiri.
"Ayo!"
Serunya, sambil tersenyum menatapku yang terhenti karena sikapnya barusan.
Aku dan Raja bertemu di panti asuhan. Dimana saat itu, Ia bersama Sekretaris ayahnya datang untuk menyerahkan beasiswa untuk ku bersekolah disini. Bu Ratih (pengurus panti) sendiri yang mengenalkanku pada Raja. Raja adalah orang yang pertama kali mengajakku bicara.
Sebelumnya aku tidak pernah berbicara dengan siapapun di panti asuhan kecuali dengan para pengasuh. Aku benar-benar menutup diri dengan lingkunganku. Namun Raja pada saat itu berbicara dengan sangat berisik dan meminta diberi perhatian. Aku mulai berteman dengan Raja pada saat ia sering berkunjung ke panti asuhan, tepatnya sebelum masuk sekolah.
Setiap 4x dalam sepekan, sebelum aku memutuskan tinggal mandiri, ia terus mengunjungiku dengan membawakan bingkisan yang berbeda-beda. Semua tampak baik-baik saja sebelum mulai bersekolah. Sampai pada akhirnya aku merasakan situasi seperti ini. Situasi yang sama sekali mengganggu pikiranku.
"Raja, kamu ngga masuk kelas? Aku mau ambil buku di loker."
Ucapku sembari mengambil earphone yang terpasang di telinganya.
Tampak raut kesal Raja kepadaku. Ia menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Kau ingin mengabaikanku lagi?"
Ia merapihkan poniku dan tersenyum kembali. Aku benar-benar tidak ingin mengabaikanmu raja, namun suasanalah yang membuatku terpaksa meniadakan kehadiranmu.
Aku berjalan berdampingan dengan raja menyusuri lorong kelas. Kami kembali menjadi sorot pandang murid-murid yang melihat kebersamaan kami.
*PLAK!
Pukulan yang dilakukan seseorang dikepala Raja membuat mataku memusatkan perhatian kepada orang itu.
"Hoi santai saja. dia ini adikku jadi bebas kulakukan apa saja."
Ucap seseorang itu ketika melihat tatapanku yang tidak suka.
Ia merangkul pundak Raja dan aku mulai meninggalkan mereka. Aneh rasanya mengetahui bahwa Raja memiliki kembaran. Benar-benar mirip namun sengaja dibedakan dengan warna rambut hitam milik seseorang bernama Aidan itu.
Aidan melalui tubuhku, dengan sengaja ia menyenggolkan bahunya padaku. Aku benar-benar tidak suka dengan sifat dan sikapnya yang kasar. Aidan memang terkenal dengan keangkuhan dan suka menindas murid-murid sepertiku. Tapi untung saja aku berteman baik dengan Raja. Raja segera menyusul langkahku ia mengisyaratkan dengan matanya bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku membalasnya dengan senyuman.
"Aidan nggak berangkat bareng kamu ya?"
Tanyaku pada Raja sembari mencocokkan kunci di loker milikku.
"Kau pindah rumah? dimana?"
Raja tidak menjawab pertanyaanku namun berbalik memberi pertanyaan. aku menoleh padanya dan menatap wajahnya.
"Tempat yang ngga bisa kamu kunjungi sesuka hati. sana masuk kelas!"
Perintahku lalu meninggalkanya selepas mengunci lokerku kembali. Dengan membawa buku-buku aku menuju kelas, meninggalkan Raja yang sepertinya sedang mencerna perkataanku.
"Tha! jangan lupa kau harus makan siang denganku!"
Teriaknya dari arah berlawanan denganku. Aku tidak menoleh dan terus berjalan menuju kelas.
Pelajaran pertama dimulai seperti biasa, Dengan murid-murid yang seenaknya terhadap guru. Hanya beberapa yang benar-benar memperhatikan. Aku duduk dekat jendela, sengaja agar bisa menikmati pemandangan luar ditengah lelahnya belajar. Aku menatap ke lapangan yang tampak aktivitas olahraga kelas lain. Ditengah gaduhnya kelas yang ditinggalkan guru, lagi-lagi Aiden bertingkah. Aku berharap Aidan bertukar kelas dengan Raja, Menyebalkan ketika harus melihatnya menindas murid lain.
"Kau ingin dihajar huh? Mau mati kau?!"
__ADS_1
"T-ttidak, jangan"
Tampak murid-murid lain yang semula gaduh kini diam ditempat duduknya masing-masing tanpa menoleh kebelakang. Aku penasaran dengan apa yang dilakukan Aidan. Aku menoleh kearahnya dan melihat perlakuan kasar Aidan. Aidan menyadari tatapanku, Ia tersenyum padaku sembari mengedipkan sebelah matanya. Benar-benar menyeramkan ketika ia harus tersenyum pada ku seperti itu. Aku kembali menatap lapangan yang mulai ditinggalkan oleh murid-murid yang tadi berolahraga.
Tanpa sadar aku mulai memejamkan mata, menikmati alunan musik melalui earphone yang terpasang ditelingaku. Aku tidak memperdulikan keadaan kelas bahkan Aidan yang sedang menindas. Aku tidak ingin kejadian seperti tahun lalu terjadi, ketika aku mencoba untuk membela siswa yang tertindas namun aku malah disalahkan & dikucilkan. Benar-benar kenangan yang buruk ketika kelas 10.
"Kau ikut atau tidak?"
*Suara percikan air yang menetesi daun pohon besar itu menambah suasana sunyi di tempat ini. Aku berusaha menyadarkan diriku yang tidak mengerti dengan situasi ini. Laki-laki itu terus menatapku dengan senyum yang manis.
"Kau benar-benar tidak mengenalku ya?"
Laki-laki tersebut kembali bersuara. Aku mulai memberanikan diri menatapnya. Tunggu, wajah ini..
*DUGHH!
Aku terbangun dari tidurku, memegang kepalaku yang baru saja terbentur di jendela. Memulihkan penglihatanku dan teringat akan mimpiku barusan. Kelas terlihat kosong dan tenang karena mereka sedang makan siang. Pandanganku terpaku ketika melihat Aidan yang juga sedang menatap kearahku. Aidan? benar itu Aidan! Aku baru saja memimpikanya.
"Lihat apa kau!"
Ucapnya tiba-tiba sambil melemparkan kertas yang telah diremas olehnya.
Aku kembali menghadap depan dan mengabaikan Aidan. Tapi aku benar-benar yakin bahwa aku memimpikan Aidan baru saja. Aku berdiri dari kursiku, menuju ke arah Aidan dan berdiri tepat dihadapanya yang sedang duduk.
"Hey, kau berani?"
Kata Aidan dengan tatapan matanya yang tajam.
"Aidan, apa mungkin kamu pernah melihat sungai dengan pohon besar lalu rumah-- ah sudah ngga jadi."
Ucapku tanpa menyelesaikan kalimat dan berjalan keluar kelas.
"Hei!"
Aidan menghentikan langkahku, tanganya menahan pergelangan tanganku. Aku menoleh kearahnya dan melepaskan genggaman tanganya.
"Kau bilang apa tadi? teruskan ucapanmu!"
Tanya Aidan penasaran, lalu sedikit membentakku.
Sontak aku teringat dengan perkataan laki-laki yang menyerupai Aidan dalam mimpi tadi. Aku mulai menatap Aidan dengan serius, namun teman-teman kelas mulai kembali setelah makan siang. Mereka melihatku dengan Aidan. Ah sial, pasti akan menjadi pusat perhatian kembali.
Aku meninggalkan Aidan secepat mungkin dan ketika ingin kembali ke tempat duduk tiba-tiba ada yang aneh saat suara yang semula berisik menjadi hening. Lalu segera menoleh kearah setiap siswa yang terpaku layaknya patung. Situasi apa ini? aku tidak dapat memahaminya.
Dalam situasi aneh seperti ini, suara langkah kaki menuju kearahku. Langkah kaki milik Aidan, Ia memegang pundakku dengan kuat, Mengisyaratkan dengan matanya bahwa ada sesuatu yang harus dipastikan. Aku panik dan langsung menatap sekeliling, ternyata masih sama. Hanya aku dan Aidan yang tidak membeku seperti patung.
"Aidan.."
"Kau.. ingat, putri violen?"
Tanya Aidan tiba-tiba.
Aku tidak mengerti dengan perkataan Aidan barusan.
"Aidan apa yang kamu katakan, Aku nggak paham. Tolong lepasin aku."
Ucapku dengan nada lirih.
"Jawab!" Tegasnya padaku.
"A-aapa maksudmu? Aku benar-benar nggak tahu."
Dengan air mata yang hampir menetes, aku benar-benar terkejut dengan bentakanya barusan.
"Sungai,pohon besar, Itu kau!" Aidan memperjelas perkataanya.
Tunggu, apa? dia tau tentang mimpiku?
"Mimpi. Itu terjadi di mimpiku dan kemarin! aku melihatmu, disana. Menatapku disamping pohon besar itu."
Jelasku menjawab pertanyaanya.
Aku merasa keanehan mulai terjadi. Mengapa Aidan bisa semarah ini ketika aku mengatakan tentang mimpiku. Aku juga tidak menyelesaikan kalimatku. Ada apa sebenarnya hubungan mimpiku dengan Aidan? Aku memikirkan itu.
"Kau, pulang ikut denganku."
Pungkasnya sembari melepaskan cengkraman dipundakku.
Saat itu juga, Keadaan kelas tiba-tiba kembali seperti semula. Seperti tidak terjadi apa-apa mereka duduk dan disambut pelajaran seperti biasanya.
...
Tak lama, aku mendapat pesan dari Raja,
Tiba-tiba muncul perasaan merasa bersalah setelah membaca pesan dari nya. Itu karena, aku telah melupakan makan siang denganya. Setelah membalas pesan darinya, aku berencana untuk menemuinya langsung sepulang sekolah.
*Treettt! treettt. . . (bel pulang sekolah berbunyi)
__ADS_1
Kelas telah berakhir dan sudah saatnya untuk bekerja paruh waktu. Hari yang mengejutkan dengan kejadian aneh yang baru saja kualami dengan Aidan.
Ah benar, Aidan!
gumamku dalam hati. Aku melirik kearah aidan sekilas, Ia tertidur. Seperti biasa apa yang dilakukanya, disaat murid-murid lain berhamburan keluar kelas ia justru sengaja untuk tidur.
Aku berjalan melewatinya dan bergegas keluar kelas untuk segera menemui Raja. Lagi, tangan Aidan meraih tanganku dari belakang secara tiba-tiba, menghentikan langkahku. Belum selesai berbalik badan, Aidan sudah beranjak dari kursinya berdiri tepat dihadapanku dan membuatku kaget hampir terjatuh. Aidan menahan tubuhku agar tidak jatuh dan mata kami saling bertatapan.
"Kau yang benar saja! bagaimana jika terluka?!"
Ucapnya sedikit berteriak, melepaskan pegangan terhadap badanku.
Aku langsung berdiri tegap dan meminta maaf karena kecerobohanku barusan.
"Maaf, aku kaget tiba-tiba kamu sudah berdiri didepanku."
Kataku dengan suara lirih dan tanpa menatapnya.
Aidan diam dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia langsung menarik tanganku keluar kelas. Saat itu juga, aku berusaha melepaskan genggaman tanganya yang begitu kuat sehingga membuat pergelangan tanganku sakit.
"Aidan ada apa?! Lepasin aku harus kerja!"
Kataku dengan nada sedikit membentak dan terdengar kesal.
Beruntung sekolah sudah mulai sepi karena ditinggalkan murid-murid. Hanya beberapa anak yang tersisa. Aku merasa ada yang mengamatiku dari jauh.
Benar saja, Raja!
Aku berharap dia menggangguku kali ini sehingga aku bisa terlepas dari Aidan.
Baguslah, Raja menghampiriku, Ia melepaskan spontan tangan Aidan dari pergelangan tanganku. Aku bersyukur lega lalu menunduk saat Raja menatapku.
"Kau ngapain sama atha?"
Tanya Raja pada Aidan meminta penjelasan.
"Bukan urusanmu, minggir."
Jawab Aidan dingin sambil menarik kembali tanganku lalu berjalan meninggalkan Raja.
Raja tidak tinggal diam dan melepaskan kembali tangan Aidan dari pergelangan tanganku. Aku menatap sekilas raut wajah Raja yang tampak kesal. Ia menyembunyikanku dibelakang tubuhnya, tanganya menggenggamku halus. Aku merasa seperti dilindungi oleh Raja.
"Kau.. minggir, Aku ada urusan dengan anak ini." Ucap Aidan berusaha bersikap tenang dan tidak terbawa emosi.
"Urusan apa?"
Balas Raja, tak mengiyakan ucapan kakaknya itu, Aidan.
"Arghh! tidak bisa kujelaskan!"
Aidan mulai terlihat kesal kembali, dengan tanganya yang mengacak-acak rambutnya sendiri.
Aku tidak ingin membuat saudara kembar ini berantem, aku harus mencari jalan keluarnya. Tiba-tiba aku teringat tentang kalimat Aidan yang membuatku bingung. "Putri violen?" gumamku dalam hati.
"Raja, aku baik-baik aja. Nanti aku hubungi kamu. Sekarang aku akan pergi sama Aidan."
Pungkasku setelah terpikirkan sesuatu.
"Hah? urusan apa sampai harus menyelesaikanya dengan dia?!"
Tanya Raja penasaran, membuat Aidan memicingkan matanya setelah mendengar ucapanya barusan.
Aku hanya menggelengkan kepala singkat, meminta persetujuan Raja untuk memberiku ruang dan waktu, untuk menkonfirmasi suatu hal dengan Aidan. Raja melepaskan tanganku dan menyergap pundakku. Ia mengatakan,
"Kau janji kabari aku, oke?!"
Aku tersenyum mendengar perkataan Raja lalu bergegas mengikuti Aidan yang sudah berjalan duluan meninggalkan kami.
"Aidan tunggu!"
Teriakku sembari mengejarnya.
Aidan tak menoleh sedikitpun padaku sehingga aku berjalan disebelahnya. Suasana makin canggung saat kami berada di luar sekolah. Ia masih tidak mengatakan apapun. Aku mencoba untuk memulai perkataan duluan. Aku berdiri tepat dihadapanya, menghadang langkah kakinya. Aidan berhenti dan menatapku dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku celana.
"Kamu mau bilang apa? Aku harus kerja dan tidak punya banyak waktu."
Kataku pada Aidan.
Aidan tak membalas perkataanku dan menyodorkan ponselnya padaku. Aku meraih ponsel tersebut dan menanyakan apa yang harus kulakulan terhadap ponselnya.
"Berikan nomor mu, nanti kuhubungi selepas kau bekerja."
Ucapnya tiba-tiba dan langsung menatapku serius.
Aku segera menuliskan nomorku di ponselnya dan menyimpanya dengan namaku, Agatha violen. Selepas menyimpanya, aku mengembalikan ponsel tersebut pada Aidan. Aidan kemudian meninggalkanku lebih dulu. Ia tampak terburu-buru. Entah apa yang membuatku berteriak padanya saat itu.
"Aku selesai bekerja pukul 6!"
Aidan tak menjawab dan terus melangkah ke depan. Saat berbalik badan, hendak menuju halte bus, aku mendapati Raja yang ternyata sedang mengamatiku dari gerbang. Ia tidak menyapaku dan langsung masuk ke dalam mobil jemputanya. Aku heran, Mengapa Raja melakukan itu.
__ADS_1
....