VIOLEN

VIOLEN
Antara Aidan & Raja


__ADS_3

...


Pukul 14.00 siang, Di sebuah tempat makan bersama Raja.


"Kau bicara apa dengan Bu Ratih sampai-sampai menangis begitu? Anak nakal."


Celetuk Raja tanpa menatapku sambil menyantap makan siangnya.


Aku meneguk minuman didepanku, Menatap Raja dengan perasaan kesal.


Raja mengangkat kepalanya, menatap wajahku yang kusut. Aku sengaja tidak merespon pertanyaan Raja yang ia lontarkan padaku. Mata kami saling bertemu, Namun Raja mulai menyipitkan matanya.


"Anak nakal..?"


Ucapnya lagi sembari mengetuk-ngetukan punggung tanganya di meja tempat kami makan.


Aku menopangkan daguku dengan tangan yang bertumpu di meja. Menatap bibirnya yang belepotan karna bekas makanan yang menempel.


"Makanmu tuh belepotan!"


Tegurku padanya. Raja malah tersenyum lebar menatapku. Ia meletakkan sendok lalu memajukan wajahnya dengan sengaja mendekatiku.


"Nih kau saja yang bersihin."


Ucapnya sambil menyipitkan matanya padaku.


"Uugh, Kenapa juga harus aku."


Jawabku sembari mengambil tisu, membersihkan area mulutnya yang kotor. Raja menatap mataku dari dekat membuatku salah paham. Aku menarik tanganku sendiri menyudahi membersihkan mulutnya. Aku memundurkan tubuhku bersandar dikursi, Melipat tanganku dan mengalihkan pandangan ke samping.


"Cantiknya.." Ucap Raja tiba-tiba.


Aku tetap tidak menatapnya, Wajahku masih berpaling dari wajahnya. Pipiku merona dan aku menyadari itu dengan segera menutupi pipiku menggunakan kedua tanganku.


"Kau beneran cuma minum nih?"


Ucapnya lagi mencari topik lain untuk dibicarakan denganku. Aku hanya mengangguk singkat menanggapi ucapanya.


Raja bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah kasir untuk membayar. Aku segera bergegas membereskan barang-barangku dan bersiap untuk pergi sembari menunggunya selesai membayar.


Tidak lama, Raja menghampiriku sambil tersenyum menawarkan tanganya untuk ku genggam.


"Harus banget gandengan?"


Tanyaku dingin padanya. Raja tampak mengernyitkan dahinya lalu menarik pergelangan tanganku. Aku otomatis berdiri karena tarikanya. Kami berdua keluar dari tempat makan, Menuju panti kembali.


Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya ketika baru seperempat jalan dari tempat kami makan siang tadi. Ia menatapku dan melepaskan genggaman tanganya pada pergelangan tanganku. Aku menatapnya heran.


"Bukankah gak nyaman berpegangan tangan seperti itu?"


Ucapnya sambil menggaruk-garuk rambut belakang kepalanya.


Aku tersenyum sedikit dengan tingkahnya barusan. Raja benar-benar lucu membuatku senang dapat berteman baik denganya.


"Kan aku nggak minta di gandeng sama kamu."


Jawabku dengan cuek dan sengaja menggodanya.


"Duh, Kemarikan tanganmu!"


Balasnya sambil menarik tanganku, membuka paksa telapak tanganku yang sengaja ku kepalkan untuk menggodanya. Raja memasangkan jari-jari tanganya pada ruas-ruas jari di tanganku. Aku Tersenyum dan merapatkan genggamanya dengan erat.



Kami berdua kembali berjalan dengan tangan yang saling bergandengan. Aku teringat dengan Aidan seketika saat berjalan seperti ini. Aku memikirkan kembali ucapan Bu Ratih kepadaku yang tentu saja membuatku bingung, Sangat bingung.


Raja menyadari raut wajahku yang berubah datar.


"Ada apa Tha?"


Tanyanya singkat menatapku sambil terus berjalan.


Aku segera menatapnya ketika ia berbicara, Aku harus mencari alasan.


"Ah.. itu.. Raja, setelah ini kamu langsung pulang?"


Tanyaku yang lagi-lagi berusaha mengalihkan pembiacaraan.


Raja tampak tak sadar dan menjawabku dengan senyuman lebarnya.


"Bilang aja kalau kau gak mau kutinggal kan?"


Ucapnya dengan nada sedikit menggoda.

__ADS_1


Aku tersenyum mendengar ucapanya mengiyakan saja perkataan pedenya itu.


...


Kami sudah tiba di panti dan langsung menuju kantor Bu Ratih.


"Raja, Nanti aku minta waktu sendiri ya mau ngobrol sama Bu Ratih."


Pungkasku padanya. Ia mengangguk setuju tanpa bertanya.


Saat sudah berada didepan pintu kantor Bu Ratih, Raja mempersilahkanku untuk masuk. Ia benar-benar mengerti dengan yang kukatakan sebelumnya.


"Nanti pulang ku antar."


Ucap Raja lembut.


"Kamu sekarang mau kemana?"


Kataku setelah mengangguk menyetujui perkataanya untuk mengantarku pulang.


"Bermain dengan anak panti mungkin?"


Jawabnya dengan manis sambil tersenyum padaku.


Aku mengangguk mengerti lalu melambaikan tangan kepada Raja ketika ia mulai berjalan mundur, meninggalkanku.


--- *tokk ... *tok.. *tokk!


"Bunda..."


Panggilku sambil mengetuk pintu. Tak lama, Pintu terbuka dengan Bu Ratih yang sudah menyambutku sambil tersenyum.


Aku memasuki ruangan disusul dengan Bu Ratih yang menutup pintu kembali.


"Duduk sayang.."


Pintanya padaku dan aku segera menurutinya untuk duduk bersebelahan denganya di sofa. Kami berdua saling bertatapan sampai akhirnya aku memulai pembicaraan lebih dulu. Setelah menarik nafas panjang, Aku memutuskan untuk membahas hal yang tadi pagi sudah kukatakan.


"Tentang Ayah Atha dan Aidan. Bunda, bisa tolong ceritakan yang sebenarnya?"


Pintaku dengan raut wajah yang memohon dalam kepadanya.


"Baiklah, Bunda juga sudah mendiskusikan hal ini dengan orang lain. Atha sekarang 17 tahun kan?."


"Iya Bunda 17 tahun."


Jelasku sambil mengangguk pelan.


Bu Ratih menggapai tanganku lalu menggenggamnya sambil meletakkan diatas pahaku. Matanya tampak serius menatapku.


"Jadi memang benar ayah Atha namanya Violen. Ayah Atha orangnya baik dan sayang sama ibu Atha."


Ucapnya memulai penjelasan.


"Lalu?"


Kataku singkat meminta untuk melanjutkan kalimatnya.


"Karena Ayah Atha membunuh salah satu anggota keluarga Jaidran, Ayahmu dihukum untuk diasingkan di bumi yang sekarang kita tinggali ini. Bersama dengan Istrinya yang sedang mengandungmu saat itu."


Jelasnya lagi padaku. Aku terkejut mengetahui Ayahku membunuh seseorang. Lalu aku merespon perkataanya untuk memastikan.


"Bunda, Jadi memang benar asalku bukan dari sini? Keluarga Jaidran, siapa mereka?"


"Bunda tidak tahu jelas dari dunia mana kamu berasal karena Bunda bukan dari sana. Keluarga Jaidran adalah marga terpenting di duniamu, Posisinya menempati urutan ke-3 setelah marga keluargamu, Violen."


Aku kebingungan dengan penjelasan Bu Ratih.


"Bunda, aku sepertinya tau seperti apa duniaku.. Aidan membawaku kesana kemarin."


Ucapku dengan tatapan yang serius.


Bu Ratih nampak sangat terkejut ketika aku menyebut nama Aidan lagi.


"Apa yang kamu lihat disana?! dan bagaimana caranya kamu masuk?!"


Tanya Bu Ratih dengan nada yang sedikit membentak dan penasaran.


"Bunda, Tempat itu benar-benar aneh.. ada hewan yang dapat berbicara,seekor serigala milik Aidan lalu ada wanita cantik yang dapat menghilang begitu saja-"


Belum selesai aku menyelesaikan kalimat, Bu Ratih beranjak berdiri dari sofa menuju kearah lemari buku. Aku menatapnya keheranan.


Ia kembali membawa buku ditanganya, lalu segera duduk sambil membukakan buku itu kepadaku.

__ADS_1


Aku memandangi buku tua berwarna coklat seperti warna dahan kayu. Bu Ratih menunjuk sebuah halaman yang sudah ia buka. Aku segera melihat dan mebaca isi dari halaman tersebut. Mataku terbelalak terkejut ketika melihat gambar Diriku,Aidan dan Gerry serigala milik Aidan. Disitu aku nampak sedang bermain air di kolam bangunan tua dan Aidan yang sedang memperhatikanku.


"Bunda.."


Ucapku pelan menoleh kearahnya dan menutup mulutku sendiri dengan telapak tanganku.


Bu Ratih menutup buku itu kembali lalu meletakkanya di meja.


"Itu semua tipuan Aidan. Ia mencoba untuk meniru kenanganmu saat bersama Raja."


Aku kembali terkejut dengan perkataan Bu Ratih barusan. Aku memukul-mukul dadaku pelan yang tiba-tiba saja terasa sesak. Bu Ratih segera mengusap-usap punggungku dan memegangi tanganku. Aku menatapnya sayu.


"Jadi, Yang Atha saksikan kemarin merupakan tipuan Aidan?"


Tanyaku untuk memperjelas sambil menstabilkan nafasku yang tak beraturan karena terkejut dan membuat sesak dadaku.


"Benar. Aidan adalah anggota keluarga Jaidran yang berusaha untuk membalaskan dendam padamu."


Tegas Bu Ratih lagi kepadaku.


Tidak terasa, Air mata mulai menetes dari mataku dan membasahi pipiku. Aku menatap Bu Ratih dengan ekspresi yang masih tidak percaya.


"Tapi kenapa Bun.. kenapa Aidan bersikap sangat baik padaku, l-lalu mengatakan bahwa aku pasangan hidupnya.."


Ucapku sambil terisak dalam tangisan. Aku mengusap air mataku yang terus keluar. Bu Ratih ikut meneteskan air matanya ketika mendengar penjelasanku.


"Sudah.. sudah.. yang penting sekarang Atha tau kebenaranya."


Pungkas Bu Ratih dan langsung memeluk tubuhku hangat. Aku semakin menjadi-jadi ketika mengingat kembali apa yang sudah kualami bersama Aidan.


...


Pukul 19.00 malam, Masih berada di Panti.


Aku membuka mataku perlahan, menatap langit-langit atap dari sebuah ruangan yang tak asing.


"Ah, Aku ketiduran rupanya."


Ucapku pada diri sendiri lalu beranjak bangun bersender di sofa.


"Sudah bangun?"


Ucap seseorang yang muncul tiba-tiba.


"Bunda.."


Kataku sambil tersenyum menatapnya. Aku tidak menyadari kalau Bu Ratih menungguku sambil duduk dikursi meja kerjanya.


Bu Ratih segera menghampiriku dan duduk tepat disampingku. Meraih selimut yang dibalutkanya padaku lalu melipatnya kembali rapih. Tiba-tiba aku teringat Raja.


"Bunda, Raja udah pulang?"


Tanyaku penasaran karena merasa bersalah dan tertidur lama.


"Tidak.. masih disini nunggu Atha."


Jawabnya dengan tersenyum.


"Sekarang dimana? Bunda, Aku harus segera pulang.."


Ucapku sambil merapihkan rambutku.


"Ada di depan dan maaf Bunda sudah menceritakan semuanya pada Raja.."


Kata Bu Ratih membalas ucapanku yang sontak membuatku kembali terkejut dan memusatkan pandangan kearahnya.


Bu Ratih menghela nafas panjang. Ia bangun dari duduknya, berdiri sembari mengulurkan tanganya padaku.


Aku meraih uluran tangan Bu Ratih dan menggenggamnya seraya beranjak berdiri.


"Bunda harus mengatakanya demi kebaikanmu, Atha. Bunda sudah berjanji kepada kedua orang tuamu, Sayang.."


Ucapnya lagi dengan pelan sembari mengelus rambutky dan mengusap pipiku lembut.


Aku luluh dalam perkataanya dan mengangguk pelan sambil meraih totebag ku dimeja.


"Atha pamit Bunda, nanti Atha hubungi.."


Aku memeluk tubuh Bu Ratih sebentar sebelum akhirnya keluar dari Kantornya itu.


Aku menjumpai Raja yang bediri menyandarkan tubuhnya di dinding. Ia langsung menghampiriku dan segera memeluk tubuhku hangat.


...

__ADS_1


__ADS_2