
...
Aidan POV.
Dengan emosi, aku segera melajukan mobilku secepat mungkin, mengendarainya dengan kecepatan yang tidak wajar.
Tidak sabar menemui Gery, temanku yang ternyata menjadi utusan Jaidran.
Aku berusaha untuk tampak tenang saat bersama Agatha tadi, namun pergerakanya terlalu cepat. Bisa-bisa keberadaan Agatha sudah diawasi lebih lanjut oleh Petinggi Jaidran yang mengincarnya di bumi ini.
"Ahh sial, aku harus mengambil kalung itu untuk melacak keberadaan cecunguk Gery."
Ucapku pada diri sendiri yang masih mengemudi.
Kakiku semakin menancap gas mobil yang kukendarai ini, menyalip kanan kiri melewati setiap mobil yang menghalangiku di depan.
Mobil terparkir dengan rem yang sangat mendadak hampir menabrak pagar tinggi, tepat di depan rumahku.
Aku segera turun dari mobil, melemparkan kuncinya kepada satpam penjaga yang baru saja membukakan gerbang untukku.
Dengan terburu-buru aku segera masuk kedalam rumah, untuk mengambil kalung itu.
"Aidan.. sudah pulang?"
Sambut mama setelah melihatku yang masuk dengan terburu-buru itu.
"Iya ma,"
Jawabku singkat tanpa menoleh kearahnya, sembari menaiki tangga menuju ke kamarku.
Tiba-tiba Raja keluar dari kamarnya, hendak berjalan kearahku yang baru saja selesai menaiki tangga. Tatapanya membuatku ingin memukulnya, tajam dan menyebalkan sekali.
Tanpa menghiraukanya lagi, langkahku segera tertuju ke kamar, mengambil kalung yang kusimpan di dalam lemari pakaian, lalu segera memakainya.
Sinar hijau terpancar terang dari kalung tersebut, setelah kupasangkan di leher dengan sempurna.
Dengan bergegas aku keluar dari kamar, menuruni tangga dan mendapati mama yang sedang menyajikan makanan di meja, tentu saja ada Raja yang bersiap untuk menyantapnya.
"Aidan!"
Panggil mama berusaha menghentikanku.
Aku menoleh kearahnya sekilas, sembari memberi sinyal tanganku yang mengarah padanya.
"Sebentar,"
Pungkasku singkat, lalu bergegas menuju motor yang terparkir di halaman rumah.
Aku segera memakai helm, dan menaiki motor tersebut sembari meluruskan standarnya. Setelah menghidupkan mesinya, aku segera melajukanya keluar dari halaman rumah ini, mendapati satpam penjaga yang tampak terburu-buru membukakan gerbang untukku.
...
Dengan mengikuti panduan dari kalung ini, aku melacak keberadaan Gery.
Petinggi Jaidran pasti sudah mengetahui keberadaanku melalui kalung ini, aku sudah lama tidak menggunakanya untuk menghindari mereka.
Tapi Gery sialan itu, dengan santai dan bodohnya memakai kalung tersebut lalu bertemu Agatha.
Dengan masih sangat emosi, motor yang kukendarai semakin melaju kencang. Sampai akhirnya sampai di tempat yang aku sendiri tidak tahu dimana.
"Dan?"
Panggil seseorang dari arah belakang.
Aku segera menoleh kearah sumber suara tersebut, lalu bergegas turun dari motor.
"Dan, tenang!"
Ucap seseorang itu yang ternyata Gery, ia berjalan mundur ketakutan karena aku terus melangkah menghampirinya dengan raut wajah yang serius dan penuh amarah.
*Grepp!!
Aku segera menarik kerah bajunya, mengangkatnya sedikit keatas sampai nafasnya tersenggal.
"Ohkk, ahhk aaahhk!!"
Tanganya menggenggamku kuat, memohon untuk dilepaskan.
__ADS_1
*Braggkk!!!
"Kau bodoh Gery, Kau sama sekali gak setia padaku!"
Pungkasku dengan tatapan yang menggelegar.
Dengan kesulitan, Gery berusaha bangkit berdiri. Namun aku segera mendorongnya lagi, hingga ia kembali tersungkur ke tanah.
"Brengsek!"
Teriaknya padaku dan seketika berubah menjadi seekor Serigala.
"Jadi cuma ini bisamu? baik, matilah sebagai binatang!"
Ucapku meremehkanya, lalu bersiap untuk bertarung denganya.
"Lihatlah Gery, aku akan memenangkan pertarungan ini! Kau yang tidak setia kepadaku akan mati."
Pertandingan antara Gery dan akupun akhirnya dimulai. Terlihat Gery yang memulai seranganya lebih dulu dengan berlari kearahku berusaha untuk menikam.
Aku tidak tinggal diam, dengan tangan yang sudah siap kukepalkan untuk meninju Gery pun kulancarkan,
"HYAAAAAA!!!!!"
*BUUGG!! *DUAGGH!!
Dengan penuh emosi aku telah berhasil meninju kepala serigala yang tidak lain Gery itu. Dirinya yang kesulitan mengejarku membuatnya terus terkena serangan tinjuan dan tendangan yang kulancarkan.
*SRAKKKK!! *BRAAAKKKK!!!
Tubuh Serigala itu terhempas jauh ketika aku meninjunya dengan kekuatan penuh, seketika serigala tersebut melolong keras,
AAAUUUUUNGGG ...... ! UNGGGG AUUUNGGG ...
Gery mengaung sangat keras, saat itu juga sosok wanita yang tidak kukenali datang menghampiri kami.
Matanya berubah menjadi biru, melotot tajam kearahku, lalu berpaling menatap Gery yang tersungkur ditanah setelah melolong keras.
Sosok wanita itu meletakkan kepala Gery di atas pahanya, sembari mengelus kepalanya yang penuh luka gores dan mengeluarkan sedikit darah akibat serangan tanpa ampunku tadi.
Tidak lama, wujud Gery kembali menjadi manusia, tanganya melambai kearahku meminta untuk mendekat.
Pungkasku dengan nada sinis menghampirinya.
Tampak wanita yang memangku kepala Gery tersebut kembali menatapku tajam, wajahnya penuh khawatir saat menatap Gery yang penuh luka.
Aku terkejut setelah mendekati Gery, wanita yang membantunya ini memiliki kalung yang memiliki liontin sepertiku, warnanya biru seperti lautan didalamnya.
"KAU?!"
Sentak ku pada sosok wanita yang terus menatapku tanpa takut itu.
"Terkejut kau setelah mengenaliku? Benar aku Helen."
Ucapnya dengan santai memicingkan matanya padaku.
"HAHA, dasar rubah. Kau sengaja merubah wajah dan tubuhmu bukan?"
Jawabku kembali sinis.
"Aidan.. Aidan, kau ini bodoh ya lalu bagaimana denganmu yang meniru Raja secara keseluruhan?"
Balasnya tak kalah sinis.
"HYAAAAAAATT!!!"
*ZRAAAAAAASHHHH!!
Aku terkejut, tubuhku terhempas jauh kebelakang sampai terhantuk mengenai tembok. Helen melakukan serangan tiba-tiba padaku, kekuatan angin.
*Uhuukk! Uhkk!
"Sialll!!"
Aku segera bangkit dan berlari secepat angin, menyiasatinya dengan serangan balikku,
"Terima dan rasakan ini, Rubah! HAHAHA"
__ADS_1
pelikku tertawa sinis kepadanya, setelah membidik dengan sempurna dari arah belakang dan langsung melontarkan tinjuanku,
*GREPP!!
Aku menoleh terkejut kepada Gery, ia berhasil menahan tanganku yang hendak meninju Helen.
Gery segera bangkit berdiri, ia menyeka darah yang keluar dari bibirnya lalu menghempaskan tanganku kasar.
"Ohh beralih setia kepadaku, kau justru membantu rubah dari Violen ini?!"
Ucapku tertawa sinis, menatap mereka berdua.
"Hentikan,"
Pungkasnya dengan nada tenang.
"Apa kau bilang?! ******** satu ini mem--"
"HENTIKAN!"
Bentaknya dengan tegas, dengan mata yang menatapku dalam menyela ucapanku barusan.
Aku menoleh sekilas kearah Helen, matanya tak selesai-selesai menusukku tajam.
"Oke, aku akan diam."
Pungkasku sedikit menurunkan volume suaraku sembari duduk bersandar diatas motorku.
Setelah itu, tampak Gery sepertinya memberiku sebuah sinyal. Aku mengernyitkan dahiku bingung, tidak mengerti dengan apa yang ia maksud.
Tiba-tiba sesuatu menggores leherku dibelakang, Helen!
Saat hendak menoleh setelah merasakan sesuatu menggores leher belakangku, aku mendapati Gery dan Helen yang secara bersamaan melepaskan kalung yang mereka pakai. Membuangnya ketanah, aku menatap mereka heran sembari memegangi tengkukku yang sepertinya mengeluarkan darah.
"Kau bodoh Aidan, kau sendiri yang memberi sinyal kepada mereka."
Pungkas Gery menatapku kasihan, lalu berjalan menghampiriku dengan kakinya yang sedikit pincang.
Helen memundurkan langkahnya, menjauhiku saat Gery sudah berada dihadapanku. Namun mata Helen mengisyaratkan bahwa ia mengawasiku dengan sempurna.
"Apa kau lihat-lihat gitu? Mau kucabut keluar bola matamu?!", "HWAAKSS!!"
Ucapku sembari mengarahkan kedua jariku kearahnya, bermaksud memberi peringatan bahwa aku juga mengawasinya.
Helen memutarkan bola matanya malas, ia memalingkan wajahnya dariku dengan ketus. Dan seketika, Helen menghilang begitu saja dari pandanganku, sepertinya ia berlari secepat angin sehingga aku tidak dapat melihatnya.
Aku menatap Gery, hendak menanyakan keberadaan Helen namun aku lebih terkejut saat Gery tiba-tiba meninjuku tepat di dadaku.
"Ahkkk! Uhukk uhkk ..."
Deritaku sambil terbatuk membungkukkan badan, karena pukulanya yang tiba-tiba.
"Lemah. Jelas-jelas kau menghabisiku lebih banyak."
Celetuk Gery sembari memungut kalung-kalung yang terjatuh ditanah, lalu memasukkanya kedalam saku celana.
Aku menoleh kearahnya sinis, seraya berusaha berdiri tegak, hendak menghajarnya kembali.
"Gak perlu melakukanya lagi, kau akan rugi sendiri."
Pungkasnya sambil menepuk pundakku keras, lalu tersenyum padaku.
"Cecunguk bodoh ini!"
Bentakku padanya, menepis tanganya dari pundakku.
Gery tertawa kecil menatapku,
"Katanya disini ada minuman yang bisa membuat kita berterus terang. Kau tau dimana tempatnya?"
Tanya Gery yang sontak membuatku kembali heran, mengernyitkan dahi.
.
.
.
__ADS_1
Aidan POV. bersambung ...