
Satu persatu orang akan segera tau kalau aku menjalin hubungan dengan Aidan, padahal sudah diperingatkan. Entah Raja yang memberi tahu, atau bahkan mereka sendiri yang mengetahui kebenaranya.
Bu Ratih terutama, aku sangat khawatir jika ia mengetahui aku berpacaran dengan Aidan. Sebab hari itu Bu Ratih tampak marah sampai-sampai menangis saat aku memberitahu tentang Aidan.
Lalu Helen dan Gery, walaupun mereka akrab, tapi mereka memiliki misi penting masing-masing.
....
Pukul 16.00 sore, ditempat kerja.
Hari ini akan berjalan seperti kemarin. Karena upah kerjaku dibayar setelah 1 bulan, jadi aku harus menghemat pengeluaran.
--*Criingg!
Suara pintu terbuka, disusul dengan masuknya seseorang.
"Selamat datang~"
Ucapku ramah, menyambut pengunjung yang baru saja memasuki toko ini. Ia langsung masuk kedalam, menuju rak buku dibelakang.
Sempat terbesit dibenakku, Helen dan Gery yang kutemui semalam berada tidak jauh dari sini.
Apa mungkin mereka tinggal disekitar sini? bisa gila aku kalau sampai kedapatan oleh mereka bekerja paruh waktu seperti ini.
Aku memfokuskan kembali pikiranku setelah kedatangan pengunjung lagi, lalu menyambut mereka dengan ramah.
*Kato!
Sebuah notifikasi pesan masuk di ponselku, aku segera membukanya,
Ny. Cika: (Ada buku yang baru saja datang, di tempat penyimpanan. kamu jangan lupa mengaturnya dengan sesuai ya!^^) 17.25
(Baikk...^^) *send
Sesuai dengan permintaan pemilik toko buku ini, aku bergegas menuju ruang penyimpanan. Untuk mengambil buku-buku lalu menatanya dengan sesuai.
"Permisi, kami akan membayar.."
Ucap salah satu pengunjung yang sudah berdiri di depan meja kasir.
Aku segera menghampirinya, lalu memproses pembayaranya dengan baik.
"Silahkan datang kembali~"
Ucapku sembari membungkukkan sedikit badan, setelah memproses pembayaranya.
...
Sudah hampir pukul 7 malam, orang-orang yang lalu melewati toko inipun semakin ramai, masih ada waktu sekitar 2 jam untuk menyelesaikan shiftku.
Aku membuka ponselku, berniat untuk menghubungi Raja karena ada sesuatu yang harus kujelaskan padanya.
*Tuutt ... Tuutt ...
"Halo?"
"Raja.. bisa ketemuan nggak?"
Tanyaku setelah mendengar suaranya.
"Ehm, gimana nih aku lagi kencan."
Jawab Raja, yang sontak membuatku terkejut.
Kencan?! Raja beneran bilang lagi kencan?
"Jadi nggak bisa ya.."
Ucapku lagi.
"Benar, besok saja di sekolah. Itu juga kalau gak ada pacarmu."
Jawabnya dengan nada ketus.
"Ah.. oke, selamat berkencan.."
Pungkasku seadanya.
"Ya, kalau gitu kututup."
*Pip!
Raut wajahku berubah menjadi kecewa, setelah mendapat respon dari Raja yang sepertinya masih marah padaku.
Ah, apa mungkin ada hubunganya dengan kejadian tadi siang disekolah ya? Raja.. maafin aku T_T
Besok sudah jadi hari terakhirku disekolah, aku juga sudah bicara baik-baik dengan Aidan. Kami akan tetap berhubungan, dan akan sering ketemuan.
__ADS_1
Masih belum jelas dimana sekolahku yang baru, karena Bu Ratih tidak mengatakan apapun. Aku berencana untuk tidak masuk sekolah besok, tapi mengunjungi panti. Tentu saja karena kejadian hari ini, pasti berita tersebar dengan cepat dan aku jadi buronan penggemar saudara kembar, Raja dan Aidan.
Bos pemilik toko buku ini mengatakan padaku, untuk bebas mengambil buku yang sudah lawas dan tidak laku di gudang penyimpanan. Aku sangat berterima kasih padanya, karena bisa mendapatkan buku secara gratis. Aku berencana untuk mengambilnya sebelum shiftku berakhir.
*Criinggg..
Pandanganku menoleh kearah seseorang yang baru saja memasuki toko ini.
"Selamat datang~"
Ucapku sembari membungkukkan sedikit badan kepadanya.
"Permisi, apa kau bisa bantu--"
"Ya?"
Responku singkat setelah mendengar ucapanya yang tidak tuntas itu.
"Gak jadi."
Ucapnya dingin sembari berjalan menuju lorong yang diapit rak buku tersebut.
Aku menatapnya heran, namun sempat terbesit dipikiran, bahwa aku pernah bertemu denganya.
Tapi dimana ya?
Batinku sembari mengingat-ingat wajah laki-laki tersebut.
Tak lama, pengunjung laki-laki tersebut menghampiri meja kasir dan menyerahkan 2 buah buku kepadaku.
"Kau kerja disini udah berapa lama?"
Ucapnya tiba-tiba yang membuatku terkejut, menghentikanku yang sedang memproses pembayaranya.
"Ya? Ah, baru 2 hari yang lalu.."
Jawabku sembari memasukan buku tersebut kedalam paperbag, lalu menyerahkanya beserta kartu kredit setelah selesai.
"Oh.."
Ucapnya singkat, setelah meraih paperbag dan kartu kredit tersebut. Lalu berjalan meninggalkan toko.
Aihh dia kenapa sih? Oh! astaga aku baru ingat dia kan laki-laki kemarin malam. Yang mengatai aku berisik.
...
Setelah menyelesaikan shiftku, aku segera menuju gudang penyimpanan untuk mengambil beberapa buku sesuai tawaran Nyonya Cika.
*Kato!
Aidan : (Udah selesai belum? ketemuan mau?)
Aku tersenyum setelah membaca pesan darinya. masih dengan genggaman buku ditanganku. Setelah menentukan tempat untuk ketemuan, aku segera mengambil beberapa buku, lalu bergegas kembali ke depan. Untuk menutup toko, lalu pergi menemui Aidan.
...
/"Halo Aidan?"
Ucapku setelah menerima panggilan darinya.
/"Kau udah jalan belum?"
Respon Aidan.
/"Iya aku lagi menuju kesana, mungkin 8 menit lagi."
/"Tunggu, aku juga menuju kesana."
Pintanya lembut, lalu mematikan panggilan lebih dulu.
/"Iya ka--"
*Pip!
Belum selesai aku berbicara, Aidan sudah mematikan panggilan.
Hiiih lagi-lagi kamu seenaknya, harusnya bilang dong kalau mau nutup telfon.
Dengan totebag dibahu dan paperbag di jinjingan tanganku, aku berjalan dengan semangat, melalui orang-orang ditengah keramaian kota malam hari.
Karena aku yang memutuskan tempat, jadi tidak perlu naik bus. Lagipula ini cafe tempat aku mengobrol dengan Helen dan Gery kemarin.
Sesampainya di Cafe tersebut, aku bergegas masuk kedalam. Menghadap ke bagian pemesanan, untuk memesan lebih dulu.
Aku ingat saat merayakan hari penerimaan kerja paruh waktuku yang baru. Awalnya cuma mau menraktir Aidan kecil-kecilan, tapi malah Aidan yang bayar semuanya.
Jadi aku memutuskan untuk memesan lebih dulu saat ini, sembari duduk menunggu kedatanganya.
__ADS_1
*Cup!~
Aku segera menoleh kesamping, setelah terkejut seseorang mencium pipiku dari belakang.
"Aidan!"
Seruku padanya.
Ia langsung duduk berhadapan denganku, sembari mematikan ponselnya. Lalu bibirnya tersenyum manis dan matanya menatapku intens.
"Barusan ngasih kau energi, kan habis kerja."
Pungkasnya masih tersenyum.
Aneh, ngasih energi pake ciuman? terakhir kali kamu cium aku gara-gara ngajak ngerasain susu kotak. Yang benar aja~
"Hei, aku gak bohong tau. Mau kukasih energi lagi? dan satu lagi, jangan berbicara dalam hati seperti itu saat kita di tempat umum."
Pungkasnya setelah melepaskan jaket yang ia kenakan.
"Nanti aku beneran pingsan, gara-gara kamu ciumin terus."
Jawabku dengan datar menatapnya.
Aidan tiba-tiba beranjak dari kursinya, lalu mendekatkan wajahnya padaku.
"Maaf menganggu, ini pesananya.."
Ucap waitress yang tiba-tiba datang menghampiri kami, sembari menyajikan pesananku di meja.
"Iya, beneran ganggu tau."
Celetuk Aidan ketus setelah kepergian waitress tersebut.
Aidan kembali duduk, lalu memicingkan matanya padaku.
"Iya aku yang bayar, kan kamu kemarin udah bayarin aku.."
Pungkasku sok tahu setelah membaca gerak matanya.
"HAHAHA"
Tawa Aidan tiba-tiba.
"Ih kok malah ketawa? aku salah nebak pikiranmu ya?"
Jawabku sembari tersenyum malu.
"Iya, duh kau bodoh sekali. Padahal aku gak bicara apapun dalam hati."
Jelas Aidan, sembari menyuapkan macaroon ke mulutnya.
...
Usai berbincang-bincang cukup lama denganya di Cafe, Aidan mengantarku pulang. Kali ini ia mengantarku menggunakan mobil.
"Duh jangan liatin gitu dong, bikin malu saja. Kau gak pernah naik mobil ya?"
Celetuknya membuatku menoleh kearahnya sembari mengerucutkan bibir kesal.
"Gemasnya~ nanti mau ke tempat itu lagi gak?"
Tanya Aidan sembari menyetir mobilnya melaju.
Aku mengernyitkan dahi setelah menoleh kearahnya lagi.
"Tempat itu?"
Responku, memintanya mengartikan lebih jelas.
"Pintu untuk ke dunia kita. Di Sungai dekat pohon besar.
Jelas Aidan padaku, dengan sesekali menoleh kearahku lalu kembali fokus menyetir.
"Sepertinya jangan, Ah benar.. Aidan ada sesuatu yang mau aku omongin."
Ucapku padanya.
"Apa?"
Tanya Aidan penasaran tanpa menoleh kearahku.
Aku memutuskan untuk membicarakanya nanti, saat tiba di rumah. Karena takut Aidan terkejut setelah mendengar ucapanku. Aku tidak ingin membahayakanya saat sedang menyetir.
"Uhmm, nanti ya pas di rumah."
__ADS_1
Ucapku sembari tersenyum padanya, setelah Aidan menoleh kearahku penasaran.
....