VIOLEN

VIOLEN
Kabar Buruk


__ADS_3

Minggu, hari dimana seharusnya orang yang bekerja libur. Namun, tidak berlaku untukku. Pagi-pagi seperti ini aku harus disibukkan dengan beberes rumah kemudian siap-siap berangkat kerja.


Pagi ini, perkiraan cuaca tidak terlalu bagus. Akan ada hujan lebat yang turun, oleh karena itu, aku harus menyiapkan mantel super tebal dan juga payung. Pandanganku terpaku, pada pohon besar dekat sungai, tempat dimana aku dan Aidan melewati dunia lain.


Tak lagi terlihat sosok bayangan laki-laki yang berdiri menatapku. Mimpi juga tak lagi kualami belakangan ini. Anehnya, aku tidak dapat mengingat mimpiku semalam, atau bahkan saat aku tidak sengaja tertidur di siang hari.


*Kato!


Notifikasi pesan masuk membuyarkan lamunanku. Akupun segera berpindah dari jendela, untuk mengambil ponselku.


"Aidan?"


(Bisa ketemuan?) 06.39 AM


"Sepagi ini?" gumamku lagi dalam hati


(Jam 9 aku kerja, kamu mau datang sekarang?) *Send


(Oke, aku kerumahmu) 06.40 AM


"Oh? langsung di balas!" Ucapku. Entah mengapa aku kegirangan.


Akupun langsung meletakkan ponselku, mempercepat beres-beres rumah sebelum Aidan datang.


..


Sudah 40 menit berlalu, sekarang pukul setengah 8 kurang. Belum ada tanda kedatangan Aidan di luar. Aku yakin, pasti ada hal penting. Pantas saja, Aidan ingin datang sepagi ini.


*Tok tok.. tok..!


Aku langsung beranjak dari kursi, berjalan mendekati pintu.


"Raja?"


"Aku Aidan."


Aneh, kenapa aku menyebut Raja, jelas-jelas Aidan yang bilang akan datang ke rumahku. Aku berusaha menyadarkan pikiranku, dengan memijat keningku sekilas.


"Ah maaf.. aku kira Raja, karna parka yang kamu pakai.." Ucapku pelan, tak enak hati.


Aidan mengangguk seraya mengusap rambutku lembut. Aku segera mempersilahkanya masuk, memintanya duduk di sofa sembari menungguku membuatkan minuman untuknya.


Disaat seperti ini, aku tidak boleh membuat kesalahan, lisan maupun dalam pikiran. Tampak sekali raut wajah Aidan yang serius, sangat sulit di tebak isi pikiranya.


"Kamu udah sarapan?" Tanyaku basa-basi, sembari menyajikan minuman diatas meja, lalu duduk bersebelahan denganya.


Aidan menatapku serius, tubuhnya menyamping, agar dapat menatapku penuh.


"Kalau aku kembali kesana, kau tetap disini atau ikut?"


Deg!


"Kenapa? kenapa kamu kesana?" tanyaku cemas.


Aidan menyematkan rambutku kebelakang telinga. Tanganya menggenggam tanganku erat. Entah kenapa, suasananya menjadi amat serius.

__ADS_1


"Aku ditarik kembali kesana, tugasku telah selesai." tambah Aidan.


Aku langsung memeluk tubuh Aidan, memang ini yang ingin kulakukan sekarang. Mendengar ucapan Aidan, sepagi ini bukanlah hal baik. Aku tidak mau berpisah denganya.


"Kamu nggak bisa tetap disini aja? kumohon.." pintaku, air matapun mulai menetes, membasahi pundak Aidan.


"Dasar cengeng! kau ngapain nangis?" ejeknya, disusul gelak tawa seraya mengusap punggungku.


"Aidan!" aku marah, karena disituasi seperti ini ia masih sempat menggodaku.


"Hm, kenapa kau seperti bayi gini?"


Aidan melepaskan pelukanku, tanganya masih memegangi kedua pundakku, matanya menatapku dalam dan senyumnya, berusaha menenangkanku.


Masih dengan bibir yang mengerucut dan air mata yang terus keluar membasahi pipi, aku mencoba menatap Aidan kembali.


"Siapa yang bayi?" ucapku, sembari mengusap air mata.


"Hahaha.. ya jelas kau." balasnya, diikuti suara tawa.


Aku tersenyum, usai mendengar tawanya. Walaupun perasaanku sangat sedih saat ini, aku harus mendengar cerita Aidan lebih dulu, Dengan tuntas. Alasan kenapa ia harus kembali kesana.


"Aku janji, nggak akan main sama cewek lain." pungkasnya, membuatku berhenti menangis.


"Astaga.. imutnya!" ucap Aidan kemudian, seraya memegangi bibirku yang sengaja ku kerucutkan.


Aku segera melepaskan tanganya, dari mulutku. Memicingkan mata, tak percaya dengan ucapanya barusan, perihal tidak akan bermain dengan cewek lain.


"Jelasin ke aku, alasan kamu harus kembali kesana." pintaku, seraya menggenggam kedua tanganya.


"Petinggi Jaidran, mendapat sinyal kalau aku melalaikan misi di dunia ini. Setelah mengirim Gery, cecunguk sialan itu, petinggi Jaidran menarik segala kekuatanku, aku harus segera kembali. Mereka juga tau, niatku teralihkan, saat sudah mengenalmu. Yang jelas, banyak korelasi yang nggak kau ngerti Tha, aku nggak bisa jelasin sekarang." Jelas Aidan.


Aku menunduk, tidak tau harus berbuat apa. Takdir yang diperuntukkan untukku memang tidak adil. Kebahagiaanku atas Aidan pun juga ingin ditarik kembali, padahal belum lama aku menikmati kebahagiaan ini.


"Kau nggak papa?" Aidan ikut menunduk, mencoba menatapku dari bawah, tanganya sambil mengelus pundakku.


Aku menatap Aidan kembali, setelah merasa cukup tenang.


"Kalau kamu memang harus kembali, aku nggak papa, Aidan."


Walaupun terdengar tenang, sebenarnya aku sangat kacau, pikiranku tidak jernih. Tidak bisa membayangkan, bagaimana aku tidak dapat menjumpai Aidan lagi nanti.


"Wajahku berubah, nggak seperti yang kau lihat sekarang. Kau ingat nggak? saat kita disana?" Aidan langsung menunjuk ke arah pohon besar dekat sungai tersebut, melalui kaca jendela rumahku.


Aku mengangguk, menoleh kearah yang ditunjuknya sekilas, lalu menatapnya kembali.


"Disana, saat kau terkejut karena pakaianku ganti, rambutku putih dan warna mataku tak biasa. Seperti itulah aku, wujudku akan perlahan berubah. Wajah yang kupakai saat ini, milik Raja." Tambah Aidan.


"Tipu daya. Aku paham." Sahutku.


"Jangan sebut tipu daya, Atha.. aku sangat membenci kata itu keluar dari mulutmu." Sanggah Aidan.


"Iya Aidan, maaf. Jadi, apa aku masih bisa bertemu kamu? saat kamu sudah nggak disini lagi.." tanyaku, usaha membendung air mata pu gagal, tangisku pecah.


Aidan langsung menarik tubuhku kedalam pelukanya, tanganya mengusap rambutku lembut, berusaha meredakan isak tangisku.

__ADS_1


"Aku bisa, tapi resikonya sangat berbahaya." jawab Aidan kemudian.


..


Setelah kutatap jam, menunjukkan pukul 8 lebih. aku harus cepat berangkat ke toko buku, shiftku pukul 9. Awalnya aku tidak ingin pergi, memutuskan untuk bolos saja, menghabiskan waktu bersama Aidan. Mengingat, ia akan segera pergi. Namun Aidan, melarangku. Ia memintaku untuk memenuhi tugas, sebagai pekerja sambilan.


"Masih seminggu Tha, aku bilang sekarang, supaya kau nggak kaget nanti." pungkas Aidan, tersenyum seraya memakaikan helm untukku.


Aku mengangguk, tersenyum kembali padanya. Mungkin, aku harus mengambil cuti seminggu penuh, berharap, Bu Cika memberiku izin, semoga.


"Udah!" Ucapku, setelah sempurna membonceng.


"Oke, pegangan!" Balas Aidan, tak kalah semangat, ia pun langsung melajukan motornya, meninggalkan pekarangan rumahku.


Diperjalanan seperti ini, walaupun langit mendung tidak cerah, aku tetap menikmati, karena cuaca seperti ini mungkin akan jarang kudapati, saat bersama Aidan. Aku memeluk tubuhnya dengan erat, menembus angin pagi yang dingin bersama.


Perjalanan yang tak singkat ini, mengingatkanku saat pertama kali dibonceng olehnya, benar-benar sosok Aidan yang tak terduga.


"Tha!" panggil Aidan. Aku pun langsung mendekat, agar dapat mendengarnya dengan baik.


"Ada apa?" jawabku sedikit keras.


"Semalam, kenapa nggak bilang, kalau kau menemui Raja."


Deg!


Sontak aku terkejut, saat Aidan menyinggung Raja. Bagaimana bisa ia tau kalau aku bersama Raja semalam?


"Maksud kamu?" tanyaku, setelah bisu beberapa saat.


Aidan tiba-tiba tertawa, ia melirikku dari kaca spion, akupun menyadarinya. Laju motornya dicepatkan, seolah-olah tidak puas dengan jawabanku, yang alih-alih menjawab, malah bertanya kembali.


..


Suara mesin motor dimatikan, berhenti tepat di depan toko buku milik Bu Cika, tempatku bekerja. Aku menatap jam sekilas, diponselku. Menunjukkan pukul 08.57, Nyaris terlambat.


"Aidan, maksud kamu tadi apa?" tanyaku, membahas pembicaraan kami saat di perjalanan tadi.


Aidan tersenyum, setelah menyimpan helm yang baru saja ku lepas. Ia menatapku penuh perhatian, tak terdapat raut wajah yang marah, ataupun kesal.


"Tha, mulai sekarang kalau kau bertemu Raja, bilang saja padaku. Aku nggak akan larang, cuma menghukum aja sesudahnya." pungkas Aidan.


Sontak aku tertawa kecil, walaupun begitu, kalimat terakhirnya adalah menghukum. Sudah jelas ia tak memperbolehkan.


"Jadi, kamu tau kalau aku bertemu Raja malam itu, terus kenapa nggak bilang langsung padaku?" sahutku.


"Cuma nggak mau ganggu saja. Dan juga, jangan berjalan seperti ini malam-malam." tegas Aidan, seraya telunjuknya digoyangkan kekanan ke kiri, mengarah untukku.


"Haha! kamu.. memata-mataiku ya?" sanggahku kemudian.


Bu cika mengetuk kaca dari dalam, akupun langsung berbalik. Telunjuknya memintaku untuk masuk, lalu tanganya melambai ke arah Aidan, seolah memintanya pergi.


"Hehe, sana masuk.." pinta Aidan, tersenyum padaku, dan langsung menyalakan mesin motor kemudian.


****

__ADS_1


__ADS_2