
...
Hari Rabu, Pukul 05.30 pagi.
Aku segera memeriksa ponsel, sembari membuat sarapan di dapur.
Aidan: (kau udah bangun?) 05.09
Aku tersenyum setelah membaca pesan darinya, lalu beralih ke video call, menghubunginya lebih dulu.
/"hei.. apa sih, pagi-pagi gini udah kangen wajah tampanku?" Ucap Aidan memulai pembicaraan setelah mengangkat video call dariku.
/"Kamu masih di kasur? cepetan bangun! aku aja udah buat sarapan," Jawabku sembari memotong sosis dan tomat.
/"Pacarku lagi ngapain sih?" Ucap Aidan, membuatku menoleh padanya yang sudah beranjak dari kasur, mendekatkan ponsel diwajahnya.
/"Membuat sarapan. Kamu ngga liat?" Jawabku sengaja dingin, lalu kembali fokus memanggang sosis.
/"Ehm, terakhir kali kau masakin aku itu keasinan tau." Pungkas Aidan mengejekku.
/"Itu kan roti dengan selai kacang, mananya buatanku? Haha ilermu tuh.." Ucapku lalu segera menatapnya setelah mematikan kompor.
Aidan tampak salah tingkah, ia mengarahkan ponselnya ke atas langit rumahnya.
/"Jorok sekali~" Ejekku sembari tertawa.
*Pipp!
Eh apa-apaan?! dia baru saja mematikan lebih dulu? Benar, aku hampir lupa kalau sifat Aidan memang seenaknya sejak dulu. Bahkan saat kelas 10, ketika angkatan kami bertanding sepak bola dengan kakak kelas, Aidan malah menendang bola masuk ke gawangnya sendiri berkali-kali.
Aku berjalan mendekati pintu, hendak menikmati udara pagi. Ketika tepat berdiri didepan pintu, mataku menatap pohon besar dekat sungai itu. Teringat saat bersama Aidan.
Mungkinkah itu pintu menuju ke dunia asliku? sebaiknya aku bertanya Helen besok.
Setelah merasa puas menikmati udara segar, aku segera bergegas masuk kedalam rumah untuk mandi, melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 pagi.
...
Di Sekolah, pukul 07.45
Dengan tenaga yang hampir habis, aku kembali berlari memasuki sekolah setelah turun dari bus. Tidak hanya aku, beberapa murid yang sepertinya terlambat sepertiku juga berlarian.
Kalau saja bus yang kunaiki nggak mogok, pasti aku nggak akan terlambat seperti ini,
Aku berusaha memelankan suara langkah kakiku, ketika mulai melewati lorong kelas. Sembari menunduk, aku berusaha untuk bergegas sampai di kelas. Mataku terbelalak ketika sudah melihat guru berada di kelas, dengan perasaan gugup aku membuka pintu perlahan.
Guru yang sedang berdiri didepan dan teman-teman sekelasku langsung memperhatikanku saat langkahku mulai memasuki kelas tersebut.
"Astaga.. benar-benar kamu ini, Nggak lihat jam?!"
Ucap guru tersebut dengan nada sedikit membentak kepadaku setelah aku membungkukkan badan padanya.
Ah sial.. pasti Aidan lagi menatapku.
"Yasudah, cepat duduk sana!"
Perintah guru tersebut sembari mendorong pundakku pelan ketika aku melewatinya.
Dengan kepala yang masih tertunduk, aku dapat melihat murid-murid yang kulewati sedang menatapku. Aku segera duduk di bangku milikku, lalu mengeluarkan beberapa buku dari tasku. Mengikuti pelajaran yang sudah dimulai oleh guru tersebut.
...
Pukul 12.30, Istirahat makan siang.
Aku hendak berdiri dari kursiku, namun seseorang menekan pundakku kebawah, menahanku berdiri.
__ADS_1
"Aidan apa sih? eh-"
Aku terkejut saat menoleh kearah seseorang yang baru saja menahanku. Ternyata bukan Aidan, namun Raja.
"Kok kau ngira aku Aidan??"
Ucap Raja sembari duduk di mejaku.
Ia memberikan susu dan roti kepadaku.
"Ah- m..maaf, aku pikir Aidan."
Jawabku dengan gugup.
"Kau masih marah?"
Tanya Raja sembari bangun dari kursi dan sedikit berjongkok, menatap wajahku yang sengaja kutundukkan.
"Enggak, siapa yang marah."
Ucapku mengalihkan pandangan setelah mengangkat kepalaku menghindari tatapan Raja.
"Yaudahdeh.. nih kubawakan roti dan susu. Kau gak makan siang di kantin kan?"
Ucapnya setelah bangkit berdiri.
"Makasih ya Raja.." Jawabku padanya sembari tersenyum menatapnya.
"Nah gitu dong.. kan cantik," Pungkas Raja lalu mencubit pipiku pelan.
--*Ceklekk!
Suara pintu terbuka, Aidan tiba-tiba masuk ke kelas. Ia segera menghampiriku, mendorong tubuh Raja menjauhiku.
"Hei, kau yang santai dong!" Ucap Raja dengan ekspresi marah.
"Raja makasih roti dan susunya, akan kumakan nanti. Aidan aku kecewa denganmu."
Ucapku sembari meraih roti dan susu yang diberikan Raja, lalu bergegas keluar kelas meninggalkan mereka.
...
***Di sisi lain*, masih di dalam kelas**.
Aidan: "Dirumah, ****** kau!"
Raja : "Kau gila? yang ada kau yang ****** sialan!"
Aidan: "Hah mulai berani kau?!"
Raja : "Memalukan sekali."
Raja melangkahkan kakinya hendak keluar kelas setelah menyenggol tubuh Aidan dengan sengaja.
Aidan: "Kau gak tau kan? aku sudah jadian sama Agatha?"
Aidan menyusul Raja yang tiba-tiba saja membatu. Aidan melewatinya begitu saja, lalu berjalan meninggalkan kelas.
...
Bodoh.. ngapain juga aku kabur dari mereka. Tapi aku beneran kecewa sama Aidan, dia udah janji kemarin di cafe, kalau nggak akan terlibat pertengkaran dengan Raja.
Aku menaiki tangga untuk menuju atap gedung sekolah, setelah celingak-celinguk dan merasa aman dari pantauan guru atau murid lainya, aku segera membuka pintu dan memasuki ruang terbuka tersebut.
"Ahhhhh... segarnyaaa!"
__ADS_1
Ucapku sembari meregangkan tanganku yang masih menggenggam roti dan susu pemberian Raja.
Angin yang sedikit kencang meniup rambutku, menjadikanya berantakan. Aku berbaring di atas meja yang disusun berjejer, lalu menatap langit berwarna biru cerah dengan awan yang mengelilinginya itu.
Karena merasa tidak akan ada yang datang ke atap, aku memejamkan mataku. Mengingat jam istirahat makan siang cukup lama. Suara anak laki-laki yang sepertinya sedang bermain bola terdengar sampai telingaku.
*Tidak akan ada lagi yang mengganggumu Atha, hanya perlu bertahan sampai hari jumat lalu pergi dengan damai dari sekolah ini.
*BRAKK*!
Aku terkejut dan langsung membuka mataku, sembari bangun dan bergegas bersembunyi di balik tembok.
Apa ini, ****** aku kalau ketahuan guru. Ah gawat! roti dan susu pemberian Raja!
Aku menatap roti dan susu yang masih kutinggalkan diatas meja, aku sangat terkejut sehingga lupa. Dengan sedikit memberanikan diri, aku mengintip ke arah seseorang yang baru saja masuk. Namun suara langkah kaki sepertinya sedang mendekati kearahku. Aku segera membalikkan tubuhku, berjongkok dibawah menyembunyikan wajahku.
"Kau ngapain disitu?"
Ucap seseorang itu yang suaranya tidak asing.
Aku segera menoleh padanya dengan ragu-ragu masih memejamkan mataku.
"Astaga!"
Aku terkejut membuat tubuhku menggeblak lemas, Sesudah menatap wajah Aidan yang berada tepat didepan wajahku ketika menoleh padanya dan membuka mata.
"Hei.. hati-hati"
Ucapnya sembari membantuku berdiri.
Kami duduk bersampingan di atas meja, Aidan masih menatapku sedari tadi. Dengan tanganku yang masih menggenggam kotak susu pemberian Raja, aku berniat untuk meminumnya. Namun Aidan segera merampas susu tersebut dari genggamanku, Ia segera meneguknya sampai habis.
"HEY!"
Ucapku kesal seraya menarik tanganya yang masih meneguk susu tersebut.
Aidan menoleh kearahku setelah menyeka mulutnya dan meletekkan kotak susu yang sudah kosong itu.
"Gak akan ku izinkan kau minum susu pemberianya."
Ucapnya tanpa rasa bersalah dan menatapku serius.
Aku mengerucutkan bibirku setelah mendengar ucapanya, lalu memalingkan wajahku darinya.
Apasih bodoh banget, jelas-jelas cuma susu. Lagipula aku mau minum karna haus bukan suka itu pemberian dari Raja.
"Heeess kau udah tau kalau pacarmu ini bisa membaca pikiran, tapi tetap mengomel didalam hati ya?"
Ucap Aidan yang sontak membuatku menoleh kepadanya.
Aku menggelengkan kepalaku dengan wajah yang gelagapan. Aidan mendekatkan wajahnya padaku, ia tersenyum dan langsung menarik tengkuk ku maju, mencium bibirku lalu melumatnya sebentar.
Aku terkejut dengan ciumanya yang tiba-tiba. Mataku terbelalak setelah ia menjauhkan wajahnya dariku. Aidan tersenyum lalu tertawa kecil setelah melihat ekspresiku.
Masih menatap wajahku yang memerah, Aidan mengecup bibirku lagi beberapa kali, lalu memeluk tubuhku erat setelah itu.
Aku yang masih sangat terkejut, diam tak berkutik dalam pelukanya. Aku segera menundukkan kepalaku, membenamkanya dalam pelukan Aidan. Wajahku yang kurasa sudah seperti kepiting rebus ini, membuatku salah tingkah.
Aidan kamu benar-benar ya! aku kan jadi malu begini~
"Benar-benar sexy? haha aku kan mengajakmu merasakan susu yang kuminum, habis kau tampak kesal sekali susu pemberian cecunguk itu kuteguk habis."
Ucap Aidan setelah mendengarkan ucapan yang tidak kusuarakan itu, melainkan mengatakanya dalam hati.
Benar, lagi-lagi aku lupa kalau Aidan pacarku, dapat membaca pikiran dengan jelas.
__ADS_1
...