
Helen memutarkan bola matanya, lalu menatapku kembali dengan tangan yang dilipat dibawah dada.
"Agatha, kalau aku membawa mu kesana, kau pasti sudah mati setelah 7 langkah dari gerbang."
Aku terkejut mendengar ucapan Helen barusan. Bagaimana bisa ia bilang mati, padahal mencoba saja belum.
"Berhenti menakutkanku, kalau nggak boleh ya sudah."
Jawabku dengan kecewa, memalingkan wajahku.
"Eh.. dasar! nanti akan tiba waktunya kau kembali disana."
"Kapan? bersama Raja dan Aidan juga?"
Tanyaku sedikit polos.
"Wah.. kau ini benar-benar Agatha. Kau nggak bisa milih salah satu?"
Aku terdiam sesaat, menatap Helen dalam. Ucapanya barusan menggetarkan hatiku.
"Kalau aku menemui Raja, mungkinkah Aidan akan marah?"
Tanyaku pada Helen.
Helen mengangguk cepat, lalu beranjak dari sofa, duduk di sebelahku.
"Aku kasihan padamu, di dunia ini pun kau harus memilih diantara mereka."
Pungkas Helen, sembari memeluk tubuhku dari samping.
Aku segera menoleh kearahnya. Ternyata, perjalanan hidupku sudah dikemas dan berjalan semestinya.
"Aku sekarang percaya, semua tentang diriku di dunia sana. Itu semua membuatku gila! hidupku disini saja sudah cukup rumit."
Ucapku mengeluh, entah kenapa aku jadi terbawa emosi tanpa sebab.
Helen melepaskan pelukanya, lalu mengenggam kedua tanganku erat sembari menatapku intens.
"Percayalah, semua tidak akan berlangsung lama, kau akan segera bahagia Putri Violen.."
Aku tersenyum, ucapan Helen barusan menenangkan hatiku.
"Ah.. kamu harus segera kesana, aku juga.."
Helen mengerutkan keningnya, melontarkan tatapan ketidakpahaman.
"Maksudku, kamu ke dunia sana dan aku bekerja."
"Kerja?"
Astaga.. aku lupa, kenapa aku bisa mengatakan itu
"Ah enggak, maksudku, beres-beres rumah."
Jawabku sedikit ragu.
Untung saja Helen tidak menganggap serius, sehingga aku tidak perlu menjelaskan atau bahkan mencari alasan lain.
Helen mengantarku sampai depan. Dan aku pun segera pergi menuju halte, khawatir akan terlambat. Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, tersisa 2 jam lagi waktu shiftku bekerja.
...
(Kamu masih marah ya padaku? Raja tolong jawab..) *Send
Pandanganku menatap jalanan, bus melaju sesuai dengan kecepatan semestinya. Masih dengan ponsel di genggaman tanganku, pikiranku sedikit terasa kacau.
Aneh, biasanya Raja langsung membalas pesanku dalam hitungan 5 detik.
Flashback on
(2 tahun yang lalu)
"Aku nggak suka kamu sering telfon di kantor Bu Ratih!" Ucapku jutek pada Raja.
Bukanya menghentikan tingkah jahilnya, Raja terus menggangguku. Aku tertawa lepas, dengan tubuh yang terlentang diatas rumput hijau taman.
"Kau nanti sekolah di tempatku juga kan?"
__ADS_1
Aku segera menoleh kearahnya, yang juga sedang berbaring menatap langit di sebelahku.
"Bodoh. Aku kan dibesarkan di sini, bagaimana bisa aku membayar biaya sekolah yang mahal itu."
Balasku dengan tersenyum.
Raja setelah mendengar ucapanku, ia langsung bangun, lalu menatapku sembari menggenggam kedua tanganku erat.
"Berjanjilah padaku, kalau kau dalam kesulitan, segera beritahu aku."
Pinta Raja dengan tulus, wajahnya cukup cemas.
"Saat kamu sedang ada masalah juga, jangan ragu untuk kesini ya?"
Raja mengangguk cepat, dengan tersenyum setelah mendengar balasanku terhadap perhatianya.
Flashback end.
"Bohong. Kamu saja mengabaikanku sudah lebih dari 3 hari!"
Orang-orang yang berada di dalam bus denganku, langsung menoleh singkat kearahku. Mereka menatapku bingung, itu karena ucapanku yang berbicara sendiri setelah mengingat masa lalu dengan Raja.
Tapi memang benar adanya, dulu Raja sangat perhatian. Bahkan saat kelas 10, tahun pertama sekolahku di SMA. Banyak yang tidak suka terhadap hubunganku dengan Raja, mereka menganggap aku hanyalah benalu yang meresahkan.
Hubunganku menjadi rumit, setelah kehadiran Aidan. Bukan aku menyesali kedatangan Aidan, namun aku menyesali, mengapa aku tidak adil. Benar-benar mengecewakan salah satu pihak. Dengan Aidan, aku tidak dapat berjanji, untuk tidak berhubungan dengan Raja lagi. Itu yang membuat Aidan selalu sensitif saat aku tidak sengaja atau sengaja membahas Raja, bahkan menyebut namanya.
*Tett...!
Seseorang menekan bel untuk bus berhenti, aku pun langsung menoleh keluar jendela. Tidak terasa, sudah berada di halte yang ku tuju. Dengan segera, aku menyusul keluar orang-orang yang juga menuruni bus.
Jam makan siang sudah terlewat, sekarang pukul 3 kurang. Masih ada waktu satu jam untuk bekerja. Aku memutuskan untuk berhenti di sebuah minimarket persimpangan jalan menuju tempat kerjaku.
"Selamat datang~"
Seorang wanita yang bediri di kasir langsung menyapaku, bersamaan dengan langkahku yang memasuki minimarket tersebut.
Dengan segera, aku langsung mengarah ke bagian makanan cepat saji, dan mengambil 1 sandwich beserta 1 kotak susu.
"Totalnya 29 ribu, ada lagi?"
Aku menggeleng singkat, sembari mengeluarkan pecahan uang dari dalam tasku.
..
*Grep!
Aku segera menoleh kebelakang, saat seseorang menarik kursiku, sampai membuatku hampir terjatuh.
"Tertangkap!"
"Aidan?!"
Dengan segera aku langsung berdiri tegap, lalu menatapnya heran.
"Kau kaget ya? maaf.."
Ucap Aidan, langsung menarik tanganku kedalam pelukanya.
"Ukhhh!"
Tiba-tiba saja aku tersedak sandwich yang baru saja tertelan paksa. Aidan langsung merenggangkan pelukanya, lalu menangkup pipiku, memperhatikanku cemas.
"Hei kenapa?!"
Dengan sigap, Aidan langsung meraih kotak susu milikku di atas meja, kemudian mengarahkanya ke mulutku.
..
Setelah merasa cukup tenang, aku menyalahkanya. Karena kedatanganya yang tiba-tiba membuatku terkejut.
"Kamu sadar nggak? aku seharian banyak terkejut karenamu."
Pungkasku pada Aidan, yang duduk di sampingku.
Aidan menggeleng polos, masih menatapku sembari tersenyum seperti anak anjing yang menggemaskan.
"Berhenti tersenyum, aku nggak suka."
__ADS_1
"Mari perjelas, Sayangku Aidan, berhentilah tersenyum, kau membuatku semakin suka.."
Aku terkejut dengan ucapanya, Aidanpun ikut tertawa setelah melihat reaksiku yang tampak tak mempercayai sikap yang dikeluarkanya barusan.
"Sudah ya, aku harus bekerja"
Kataku, sembadi meraih tas yang kuletakkan diatas meja.
"Kau masih bekerja? sejak tadi pagi?"
Gawat, aku lupa. Jelas-jelas aku berbohong padanya.
"Ehm, iya.. aku kan harus mengumpulkan lebih banyak uang, jadi harus bekerja lebih saat hari libur gini."
Jelasku setelah sebuah alasan terlintas di benakku.
Raut wajah Aidan berubah cemas tiba-tiba. Masih duduk disampingku, Aidan melemparkan tatapan dalam di mataku.
"Pasti karena uang, kau jadi makan roti selada dan sekotak susu saja kan?"
"Eh..? enggak tuh!"
Jawabku, membantah pernyataanya.
Aidan tersenyum lagi, kemudian menyematkan poniku dibelakang telinga, tatapanya sangat lembut. Sampai-sampai membuatku tersipu.
"Makan lagi, aku yang bayar. Kau mau apa?"
Ucapnya, langsung beranjak berdiri, dengan tangan yang masih menggenggam tanganku.
"Nggak Aidan, aku kenyang.."
"Ssst! Jangan beralasan, aku tidak akan membiarkan kekasihku kelaparan."
Ucapnya, melotot tajam kearahku singkat.
Aku mengerutkan keningku, Kelaparan? yang benar saja..
"Aidan, aku beneran sudah puas makan siang.."
Balasku meyakinkanya.
"Jangan khawatir, uangku banyak. Aku bahkan bisa membeli toko ini kalau kau mau."
Celetuk Aidan dengan sombong dan percaya diri. Sontak, pegawai wanita yang berdiri di kasir pun sempat menoleh kearah kami.
Dengan segera, aku melepaskan genggaman Aidan. Kemudian berjinjit hingga dapat sejajar dengan wajahnya.
*Cup!
Sebuah ciuman mendarat di pipi kananya, entah kenapa, aku mendapat dorongan untuk melakukan itu. Aidanpun langsung membatu seketika.
"Aku pergi ya, kamu hati-hati di jalan~!"
Ucapku, sedikit khawatir karena Aidan tidak berkutik.
Saat meninggalkan minimarket, aku terus menyesali tindakanku yang agresif barusan.
"Tha!"
Teriak Aidan, yang langsung menyusulku di belakang.
Akupun langsung menoleh kearahnya, walaupun sedikit canggung.
"Kenapa? kamu cepat pulang! Aku sayang kamu..."
Ucapku dengan cepat, dan langsung berjalan cepat setelah itu.
..
*Kato!
Langkahku terhenti, langsung merogoh ponselku dari dalam tas, membuka isi pesan yang baru saja masuk.
Raja: (Apa? kau mau es serut gak?)
Deg! secara tiba-tiba?
__ADS_1
***